Rakyat Palestina Kini, Belajar dari Kekalahan Sebelumnya
Oleh: Nasrulloh Baksolahar
Kali ini, mengapa perang melawan penjajah Zionis Israel sangat berbeda? Mengapa penjajah sangat ketakutan? Hingga harus mengusir seluruh rakyat Palestina dari Gaza? Mengapa rakyat Gaza terus bertahan? Walaupun ratusan nyawa meregang setiap hari?
Belajar dari peristiwa Nakba 1948, bahwa pergi dari tanah kediamannya, berarti tidak akan pernah bisa kembali ke negerinya. Selamanya, terlunta-lunta di berbagai negara.
Rakyat Gaza belajar dari perjuangan sebelumnya. Belajar dari perang 6 hari 1967 dan Yom Kippur 1973, bahwa negara-negara Arab bertempur melawan penjajah Zionis Israel hanya untuk kepentingan keamanan kekuasaan para penguasanya.
Belajar pula dari perjanjian Oslo 1993 dan 1995. Bila sebagian kedaulatan masih dipegang oleh penjajah. Seperti, keuangan, ekonomi, pertahanan, dan perbatasan, maka penjajah menggunakannya sebagai alat untuk menekan dan melemahkan, seperti yang terjadi di Tepi Barat. Sekarang pun telah menjurus ke genosida pula.
Rakyat Gaza tidak lagi terpengaruh dengan segala iming-iming janji. Seperti, hadiah 400 ribu dolar bagi yang memberikan informasi lokasi para petinggi perlawanan. 5 juta dollar bagi warga Gaza yang menyelamatkan sandera.
Yang fantastis, hadiah 1 milyar dollars bagi petinggi perlawanan yang mau pindah keluar dari Gaza dan menanggalkan senjatanya. Mengapa rakyat Palestina, terutama Gaza, tetap tidak bergeming?
Rakyat Gaza sudah tidak tertarik lagi untuk membangun penguasa tandingan boneka yang seluruh dikendalikan oleh penjajah Zionis Israel dan Amerika untuk memecah persatuannya.
Kekalahan perang era sebelumnya dengan penjajah karena penyakit cinta dunia dalam pangkat, prestasi, prestise, koleksi harta, membangun gedung-gedung dan mencintai syahwat yang haram. Itulah sebab mudahnya diadudomba dan mudahnya penjajah mendapatkan informasi rahasia.
Dijumpai, kekalahan-kekalahan di era sebelumnya, karena penghianatan demi penghianatan. Ketakutan ketika hanya mendengar ancaman-ancaman penjajah yang kosong menjelang perang. Para pemimpinnya hanyut dalam kehinaan syahwat pada saat perang.
Dijumpai, mereka yang menjual negrinya kepada penjajah demi harta, sementara yang lain mundur dari jengkal tanahnya karena khawatir akan keselamatan singgasananya.
Penjajah Zionis Israel akan terus bisa memenangkan pertempuran sebelum rakyat Palestina mencintai kematian sebagaimana penjajah mencintai kehidupan, mengesampingkan dunia, dan memelihara surga di dalam diri. Hanya dengan sebab ini tercapailah kemenangan.
0 komentar: