Sampanye berkobar di Knesset saat Israel mengesahkan undang-undang hukuman mati yang berlaku untuk warga Palestina tetapi tidak ...
Sampanye berkobar di Knesset saat Israel mengesahkan undang-undang hukuman mati yang berlaku untuk warga Palestina tetapi tidak untuk orang Yahudi.
Umat Kristen Yerusalem Mendesak Gereja Bersikap: Antara Iman dan Tekanan Kekuasaan Oleh Peter Oborne dan Lubna Masarwa 31 Mare...
Umat Kristen Yerusalem Mendesak Gereja Bersikap: Antara Iman dan Tekanan Kekuasaan
Umat Kristen Yerusalem Mendesak Gereja Bersikap: Antara Iman dan Tekanan Kekuasaan
Oleh Peter Oborne dan Lubna Masarwa
31 Maret 2026
Penolakan yang Mengguncang
Penolakan terhadap Pierbattista Pizzaballa, Patriark Katolik Yerusalem, untuk memasuki Gereja Makam Suci pada Minggu Palma memicu gelombang simpati global. Peristiwa ini bahkan disebut sebagai kejadian pertama dalam berabad-abad di mana seorang patriark tidak dapat memimpin misa di situs paling suci umat Kristen tersebut.
Namun di balik simpati internasional, suasana di lapangan justru lebih kompleks. Tidak semua umat menyambut sikap sang patriark dengan hangat.
Kota Tua yang Sunyi dan Terkunci
Sejak meningkatnya konflik antara AS, “Israel”, dan Iran, kawasan Kota Tua Yerusalem praktis berada dalam kondisi terbatas. Pasukan keamanan Israel ditempatkan di berbagai gerbang, membatasi akses ke situs-situs suci.
Masjid Al-Aqsa juga ditutup bagi umat Muslim, bahkan selama Ramadan dan Idul Fitri. Otoritas Israel menyatakan kebijakan ini sebagai langkah keamanan akibat ancaman serangan rudal.
Namun, bagi warga Palestina, alasan tersebut dipandang sebagai dalih. Mereka menilai pembatasan ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk memperkuat kontrol atas Yerusalem Timur, wilayah yang sejak 1967 berada di bawah pendudukan dan dinilai ilegal menurut hukum internasional.
Kritik dari Dalam Jemaat
Seorang warga Katolik setempat, yang disebut sebagai Boutros, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menilai Patriark seharusnya tidak tunduk pada larangan tersebut.
“Seharusnya dia tetap melanjutkan, bahkan jika harus berdoa di jalan,” ujarnya.
Bagi sebagian umat, sikap gereja yang memilih jalur negosiasi dengan otoritas Israel justru dipandang sebagai bentuk pengakuan terhadap kekuasaan yang mereka anggap tidak sah. Kritik ini mencerminkan kekecewaan yang lebih luas: bahwa lembaga keagamaan dinilai terlalu kompromistis.
Negosiasi atau Legitimasi?
Setelah insiden tersebut, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa Patriark akan diberikan akses penuh ke Gereja Makam Suci. Sementara itu, Patriarkat menyatakan tetap menjalin dialog dengan pihak berwenang, bahkan menyampaikan apresiasi kepada Presiden Isaac Herzog atas intervensinya.
Namun respons ini justru memperkuat kritik sebagian umat. Mereka melihat negosiasi tersebut sebagai bentuk legitimasi terhadap kontrol Israel atas situs-situs suci.
Bagi mereka, persoalannya bukan sekadar akses sementara, melainkan prinsip: siapa yang berhak mengatur tempat suci di kota yang diperebutkan.
Tuduhan Standar Ganda
Organisasi International Centre of Justice for Palestinians menilai pembatasan ini sebagai pelanggaran kebebasan beragama. Mereka juga menyoroti adanya standar ganda.
Saat akses ke situs suci Muslim dan Kristen dibatasi, perayaan Purim tetap berlangsung di bagian lain kota. Laporan bahkan menggambarkan perayaan publik yang meriah, kontras dengan penutupan tempat ibadah bagi komunitas lain.
Perbandingan ini memperkuat persepsi bahwa kebijakan keamanan diterapkan secara selektif.
Kehidupan yang Tercekik
Di dalam Kota Tua, dampaknya terasa nyata. Jalanan yang biasanya ramai saat Paskah kini lengang. Warga menggambarkan suasana duka, kehilangan, dan keterasingan.
“Tidak ada perayaan. Mereka menghancurkan semua rasa sukacita,” kata seorang perempuan Palestina.
Kehadiran aparat keamanan yang masif, pemeriksaan acak, dan pembatasan pergerakan menciptakan tekanan psikologis yang terus-menerus. Bahkan di sekitar Gereja Makam Suci, kehadiran aparat dinilai melanggar kesepakatan “status quo” yang selama ini menjaga pengelolaan situs oleh komunitas Kristen.
Antara Iman dan Kekuasaan
Bagi banyak umat Kristen Palestina, persoalan ini melampaui insiden satu hari. Ini adalah tentang martabat, kebebasan beribadah, dan posisi gereja di tengah tekanan politik.
Mereka mempertanyakan: apakah gereja akan tetap menjadi pelindung umat, atau justru terjebak dalam kompromi dengan kekuasaan?
Dalam konteks Yerusalem—kota suci bagi tiga agama—pertanyaan ini tidak pernah sederhana. Namun satu hal menjadi jelas: ketika tempat suci dikunci dan ibadah dibatasi, yang dipertaruhkan bukan hanya akses fisik, tetapi juga makna spiritual dan identitas sebuah komunitas.
Melucuti Senjata “Israel”: Ketika Perang Berbalik Arah Oleh Kit Klarenberg Sumber: Al Mayadeen English 31 Maret 2026 Ketika...
Melucuti Senjata “Israel”: Ketika Perang Berbalik Arah
Melucuti Senjata “Israel”: Ketika Perang Berbalik Arah
Oleh Kit Klarenberg
Sumber: Al Mayadeen English
31 Maret 2026
Ketika perang antara Amerika Serikat, “Israel”, dan Iran memasuki bulan kedua, satu fakta mulai sulit disembunyikan: konflik ini justru menggerus kekuatan pihak yang memulainya. Apa yang semula dirancang sebagai serangan udara cepat, kini berubah menjadi perang ketahanan yang mahal dan melelahkan.
Krisis Amunisi dan Biaya yang Tak Seimbang
Laporan dari Royal United Services Institute (RUSI) mengungkap bahwa dalam 16 hari pertama saja, lebih dari 11.000 amunisi ditembakkan oleh AS dan “Israel”, dengan total biaya produksi mencapai sekitar 26 miliar dolar. Angka ini belum termasuk biaya penggantian, yang diperkirakan bisa mencapai dua kali lipat.
Masalah utamanya bukan hanya jumlah, tetapi rasio biaya. Rudal pencegat bernilai jutaan dolar digunakan untuk menembak drone dan rudal Iran yang jauh lebih murah. Ketimpangan ini menciptakan apa yang disebut RUSI sebagai “rasio biaya-pertukaran yang merusak secara strategis.”
Dalam situasi ini, persediaan amunisi Barat mulai menipis dengan cepat. Bahkan, sejumlah sistem penting seperti pencegat jarak jauh, ATACMS, hingga THAAD diperkirakan berada di ambang kehabisan. Sementara itu, sistem Arrow milik “Israel” disebut berpotensi habis dalam waktu dekat.
Perang Ketahanan: Keunggulan Beralih ke Iran
Konflik ini kini berubah menjadi war of attrition—perang daya tahan. Dalam jenis perang seperti ini, kemenangan tidak ditentukan oleh serangan awal, melainkan oleh kemampuan mempertahankan produksi dan logistik.
Iran justru menunjukkan keunggulan di titik ini. Produksi drone dan rudalnya terus berjalan, bahkan dalam kondisi perang. Sebaliknya, industri pertahanan Barat menghadapi hambatan serius, termasuk gangguan rantai pasok akibat ketegangan di Selat Hormuz.
Akibatnya, jurang amunisi antara kedua pihak semakin melebar. Jika tren ini berlanjut, kekurangan senjata di pihak AS dan “Israel” bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan.
Serangan Sistematis terhadap Arsitektur Pertahanan
Laporan dari Jewish Institute for National Security of America (JINSA) menyoroti strategi Iran yang lebih dalam: bukan sekadar menyerang target, tetapi melumpuhkan seluruh sistem pertahanan.
Iran secara sistematis menargetkan radar, sensor, dan terminal satelit—komponen vital dalam sistem peringatan dini. Akibatnya, kemampuan deteksi dan intersepsi menurun drastis.
Drone menjadi senjata kunci dalam strategi ini. Dengan taktik terbang rendah, teknologi serat optik, dan adaptasi dari konflik modern, drone Iran terbukti sulit dideteksi. Bahkan, beberapa sistem pertahanan tidak mampu mengenali ancaman tersebut sama sekali.
Selain itu, penggunaan rudal dengan hulu ledak kluster memperumit intersepsi. Bahkan ketika berhasil dicegat, submunisi tetap dapat menyebar dan menimbulkan dampak di area luas.
Tekanan Psikologis dan Disrupsi Kehidupan Sipil
Serangan Iran tidak selalu ditujukan untuk kehancuran maksimal. Sebaliknya, intensitas tinggi dengan skala lebih kecil menciptakan tekanan psikologis berkelanjutan.
Serangan yang sering dan tak terduga membuat masyarakat sipil hidup dalam kondisi siaga terus-menerus. Waktu antar serangan yang singkat mengganggu ritme kehidupan, sementara ancaman submunisi meningkatkan ketidakpastian dan rasa aman yang rapuh.
Dalam konteks ini, perang tidak hanya terjadi di medan militer, tetapi juga dalam ruang psikologis masyarakat.
Target Strategis: Pangkalan dan Infrastruktur AS
Iran juga menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Beberapa di antaranya mengalami kerusakan signifikan, termasuk kerugian material dan korban di pihak militer.
Serangan terhadap target laut bahkan lebih sulit dicegah. Lebih dari separuh proyektil yang diarahkan ke kapal dilaporkan mencapai sasaran. Dengan waktu tempuh rudal yang sangat singkat—hanya beberapa menit—ruang respons menjadi sangat terbatas.
Kondisi ini memperlihatkan kerentanan geografis kawasan Teluk, di mana banyak target strategis berada dalam jangkauan langsung Iran.
Ilusi Strategi dan Realitas di Lapangan
Pada awalnya, perang ini dirancang sebagai operasi singkat yang diharapkan dapat memaksa Iran menyerah. Namun, asumsi tersebut terbukti keliru.
Ironisnya, bahkan sebelum konflik, laporan JINSA telah memperingatkan bahwa Iran memiliki kapasitas rudal dan drone yang besar serta mampu melumpuhkan pangkalan dan sistem pertahanan. Namun, peringatan ini tidak diimbangi dengan kesiapan strategis yang memadai.
Optimisme bahwa teknologi pertahanan canggih dapat mengatasi ancaman murah terbukti sebagai ilusi. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kuantitas, keberlanjutan produksi, dan adaptasi taktik justru menjadi faktor penentu.
Kesimpulan: Perang yang Membalikkan Keseimbangan
Perang ini telah mengungkap kelemahan mendasar dalam sistem militer Barat: ketergantungan pada teknologi mahal tanpa keberlanjutan produksi dalam konflik jangka panjang.
Sebaliknya, Iran memanfaatkan strategi biaya rendah dengan efektivitas tinggi, mengubah medan perang menjadi ajang pengurasan sumber daya lawan.
Jika tren ini berlanjut, maka yang terjadi bukan sekadar kebuntuan, melainkan pergeseran keseimbangan kekuatan. Dalam perang ketahanan, pihak yang mampu bertahan lebih lama—bukan yang menyerang lebih dulu—akan keluar sebagai pemenang.
Perang Melawan Iran: Runtuhnya Mitos yang Melindungi Israel Sejak awal berdirinya, Israel membangun narasi bahwa dirinya adalah...
Perang Melawan Iran: Runtuhnya Mitos yang Melindungi Israel
Perang Melawan Iran: Runtuhnya Mitos yang Melindungi Israel
Sejak awal berdirinya, Israel membangun narasi bahwa dirinya adalah “vila di tengah hutan”—sebuah negara kecil yang dikelilingi ancaman permanen dari lingkungan yang keras. Narasi ini berfungsi sebagai alat legitimasi, baik untuk konsumsi domestik maupun internasional, terutama guna memperoleh dukungan politik, militer, dan finansial dari negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.
Namun, jika ditelusuri secara historis, klaim tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas. Selama beberapa dekade terakhir, justru Israel berada dalam posisi dominan di kawasan. Kemenangan dalam Perang Enam Hari 1967, perjanjian damai dengan Mesir melalui Camp David 1978, hingga melemahnya negara-negara Arab pasca Perang Dingin, menunjukkan bahwa ancaman eksistensial terhadap Israel semakin berkurang.
Memasuki era 1990-an dan 2000-an, posisi Israel semakin menguat. Runtuhnya Uni Soviet menghilangkan salah satu pendukung utama negara-negara Arab. Sementara itu, Perjanjian Oslo secara efektif melemahkan posisi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003—yang juga didorong oleh kepentingan geopolitik sekutu Israel—menghancurkan salah satu kekuatan regional yang sebelumnya dianggap ancaman.
Lebih jauh, normalisasi hubungan melalui Kesepakatan Abraham memperlihatkan bahwa sebagian negara Arab justru beralih menjadi mitra strategis Israel. Dalam kondisi ini, narasi “lingkungan yang keras” semakin kehilangan relevansinya.
Meski demikian, Israel masih menghadapi kelompok-kelompok yang disebut sebagai “poros perlawanan”, seperti Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon, serta Iran sebagai pendukung utama mereka. Namun, kekuatan ini pun mengalami tekanan signifikan, terutama setelah eskalasi konflik sejak 2023 di Gaza dan Lebanon.
Dalam konteks ini, serangan terhadap Iran dapat dilihat sebagai upaya Israel untuk mengeliminasi ancaman terakhir yang masih tersisa. Akan tetapi, langkah ini sekaligus membuka kontradiksi mendasar: ketika Israel bertindak sebagai kekuatan dominan yang agresif, narasi sebagai pihak yang terancam menjadi sulit dipertahankan.
Di sisi lain, respons negara-negara Arab yang relatif terbatas—hanya berupa kecaman verbal—semakin mempertegas perubahan lanskap geopolitik kawasan. Tidak lagi terlihat adanya koalisi regional yang mampu menantang Israel secara langsung.
Namun, justru di sinilah letak paradoksnya. Dengan semakin runtuhnya mitos sebagai “negara yang terancam”, Israel berisiko kehilangan legitimasi moral yang selama ini menjadi pelindung utamanya di mata dunia. Tindakan militer yang agresif, terutama terhadap warga sipil di Gaza, telah memperburuk citranya secara global.
Pada akhirnya, tanpa narasi yang membenarkan tindakannya, dan dengan meningkatnya kritik internasional, Israel berpotensi menghadapi tantangan baru: bukan lagi dari musuh eksternal, tetapi dari konsekuensi atas kebijakan dan strateginya sendiri.
Negara-Negara Arab Belajar dari Irak, Gaza, dan Tepi Barat atas Rencana Israel dan Amerika Pengalaman geopolitik di Timur Tenga...
Masyarakat Arab Belajar dari Irak, Gaza, dan Tepi Barat atas Rencana Israel dan Amerika
Negara-Negara Arab Belajar dari Irak, Gaza, dan Tepi Barat atas Rencana Israel dan Amerika
Pengalaman geopolitik di Timur Tengah dalam dua dekade terakhir menunjukkan pola yang berulang: intervensi eksternal sering kali diikuti dengan upaya membentuk tatanan politik baru. Namun, realitas di lapangan justru memperlihatkan bahwa proyek-proyek tersebut kerap berujung pada instabilitas. Dari sini, banyak negara dan masyarakat Arab mulai belajar.
Kasus Irak menjadi pelajaran paling awal. Setelah invasi yang menggulingkan Saddam Hussein, Amerika Serikat mendorong pembentukan pemerintahan baru dengan harapan menciptakan stabilitas. Namun, berbagai laporan dari kantor berita internasional seperti Reuters dan Al Jazeera mencatat bahwa Irak justru terjerumus ke dalam konflik sektarian berkepanjangan. Negara itu terpecah, dan banyak kelompok bersenjata berkembang dengan dukungan kepentingan asing, menjadikannya arena proxy war yang kompleks.
Pola serupa terlihat di Gaza. Selain operasi militer yang menghancurkan, sejumlah analisis media internasional menyinggung adanya skenario pembentukan kepemimpinan baru berbasis kelompok lokal atau suku. Namun hingga kini, laporan dari berbagai kantor berita menunjukkan bahwa masyarakat Gaza tetap solid, tanpa perubahan kepemimpinan yang signifikan. Upaya tersebut tidak menghasilkan transformasi politik seperti yang diharapkan.
Di Suriah, ketegangan yang melibatkan komunitas Druze sempat memanas, khususnya di wilayah selatan seperti Suwayda. Beberapa laporan media internasional mencatat adanya kekhawatiran bahwa konflik lokal dapat dimanfaatkan oleh pihak eksternal. Namun perkembangan terbaru menunjukkan bahwa komunitas Druze tidak terjebak dalam eskalasi yang lebih luas dan cenderung mencari stabilitas melalui pendekatan internal dengan pemerintah Suriah.
Sementara itu, di Lebanon, gencatan senjata yang terjadi sempat dikaitkan dengan upaya pelucutan senjata Hizbullah. Namun, sebagaimana dilaporkan oleh berbagai analis dan media internasional, tidak terjadi konflik terbuka antara Hizbullah dan pemerintah Lebanon. Ketegangan tetap ada, tetapi tidak berkembang menjadi perpecahan internal yang tajam.
Dalam konteks Iran, beberapa laporan menyebutkan bahwa serangan yang menargetkan tokoh penting diharapkan dapat memicu ketidakstabilan domestik dan membuka jalan bagi perubahan rezim. Namun, sebagaimana dicatat oleh berbagai kantor berita, skenario tersebut tidak terwujud. Stabilitas internal Iran tidak runtuh sebagaimana diperkirakan.
Dari seluruh rangkaian peristiwa ini, pelajaran penting juga diambil dari Tepi Barat. Setelah Perjanjian Oslo, diharapkan tercipta stabilitas dan jalan menuju perdamaian. Namun laporan berbagai media internasional menunjukkan bahwa ketegangan tetap berlangsung, termasuk ekspansi permukiman dan penggusuran yang terus terjadi.
Kesimpulannya, pengalaman Irak, Gaza, Suriah, Lebanon, hingga Iran menunjukkan satu pola yang semakin dipahami oleh masyarakat Arab: intervensi dan rekayasa politik dari luar tidak selalu membawa stabilitas, bahkan sering kali berujung pada fragmentasi. Karena itu, banyak pihak kini lebih berhati-hati dalam merespons berbagai skenario perubahan yang datang dari luar, dengan mempertimbangkan pelajaran pahit dari masa lalu.
Lima Kesalahan Netanyahu: Dari Badai Al-Aqsa hingga Konflik Regional Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali menjad...
Lima Kesalahan Netanyahu: Dari Badai Al-Aqsa hingga Konflik Regional
Lima Kesalahan Netanyahu: Dari Badai Al-Aqsa hingga Konflik Regional
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali menjadi sorotan setelah mengalihkan tanggung jawab atas kegagalan strategi militernya kepada Mossad. Pola ini mencerminkan kecenderungan berulang: ketika strategi tidak berjalan sesuai rencana, kesalahan dialihkan kepada pihak lain.
Kesalahan pertama terlihat dalam peristiwa Serangan 7 Oktober 2023. Netanyahu sempat menyatakan bahwa dirinya tidak menerima peringatan intelijen terkait serangan tersebut. Pernyataan itu kemudian ditarik setelah memicu kontroversi. Meski sejumlah pejabat keamanan mengakui kegagalan, Netanyahu dinilai tidak sepenuhnya mengambil tanggung jawab.
Kesalahan kedua muncul dalam perang berkepanjangan di Gaza. Operasi militer besar tidak berhasil melumpuhkan perlawanan maupun melucuti kelompok bersenjata seperti Hamas. Di tengah eskalasi kehancuran, ia cenderung menghindari evaluasi terbuka dan menolak pembentukan komisi penyelidikan independen, sehingga memunculkan kritik terkait akuntabilitas.
Kesalahan ketiga terjadi dalam strategi menghadapi Iran. Netanyahu mendukung skenario yang diyakini dapat memicu pemberontakan internal dan menjatuhkan rezim. Rencana tersebut disusun bersama David Barnea dan turut dibahas dalam upaya meyakinkan Donald Trump. Namun, asumsi tersebut tidak terbukti. Tidak terjadi gelombang pemberontakan besar, dan ketika strategi gagal, Netanyahu kembali menyalahkan Mossad, meski ia sendiri merupakan penggerak utama kebijakan tersebut.
Kesalahan keempat berkaitan dengan dinamika konflik di Suriah, khususnya komunitas Druze di wilayah Suwayda. Bentrokan lokal antara milisi Druze dan suku Badui pada Juli 2025 berkembang menjadi konflik bersenjata yang lebih luas. Intervensi militer Israel, dengan dalih melindungi Druze, justru memperumit situasi dan meningkatkan ketegangan dengan pemerintah Suriah di bawah Bashar al-Assad. Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa instabilitas lokal dapat dimanfaatkan untuk menekan pemerintahan Suriah, meski realitas di lapangan jauh lebih kompleks dan tidak sepenuhnya dapat dikendalikan dari luar.
Kesalahan kelima tampak dalam perhitungan terhadap kekuatan Hezbollah. Meskipun sejumlah operasi militer Israel dianggap berhasil secara taktis, termasuk serangan terhadap tokoh penting, hal itu tidak mampu menghancurkan struktur perlawanan Hizbullah. Kelompok ini tetap memiliki kapasitas militer dan dukungan yang signifikan di Lebanon.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan baru: apakah eskalasi lebih lanjut, seperti kemungkinan operasi darat ke Lebanon di tengah situasi gencatan senjata, justru akan menjadi kesalahan berikutnya? Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa keberhasilan taktis tidak selalu berujung pada kemenangan strategis.
Secara keseluruhan, rangkaian peristiwa ini menunjukkan pola yang konsisten. Netanyahu berulang kali membangun kebijakan di atas asumsi yang rapuh—baik dalam menghadapi Hamas, Iran, Suriah, maupun Hizbullah. Ketika realitas tidak sesuai harapan, narasi segera dialihkan dan tanggung jawab dipindahkan.
Kini, dengan meningkatnya tekanan militer dan politik, Netanyahu menghadapi tantangan yang semakin kompleks, baik di tingkat regional maupun domestik. Jika pola ini terus berlanjut, maka kegagalan bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan konsekuensi dari strategi yang sejak awal tidak berpijak pada realitas yang utuh.
Yang Terkuat, Takut Hancur Pertanyaan ini menyentuh satu hukum yang berulang dalam sejarah: kekuatan lahiriah tidak selalu berba...
Yang Terkuat, Takut Hancur
Yang Terkuat, Takut Hancur
Pertanyaan ini menyentuh satu hukum yang berulang dalam sejarah: kekuatan lahiriah tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan batin dan keberlanjutan sebuah kekuasaan.
Fir’aun dalam kisah Nabi Musa bukanlah penguasa lemah. Ia memiliki tentara, kekayaan, dan legitimasi politik. Namun Al-Qur’an menggambarkan bagaimana rasa takut justru tumbuh di puncak kekuasaannya. Ketika mendengar kabar kelahiran seorang bayi yang akan menggulingkannya, ia merespons dengan pembantaian. Ini bukan tanda kekuatan, melainkan kegelisahan eksistensial—ketakutan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kezaliman suatu saat akan runtuh.
Logika yang sama dapat digunakan untuk memahami Israel hari ini. Secara militer dan teknologi, Israel termasuk yang paling unggul di kawasan. Didukung oleh kekuatan global seperti Amerika Serikat, serta memiliki keunggulan ekonomi dan intelijen, secara kasat mata ia tampak kokoh.
Namun, kekuatan seperti ini sering menyembunyikan kerentanan yang lebih dalam.
Pertama, ada krisis legitimasi. Sebagaimana Fir’aun yang sadar—meski tak diakui—bahwa kekuasaannya berdiri di atas penindasan, demikian pula sebuah negara yang dibangun di atas konflik berkepanjangan akan terus dihantui oleh pertanyaan moral dan sejarah.
Kedua, ada ketakutan terhadap perlawanan yang tak pernah padam. Fir’aun tidak takut pada kekuatan Musa saat itu, tetapi pada potensi kebenaran yang dibawanya. Begitu pula Israel: yang dihadapi bukan sekadar kekuatan militer lawan, tetapi ide, identitas, dan keyakinan yang terus melahirkan perlawanan baru.
Ketiga, ada kecemasan internal. Sejarah menunjukkan bahwa banyak kekuasaan runtuh bukan karena serangan luar, tetapi karena rapuh dari dalam—perpecahan elite, krisis politik, dan hilangnya kepercayaan rakyat.
Maka, ketakutan itu bukan kontradiksi dari kekuatan, melainkan konsekuensi dari cara kekuatan itu dibangun. Kekuatan yang berdiri di atas keadilan melahirkan ketenangan. Sebaliknya, kekuatan yang bertumpu pada dominasi akan selalu dibayangi bayang-bayang kehancurannya sendiri.
Paling Banyak Dibaca
-
Bukan Muslim, Tapi Rakyatnya Minta Dinaungi Kekhalifahan Islam
-
Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali
-
Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani
-
Saad bin Abi Waqqash, Aktor Interaksi Awal Islam dan Tiongkok
-
Kilas Balik Sejarah, Bisakah Palestina Dihapus dari Peta Dunia?
-
Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara
-
Manuskrip Nusantara Beraksara Arab Melayu di Eropa, Bukti Tingginya Peradaban Islam dan Kemakmurannya
Cari Artikel Ketik Lalu Enter
Artikel Lainnya
- ► 2021 (1014)
- ► 2022 (604)
- ► 2023 (330)
- ► 2024 (825)
- ► 2025 (821)
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif