basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Makna Kekayaan Rasulullah ﷺ Rasulullah ﷺ telah menjelaskan bahwa salah satu keindahan agama Islam adalah...


Makna Kekayaan Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ telah menjelaskan bahwa salah satu keindahan agama Islam adalah kemampuannya mengangkat kehidupan manusia menuju kecukupan. Islam tidak menghendaki para pemeluknya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan hingga selalu membutuhkan sedekah atau pembagian zakat. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya agar memiliki kemampuan memenuhi kebutuhannya, mencukupi orang-orang yang menjadi tanggungannya, kemudian memiliki keluasan untuk berinfak kepada orang lain.

Hal itu tergambar dalam janji Rasulullah ﷺ kepada Adi bin Hatim. Beliau menggambarkan suatu masa ketika harta berada dalam genggaman umat Islam hingga tidak ada lagi orang yang bersedia menerima sedekah.

Rasulullah ﷺ berkata kepada Adi bin Hatim:

«"... Barangkali—wahai Adi—sesungguhnya kamu enggan masuk agama ini karena kamu melihat umat Islam yang miskin dan membutuhkan. Demi Allah, sungguh harta itu akan ada dalam genggaman mereka sehingga tiada seorang pun yang berkenan menerimanya. Barangkali—wahai Adi—kamu enggan masuk agama ini karena kamu melihat umat Islam yang sedikit, sedangkan orang-orang yang memusuhi mereka banyak. Demi Allah, pada saatnya nanti kamu akan mendengar seorang perempuan keluar dari Al-Qadisiyah dengan untanya untuk mengunjungi rumah ini, yang tidak ditakutinya kecuali Allah. Barangkali—wahai Adi—sesungguhnya kamu enggan masuk agama ini karena kamu melihat bahwa kerajaan dan kekuasaan berada pada selain mereka, sedangkan mereka lemah. Demi Allah, sungguh kamu akan mendengar tentang istana-istana putih di tanah Babil yang telah berhasil mereka taklukkan, dan bahwa harta simpanan Kisra menjadi milik mereka."»

Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ menggambarkan masa depan umat Islam. Beliau tidak hanya berbicara tentang kekuatan iman dan keteguhan spiritual, tetapi juga tentang keamanan, kekuasaan, dan kecukupan harta.

Sebab, manusia yang kebutuhan hidupnya terpenuhi akan memiliki ketenangan yang berbeda. Ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya, ia tidak terus-menerus dibebani kecemasan tentang bagaimana mempertahankan hidup. Dari sana terbuka ruang yang lebih luas untuk beribadah, bekerja, belajar, berbuat baik, dan membantu orang lain.

Bukankah Allah telah mengingatkan manusia tentang nikmat berupa makanan yang menghilangkan kelaparan dan keamanan yang menghilangkan ketakutan?

Karena itu, kemiskinan bukanlah tujuan yang harus dicari. Demikian pula kekayaan bukanlah sesuatu yang harus dicela. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana manusia memperoleh, menggunakan, dan menempatkan harta dalam kehidupannya.

Allah Mencukupi Rasulullah ﷺ

Salah satu gambaran paling jelas tentang kecukupan yang Allah berikan kepada Rasulullah ﷺ terdapat dalam Surah Adh-Dhuha:

«"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan."
(Adh-Dhuha: 8)»

Ayat ini menjadi semakin indah jika dilihat dari konteks turunnya Surah Adh-Dhuha.

Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Qais bahwa ia mendengar Jundub berkata bahwa Malaikat Jibril terlambat datang kepada Rasulullah ﷺ. Orang-orang musyrik kemudian berkata, "Muhammad telah ditinggalkan."

Dalam keadaan seperti itu, Allah menurunkan firman-Nya:

«"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu."
(Adh-Dhuha: 1–3)»

Betapa dalam penghiburan ayat ini.

Rasulullah ﷺ sedang menghadapi kesunyian karena wahyu belum datang. Orang-orang musyrik menjadikan keadaan itu sebagai bahan ejekan. Namun Allah justru mengingatkan bahwa keterlambatan wahyu bukan tanda ditinggalkan. Allah tetap mengasuh, menjaga, dan mempersiapkan Rasulullah ﷺ untuk tugas yang lebih besar.

Kemudian Allah mengingatkan berbagai bentuk nikmat yang telah diberikan kepada beliau, termasuk:

«"Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu engkau menjadi puas."
(Adh-Dhuha: 5)»

Salah satu bentuk karunia tersebut adalah kecukupan:

«"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan."
(Adh-Dhuha: 8)»

Dengan demikian, kecukupan Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari pengasuhan Allah terhadap beliau. Allah tidak hanya membimbing beliau dengan wahyu, tetapi juga mencukupi kebutuhan hidup beliau agar beliau dapat menjalankan amanah risalah.

Makna Pemberian Allah

Dalam menjelaskan ayat tersebut, As-Sa'di dan para ulama tafsir memberikan perhatian terhadap pilihan kata yang digunakan Al-Qur'an dalam menggambarkan pemberian Allah kepada Rasulullah ﷺ.

Dalam pembahasan kebahasaan yang dikemukakan As-Samara'i dalam Lamsat Al-Bayaniyyah, terdapat perbedaan nuansa antara kata ita' dan atha'.

Ita' memiliki cakupan yang lebih luas. Ia dapat mencakup perkara material maupun nonmaterial, termasuk kekuasaan dan hikmah. Bahkan, pemberian dalam bentuk ita' dapat pula berada dalam kehendak Allah untuk kemudian dicabut kembali.

Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah:

«"Katakanlah, 'Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki.'"
(Ali Imran: 26)»

Demikian pula dalam firman Allah tentang seseorang yang telah diberi ayat-ayat Allah, tetapi kemudian melepaskan diri darinya.

Sementara itu, atha' memiliki nuansa pemberian yang lebih khusus. Dalam beberapa konteks, pemberian tersebut menunjukkan sesuatu yang diberikan kepada seseorang untuk menjadi miliknya dan dapat dikelolanya.

Allah berfirman:

«"Sungguh, Kami telah memberimu nikmat yang banyak."
(Al-Kautsar: 1)»

Demikian pula firman Allah kepada Nabi Sulaiman:

«"Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah untuk dirimu sendiri tanpa perhitungan."
(Shad: 39)»

Ayat tersebut menggambarkan keluasan pemberian Allah kepada Nabi Sulaiman sehingga beliau diberi kewenangan untuk mengelolanya.

Dari sini kita dapat memahami bahwa pemberian Allah kepada para nabi tidak selalu berbentuk satu jenis kenikmatan. Ada ilmu, hikmah, kekuasaan, keamanan, harta, dan berbagai bentuk kecukupan lainnya.

Apa Arti "Diberi Kecukupan"?

Allah menggunakan kata aghnā dalam firman-Nya:

«"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan."
(Adh-Dhuha: 8)»

Kata tersebut berbentuk kata kerja yang menunjukkan adanya perubahan keadaan. Ada keadaan kekurangan, kemudian Allah mengubahnya menjadi keadaan berkecukupan.

Karena itu, kekayaan Rasulullah ﷺ tidak semata-mata harus dipahami sebagai banyaknya harta. Kekayaan yang paling utama memang kekayaan hati: tidak bergantung kepada manusia, merasa cukup dengan pemberian Allah, dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan.

Namun, hal itu tidak berarti kecukupan material harus dikeluarkan dari makna ayat.

Justru di sinilah kita menemukan keluasan makna kekayaan Rasulullah ﷺ.

Para ulama memberikan beberapa penafsiran tentang al-ghina yang Allah berikan kepada beliau.

Pertama, Allah mencukupi kebutuhan hidup beliau melalui rezeki dan keuntungan perdagangan. Rasulullah ﷺ telah melakukan perjalanan perdagangan ke Syam bersama Maisarah. Beliau juga pernah melakukan perdagangan bersama As-Sa'ib bin Abi As-Sa'ib Al-Makhzumi.

Kedua, Allah memberikan kecukupan hati. Rasulullah ﷺ tidak menjadikan harta sebagai ukuran kebahagiaan. Hatinya tidak bergantung kepada apa yang ada di tangan manusia. Kekayaan yang sesungguhnya adalah merasa cukup dengan Allah, bukan merasa cukup karena memiliki banyak sesuatu.

Ketiga, Allah mencukupi Rasulullah ﷺ dengan ilmu dan petunjuk. Beliau tidak memiliki pengetahuan wahyu sebelumnya, kemudian Allah menurunkan Al-Qur'an dan mengajarkan kepada beliau apa yang sebelumnya tidak beliau ketahui.

Dengan demikian, kecukupan Rasulullah ﷺ memiliki beberapa lapisan: kecukupan dalam kehidupan, kecukupan dalam hati, dan kecukupan dalam ilmu serta petunjuk.

Kekayaan yang Tidak Membelenggu

Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah, "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan," bahwa Rasulullah ﷺ sebelumnya berada dalam keadaan kekurangan dan memiliki banyak tanggungan, kemudian Allah membuat beliau merasa cukup sehingga tidak membutuhkan orang lain.

Menurut Ibnu Asyur, Allah mencukupi kebutuhan hidup Rasulullah ﷺ sehingga beliau tidak terus-menerus disibukkan oleh persoalan yang dapat memalingkan perhatian beliau dari perbaikan diri dan pelaksanaan risalah.

Penjelasan ini menghadirkan sebuah renungan penting.

Bukankah kecukupan justru dapat menjadi sarana untuk membebaskan manusia dari sebagian beban kehidupan?

Orang yang terus-menerus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan pokoknya akan sulit memiliki keluasan perhatian untuk memikirkan persoalan yang lebih besar. Karena itu, kecukupan bukan sekadar kenyamanan pribadi. Ia dapat menjadi modal untuk menjalankan amanah.

Persoalannya bukan apakah seseorang memiliki harta atau tidak. Persoalannya adalah apakah harta tersebut membelenggunya atau justru membebaskannya untuk berbuat lebih banyak kebaikan.

Antara Kaya Hati dan Kaya Harta

Memang benar, kekayaan Rasulullah ﷺ yang paling utama adalah kekayaan hati. Beliau tidak membutuhkan manusia. Beliau qanaah terhadap pemberian Allah. Dan justru karena itulah beliau menjadi manusia yang sangat dermawan.

Namun, di sini kita perlu berhati-hati agar tidak mempertentangkan antara kekayaan hati dan kekayaan materi.

Sebagian penafsiran seolah-olah merasa perlu memalingkan makna kecukupan dalam Surah Adh-Dhuha dari kekayaan material menuju sekadar kepuasan hati. Seakan-akan limpahan harta tidak layak disandingkan dengan kedudukan seorang muslim yang menyeru manusia kepada Allah.

Padahal, yang perlu dipersoalkan bukanlah ada atau tidak adanya harta, melainkan di mana posisi harta di dalam hati.

Seseorang dapat memiliki harta tetapi tidak diperbudak oleh harta. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki sedikit harta tetapi hatinya sepenuhnya dikuasai oleh keinginan terhadap dunia.

Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang jauh lebih luas. Allah mencukupi beliau, tetapi kecukupan itu tidak membuat beliau hidup untuk dirinya sendiri. Harta yang ada di tangannya mengalir kepada orang lain. Kekayaan tidak menjadikannya jauh dari manusia, tetapi justru menjadikannya semakin banyak memberi.

Di sinilah kita menemukan makna kekayaan yang sesungguhnya.

Kaya bukan sekadar memiliki. Kaya adalah memiliki kecukupan untuk memberi.

Dan lebih tinggi lagi, kaya bukan sekadar tidak membutuhkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup, tetapi memiliki hati yang bergantung kepada Allah.

Karena itu, ketika Allah memberikan kecukupan kepada Rasulullah ﷺ, kecukupan tersebut bukanlah tujuan akhir. Ia adalah bagian dari bekal untuk menunaikan amanah yang lebih besar.

Maka, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan hanya:

"Berapa banyak harta yang Allah berikan kepada kita?"

Tetapi:

"Untuk apa Allah mencukupkan kita?"

Miliarder di Balik Layar Sayap Kanan dan Islamfobia Eropa: Fakta Mengejutkan ten...


Miliarder di Balik Layar Sayap Kanan dan Islamfobia Eropa: Fakta Mengejutkan tentang Ambisi Global Musk dan Thiel


Dunia saat ini sedang menyaksikan pergeseran kekuasaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di tengah kecemasan akan masa depan teknologi yang tak terkendali dan jurang kesenjangan kekayaan yang kian lebar, muncul sosok-sosok yang bukan sekadar pengusaha sukses, melainkan arsitek tatanan dunia baru.

Elon Musk dan Peter Thiel bukan lagi sekadar penonton dalam panggung politik; mereka adalah pemain kunci yang sedang membentuk ulang realitas global. Strategi mereka sangat licik namun presisi: mengalihkan kemarahan publik atas ketimpangan ekonomi yang mereka ciptakan menuju kebencian terhadap "pihak lain".


Berikut adalah enam fakta mendalam yang membedah ambisi global para miliarder ini:

1. Akar di Apartheid: Warisan yang Membentuk Pandangan Dunia

Pandangan dunia Musk dan Thiel tidak muncul dari ruang hampa. Keduanya, bersama figur seperti penggalang dana David Sacks, merupakan bagian dari "pipa penyalur" ideologi yang berasal dari Afrika Selatan era apartheid.

Kekayaan keluarga mereka tidak berakar pada inovasi digital awal, melainkan pada sektor inti ekonomi apartheid: penambangan berlian dan uranium. Pengalaman ini membentuk visi "Darwinian" yang melihat dunia sebagai medan perang tanpa belas kasihan.

Profesor Quinn Slobodian dari Boston University menjelaskan bagaimana masa lalu ini menjadi fondasi ideologi mereka:

"Sentralitas Afrika Selatan bagi kelompok kanan jauh dan neoliberal sangatlah luar biasa. Bagi Musk sendiri, pengalaman tumbuh besar di sana... adalah pengalaman yang sangat dystopian. Musk melihat Afrika Selatan sebagai perang 'Darwinian' di mana semua orang melawan semua orang."

Visi ini bukan sekadar trauma masa kecil, melainkan kerangka kerja bagi kelompok elit baru untuk mendorong dunia menuju fasisme dan perang sipil global.


2. ROI Politik: Ketika Investasi Kampanye Berbuah Ratusan Miliar Dolar

Dalam sejarah politik, miliarder biasanya berperan sebagai donatur di balik layar. Namun, Musk telah mengubah paradigma ini menjadi investasi bisnis dengan imbal hasil (ROI) yang mencengangkan. Musk menggelontorkan sekitar $ 200 miliar—sebuah rekor imbal hasil yang melampaui mekanisme pasar mana pun.

Transisi ini menandai era di mana miliarder tidak lagi sekadar memengaruhi kebijakan, tetapi langsung memegang kendali pemerintahan:

Pemangkasan Agresif: Musk mengambil peran langsung untuk memotong anggaran pemerintah Amerika Serikat, bertindak bagaikan "gergaji mesin" (chainsaw) terhadap birokrasi negara, mirip dengan gaya kepemimpinan Javier Milei di Argentina.

Kabinet Oligarki: Setidaknya 13 miliarder telah ditunjuk untuk mengisi jabatan penting dalam pemerintahan baru, menggeser peran politisi karier dengan penguasa teknologi.

Akses Tanpa Batas: Mereka bertransformasi dari investor politik menjadi pengelola langsung kebijakan publik yang memengaruhi hajat hidup orang banyak secara global.

3. Teknologi sebagai Senjata: AI, Surveillance, dan Parasit Sektor Publik

Peter Thiel, melalui perusahaannya Palantir, telah mengubah AI menjadi instrumen militer dan pengawasan yang menakutkan. Palantir menyediakan sistem pengambilan keputusan berbasis AI (AIP) yang digunakan secara aktif di medan perang seperti Gaza dan Ukraina.

Ironisnya, meskipun Thiel sering berkhotbah tentang ketakutannya terhadap "apokalips" nuklir, perusahaannya justru mengembangkan teknologi yang mempercepat risiko konflik global tersebut.

Sifat parasitik dari ambisi ini terlihat jelas di Inggris. Thiel berhasil mengambil alih data NHS (layanan kesehatan publik) melalui kontrak senilai $600 juta, padahal ia secara terbuka menghina institusi tersebut.

Thiel menyatakan dengan nada sinis:

"Jalan raya menciptakan kemacetan, kesejahteraan menciptakan kemiskinan, sekolah membuat orang menjadi bodoh, dan NHS membuat orang sakit."


4. Strategi "Pengalihan Isu": Menciptakan Musuh untuk Melindungi Harta

Miliarder ini menyadari risiko politik jika masyarakat menyadari bahwa kekayaan mereka adalah hasil eksploitasi. Oleh karena itu, mereka menggunakan platform teknologi untuk memastikan publik tidak "menghubungkan titik-titik" ketimpangan tersebut. 

Strateginya adalah menciptakan narasi tentang "The Other"—migran, Muslim, dan kelompok 'woke'—sebagai target kebencian utama.

Platform X di bawah Musk telah menjadi inkubator untuk menyebarkan narasi Dystopia dan menghasut "perang saudara".

Dengan mendukung tokoh radikal seperti Tommy Robinson dan menyebarkan teori Great Replacement, mereka memicu Islamofobia untuk mengalihkan kemarahan kelas pekerja. Selama masyarakat sibuk membenci imigran, harta triliunan dolar milik para miliarder tetap aman dari tuntutan pajak yang adil atau regulasi yang ketat.


5. Visi Nihilistik dan Ketakutan akan "Satu Pemerintah Dunia"

Musk dan Thiel secara konsisten menentang regulasi pemerintah dengan dalih takut akan munculnya "pemerintahan dunia yang totaliter". Mereka memandang segala bentuk kontrol negara terhadap kapitalisme teknologi sebagai ancaman eksistensial.

Inilah alasan Thiel mengejek aktivis iklim seperti Greta Thunberg; baginya, regulasi lingkungan hanyalah penghambat akumulasi modal.

Ketajaman ideologi mereka bahkan mencapai tingkat yang ekstrem. Thiel pernah memberikan isyarat bahwa Senator Bernie Sanders, yang vokal melawan ekonomi yang dimanipulasi elit, bisa jadi adalah sosok "Anti-Kristus". Namun, di balik narasi besar tersebut, mereka tetap rapuh secara moral.

Thiel menunjukkan kegugupan yang luar biasa saat ditanya mengapa publik bersimpati pada pembunuhan CEO UnitedHealthcare, sebuah simbol kemarahan masyarakat terhadap sistem yang ia bela dengan gigih.


Narasi kebencian, ketakutan akan migran, dan histeria anti-Muslim yang dibangun oleh Musk dan Thiel adalah alat politik yang dirancang untuk mempertahankan status quo kekuasaan mereka.

Dengan membiarkan masyarakat saling bertikai, mereka bebas mengeksploitasi sumber daya global dan mengamankan dominasi teknologi tanpa gangguan.

DEFINISI PERSELISIHAN SECARA ETIMOLOGI DAN TERMINOLOGI Sebelum berbicara tentang bagaimana m...

DEFINISI PERSELISIHAN SECARA ETIMOLOGI DAN TERMINOLOGI

Sebelum berbicara tentang bagaimana mengelola perselisihan, kita perlu terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan perselisihan itu sendiri.

Sebab, bagaimana mungkin kita dapat membedakan antara perbedaan yang wajar dan perselisihan yang tercela jika istilahnya saja belum kita pahami dengan baik?

Dalam bahasa Arab, istilah yang sering digunakan untuk perselisihan adalah Al-Ikhtilaf. Kata ini berasal dari akar kata khalafa, yang tersusun dari huruf kha, lam, dan fa. Para ahli bahasa menjelaskan bahwa akar kata ini memiliki beberapa makna yang saling berkaitan.

Pertama: Definisi Al-Ikhtilaf Secara Etimologi

Makna pertama adalah sesuatu yang datang setelah sesuatu yang lain untuk menempati posisinya.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Maka setelah mereka, datanglah generasi yang jahat.”
(QS Al-A'raf: 169)»

Allah juga berfirman:

«“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang jelek.”
(QS Maryam: 59)»

Makna ini menunjukkan adanya sesuatu yang datang kemudian dan mengambil posisi sesuatu yang sebelumnya.

Dalam konteks lain, kata dari akar yang sama digunakan untuk menunjukkan adanya perbedaan dari sesuatu yang lain. Nabi Muhammad saw. bersabda:

«“Berbedalah kalian dengan orang-orang musyrik. Peliharalah jenggot dan potonglah kumis.”»

Dengan demikian, salah satu makna yang terkandung dalam akar kata khalafa adalah adanya sesuatu yang berada pada posisi yang berbeda dari sesuatu yang lain.

Makna kedua adalah lawan dari arah depan.

Dalam bahasa Arab dikenal ungkapan yang bermakna, “Ini berada di belakangku dan ini berada di depanku.” Penggunaan tersebut menunjukkan adanya dua posisi yang berlawanan: satu berada di belakang dan yang lainnya berada di depan.

Makna ketiga adalah perubahan atau bergantinya sesuatu dari keadaan sebelumnya.

Di antara contohnya adalah keterangan bahwa Nabi Muhammad saw. mengubah jalan ketika pulang dari suatu tempat setelah hari raya. Maksudnya, beliau menempuh jalan yang berbeda antara perjalanan pergi dan pulang.

Jika kita perhatikan ketiga makna tersebut, semuanya memiliki satu titik temu: adanya sesuatu yang berbeda posisi, berbeda arah, atau berbeda dari keadaan sebelumnya.

Lalu, kepada makna yang mana perselisihan di antara manusia dapat dikembalikan?

Perselisihan tampaknya paling dekat dengan makna pertama. Ketika dua orang berselisih, masing-masing mengambil posisi yang berbeda. Ia tidak menempatkan pendapat orang lain sebagai posisi yang dipilihnya, tetapi mengambil posisi yang berbeda darinya.

Sebaliknya, ketika terjadi kesepakatan, tidak ada posisi yang saling menyingkirkan. Pendapat orang lain dapat diterima sebagai pendapat bersama.

Karena itu, dalam Tajul 'Arus disebutkan bahwa ikhtalafa merupakan lawan dari ittafaqa, yaitu berselisih merupakan lawan dari bersepakat.

Hal ini juga tampak dalam sabda Nabi Muhammad saw.:

«“Luruskanlah barisan-barisan kalian dan janganlah kalian berselisih sehingga hati kalian berselisih.”»

Perhatikan hubungan yang sangat indah antara barisan dan hati.

Perselisihan tidak selalu berhenti pada perbedaan posisi lahiriah. Ketika tidak dikelola dengan baik, perbedaan di antara manusia dapat merambat ke dalam hati. Barisan yang semula lurus dapat menjadi renggang, dan hati yang semula bersatu dapat ikut menjauh.

Dalam Lisan Al-'Arab disebutkan pula makna lain, yaitu Al-Mudhadat, atau berlawanan. Namun, tampaknya berbagai makna tersebut pada akhirnya bermuara kepada satu pengertian umum: Al-Khilaf dan Al-Ikhtilaf merupakan lawan dari Al-Ittifaq, yaitu kesepakatan.

Pada titik ini sebenarnya kita tidak perlu memaksakan penjelasan yang terlalu rumit. Sebagian istilah bahasa memang memiliki makna yang begitu jelas melalui penggunaannya sehingga ketika dijelaskan secara berlebihan justru dapat menjadi semakin kabur.

Maka, secara sederhana dapat dikatakan:

Al-Ikhtilaf adalah lawan dari Al-Ittifaq, yaitu tidak adanya kesepakatan.

Kedua: Definisi Al-Ikhtilaf Secara Terminologi

Setelah memahami makna bahasanya, kita masuk kepada pengertian terminologis.

Ar-Raghib menjelaskan bahwa Al-Ikhtilaf dan Al-Mukhalafah adalah keadaan ketika seseorang mengambil jalan yang berbeda dari jalan orang lain, baik dalam keadaan maupun perbuatannya.

Ia juga menjelaskan bahwa Al-Khilaf memiliki makna yang lebih umum daripada Adh-Dhidd atau pertentangan. Setiap sesuatu yang berlawanan dapat disebut berselisih, tetapi tidak setiap perselisihan berarti pertentangan secara langsung.

Ini merupakan pembedaan yang penting.

Sebab, berbeda tidak selalu berarti berlawanan.

Dua orang dapat memiliki pandangan yang berbeda, tetapi tidak harus menjadi musuh. Dua pendapat dapat berbeda, tetapi tidak otomatis menjadikan para pemiliknya saling bermusuhan.

Namun, karena perselisihan dalam perkataan manusia terkadang berkembang menjadi pertikaian dan perdebatan, istilah ikhtilaf juga digunakan untuk menunjukkan keadaan tersebut.

Al-Qur'an menyebut:

«“Maka berselisihlah golongan-golongan yang ada di antara mereka.”»

(QS Maryam: 37)

Dan:

«“Tetapi golongan-golongan yang ada saling berselisih di antara mereka.”»

(QS Az-Zukhruf: 65)

Dari sini kita mendapatkan satu prinsip penting:

Tidak setiap perselisihan mengharuskan pertentangan, perpecahan, dan perlawanan.

Perselisihan untuk Mencari Kebenaran

Al-Jurjani mendefinisikan Al-Khilaf sebagai pertentangan yang berlangsung antara dua pihak untuk merealisasikan kebenaran atau membatalkan kebatilan.

Definisi ini memperlihatkan bahwa perselisihan juga dapat muncul karena seseorang berusaha mencari kebenaran.

Dengan demikian, keberadaan perbedaan pendapat saja belum cukup untuk menentukan apakah sebuah perselisihan itu tercela atau tidak. Kita perlu melihat sebab, cara, dan tujuan perselisihan tersebut.

Di sinilah pembahasan tentang perselisihan menjadi lebih mendalam.

Seseorang dapat berbeda pendapat karena mencari kebenaran. Orang lain dapat berbeda karena mempertahankan kepentingan dirinya. Ada yang berbeda karena perbedaan pemahaman terhadap dalil. Ada pula yang berbeda karena fanatisme.

Dari luar, semuanya mungkin terlihat sama-sama “berbeda”. Namun, hakikatnya belum tentu sama.

Al-Ikhtilaf dan Al-Khilaf

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa penggunaan istilah Al-Ikhtilaf dalam Al-Qur'an tidak selalu sekadar menunjukkan tidak adanya kesamaan pendapat, tetapi dalam sejumlah konteks menunjukkan makna perlawanan dan pertentangan.

Di antaranya adalah firman Allah:

«“Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.”»

(QS An-Nisa': 82)

Allah juga berfirman:

«“Sungguh, kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat.”»

(QS Adz-Dzariyat: 8)

Dan:

«“Tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada pula yang kafir.”»

(QS Al-Baqarah: 253)

Penjelasan ini menunjukkan bahwa penggunaan istilah Al-Ikhtilaf sangat bergantung pada konteksnya.

Sementara itu, Al-Kafwi memberikan pembedaan yang lebih terperinci antara Al-Ikhtilaf dan Al-Khilaf. Ia menyebut bahwa Al-Ikhtilaf dapat menunjuk kepada keberagaman jalan menuju suatu tujuan, sedangkan Al-Khilaf menunjukkan keadaan ketika dua pihak mengambil posisi yang berbeda.

Ia juga membedakan keduanya berdasarkan landasan dalil. Dalam pemaparannya, Al-Ikhtilaf berkaitan dengan perbedaan yang memiliki sandaran, sedangkan Al-Khilaf dapat menunjuk kepada perselisihan yang tidak bertumpu pada dalil.

Terlepas dari rincian perbedaan tersebut, satu hal menjadi semakin jelas: para ulama tidak selalu menggunakan istilah Al-Ikhtilaf dan Al-Khilaf dengan makna yang sepenuhnya identik.

Karena itu, kita perlu berhati-hati agar tidak tergesa-gesa memberikan satu definisi yang kemudian dipaksakan kepada seluruh penggunaan kedua istilah tersebut.

Apa yang Dapat Kita Simpulkan?

Dari berbagai definisi para ulama tersebut, setidaknya ada beberapa hal yang dapat diperhatikan.

Pertama, sulit memisahkan secara mutlak antara istilah Al-Ikhtilaf dan Al-Khilaf. Keduanya memiliki kedekatan makna dan dalam sejumlah penggunaan dapat saling menggantikan.

Kedua, masing-masing definisi biasanya hanya menyoroti sisi tertentu dari hakikat perselisihan. Ada yang menjelaskan gambaran perselisihan, ada yang menjelaskan sebabnya, ada yang menekankan tujuannya, ada yang membicarakan wilayah terjadinya, dan ada pula yang membandingkan Al-Ikhtilaf dengan Al-Khilaf.

Ketiga, yang paling penting untuk pembahasan kita adalah memahami bahwa perbedaan tidak otomatis berarti perpecahan.

Ini merupakan titik yang sangat penting.

Sebab, jika setiap perbedaan langsung kita anggap sebagai perpecahan, maka hampir tidak mungkin manusia hidup dalam kebersamaan. Perbedaan pemahaman, kemampuan, pengalaman, dan cara melihat suatu persoalan merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan itu berubah menjadi permusuhan.

Ikhtilaf sebagai Kondisi, Khilaf sebagai Arah Akhir

Dari penelitian terhadap penggunaan istilah Al-Ikhtilaf dan Al-Khilaf, dapat dikemukakan sebuah pembedaan yang membantu kita memahami keduanya.

Al-Ikhtilaf dapat dipahami sebagai keadaan ketika belum terdapat kesepakatan. Dua orang memiliki pandangan atau jalan yang berbeda terhadap suatu persoalan.

Adapun Al-Khilaf dapat menunjuk kepada keadaan ketika perbedaan tersebut berkembang menjadi posisi yang saling berseberangan.

Dengan pengertian ini, tidak setiap ikhtilaf harus berakhir menjadi khilaf.

Inilah pelajaran yang sangat penting.

Perbedaan dapat berhenti sebagai perbedaan. Tetapi perbedaan juga dapat berkembang menjadi pertentangan apabila tidak disertai ilmu dan adab.

Karena itu, jangan sampai kita menganggap setiap perbedaan sebagai ancaman terhadap persatuan. Sebaliknya, jangan pula kita menganggap setiap perbedaan sebagai sesuatu yang pasti dapat dibiarkan.

Kita harus melihatnya secara lebih teliti.

Apa penyebabnya?

Apa landasannya?

Dalam bidang apa perbedaan itu terjadi?

Bagaimana cara masing-masing pihak menyampaikannya?

Dan ke mana arah perbedaan tersebut membawa hati orang-orang yang terlibat?

Usulan Definisi Al-Ikhtilaf

Dengan memperhatikan berbagai penjelasan tersebut, Al-Ikhtilaf secara terminologis dapat dirumuskan sebagai berikut:

Al-Ikhtilaf adalah tidak adanya kesepakatan antara dua pihak dalam ucapan, perbuatan, atau keadaan pada suatu bidang tertentu, ketika masing-masing pihak mengambil jalan atau posisi yang berbeda dari pihak lainnya, baik secara lahir maupun batin, dengan tujuan membenarkan kebenaran, membatalkan kebatilan, atau tujuan lainnya.

Definisi ini mencakup beberapa unsur sekaligus.

Pertama, adanya dua pihak atau lebih yang terlibat dalam perbedaan.

Kedua, tidak adanya kesepakatan di antara mereka.

Ketiga, perbedaan tersebut dapat terjadi dalam ucapan, perbuatan, maupun keadaan.

Keempat, masing-masing pihak mengambil jalan atau posisi yang berbeda.

Kelima, perbedaan tersebut memiliki sebab dan motif, yang bisa berupa usaha mencari kebenaran maupun tujuan lainnya.

Keenam, perselisihan dapat memiliki tujuan yang berbeda, sehingga tidak semua perselisihan dapat dinilai dengan satu ukuran yang sama.

Di sinilah kita mulai memahami mengapa fikih perselisihan menjadi sebuah kebutuhan.

Kita tidak cukup hanya mengetahui bahwa manusia berbeda.

Kita perlu mengetahui bagaimana manusia berbeda.

Kita perlu mengetahui perbedaan mana yang lahir dari pencarian kebenaran, mana yang lahir dari keterbatasan pemahaman, mana yang merupakan ruang ijtihad, dan mana yang telah berubah menjadi fanatisme serta pertentangan.

Sebab, masalah terbesar bukanlah adanya perbedaan.

Masalah terbesar adalah ketika perbedaan kehilangan adab, kehilangan ilmu, dan kehilangan tujuan mencari kebenaran.

Jika hal itu terjadi, ikhtilaf yang semula hanya merupakan perbedaan pendapat dapat berubah menjadi khilaf, lalu berkembang menjadi permusuhan, dan akhirnya menjadi perpecahan.

Sebaliknya, ketika perbedaan dikelola dengan ilmu, keadilan, dan adab, maka perbedaan tidak harus menghancurkan persaudaraan.

Perpecahan: Celah yang Melemahkan Umat Tidak ada keraguan bahwa dalam perjalanan...


Perpecahan: Celah yang Melemahkan Umat

Tidak ada keraguan bahwa dalam perjalanan sejarah, kaum muslimin menghadapi berbagai bentuk permusuhan dari orang-orang yang menentang Islam. Mereka menggunakan beragam cara untuk melemahkan Islam dan kaum muslimin. Namun, ada satu cara yang dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar serangan dari luar: memecah-belah kaum muslimin dari dalam.

Mengapa perpecahan menjadi begitu berbahaya?

Karena ketika sebuah umat kehilangan persatuan, kekuatan yang semula dapat digunakan untuk menghadapi berbagai tantangan justru berbalik menjadi pertikaian di antara mereka sendiri. Energi umat habis untuk saling mencurigai, saling menyerang, dan saling melemahkan.

Al-Qur'an mengingatkan:

«“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.”
(QS Al-Anfal: 46)»

Ayat ini menunjukkan hubungan yang sangat jelas: perselisihan bukan sekadar persoalan hubungan sosial. Ketika perselisihan berkembang menjadi pertikaian, dampaknya dapat menghilangkan keberanian dan kekuatan sebuah umat.

Karena itu, Al-Qur'an juga memperingatkan kaum muslimin agar berhati-hati terhadap pihak-pihak yang tidak menghendaki kebaikan bagi mereka:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu sebagai teman kepercayaanmu. Mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat.”
(QS Ali 'Imran: 118)»

Peringatan ini mengajarkan satu hal penting: sebuah umat tidak hanya perlu memiliki kekuatan untuk menghadapi ancaman dari luar, tetapi juga harus memiliki kewaspadaan terhadap berbagai upaya yang dapat merusak persaudaraan dan persatuannya.

Perpecahan sebagai Strategi yang Berulang dalam Sejarah

Jika kita menengok sejarah, kita akan menemukan berbagai peristiwa yang memperlihatkan bagaimana konflik internal dapat dimanfaatkan untuk melemahkan suatu masyarakat.

Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati. Tidak setiap perselisihan di antara kaum muslimin dapat begitu saja disebut sebagai hasil rekayasa musuh. Dalam sejarah selalu terdapat banyak faktor: kesalahan manusia, perbedaan pemahaman, kepentingan politik, fanatisme kelompok, kelemahan informasi, bahkan hawa nafsu.

Yang perlu kita renungkan adalah bagaimana perpecahan yang telah muncul dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk memperlebar konflik tersebut.

Al-Qur'an sendiri telah menggambarkan bagaimana kaum munafik berusaha mengganggu barisan kaum muslimin.

Allah berfirman:

«“Jika mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak akan menambah kekuatanmu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju ke depan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan di barisanmu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan perkataan mereka.”
(QS At-Taubah: 47)»

Bahaya menjadi semakin besar ketika propaganda kebencian menemukan orang-orang yang bersedia mendengarkan, mempercayai, dan menyebarkannya.

Dengan demikian, persoalannya bukan hanya siapa yang menyebarkan fitnah, tetapi juga mengapa fitnah itu dapat menemukan tempat di tengah umat.

Masjid yang Dibangun untuk Memecah Persatuan

Al-Qur'an memberikan contoh lain melalui peristiwa Masjid Dhirar. Allah berfirman:

«“Dan di antara orang-orang munafik itu ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana pada orang-orang yang beriman, untuk kekafiran, dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, ‘Kami hanya menghendaki kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta.”
(QS At-Taubah: 107)»

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa sebuah tindakan yang secara lahiriah tampak baik dapat memiliki tujuan yang berbeda di baliknya.

Sebuah bangunan dapat disebut masjid. Sebuah slogan dapat berbicara tentang kebaikan. Sebuah gerakan dapat mengatasnamakan kepentingan umat. Namun, ukuran kebenaran tidak berhenti pada nama dan penampilan. Yang harus diperhatikan juga adalah tujuan, cara, dan dampaknya terhadap umat.

Karena itu, umat perlu memiliki kejernihan dalam menilai berbagai gerakan yang muncul di tengah mereka.

Mengguncang Barisan dari Dalam

Dalam Perang Ahzab, Al-Qur'an juga menggambarkan bagaimana sebagian orang berusaha melemahkan kaum muslimin dari dalam.

Allah berfirman:

«“Dan ketika segolongan di antara mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.’ Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.’ Padahal rumah-rumah itu tidak terbuka; mereka hanyalah hendak lari.”
(QS Al-Ahzab: 13)»

Allah juga berfirman:

«“Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah bersama kami.’”
(QS Al-Ahzab: 18)»

Ayat-ayat ini menunjukkan bentuk lain dari pelemahan: bukan menyerang secara langsung, melainkan mengguncang semangat, menebarkan keraguan, menghalangi perjuangan, dan menarik orang-orang keluar dari barisan.

Cara seperti ini sering kali tidak terlihat sebagai serangan. Bahkan mungkin disampaikan dengan alasan keselamatan, kepentingan pribadi, atau pertimbangan yang tampak masuk akal.

Di sinilah pentingnya kewaspadaan.

Tidak semua orang yang berada di tengah barisan benar-benar bekerja untuk memperkuat barisan. Dan tidak semua perkataan yang terdengar menenangkan pada akhirnya menghasilkan ketenangan.

Ketika Fitnah Menjadi Konflik Antarsaudara

Peristiwa berita dusta yang menimpa Aisyah radhiyallahu 'anha memberikan pelajaran yang sangat dalam tentang betapa cepat sebuah fitnah dapat merusak persaudaraan.

Fitnah tersebut berkembang hingga hampir memicu pertikaian antara Aus dan Khazraj. Padahal kedua kelompok itu telah dipersatukan oleh Islam.

Ketika Rasulullah saw. menyampaikan persoalan tersebut di hadapan kaum muslimin, Sa'ad bin Mu'adz berdiri menyatakan kesediaannya membela Rasulullah. Namun, Sa'ad bin Ubadah merespons dengan pembelaan terhadap kelompoknya. Perdebatan kemudian berkembang. Usaid bin Hudhair turut berbicara. Ketegangan antara Aus dan Khazraj pun meningkat hingga mereka hampir saling menyerang.

Perhatikan betapa cepat perubahan itu terjadi.

Sebuah berita dusta bermula dari satu persoalan. Kemudian berkembang menjadi pembicaraan. Pembicaraan berubah menjadi kecurigaan. Kecurigaan menyentuh fanatisme kelompok. Dan fanatisme kelompok hampir menyeret dua komunitas yang telah dipersatukan oleh iman ke dalam pertikaian.

Rasulullah saw. kemudian terus meredakan mereka hingga mereka kembali diam.

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa fitnah tidak selalu menghancurkan umat dengan menyerang seluruh umat sekaligus. Kadang-kadang ia cukup dengan menyentuh titik-titik sensitif dalam hubungan antarkelompok.

Ketika fanatisme telah menguasai seseorang, kebenaran dapat berubah menjadi pembelaan kelompok. Persaudaraan dapat dikalahkan oleh identitas golongan.

Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya persatuan di tingkat slogan, tetapi juga adab ketika muncul perbedaan.

Tentang Abdullah bin Saba' dan Fitnah Sejarah

Dalam literatur sejarah Islam juga terdapat kisah tentang Abdullah bin Saba' yang dikaitkan dengan berbagai fitnah pada masa akhir pemerintahan Utsman dan konflik yang kemudian terjadi di antara kaum muslimin.

Namun, pembahasan tentang tokoh dan perannya dalam rangkaian peristiwa tersebut memiliki perbedaan dalam sumber-sumber sejarah. Karena itu, bagian ini perlu dikaji secara kritis dan tidak cukup hanya dengan menyandarkan seluruh rangkaian konflik kepada satu tokoh.

Pelajaran yang lebih luas tetap penting: konflik yang besar biasanya tidak lahir dari satu sebab tunggal. Ada persoalan politik, perbedaan penilaian, informasi yang tidak utuh, fanatisme, kepentingan, provokasi, dan kesalahan manusia yang dapat saling bertemu.

Maka, mempelajari sejarah bukan sekadar mencari siapa yang harus disalahkan. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana sebuah umat yang sebelumnya bersatu dapat masuk ke dalam pusaran konflik.

Fanatisme Kelompok dan Identitas

Perpecahan juga dapat tumbuh ketika identitas kelompok ditempatkan lebih tinggi daripada persaudaraan Islam.

Primordialisme, fanatisme kebangsaan, fanatisme kelompok, maupun berbagai identitas politik dapat menjadi persoalan apabila identitas tersebut membuat seseorang menilai saudaranya bukan lagi berdasarkan kebenaran dan keadilan, tetapi berdasarkan kelompoknya.

Masalahnya bukan semata-mata keberadaan identitas. Manusia memang hidup dengan berbagai identitas sosial, budaya, dan kebangsaan.

Persoalannya muncul ketika identitas itu berubah menjadi fanatisme yang membutakan, sehingga kepentingan kelompok mengalahkan keadilan dan persaudaraan.

Sejarah modern menunjukkan bahwa masyarakat muslim juga pernah mengalami fragmentasi politik dan sosial dalam berbagai bentuk. Ketika umat terpecah ke dalam kepentingan yang saling berhadapan, pihak luar dapat memanfaatkan celah tersebut.

Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar, “Siapa yang memecah kita?” tetapi juga:

Mengapa kita begitu mudah dipecah?

Pertanyaan kedua ini jauh lebih penting karena mengarahkan kita kepada evaluasi diri.

Perbedaan Pemikiran dan Bahaya Fanatisme

Dalam perjalanan sejarah Islam muncul berbagai aliran teologi, fikih, dan pemikiran. Sebagian perbedaan tersebut merupakan hasil dari proses intelektual yang kompleks dan tidak dapat disederhanakan hanya sebagai hasil pengaruh dari luar.

Karena itu, pembahasan tentang berbagai aliran harus dilakukan dengan ilmu dan keadilan. Tidak semua perbedaan pendapat adalah bentuk permusuhan terhadap Islam, dan tidak setiap perbedaan fikih berarti perpecahan umat.

Justru di sinilah pentingnya membedakan antara perbedaan ilmiah dan fanatisme yang melahirkan permusuhan.

Perbedaan dalam memahami persoalan tertentu dapat terjadi karena perbedaan dalil, metode istinbat, pengetahuan terhadap suatu riwayat, atau cara memahami teks. Perbedaan semacam itu tidak otomatis menghancurkan persaudaraan.

Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan berubah menjadi kebencian, saling merendahkan, saling menuduh, dan menganggap kelompok sendiri sebagai satu-satunya representasi kebenaran dalam seluruh persoalan.

Dengan demikian, persoalan umat bukan sekadar adanya banyak pendapat. Persoalannya adalah hilangnya adab dalam menyikapi perbedaan.

Musuh dari Luar dan Kelemahan dari Dalam

Pada akhirnya, kita perlu melihat persoalan ini secara lebih seimbang.

Ancaman dari luar memang dapat terjadi. Sejarah memperlihatkan bahwa kekuatan politik dari luar pernah memanfaatkan konflik internal umat. Namun, tidak adil jika seluruh kelemahan umat selalu dijelaskan dengan teori campur tangan pihak luar.

Sebuah bangunan yang kokoh tidak mudah runtuh hanya karena ada orang yang berusaha merobohkannya dari luar. Tetapi apabila fondasinya telah retak, sedikit tekanan saja dapat memperbesar kerusakan.

Demikian pula umat.

Pihak luar mungkin mencoba memanfaatkan perpecahan. Namun, celah itu hanya dapat dimanfaatkan apabila perpecahan memang telah tumbuh di dalam diri umat.

Karena itu, memperkuat persatuan bukan hanya berarti menghadapi musuh dari luar. Ia dimulai dengan memperbaiki hubungan di antara kaum muslimin sendiri: mengurangi fanatisme, menjaga lisan, memeriksa berita, menegakkan keadilan, dan mengembalikan perselisihan kepada prinsip-prinsip agama.

Mengapa Kita Harus Mempelajari Fikih Perselisihan?

Di sinilah kita sampai pada pertanyaan yang lebih mendasar.

Jika persatuan Islam merupakan salah satu tujuan penting dalam kehidupan umat, lalu bagaimana kita menghadapi perbedaan?

Apakah persatuan berarti semua orang harus mempunyai pendapat yang sama?

Tentu tidak.

Para sahabat sendiri pernah berbeda pendapat. Namun, perbedaan mereka tidak otomatis menghilangkan persaudaraan. Mereka memiliki tempat kembali yang sama: Allah dan Rasul-Nya.

Karena itu, yang perlu kita pelajari bukan hanya fikih persatuan, tetapi juga fikih perselisihan.

Bagaimana cara berbeda pendapat?

Apa yang harus dilakukan ketika kita merasa pendapat kita benar?

Bagaimana kita memperlakukan saudara yang berbeda pandangan?

Kapan sebuah perbedaan merupakan perbedaan ilmiah yang dapat ditoleransi, dan kapan ia berubah menjadi penyimpangan yang harus dikoreksi?

Bagaimana menyampaikan koreksi tanpa merusak kehormatan saudara?

Dan yang paling penting: bagaimana tetap bersaudara ketika kita belum mencapai kesepakatan?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi semakin penting pada zaman ketika informasi bergerak begitu cepat. Sebuah potongan pernyataan dapat menyebar dalam hitungan detik. Sebuah tuduhan dapat menjangkau ribuan orang sebelum kebenarannya diperiksa. Sebuah perbedaan pendapat dapat berubah menjadi permusuhan hanya karena masing-masing pihak merasa kelompoknya harus menang.

Padahal, persatuan tidak selalu berarti keseragaman.

Persatuan berarti memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada kepentingan kelompok. Persatuan berarti ketika perbedaan muncul, kita masih memiliki tempat kembali yang sama. Persatuan berarti tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk meruntuhkan persaudaraan.

Kembali kepada Pertanyaan Awal

Maka, persoalan terbesar bukan hanya bagaimana umat menghadapi pihak yang ingin memecah-belah mereka. Persoalan yang lebih dalam adalah bagaimana umat membangun kekebalan terhadap perpecahan.

Jika kita mudah terprovokasi, mudah percaya kepada berita, mudah menghina saudara, mudah mengutamakan kelompok, dan mudah mengubah perbedaan menjadi permusuhan, maka sebenarnya kita sendiri telah menyediakan pintu bagi perpecahan.

Karena itu, pertanyaan akhirnya bukan sekadar:

“Siapa yang ingin memecah-belah umat?”

Tetapi:

“Apa yang membuat kita mudah dipecah-belah?”

Dari sinilah pembahasan tentang fikih perselisihan menjadi penting.

Atas dasar apa kita bersatu?

Bagaimana kita membangun persatuan?

Bagaimana adab kita ketika berbeda?

Bagaimana kita menjaga persaudaraan ketika belum menemukan kesepakatan?

Dan jika kita belum sepakat dalam suatu persoalan, apakah itu berarti harapan untuk bersatu harus berakhir?

Bukankah Tuhan kita satu, kitab kita satu, dan Rasul kita satu?

Bukankah para sahabat telah memberikan teladan bahwa perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan perpecahan?

Mungkin di situlah pekerjaan besar umat bermula: bukan menghapus seluruh perbedaan, tetapi belajar mengelola perbedaan dengan ilmu, keadilan, dan adab, sehingga perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan.

Para Sahabat Berselisih, tetapi Tidak Berpecah Para sahabat juga berselisih. Namun, mereka a...

Para Sahabat Berselisih, tetapi Tidak Berpecah

Para sahabat juga berselisih.

Namun, mereka adalah sebaik-baik orang yang berselisih dan sebaik-baik orang yang menjaga adab dalam perselisihan. Bagaimana mungkin tidak demikian, sementara Allah Ta'ala telah memuji mereka dalam Kitab-Nya, meridhai mereka, mengabadikan keteladanan mereka, meninggikan kedudukan mereka, dan memuliakan mereka dengan kemuliaan yang besar?

Perselisihan mereka tidak menghapus persaudaraan. Perbedaan pendapat tidak membuat mereka kehilangan keadilan. Ijtihad yang berbeda tidak menjadikan mereka saling merendahkan.

Di sinilah kita perlu membedakan antara perselisihan dalam mencari kebenaran dan perselisihan yang lahir dari hawa nafsu.

Asy-Syafi'i berkata:

"Mereka di atas kita dalam segala ilmu, ijtihad, sifat wara', dan akal, serta dalam berbagai perkara yang dapat diketahui dengan ilmu dan disimpulkan dengannya. Pendapat-pendapat mereka bagi kita sangat terpuji dan lebih utama daripada berbagai pendapat kita untuk diri kita sendiri."

Beliau juga berkata:

"Sungguh, Allah Ta'ala telah memuji para sahabat Rasulullah dan meridhai mereka dalam Al-Qur'an, Taurat, dan Injil. Mereka juga lebih dahulu mendapatkan keutamaan melalui lisan Rasulullah yang tidak diperoleh oleh seorang pun setelahnya. Semoga Allah merahmati mereka dan memberkahi apa yang telah dianugerahkan kepada mereka sehingga mereka mencapai derajat orang-orang yang benar, para syuhada, dan orang-orang saleh."

Ibnul Qayyim bahkan menuturkan dalam Al-I'lam empat puluh enam dalil tentang kewajiban mengikuti para sahabat. Hal itu, selain menunjukkan keutamaan mereka, juga memperlihatkan kedudukan mereka sebagai generasi yang berhasil memahami dan menerapkan agama dengan sangat dekat kepada sumbernya.

Ketika Berselisih, Mereka Kembali kepada Wahyu

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa para ulama dari kalangan sahabat, tabi'in, dan generasi setelah mereka, apabila berselisih dalam suatu perkara, mengikuti perintah Allah:

"Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya."
(QS An-Nisa': 59)

Ayat ini bukan sekadar teori bagi mereka. Ia menjadi metode dalam menghadapi perbedaan.

Mereka biasa berdiskusi dalam suatu persoalan dengan semangat musyawarah dan saling menasihati. Pendapat mereka mungkin berbeda dalam persoalan ilmiah maupun praktik, tetapi perbedaan itu tidak menghilangkan keramahan, penjagaan hak, dan persaudaraan agama.

Inilah salah satu pelajaran terpenting dari generasi awal Islam.

Mereka tidak menganggap perbedaan sebagai alasan untuk berhenti menjadi saudara.

Mereka berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati. Mereka mempertahankan pendapat, tetapi tidak kehilangan keadilan. Mereka berusaha meyakinkan pihak lain, tetapi tidak menjadikan kemenangan pendapat sebagai kemenangan diri.

Perselisihan Ilmiah dan Perselisihan Amaliah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa perselisihan di kalangan para ulama dapat berkaitan dengan persoalan ilmiah, seperti akidah dan ushul, maupun persoalan amaliah, seperti fikih dan politik.

Namun, perselisihan dalam persoalan hukum dan praktik justru lebih banyak terjadi di antara para sahabat.

Beliau berkata:

"Adapun perselisihan dalam berbagai hukum, itu lebih banyak daripada yang dapat diteliti. Seandainya setiap kali dua orang muslim berselisih dalam suatu perkara lalu keduanya saling tidak berbicara, pasti tidak akan ada di antara kaum muslimin keterjagaan dan persaudaraan. Abu Bakar dan Umar, dua pemimpin kaum muslimin, biasa berselisih dalam berbagai perkara yang tidak mereka maksudkan kecuali kebaikan."

Kalimat ini sangat penting untuk direnungkan.

Jika setiap perbedaan pendapat dianggap sebagai alasan untuk memutus hubungan, maka persaudaraan umat akan menjadi sangat rapuh.

Sebab, selama manusia memiliki kemampuan berpikir, pengalaman, tingkat pengetahuan, dan cara memahami dalil yang berbeda, perbedaan dalam sebagian persoalan tidak mungkin dihapus seluruhnya.

Yang harus dijaga bukanlah agar semua manusia selalu berpikir sama.

Yang harus dijaga adalah agar perbedaan tidak menghancurkan persaudaraan.

Mereka Berbeda Pendapat, tetapi Bersatu Hati

Generasi terdahulu berselisih dalam rangka mencari kebenaran dan merealisasikan tujuan-tujuan syariat melalui pemahaman terhadap Al-Qur'an dan Sunnah.

Perselisihan semacam itu tidak menjadi ancaman bagi umat.

Mereka dapat berbeda pendapat, tetapi tetap bersatu dalam prinsip. Kalimat mereka tetap satu dan hati mereka tetap terikat dalam persaudaraan.

Mereka tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membentuk permusuhan.

Para sahabat memiliki akhlak yang luhur dan keikhlasan yang kuat. Mereka tidak menjadikan dunia sebagai tujuan perselisihan. Yang mereka cari adalah kebenaran dan kebaikan.

Namun, ada pula pihak-pihak yang berusaha menyulut pertikaian dan memperluasnya.

Asy-Syathibi menukil dari sejumlah ulama bahwa para sahabat setelah wafatnya Rasulullah saw. memang berselisih dalam berbagai hukum agama. Akan tetapi, mereka tidak bercerai-berai dan tidak berubah menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan.

Mengapa?

Karena mereka tidak meninggalkan agama.

Mereka hanya berbeda dalam perkara yang memang memungkinkan ijtihad, yaitu ketika tidak menemukan nash yang secara langsung menjelaskan persoalan tersebut. Mereka berusaha memahami Al-Qur'an dan Sunnah, kemudian melakukan ijtihad berdasarkan kemampuan mereka.

Karena itu, perbedaan mereka justru merupakan bagian dari kesungguhan mencari kebenaran.

Mereka tetap saling mencintai dan saling menasihati. Persaudaraan Islam tetap tegak di antara mereka.

Keadaan berubah ketika hawa nafsu mulai masuk.

Ketika dorongan hawa nafsu menguasai perselisihan, muncullah permusuhan. Orang-orang yang mengikuti hawa nafsu kemudian terpecah menjadi berbagai kelompok.

Ini memberikan pelajaran penting: bukan semata-mata perbedaan yang menghancurkan persatuan, tetapi masuknya hawa nafsu ke dalam perbedaan.

Adab Al-Qur'an dalam Perselisihan

Dengan demikian, para sahabat yang mulia memiliki adab yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka dibentuk oleh petunjuk wahyu dan teladan Nabi Muhammad saw.

Ketika berselisih, tujuan mereka bukan mencari keuntungan dunia.

Dunia tidak menjadi ukuran mereka. Hawa nafsu tidak menjadi hakim mereka. Fanatisme kesukuan, kepentingan kelompok, kedudukan, dan keuntungan pribadi tidak menjadi tujuan mereka.

Mereka berusaha menghiasi diri dengan niat yang baik, hikmah, keadilan, kehati-hatian, amanah, dan kelembutan. Sebaliknya, mereka berusaha membuang hawa nafsu dan fanatisme.

Ketika terjadi perselisihan, tempat kembali mereka adalah Al-Qur'an dan Sunnah, baik dari sisi teks maupun maknanya. Mereka tidak memaksakan diri untuk menemukan pembenaran bagi pendapat pribadi. Mereka berusaha mencari kebenaran dengan kemampuan yang Allah berikan kepada mereka.

Karena itu, mereka tidak berselisih untuk menciptakan pertikaian.

Mereka juga tidak berselisih untuk memenangkan diri.

Mereka tidak menjadikan perbedaan sebagai sarana untuk mengangkat kedudukan kelompoknya atau menjatuhkan kelompok lain.

Ibnul Qayyim berkata:

"Sesungguhnya para sahabat berselisih paham dalam banyak masalah. Namun, sebagian mereka tidak memperlihatkan sikap permusuhan dan tidak memutuskan ikatan dengan yang lainnya. Justru masing-masing berusaha sungguh-sungguh membela pendapatnya dengan kemampuan terbaik yang mereka miliki. Setelah perdebatan selesai, mereka kembali kepada keramahan, cinta, persahabatan, dan loyalitas. Tidak ada sebagian mereka yang menyembunyikan kedengkian kepada yang lain atau memendam celaan dan cercaan. Bahkan, seseorang tetap menunjukkan kepada orang yang meminta fatwa, meskipun berbeda dengannya, bahwa orang tersebut lebih baik dan lebih berilmu daripada dirinya."82

Perhatikan bagian terakhir ini.

Seseorang dapat berbeda pendapat dengan saudaranya, tetapi tetap mengakui keilmuan saudaranya.

Ia dapat menganggap pendapatnya lebih kuat, tetapi tidak harus menganggap dirinya lebih mulia.

Inilah adab yang sering hilang ketika perselisihan berubah menjadi pertarungan ego.

Mengapa Perselisihan Para Sahabat Berbeda?

Lalu muncul sebuah pertanyaan penting:

Jika perselisihan dalam agama dilarang, bagaimana dengan perselisihan para sahabat dan para imam setelah mereka?

Apakah perselisihan mereka sama dengan perselisihan yang banyak terjadi pada generasi belakangan?

Jawabannya: tidak. Ada perbedaan yang sangat besar.

Perbedaan itu setidaknya terlihat dari dua hal: sebabnya dan dampaknya.

Pertama: Sebabnya

Perselisihan para sahabat pada dasarnya muncul karena perbedaan pemahaman yang alami dalam memahami dalil. Mereka tidak memilih perselisihan sebagai tujuan.

Perbedaan seperti ini tidak mungkin dihilangkan secara keseluruhan dari kehidupan manusia. Selama seseorang memiliki keterbatasan dalam memahami teks, perbedaan ijtihad mungkin terjadi.

Karena itu, seseorang tidak otomatis tercela hanya karena menghasilkan kesimpulan yang berbeda, selama ia memenuhi syarat-syarat ijtihad dan sungguh-sungguh mencari kebenaran.

Namun, para sahabat sendiri tidak mencintai perselisihan. Ketika ada jalan untuk menghindarinya, mereka berusaha menghindarinya.

Di sinilah letak perbedaan yang penting.

Mereka mengalami perselisihan, tetapi tidak mencintai perselisihan.

Mereka berbeda karena mencari kebenaran, bukan mencari alasan untuk berbeda.

Sementara itu, pada sebagian generasi belakangan, perselisihan terkadang justru dipertahankan dan dibenarkan sebagai sesuatu yang harus diterima tanpa usaha untuk kembali kepada sumber kebenaran.

Padahal para imam yang diikuti dalam ilmu justru sangat menekankan pentingnya mengikuti Sunnah dan meninggalkan pendapat yang bertentangan dengannya.

Kedua: Dampaknya

Perbedaan juga dapat dilihat dari dampaknya terhadap persatuan.

Para sahabat mengalami perselisihan yang cukup banyak dalam persoalan cabang, tetapi mereka sangat menjaga manifestasi persatuan. Mereka berusaha menjauhkan segala sesuatu yang dapat memecah kalimat dan menghancurkan barisan.

Perselisihan tidak otomatis menghilangkan persaudaraan.

Sebaliknya, dalam sebagian keadaan pada generasi belakangan, perselisihan berkembang menjadi perpecahan, pertikaian, saling mencela, bahkan rusaknya akhlak.

Di sinilah persoalannya menjadi jauh lebih serius.

Sebab, ketika umat yang mengemban dakwah kepada manusia justru tampil sebagai manusia yang saling bermusuhan, bagaimana orang lain akan melihat keindahan Islam?

Seseorang yang sedang mencari kebenaran mungkin datang dan melihat banyak kelompok yang saling mengklaim paling benar, saling mencela, dan saling menjauh.

Pertanyaan yang muncul kemudian sangat sederhana:

"Jika kalian semua mengajak kepada agama yang satu, mengapa kalian sendiri tidak dapat bersatu?"

Pertanyaan seperti ini seharusnya menggugah kita.

Belajar dari Adab Para Sahabat

Karena itu, kebutuhan kita hari ini bukan sekadar mengetahui bahwa para sahabat pernah berbeda pendapat.

Yang jauh lebih penting adalah mempelajari bagaimana mereka berbeda pendapat.

Kita perlu belajar bagaimana mereka menjaga niat.

Bagaimana mereka mencari kebenaran.

Bagaimana mereka mengembalikan perselisihan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Bagaimana mereka tetap menghormati orang yang berbeda pendapat.

Bagaimana mereka dapat membela pendapatnya dengan kuat tanpa merendahkan orang lain.

Bagaimana mereka dapat mengatakan bahwa pendapatnya benar tanpa merasa bahwa dirinya pasti lebih mulia.

Dan yang paling penting, bagaimana setelah perselisihan selesai mereka kembali menjadi saudara.

Inilah yang sering terlupakan.

Kita mungkin mewarisi perbedaan pendapat para ulama, tetapi belum tentu mewarisi adab mereka.

Kita mungkin mengetahui dalil yang mereka gunakan, tetapi belum tentu memiliki keikhlasan yang mereka miliki.

Kita mungkin mampu menjelaskan kesalahan pendapat orang lain, tetapi belum tentu mampu menjaga hati dari kesombongan, kebencian, dan fanatisme.

Padahal, ilmu tanpa adab dapat menjadi bahan bakar perselisihan.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang persatuan umat, yang perlu diperbaiki bukan hanya struktur pemikiran, tetapi juga keadaan hati.

Para sahabat mengajarkan bahwa persatuan tidak mengharuskan hilangnya seluruh perbedaan. Persatuan menuntut agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Mereka berbeda pendapat, tetapi tidak kehilangan persaudaraan.

Mereka berbeda dalam ijtihad, tetapi tetap kembali kepada wahyu.

Mereka mempertahankan pendapat, tetapi tidak menjadikan kemenangan pendapat sebagai tujuan pribadi.

Mereka mencari kebenaran, bukan kemenangan.

Dan mungkin di situlah salah satu pelajaran terbesar dari generasi terbaik umat ini:

Yang harus kita warisi dari para sahabat bukan hanya pendapat mereka, tetapi juga adab mereka ketika berbeda pendapat.

Sebab, umat tidak akan hancur hanya karena adanya perbedaan. Umat akan mulai rapuh ketika perbedaan telah kehilangan adab, ketika hawa nafsu mengambil alih, ketika fanatisme menggantikan keikhlasan, dan ketika kemenangan atas saudara sendiri lebih dicintai daripada sampainya semua pihak kepada kebenaran.

Karena itu, mempelajari perselisihan para sahabat bukan untuk mencari pembenaran bagi perpecahan kita.

Justru sebaliknya.

Ia mengajarkan kepada kita bagaimana berbeda tanpa berpecah, berdiskusi tanpa bermusuhan, mempertahankan pendapat tanpa kehilangan persaudaraan, dan mencari kebenaran tanpa menjadikan ego sebagai tujuan.

Inilah adab perselisihan yang perlu dihidupkan kembali.

Persatuan: Antara Takdir dan Ikhtiar Perpecahan yang terjadi pada um...


Persatuan: Antara Takdir dan Ikhtiar
Perpecahan yang terjadi pada umat ini merupakan bagian dari takdir Allah. Namun, memahami perpecahan sebagai sesuatu yang telah ditakdirkan bukan berarti kita boleh berserah diri kepadanya, apalagi menjadikannya alasan untuk membiarkan perselisihan terus berlangsung.

Takdir tidak menghapus kewajiban untuk berikhtiar.

Justru kita diperintahkan untuk menempuh sebab-sebab syar'i yang dapat menghilangkan perselisihan atau setidaknya meminimalisirnya. Karena itu, Al-Qur'an dan Sunnah tidak hanya memberitahukan bahwa perpecahan akan terjadi, tetapi juga memberikan petunjuk bagaimana umat harus menyikapinya.

Ada perintah untuk bersatu dan berpegang teguh. Allah dan Rasul-Nya memuji persatuan. Sebaliknya, terdapat larangan keras terhadap perpecahan yang tercela serta ancaman bagi mereka yang menjadikannya jalan kehidupan.

Dengan demikian, persoalan persatuan bukan persoalan sampingan. Ia merupakan salah satu pokok besar agama yang bahkan terus diingatkan kepada kaum muslimin dalam setiap shalat melalui Surah Al-Fatihah.

Setiap hari kita memohon kepada Allah:

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat."
(QS Al-Fatihah: 6–7)

Ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan di sini.

Kita tidak hanya memohon agar ditunjukkan kepada "jalan", tetapi memohon kepada jalan yang lurus. Jalan itu harus jelas arahnya, tidak bercabang ke berbagai arah yang saling menjauhkan, dan harus membawa manusia menuju tujuan yang benar.

Karena itu, Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa secara bahasa Ash-Shirath memiliki beberapa sifat: ia merupakan jalan yang lurus, mudah ditempuh, dapat dilalui, luas, dan mengantarkan orang yang menempuhnya kepada tujuan.

Secara syariat, hakikat Ash-Shirath juga satu: jalan Allah yang telah ditetapkan-Nya bagi hamba-hamba-Nya melalui para rasul. Jalan itulah yang mengantarkan manusia kepada Allah. Tidak ada jalan lain yang dapat menggantikannya.

Jalan tersebut berdiri di atas dua hal: memurnikan tauhid kepada Allah dan mengikuti Rasulullah saw. dengan sebenar-benarnya.

Maka, jalan yang lurus, baik secara bahasa maupun secara syariat, mengandung makna yang sangat kuat tentang persatuan. Orang-orang yang berjalan menuju tujuan yang sama tidak seharusnya mengambil jalan yang saling menjauhkan.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan yang lain yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya."
(QS Al-An'am: 153)

Perhatikan hubungan antara jalan Allah dan persatuan.

Allah menyebut jalan-Nya dalam bentuk tunggal, sedangkan jalan-jalan lain yang menyimpang disebut dalam bentuk jamak. Jalan Allah satu; jalan yang menyimpang banyak dan bercabang. Semakin manusia menjauh dari jalan yang satu itu, semakin terbuka kemungkinan terjadinya perpecahan.

Allah juga menjelaskan bahwa jalan tersebut adalah jalan orang-orang yang diberi-Nya nikmat: para nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Salah satu sifat besar para nabi adalah mereka bersatu di atas kebenaran. Mereka berpegang teguh kepada wahyu dan tidak meninggalkan kebenaran hanya karena perbedaan kepentingan.

Demikian pula orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dalam Al-Fatihah digambarkan dengan dua sisi. Ada sifat yang mereka miliki, yaitu berjalan di atas jalan yang benar, dan ada pula sifat yang mereka tinggalkan, yaitu jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat.

Dengan demikian, menjadi bagian dari orang-orang yang diberi nikmat tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa kita berada di atas kebenaran. Kita juga harus memastikan bahwa kita tidak berjalan di atas jalan orang-orang yang menyimpang.

Al-Qur'an Memerintahkan Persatuan

Karena itu, Allah berulang kali mencela perselisihan dan perpecahan dalam Al-Qur'an. Sebaliknya, Dia memerintahkan kaum mukminin untuk berhimpun dan bersatu.

Bahkan Allah menyebut persatuan sebagai salah satu nikmat-Nya yang terbesar.

1. Berpegang teguh kepada tali Allah

Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu, pada masa jahiliah, bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. Sedangkan ketika itu kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk."
(QS Ali 'Imran: 102–103)

Perhatikan bagaimana ayat tersebut menghubungkan tiga hal: ketakwaan, berpegang teguh kepada tali Allah, dan persatuan.

Allah memerintahkan ketakwaan, kemudian memerintahkan berpegang teguh kepada tali-Nya, lalu melarang perpecahan. Setelah itu Allah mengingatkan kaum muslimin kepada sebuah kenikmatan yang pernah mereka rasakan: permusuhan berubah menjadi persaudaraan.

Sebelum Islam, mereka berada dalam keadaan saling bermusuhan. Islam tidak sekadar memberikan keyakinan baru, tetapi juga menyatukan hati yang sebelumnya tercerai-berai.

Karena itu, persatuan bukan sekadar strategi sosial. Ia merupakan bagian dari petunjuk Allah.

Ibnu Katsir berkata bahwa firman Allah, "dan janganlah kamu bercerai-berai," merupakan perintah kepada mereka untuk berjamaah dan larangan dari perpecahan. Banyak hadis juga menjelaskan larangan perpecahan serta perintah untuk bersatu.

Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa persatuan tidak mungkin dibangun hanya dengan kesepakatan manusia. Ia harus dibangun di atas tali Allah.

Tanpa ketakwaan, persatuan mudah berubah menjadi kepentingan kelompok. Tanpa Sunnah, jamaah mudah kehilangan arah. Dan ketika tali Allah ditinggalkan, persatuan dapat berubah menjadi sekadar slogan.

Karena itu, menyia-nyiakan ketakwaan dan Sunnah merupakan salah satu sebab terbesar munculnya perpecahan.

Perpecahan Bukan Sekadar Perbedaan

2. Jangan menjadi seperti umat yang terpecah

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat. Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram, kepada mereka dikatakan, 'Mengapa kamu kafir setelah beriman?' Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu."
(QS Ali 'Imran: 105–106)

Ayat ini tidak sekadar menyebut perpecahan sebagai sebuah keadaan yang harus dihindari. Allah melarang kaum mukminin menyerupai orang-orang yang bercerai-berai setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas.

Ini memberikan pelajaran penting: tidak setiap perbedaan merupakan perpecahan yang tercela, tetapi perbedaan yang menjauhkan manusia dari kebenaran dan memecah jamaah merupakan persoalan yang serius.

Karena itu, seorang muslim tidak cukup hanya mengatakan, "Saya berada di dalam kelompok orang-orang yang diberi nikmat." Ia juga harus membebaskan dirinya dari jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat.

Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan:

"Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian binasa karena perselisihan mereka mengenai Al-Kitab."

Perselisihan yang dimaksud bukan sekadar perbedaan pemahaman yang lahir dari keterbatasan manusia. Perselisihan menjadi berbahaya ketika manusia menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh, menolak kebenaran, atau menjadikan hawa nafsu sebagai hakim.

Ketika Berselisih, Kembalikan kepada Allah dan Rasul

3. Perselisihan harus dikembalikan kepada wahyu

Allah Ta'ala berfirman:

"Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul."
(QS An-Nisa': 59)

Allah juga berfirman:

"Dan apa pun yang kamu perselisihkan padanya tentang sesuatu, keputusannya terserah kepada Allah."
(QS Asy-Syura: 10)

Dua ayat ini memberikan jalan keluar yang sangat mendasar.

Islam tidak mengajarkan bahwa manusia tidak akan pernah berbeda. Perbedaan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tetapi ketika perbedaan muncul, ada tempat untuk kembali.

Tempat kembali itu bukan hawa nafsu, bukan fanatisme kelompok, bukan sekadar pendapat tokoh, dan bukan pula kekuatan mayoritas.

Tempat kembali itu adalah Allah dan Rasul-Nya.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ayat tersebut mencakup perkara kecil maupun besar yang diperselisihkan kaum muslimin. Ia tidak terbatas pada satu jenis persoalan tertentu.

Ketika terjadi perselisihan, kembali kepada Al-Qur'an berarti kembali kepada Allah. Kembali kepada Sunnah Rasulullah saw. juga berarti kembali kepada Allah, karena Rasulullah menyampaikan hukum yang berasal dari-Nya.

Dengan demikian, wahyu berfungsi bukan hanya sebagai sumber petunjuk ketika manusia sepakat, tetapi justru menjadi tempat kembali ketika manusia berselisih.

Di sinilah kedudukan Al-Qur'an dan Sunnah menjadi sangat penting dalam menjaga persatuan. Persatuan tidak berarti semua orang harus selalu mempunyai pendapat yang sama. Persatuan berarti ketika perbedaan muncul, seluruh pihak memiliki tempat kembali yang sama.

Perpecahan Agama Adalah Jalan yang Harus Dijauhi

4. Jangan memecah-belah agama

Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi beberapa golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu, Muhammad, atas mereka."
(QS Al-An'am: 159)

Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya persoalan perpecahan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa ketika Allah menyatakan kepada Nabi-Nya bahwa beliau tidak bertanggung jawab sedikit pun atas mereka yang memecah-belah agama, hal itu menunjukkan pemutusan hubungan dengan mereka dalam persoalan tersebut.

Allah bahkan menjadikan tindakan memecah-belah agama sebagai salah satu sifat yang menonjol dari kelompok-kelompok yang menyimpang.

Pesannya sangat jelas: perpecahan bukan identitas yang boleh dibanggakan.

Ketika seseorang menjadikan kelompok, fanatisme, atau pendapat tertentu sebagai ukuran kebenaran, kemudian menganggap semua yang berada di luar kelompoknya sebagai musuh, maka persatuan umat semakin jauh dari kenyataan.

Perselisihan dan Rahmat

5. Tidak semua manusia akan selalu bersatu dalam hawa nafsunya

Allah Ta'ala berfirman:

"Tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu."
(QS Hud: 118–119)

Ayat ini menggambarkan kenyataan manusia: perselisihan akan selalu muncul. Namun Allah memberikan pengecualian kepada orang-orang yang mendapatkan rahmat-Nya.

Ini memberi kita perspektif yang seimbang.

Kita tidak boleh membayangkan bahwa persatuan berarti menghapus seluruh perbedaan manusia. Yang harus diusahakan adalah persatuan di atas kebenaran dan meminimalisir perselisihan yang tercela.

Rahmat Allah menjadi salah satu sebab yang membuat manusia mampu keluar dari lingkaran perselisihan.

Karena itu, ketika kita melihat perselisihan, pertanyaan kita seharusnya bukan hanya, "Siapa yang salah?" tetapi juga, "Rahmat Allah apa yang harus kita cari agar perselisihan ini tidak berubah menjadi perpecahan?"

Fanatisme terhadap Kelompok

6. Setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang dimilikinya

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka."
(QS Ar-Rum: 31–32)

Ayat ini memperingatkan bahaya fanatisme kelompok.

Masalahnya bukan hanya ketika manusia berbeda, tetapi ketika setiap kelompok merasa cukup dengan apa yang dimilikinya sehingga tidak lagi bersedia kembali kepada kebenaran.

Setiap kelompok kemudian memiliki ukuran kebenarannya sendiri. Apa yang datang dari kelompoknya diterima, sedangkan apa yang datang dari kelompok lain dicurigai atau ditolak.

As-Sa'di memberikan peringatan bahwa ayat ini mengandung pelajaran bagi kaum muslimin agar tidak terpecah menjadi berbagai kelompok yang fanatik terhadap kebenaran maupun kebatilan yang mereka pegang sehingga menyerupai orang-orang musyrik dalam perpecahan.

Dengan demikian, persoalan persatuan bukan hanya tentang berada dalam satu barisan secara lahiriah. Ia juga berkaitan dengan keadaan hati.

Seseorang dapat berada dalam satu majelis bersama orang lain, tetapi hatinya penuh fanatisme terhadap kelompoknya. Sebaliknya, seseorang mungkin berbeda dalam persoalan cabang yang dibenarkan, tetapi tetap memiliki hati yang bersaudara karena sama-sama tunduk kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Ketika Perselisihan Berubah Menjadi Pedang

Ibnul Qayyim menggambarkan betapa beratnya perselisihan bagi Rasulullah saw.

Beliau menjelaskan bahwa ketika Rasulullah saw. melihat para sahabat berselisih dalam memahami nash, bahkan dalam perkara yang kecil, beliau menunjukkan ketidaksenangannya. Perselisihan merupakan sesuatu yang sangat beliau khawatirkan.

Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq ra., Allah menjaga pemerintahannya dari perselisihan yang menetap dalam salah satu hukum agama. Pada masa Umar bin Khattab ra., para sahabat mengalami perselisihan dalam beberapa persoalan kecil. Namun mereka tetap saling menghormati. Sebagian menerima ijtihad sebagian yang lain tanpa celaan dan tuduhan.

Pada masa Utsman bin Affan ra., perselisihan dalam beberapa persoalan kecil mulai disertai perkataan dan celaan.

Kemudian ketika kekuasaan beralih kepada Ali bin Abi Thalib ra., perselisihan itu berkembang menjadi pertumpahan darah dan peperangan.

Perubahan tersebut patut direnungkan.

Perselisihan tidak selalu langsung dimulai dengan pedang.

Ia dapat bermula dari perbedaan pendapat. Kemudian berubah menjadi perdebatan. Perdebatan berubah menjadi saling mencela. Saling mencela berubah menjadi kebencian. Kebencian akhirnya dapat berubah menjadi permusuhan.

Karena itu, menjaga persatuan bukan berarti menunggu sampai konflik menjadi besar. Persatuan harus dijaga sejak benih-benih perpecahan mulai muncul.

Persatuan sebagai Pokok Agama

Dari seluruh keterangan tersebut, semakin jelas bahwa perintah untuk bersatu dan larangan terhadap perselisihan yang tercela bukanlah perkara tambahan dalam agama. Ia merupakan salah satu pokok agama.

Agama tidak akan berdiri dengan kokoh apabila umatnya kehilangan kemampuan untuk berhimpun di atas kebenaran.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

"Sesungguhnya berpegang teguh kepada jamaah dan persatuan merupakan bagian dari pokok agama. Sedangkan cabang yang diperselisihkan merupakan bagian dari hal-hal yang tersembunyi. Bagaimana mungkin pokok dicela karena menjaga ranting?"

Kalimat ini mengandung pelajaran yang sangat penting.

Tidak semua persoalan memiliki kedudukan yang sama. Ada pokok-pokok yang harus menjadi titik temu, dan ada cabang-cabang yang memungkinkan terjadinya perbedaan.

Jika cabang dijadikan alasan untuk merusak pokok, maka bangunan agama justru akan kehilangan kekuatannya.

Karena itu, umat membutuhkan kemampuan untuk membedakan antara perbedaan yang masih berada dalam ruang ijtihad dan perselisihan yang memecah agama serta merusak jamaah.

Di sinilah kita kembali kepada Al-Fatihah.

Setiap hari kita meminta kepada Allah agar menunjukkan kita jalan yang lurus. Kita tidak meminta banyak jalan. Kita meminta satu jalan: jalan orang-orang yang telah diberi nikmat.

Dan setiap kali kita membaca permohonan itu, seakan-akan kita sedang diingatkan kembali bahwa kehidupan seorang muslim bukan perjalanan tanpa arah. Ada jalan yang harus ditempuh, ada jalan yang harus dihindari, dan ada jamaah orang-orang yang telah berjalan di atas jalan tersebut.

Karena itu, persatuan bukan sekadar kebutuhan sosial. Ia adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.

Takdir memberi tahu kita bahwa fitnah dan perselisihan akan terjadi. Syariat mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyerah kepadanya.

Kita tetap diperintahkan untuk memperbaiki, mendamaikan, kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah, menjaga adab dalam perbedaan, serta memelihara persaudaraan.

Sebab, mengetahui bahwa perpecahan akan terjadi adalah berita tentang takdir; sedangkan berusaha mencegahnya adalah bagian dari ketaatan kepada Allah.

Di antara keduanya terdapat wilayah ikhtiar manusia.

Dan di situlah ujian kita: apakah kita menjadi bagian dari orang-orang yang memperpanjang perselisihan, atau menjadi bagian dari orang-orang yang berusaha mengembalikan umat kepada jalan yang lurus?

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (70) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (39) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (9) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (120) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (321) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (780) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (20) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (252) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)