basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Kesesatan Persepsi tentang Hakikat Uluhiah Setelah Al-Qur'an mem...

Kesesatan Persepsi tentang Hakikat Uluhiah

Setelah Al-Qur'an membongkar klaim-klaim Ahli Kitab tentang keselamatan, menunjukkan usaha mereka menghalangi manusia dari masjid, dan menjelaskan ketidaksenangan mereka terhadap Rasulullah saw., pembicaraan kemudian bergerak lebih dalam: kepada sumber persoalannya, yaitu kesesatan dalam memahami hakikat uluhiah.

Penyimpangan dalam mengenal Allah bukan sekadar kesalahan dalam sebuah konsep teologis. Ia akan memengaruhi seluruh cara manusia memandang kehidupan, manusia, alam semesta, bahkan dirinya sendiri.

Karena itu, Al-Qur'an meluruskan kembali dasar yang paling fundamental: siapa Allah, bagaimana hubungan-Nya dengan makhluk, dan bagaimana seharusnya manusia memandang dirinya di hadapan Sang Pencipta.

Allah berfirman:

«"Mereka berkata, 'Allah mempunyai anak.' Mahasuci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah ia. Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, 'Mengapa Allah tidak berbicara dengan kami atau datang kepada kami suatu tanda?' Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa. Sungguh, Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin."»

«(al-Baqarah: 116–118)»

Allah Mahasuci dari segala penyandaran anak

Perkataan bahwa Allah mempunyai anak tidak hanya berkaitan dengan satu kelompok tertentu. Klaim semacam ini muncul dalam berbagai bentuk: kaum Nasrani mengaitkannya dengan Al-Masih, sebagian Yahudi dengan Uzair, sementara kaum musyrikin mengaitkannya dengan malaikat.

Al-Qur'an tidak perlu memaparkan satu per satu seluruh bentuk klaim tersebut. Yang hendak dibongkar adalah akar pikirannya: menyamakan Allah dengan makhluk dan memasukkan hubungan ketuhanan ke dalam kategori hubungan biologis atau hubungan makhluk.

Karena itu jawaban Al-Qur'an sangat tegas:

«"Mahasuci Allah."»

Allah Mahasuci dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya.

Dia bukan bagian dari alam.

Dia bukan makhluk yang membutuhkan keturunan.

Dia tidak berasal dari sesuatu dan tidak bergantung kepada sesuatu.

Justru seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya:

«"Bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya."»

Di sini Al-Qur'an membalik cara pandang manusia.

Yang selama ini hendak ditempatkan sebagai bagian dari ketuhanan ternyata seluruhnya adalah makhluk.

Tidak ada satu pun yang menjadi "anak" Allah.

Semuanya adalah hamba-Nya.

Antara Al-Khaliq dan makhluk

Kemudian Al-Qur'an memberikan dasar yang sangat penting:

«"Allah Pencipta langit dan bumi."»

Inilah batas yang harus dijaga oleh tashawwur Islam: Al-Khaliq adalah Pencipta, sedangkan seluruh selain-Nya adalah makhluk.

Pencipta tidak sama dengan ciptaan.

Yang menciptakan tidak identik dengan yang diciptakan.

Makhluk membutuhkan Allah, sedangkan Allah tidak membutuhkan makhluk.

Karena itu, segala gagasan yang mengaburkan perbedaan antara Khaliq dan makhluk bertentangan dengan fondasi tauhid.

Alam semesta memiliki satu sumber penciptaan, satu kehendak yang mengaturnya, dan satu sistem yang mengarahkan seluruh makhluk kepada ketentuan-Nya. Tetapi kesatuan ini bukan berarti bahwa Allah dan alam adalah satu hakikat.

Alam tetap alam.

Allah tetap Allah.

Makhluk tidak berubah menjadi Khaliq, dan Khaliq tidak menjadi makhluk.

Kesadaran terhadap perbedaan mendasar inilah yang menjaga manusia dari berbagai bentuk penyimpangan dalam memahami uluhiah.

"Kun fayakun" dan keterbatasan manusia

Al-Qur'an kemudian menggambarkan kekuasaan Allah:

«"Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah ia."»

Ini bukan sekadar gambaran tentang cara penciptaan yang harus dibayangkan manusia secara mekanis. Ayat ini menegaskan mutlaknya kehendak dan kekuasaan Allah.

Ketika Allah menghendaki sesuatu, tidak ada kekuatan yang dapat menghalangi kehendak-Nya.

Adapun bagaimana hakikat hubungan antara iradah Allah dan terjadinya sesuatu yang dikehendaki-Nya, itu berada di luar jangkauan manusia.

Di sinilah Islam mengajarkan adab intelektual yang penting: mengetahui batas kemampuan akal.

Akal manusia sangat berharga. Dengan akal, manusia dapat memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, menyingkap hukum-hukum alam, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menjalankan tugas kekhalifahannya di bumi.

Namun, akal bukanlah alat untuk mengetahui segala sesuatu.

Ada wilayah yang dapat dijangkau manusia melalui pengamatan, pengalaman, penalaran, dan penelitian. Ada pula wilayah gaib yang memang tidak diberikan kemampuan kepada manusia untuk menguasainya secara langsung.

Menyadari batas ini bukan berarti merendahkan akal.

Justru sebaliknya, itulah penghormatan terhadap akal.

Akal yang sehat tidak hanya mengetahui apa yang dapat diketahuinya. Ia juga mengetahui apa yang tidak mampu diketahuinya.

Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi. Karena itu, ia dibekali kemampuan untuk mempelajari alam dan memanfaatkan hukum-hukumnya dalam menjalankan amanah tersebut.

Adapun memaksa kemampuan manusia untuk menembus hakikat Zat Allah dan perkara gaib yang tidak diberikan perangkat untuk mengetahuinya hanya akan menyeret manusia ke dalam spekulasi tanpa batas.

Di sinilah seseorang dapat kehilangan pijakan: bukan karena terlalu sedikit berpikir, tetapi karena menggunakan pikirannya di luar wilayah yang dapat dijangkaunya.

Ketika filsafat kehilangan batas

Sejarah pemikiran menunjukkan bagaimana manusia sering mencoba menjawab perkara-perkara metafisik dengan perangkat yang sebenarnya tidak memadai untuk menjangkaunya.

Ketika spekulasi tentang hakikat Tuhan dipaksakan tanpa wahyu sebagai petunjuk, manusia mudah terjebak dalam berbagai dugaan yang saling bertentangan.

Dalam perspektif Islam, persoalan ini tidak diselesaikan dengan mematikan akal, tetapi dengan menempatkan akal pada kedudukannya yang benar.

Akal digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah.

Akal digunakan untuk membaca alam.

Akal digunakan untuk menimbang bukti.

Akal digunakan untuk menjalankan amanah kekhalifahan.

Tetapi akal tidak dijadikan hakim mutlak atas perkara gaib yang memang berada di luar jangkauannya.

Dengan demikian, wahyu bukan musuh akal.

Wahyu justru memberikan arah agar akal tidak tersesat di wilayah yang tidak mampu dijangkaunya.

Kesatuan alam bukan berarti kesatuan Allah dan alam

Dari sini menjadi jelas pula perbedaan antara tauhid Islam dengan gagasan yang menyamakan Allah dengan alam atau menganggap alam sebagai bagian dari hakikat Allah.

Dalam pandangan Islam, seluruh alam memiliki kesatuan dalam satu hal: semuanya berasal dari kehendak satu Pencipta, tunduk kepada aturan-Nya, dan berada di bawah pengaturan-Nya.

Tetapi kesatuan sumber dan aturan itu tidak berarti bahwa Allah dan makhluk merupakan satu wujud.

Allah adalah Al-Khaliq.

Alam adalah makhluk.

Allah Mahasuci dari segala sesuatu yang menyerupai-Nya.

Karena itu, seorang muslim memandang alam bukan sebagai Tuhan, tetapi sebagai ayat—tanda yang menunjukkan kebesaran Tuhan.

Langit, bumi, kehidupan, kematian, pergantian siang dan malam, serta seluruh keteraturan alam tidak mengarahkan manusia untuk menyembah alam, tetapi untuk mengenal Penciptanya.

Semakin manusia memahami alam, seharusnya semakin ia menyadari kebesaran Al-Khaliq.

Hati yang sama di balik persepsi yang berbeda

Setelah meluruskan persepsi Ahli Kitab tentang Allah, Al-Qur'an kembali menyebut kelompok lain:

«"Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, 'Mengapa Allah tidak berbicara dengan kami atau datang kepada kami suatu tanda?' Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa."»

Orang-orang yang tidak mengetahui dalam konteks ayat ini adalah kaum musyrik yang tidak memiliki kitab. Mereka menuntut agar Allah berbicara langsung kepada mereka atau mendatangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya sesuai dengan tuntutan mereka.

Menariknya, Al-Qur'an tidak hanya menunjukkan kemiripan ucapan mereka.

Al-Qur'an mengatakan:

«"Hati mereka serupa."»

Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam.

Perbedaan identitas, sejarah, dan tradisi ternyata tidak selalu berarti perbedaan penyakit hati.

Seseorang dapat memiliki kitab, sementara yang lain tidak memiliki kitab. Seseorang dapat mengaku sebagai pengikut agama wahyu, sementara yang lain terang-terangan menyembah berhala. Namun keduanya dapat memiliki pola berpikir yang sama: tidak mau tunduk sebelum kebenaran memenuhi keinginan mereka.

Mereka tidak berkata, "Apa yang harus kami lakukan setelah kebenaran datang?"

Mereka justru berkata, "Mengapa Allah tidak memberikan bukti sesuai dengan yang kami inginkan?"

Ini adalah perbedaan besar antara mencari kebenaran dan menuntut kebenaran mengikuti selera kita.

Keyakinan membuka mata terhadap tanda-tanda Allah

Allah kemudian berfirman:

«"Sungguh, Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin."»

Ayat ini mengajarkan bahwa masalah utama tidak selalu terletak pada kurangnya bukti.

Tanda-tanda Allah telah terbentang.

Wahyu telah datang.

Alam telah menjadi ayat.

Sejarah manusia penuh dengan pelajaran.

Namun, tidak semua hati mampu melihatnya sebagai petunjuk.

Orang yang memiliki keyakinan akan melihat tanda-tanda itu dengan hati yang terbuka. Keyakinan membuatnya siap menerima petunjuk, bukan memaksa petunjuk agar sesuai dengan keinginannya.

Karena itu, bukan banyaknya tanda yang selalu melahirkan keyakinan.

Sering kali justru hati yang memiliki kesiapan untuk yakinlah yang mampu membaca tanda dengan benar.

Rasul membawa kebenaran, bukan mengikuti hawa nafsu manusia

Setelah itu, pembicaraan kembali kepada Rasulullah saw.

Allah menegaskan:

«"Sesungguhnya Kami telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan."»

Rasulullah diutus dengan kebenaran.

Bukan untuk mengikuti tuntutan kelompok.

Bukan untuk mencari kerelaan semua pihak.

Bukan untuk mengubah wahyu agar tidak menyinggung siapa pun.

Tugas beliau adalah menyampaikan kebenaran, memberi kabar gembira kepada mereka yang menerima petunjuk, dan memberikan peringatan kepada mereka yang memilih jalan kesesatan.

Karena itu, Rasulullah tidak dibebani untuk memastikan semua manusia menerima dakwahnya.

Beliau menyampaikan.

Manusia memilih.

Allah mengadili.

Ketidaksenangan yang berakar pada tuntutan untuk berkompromi

Allah kemudian mengungkap:

«"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka."»

Ayat ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Rasulullah bukan semata-mata kurangnya bukti atau lemahnya argumentasi.

Ada tuntutan yang lebih mendasar: agar beliau meninggalkan sebagian kebenaran yang dibawanya dan mengikuti jalan mereka.

Di sinilah hakikat persoalan akidah terlihat.

Kebenaran tidak boleh diubah hanya agar manusia merasa nyaman.

Dakwah boleh disampaikan dengan hikmah.

Bahasa boleh dipilih dengan kelembutan.

Hubungan sosial boleh dibangun dengan baik.

Tetapi prinsip tauhid tidak dapat ditukar dengan penerimaan manusia.

Karena itu jawaban Allah sangat singkat:

«"Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar.'"»

Petunjuk Allah bukan salah satu pilihan di antara banyak jalan yang setara.

Ia adalah petunjuk yang harus menjadi orientasi utama manusia.

Bahaya mengikuti hawa nafsu setelah mengetahui kebenaran

Allah kemudian memberikan peringatan yang sangat keras:

«"Dan sungguh, jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu."»

Ancaman ini bahkan diarahkan kepada Rasulullah saw.

Bukan karena Rasulullah mungkin menyimpang dari wahyu, tetapi untuk menegaskan betapa seriusnya persoalan tersebut.

Jika mengikuti hawa nafsu setelah datang pengetahuan merupakan bahaya yang demikian besar, maka manusia biasa tentu lebih membutuhkan kewaspadaan.

Sering kali masalah bukan karena seseorang tidak mengetahui.

Justru masalah muncul ketika seseorang sudah mengetahui, tetapi tidak mau tunduk.

Pengetahuan seharusnya membawa kepada ketundukan. Tetapi jika pengetahuan hanya digunakan untuk memperkuat hawa nafsu, maka ilmu yang seharusnya menjadi cahaya justru dapat menjadi alat pembenaran.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukan hanya:

"Apa yang saya ketahui?"

Tetapi:

"Apa yang saya lakukan setelah mengetahui?"

Membaca kitab dengan sebenar-benarnya

Namun, sekali lagi Al-Qur'an tidak menggeneralisasi seluruh Ahli Kitab.

Allah berfirman:

«"Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya."»

Ada orang-orang yang ketika membaca kitab, tidak menjadikannya alat untuk mempertahankan identitas kelompok.

Mereka membacanya untuk menemukan petunjuk.

Mereka membaca dengan kesiapan untuk menerima kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu menuntut mereka meninggalkan sesuatu yang sebelumnya mereka yakini.

Inilah makna membaca dengan sebenar-benarnya.

Membaca bukan sekadar melafalkan.

Membaca berarti memahami.

Memahami berarti menerima konsekuensinya.

Dan menerima konsekuensi kebenaran berarti bersedia tunduk kepadanya.

Karena itu, orang yang membaca kitab dengan jujur dapat mengenali kebenaran ketika kebenaran itu datang kepadanya.

Sebaliknya, orang yang menolak kebenaran setelah mengetahuinya justru menjadi orang yang paling merugi.

Kerugian terbesar bukan kehilangan harta.

Bukan kehilangan kedudukan.

Bukan kehilangan pengaruh.

Kerugian terbesar adalah kehilangan iman setelah kesempatan untuk mengenal kebenaran diberikan.

Seruan terakhir kepada Bani Israil

Setelah rangkaian penjelasan tersebut, pembicaraan kembali diarahkan kepada Bani Israil.

Seakan-akan setelah berbagai perdebatan, pembongkaran penyimpangan, dan penjelasan tentang kebenaran, Al-Qur'an memberikan seruan terakhir kepada mereka.

Allah berfirman:

«"Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan bahwa Aku telah melebihkan kamu atas segala umat pada masa itu. Dan takutlah kamu terhadap suatu hari ketika seseorang tidak dapat menggantikan orang lain sedikit pun, tebusan tidak diterima darinya, syafaat tidak berguna baginya, dan mereka tidak akan ditolong."
(al-Baqarah: 122–123)»

Seruan ini mengingatkan mereka kepada sesuatu yang seharusnya menjadi sumber kerendahan hati: nikmat Allah.

Keutamaan yang pernah diberikan kepada suatu umat bukanlah jaminan keselamatan tanpa syarat.

Justru semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula amanah yang menyertainya.

Bani Israil pernah menerima wahyu, diutus kepada mereka para nabi, dan diberikan berbagai nikmat serta keistimewaan pada zamannya. Tetapi semua itu tidak menghapus kewajiban untuk tunduk kepada Allah.

Pada akhirnya, setiap manusia akan kembali kepada Allah secara pribadi.

Tidak ada seseorang yang dapat menggantikan orang lain.

Tidak ada identitas kelompok yang dapat menjadi jaminan.

Tidak ada tebusan yang dapat dibeli dengan kekayaan.

Tidak ada kebanggaan sejarah yang dapat menggantikan iman dan amal.

Dan tidak ada keistimewaan yang dapat menyelamatkan seseorang apabila ia berpaling dari petunjuk Allah.

Di sinilah seluruh rangkaian pembicaraan ini menemukan ujungnya.

Allah adalah Al-Khaliq, manusia adalah makhluk. Allah memberi petunjuk, manusia dituntut untuk tunduk. Allah memberi nikmat, manusia memikul amanah. Dan pada akhirnya, setiap orang akan berdiri sendiri di hadapan-Nya.

Maka pertanyaan yang tersisa bukan lagi:

"Dari kelompok mana aku berasal?"

Melainkan:

"Ketika kebenaran telah datang kepadaku, apakah aku bersedia tunduk kepadanya?"

Melarang Menyebut Nama Allah di Masjid-Masjid dan Berusaha Merobohkannya Setelah...

Melarang Menyebut Nama Allah di Masjid-Masjid dan Berusaha Merobohkannya

Setelah membongkar klaim-klaim kosong Ahli Kitab, pembicaraan Al-Qur'an kembali kepada persoalan yang sedang dihadapi kaum muslimin: usaha untuk menimbulkan keraguan terhadap kebenaran risalah Nabi Muhammad saw., khususnya dalam persoalan pemindahan kiblat.

Perubahan kiblat bukan sekadar perubahan arah ketika salat. Di dalamnya terdapat ujian terhadap ketaatan kaum muslimin sekaligus kesempatan bagi pihak-pihak yang menentang Islam untuk menebarkan keraguan.

Mereka berusaha menjadikan perubahan arah kiblat sebagai bahan untuk mempertanyakan kebenaran ajaran Islam. Seolah-olah perubahan tersebut menunjukkan ketidakkonsistenan dalam perintah Allah. Padahal, yang berubah adalah arah yang diperintahkan, bukan Tuhan yang disembah.

Dalam konteks inilah Al-Qur'an mengungkap bahwa usaha menghalangi manusia dari ibadah kepada Allah pada hakikatnya adalah bentuk kezaliman yang sangat besar.

Allah berfirman:

«"Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya kecuali dengan rasa takut. Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat. Maka, ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui."
(al-Baqarah: 114–115)»

Menghalangi manusia dari Allah

Pertanyaan Al-Qur'an sangat tajam:

«"Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya?"»

Masjid bukan sekadar bangunan.

Ia adalah ruang tempat manusia mengingat Allah, bersujud kepada-Nya, belajar mengenal-Nya, dan membangun hubungan dengan sesama manusia di bawah naungan penghambaan kepada-Nya.

Karena itu, menghalangi manusia dari masjid berarti bukan hanya menghalangi seseorang memasuki sebuah bangunan. Ia berarti menghalangi manusia dari tempat di mana nama Allah disebut, tempat hati diarahkan kembali kepada-Nya, dan tempat manusia diingatkan tentang tujuan hidupnya.

Lebih jauh lagi, ayat menyebut usaha untuk merobohkan masjid.

Merobohkan masjid secara fisik tentu merupakan salah satu bentuknya. Tetapi makna yang lebih luas juga perlu direnungkan: segala usaha yang menjadikan masjid kehilangan fungsinya sebagai tempat mengingat Allah, tempat ibadah, dan tempat pembentukan manusia, pada hakikatnya merupakan bentuk penghancuran terhadap fungsi masjid.

Sebuah masjid dapat berdiri secara fisik, tetapi jika manusia dihalangi untuk memakmurkannya dengan ibadah, maka ruhnya telah dirusak.

Kemutlakan nash dan keluasan maknanya

Kesan yang paling dekat menunjukkan bahwa kedua ayat ini berkaitan dengan persoalan pemindahan kiblat dan usaha kaum Yahudi menghalangi kaum muslimin untuk menghadap Ka'bah.

Ka'bah merupakan rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia dan pernah menjadi kiblat. Karena itu, perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah menjadi persoalan yang sangat mudah dijadikan bahan untuk menimbulkan kegelisahan di tengah kaum muslimin.

Memang terdapat beberapa riwayat mengenai sebab turunnya ayat ini. Namun, apa pun konteks khusus yang melatarbelakanginya, keluasan redaksi Al-Qur'an memberikan pelajaran yang lebih umum.

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang satu peristiwa sejarah.

Ia menetapkan prinsip bahwa menghalangi manusia dari mengingat Allah di masjid dan berusaha menghancurkan rumah-rumah ibadah merupakan tindakan kezaliman yang besar.

Konteks sejarah membantu kita memahami ayat. Tetapi keluasan nash membuat pesan ayat tetap hidup melampaui konteks sejarahnya.

Masjid seharusnya menghadirkan rasa takut kepada Allah

Allah kemudian berfirman:

«"Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya kecuali dengan rasa takut."»

Ayat ini dapat dipahami sebagai gambaran tentang kehinaan mereka: orang-orang yang menghalangi manusia dari masjid tidak layak memasuki rumah Allah dengan rasa aman dan kesombongan. Mereka semestinya berada dalam keadaan takut dan tunduk.

Gambaran ini mengingatkan kita kepada peristiwa Fathu Makkah.

Ketika Rasulullah saw. memasuki Makkah, Masjidil Haram yang sebelumnya pernah menjadi tempat kaum muslimin dihalangi untuk beribadah kembali menjadi tempat keamanan. Diserukan bahwa siapa saja yang memasuki Masjidil Haram memperoleh keamanan.

Tokoh-tokoh Quraisy yang sebelumnya menghalangi Rasulullah saw. dan para sahabat dari mengunjungi Masjidil Haram akhirnya datang untuk mencari perlindungan di sana.

Ada ironi yang sangat dalam.

Orang-orang yang dahulu menghalangi manusia dari rumah Allah akhirnya justru membutuhkan keamanan dari rumah Allah.

Ini menunjukkan bahwa rumah Allah bukan milik kelompok tertentu. Ia adalah tempat yang semestinya mengarahkan manusia kepada Allah, dengan penghormatan, ketundukan, dan rasa aman.

Kehinaan di dunia dan siksa di akhirat

Al-Qur'an kemudian menyebutkan akibat dari tindakan tersebut:

«"Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat."»

Kehinaan dunia merupakan konsekuensi dari tindakan yang merendahkan sesuatu yang dimuliakan Allah. Sedangkan di akhirat, perkara itu tidak berhenti pada sejarah dan penilaian manusia. Ia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Dengan demikian, Al-Qur'an mengajarkan bahwa menghalangi manusia dari jalan Allah bukanlah persoalan kecil.

Ia menyentuh sesuatu yang sangat mendasar: kebebasan manusia untuk beribadah kepada Penciptanya.

Masjid bukan sekadar bangunan

Namun, terdapat pula penafsiran lain terhadap firman Allah:

«"Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya kecuali dengan rasa takut."»

Maksudnya, mereka tidak pantas memasuki masjid-masjid Allah kecuali dengan rasa takut kepada Allah dan tunduk kepada keagungan-Nya.

Penafsiran ini mengarahkan perhatian kita kepada adab terhadap rumah Allah.

Masjid adalah tempat yang menuntut ketundukan. Seseorang yang memasuki masjid seharusnya tidak membawa kesombongan, pertikaian, dan keangkuhan, tetapi membawa hati yang sadar bahwa dirinya sedang berada di hadapan Allah.

Dengan demikian, ayat ini bukan hanya berbicara tentang siapa yang boleh masuk ke masjid, tetapi juga tentang bagaimana manusia seharusnya berada di dalamnya.

Masjid bukan sekadar ruang yang dimasuki oleh tubuh. Ia adalah ruang yang seharusnya dimasuki pula oleh hati.

Allah tidak dibatasi oleh arah

Hubungan ayat ini dengan persoalan kiblat semakin jelas pada ayat berikutnya:

«"Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat. Maka, ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui."»

Ayat ini sekaligus menjawab salah satu bentuk penyesatan yang muncul setelah pemindahan kiblat.

Kaum Yahudi dapat mengatakan: jika kiblat telah berubah ke Ka'bah, apakah berarti salat kaum muslimin selama menghadap Baitul Maqdis menjadi sia-sia? Apakah ibadah mereka sebelumnya tidak diperhitungkan?

Al-Qur'an membantah cara berpikir tersebut.

Allah memiliki timur dan barat. Seluruh arah berada dalam kekuasaan-Nya.

Penetapan kiblat ke arah tertentu bukan berarti Allah hanya berada di arah tersebut. Allah tidak dibatasi oleh ruang dan arah.

Karena itu, ketika seorang muslim menghadap kiblat, ia tidak sedang menyembah arah. Ia sedang menaati perintah Allah.

Di sinilah letak perbedaan antara arah ibadah dan objek ibadah.

Arah adalah ketentuan syariat.

Allah adalah tujuan penghambaan.

Ketaatan, bukan keterbatasan

Maka, pemindahan kiblat tidak menunjukkan bahwa Allah berubah atau bahwa rahmat-Nya menjadi lebih sempit.

Justru ia mengajarkan bahwa seorang hamba harus tunduk kepada perintah Allah ketika arah itu ditetapkan, sebagaimana ia tunduk ketika arah itu kemudian diubah.

Yang diuji bukan apakah seorang hamba mampu memahami seluruh hikmah perubahan tersebut, tetapi apakah ia bersedia menaati Allah.

Di sisi lain, Allah tidak menyia-nyiakan amal hamba-Nya.

Dia mengetahui hati mereka.

Dia mengetahui niat mereka.

Dia mengetahui mengapa mereka menghadap ke arah tertentu.

Karena itu ayat ditutup dengan:

«"Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui."»

Keluasan Allah tidak bertentangan dengan penetapan arah kiblat. Justru di situlah kita belajar membedakan antara Allah Yang Mahaluas dan perintah Allah yang harus ditaati.

Allah tidak menjadi terbatas hanya karena Dia memerintahkan kita menghadap satu arah.

Dan ibadah tidak menjadi sia-sia hanya karena arah yang diperintahkan kemudian berubah.

Yang terpenting adalah hati yang tunduk kepada-Nya.

Pada akhirnya, persoalan kiblat mengajarkan sebuah prinsip yang lebih dalam: orang beriman tidak menyembah arah, tetapi menaati Allah yang menetapkan arah.

Kiblat menyatukan arah tubuh, tetapi tujuan hati tetap satu:

Allah.

Mematahkan Anggapan Bohong Ahli Kitab Konteks berikutnya adalah pembongkaran ter...

Mematahkan Anggapan Bohong Ahli Kitab

Konteks berikutnya adalah pembongkaran terhadap anggapan-anggapan kosong Ahli Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani. Masing-masing mengklaim dirinya sebagai satu-satunya golongan yang memperoleh petunjuk dan berhak masuk surga. Seolah-olah surga telah menjadi milik eksklusif mereka, sedangkan semua manusia di luar kelompok mereka telah tertutup dari rahmat Allah.

Klaim seperti ini bukanlah kebenaran yang dibangun di atas dalil. Ia hanyalah angan-angan yang diwariskan dan terus diulang sampai dianggap sebagai sebuah kepastian.

Di tengah klaim semacam itulah Al-Qur'an menghadirkan persoalan yang sebenarnya. Ukuran keselamatan tidak ditentukan oleh nama kelompok, identitas keturunan, atau label keagamaan, tetapi oleh sikap seseorang kepada Allah dan amal yang lahir dari sikap tersebut.

Allah berfirman:

«"Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.' Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, 'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar!' (Tidak demikian), barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang Yahudi berkata, 'Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan,' dan orang-orang Nasrani berkata, 'Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan,' padahal mereka sama-sama membaca Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka, Allah akan mengadili di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa-apa yang mereka perselisihkan padanya."
(al-Baqarah: 111–113)»

Orang-orang yang berhadapan langsung dengan kaum muslimin di Madinah terutama adalah kaum Yahudi, karena pada masa itu tidak terdapat komunitas Nasrani yang sebanding dengan komunitas Yahudi di sana. Namun, nash Al-Qur'an ini tidak berhenti pada konteks lokal tersebut. Pernyataannya bersifat lebih umum. Al-Qur'an membongkar pola berpikir yang dapat muncul pada berbagai kelompok: merasa dirinya paling benar, menganggap pihak lain tidak memiliki kebenaran, lalu menjadikan identitas kelompok sebagai jaminan keselamatan.

Klaim tanpa bukti

"Dan mereka berkata, 'Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yang beragama Yahudi atau Nasrani.'"

Perhatikan cara Al-Qur'an menggambarkan klaim tersebut: tilka amaniyyuhum—itu hanyalah angan-angan mereka.

Ada sesuatu yang sangat penting di sini. Sebuah keyakinan tidak menjadi benar hanya karena diyakini dengan penuh percaya diri. Sebuah klaim tidak menjadi kebenaran hanya karena telah diwariskan turun-temurun. Bahkan klaim tentang keselamatan akhirat pun harus memiliki dasar.

Karena itu Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menjawab:

«"Katakanlah, 'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar!'"»

Ini bukan sekadar bantahan terhadap Yahudi dan Nasrani pada masa itu. Ini adalah pendidikan Al-Qur'an tentang bagaimana manusia seharusnya menyikapi sebuah klaim.

Jika mengaku benar, datangkan bukti.

Jangan menggantikan dalil dengan kebanggaan kelompok. Jangan menggantikan kebenaran dengan identitas. Jangan menjadikan status keturunan atau sejarah komunitas sebagai tiket menuju keselamatan.

Ukuran Allah bukan nama, tetapi sikap dan amal

Setelah membantah klaim eksklusif tersebut, Al-Qur'an segera menjelaskan ukuran yang sebenarnya:

«"(Tidak demikian), barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya..."»

Di sinilah Al-Qur'an menetapkan sebuah kaidah penting dalam tata pembalasan.

Allah tidak memberikan keselamatan berdasarkan pilih kasih kepada suatu bangsa, umat, kelompok, atau perseorangan. Yang dinilai adalah hubungan manusia dengan Allah yang dibuktikan melalui amal.

Karena itu, ukuran yang dikemukakan Al-Qur'an bukan sekadar nama dan identitas, tetapi dua hal yang menyatu: menyerahkan diri kepada Allah dan berbuat kebajikan.

Islam tidak memisahkan keyakinan dari kehidupan.

Kata aslama mengandung makna tunduk dan menyerahkan diri. Ia bukan sekadar pengakuan batin, tetapi ketundukan yang memiliki konsekuensi dalam perilaku. Karena itu ayat tersebut langsung menyambungnya dengan keadaan:

«"...sedang ia berbuat kebajikan."»

Ada hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara iman dan amal, antara akidah dan perilaku, antara ketundukan hati dan kebajikan perbuatan.

Inilah salah satu ciri penting Islam: kesatuan antara apa yang diyakini dengan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya.

Akidah bukan sekadar kumpulan konsep di dalam pikiran. Akidah seharusnya menjadi manhaj kehidupan. Ia membentuk arah perasaan, pilihan, tindakan, dan hubungan manusia dengan sesama.

Dengan demikian, seorang mukmin tidak memiliki dua kehidupan yang terpisah—kehidupan keyakinan dan kehidupan nyata. Keyakinan justru memberi bentuk kepada kehidupan nyata.

Kaidah yang berlaku untuk semua manusia

Sebelumnya, Al-Qur'an telah menetapkan kaidah yang sama mengenai hukuman sebagai bantahan terhadap klaim Ahli Kitab bahwa mereka hanya akan disentuh api neraka beberapa hari saja.

Allah berfirman bahwa bukanlah demikian. Orang yang berbuat dosa lalu dosa itu meliputinya, mereka itulah penghuni neraka.

Sekarang, setelah menjelaskan sisi hukuman, Al-Qur'an menjelaskan sisi pahala:

«"Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya..."»

Dengan demikian, terdapat satu kaidah yang mencakup kedua sisi: siksa dan pahala.

Tidak ada keselamatan otomatis hanya karena seseorang menyandang sebuah nama. Demikian pula tidak ada hukuman yang ditentukan semata-mata karena seseorang berasal dari kelompok tertentu.

Yang menjadi persoalan adalah hubungan manusia dengan kebenaran dan konsekuensi amalnya.

Orang yang membiarkan dirinya dikuasai dosa menjadi seperti tawanan dosa itu sendiri. Dosa yang terus dipelihara akhirnya meliputi dirinya, mengarahkan perasaan, pilihan, dan kehidupannya.

Sebaliknya, orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah dengan tulus dan membuktikan ketundukannya melalui kebajikan sedang melepaskan dirinya dari belenggu dosa. Ia mengarahkan seluruh perasaannya kepada Allah dan berusaha menjadikan hidupnya sesuai dengan kehendak-Nya.

Karena itu Allah menjanjikan:

«"Maka, baginya pahala di sisi Tuhannya, dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."»

Pahala itu tidak akan sia-sia di sisi Allah. Keamanan yang diberikan-Nya tidak akan digantikan oleh ketakutan, dan kebahagiaan yang dijanjikan-Nya tidak akan berakhir dengan kesedihan.

Ketika kelompok-kelompok saling meniadakan

Namun, setelah membantah klaim bahwa hanya Yahudi atau Nasrani yang berhak masuk surga, Al-Qur'an memperlihatkan ironi yang lebih dalam.

«"Dan orang-orang Yahudi berkata, 'Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan,' dan orang-orang Nasrani berkata, 'Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan,' padahal mereka sama-sama membaca Kitab."»

Masing-masing merasa dirinya memiliki kebenaran, sementara pihak lain dianggap tidak memiliki pegangan apa pun.

Ironinya, mereka sama-sama membaca kitab.

Kitab seharusnya menjadi sumber petunjuk dan sarana untuk mengenali kebenaran. Tetapi manusia dapat membaca kitab tanpa membiarkan dirinya ditundukkan oleh kebenaran yang terkandung di dalamnya.

Di sinilah Al-Qur'an memperlihatkan bahaya lain dari fanatisme kelompok: manusia dapat memiliki kitab, tetapi kehilangan semangat mencari kebenaran; dapat berbicara tentang petunjuk, tetapi menjadikan identitas kelompok sebagai ukuran kebenaran.

Bahkan orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang kitab pun akhirnya mengucapkan klaim yang sama:

«"Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu."»

Dalam konteks ayat ini, orang-orang yang tidak mengetahui dipahami sebagai orang-orang Arab yang tidak memiliki kitab. Mereka menyaksikan pertentangan antara Yahudi dan Nasrani—saling menuduh, saling meniadakan, dan sama-sama mengklaim kebenaran—lalu mengatakan bahwa kedua golongan itu tidak memiliki pegangan.

Dengan demikian, pertentangan tersebut justru memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: manusia dari berbagai kelompok dapat terjebak dalam pola yang sama ketika klaim kelompok lebih besar daripada kesediaan untuk tunduk kepada kebenaran.

Ketika manusia tidak mampu menyelesaikan perselisihan

Pada akhirnya Al-Qur'an tidak meminta manusia menjadi hakim mutlak atas seluruh perselisihan tersebut.

«"Maka, Allah akan mengadili di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa-apa yang mereka perselisihkan padanya."»

Allah adalah Hakim Yang Mahaadil. Kepada-Nya seluruh perkara akan dikembalikan.

Ini bukan berarti Al-Qur'an mengajarkan manusia untuk berhenti berpikir atau berhenti mencari kebenaran. Justru sebelumnya Al-Qur'an telah menuntut mereka menghadirkan bukti. Tetapi ketika manusia terus mempertahankan klaim tanpa dalil dan menjadikan perselisihan sebagai pertentangan identitas, keputusan akhir bukan berada di tangan mereka.

Ada ketenangan tertentu dalam kesadaran ini.

Kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan. Kita tidak harus memaksakan pengakuan dari orang lain. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa keyakinan kita sendiri berdiri di atas kebenaran, bukan sekadar kebanggaan terhadap kelompok.

Ayat ini akhirnya mengarahkan manusia kepada sebuah pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah kita benar-benar mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran bagi kelompok kita sendiri?

Sebab seseorang dapat sangat yakin bahwa dirinya berada di pihak yang benar, tetapi keyakinan itu belum menjadi bukti.

Al-Qur'an mengajarkan: jangan membangun keselamatan di atas angan-angan. Hadirkan bukti. Tundukkan diri kepada Allah. Buktikan ketundukan itu dengan kebajikan.

Tidak ada kolusi di sisi Allah. Tidak ada pilih kasih karena nama, bangsa, atau kelompok.

Pada akhirnya, manusia akan berdiri sendiri di hadapan Allah dengan apa yang ia yakini dan apa yang ia kerjakan.

Dan ketika semua klaim manusia runtuh, hanya keputusan Allah yang tersisa.

Menjaga Keimanan di Tengah Hasutan dan Kedengkian Panggi...


Menjaga Keimanan di Tengah Hasutan dan Kedengkian

Panggilan Iman dan Adab dalam Berbicara

Pembicaraan pada bagian awal pelajaran ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Sebuah panggilan yang bukan sekadar sapaan, melainkan pengingat akan identitas dan ikatan mereka dengan Allah dan Rasul-Nya. Di balik panggilan itu terkandung tanggung jawab sekaligus tuntutan agar hati senantiasa siap menerima dan melaksanakan perintah Allah.

Karena itu, ketika Allah menyeru orang-orang beriman, seruan tersebut mengandung harapan agar mereka menunjukkan sikap yang sesuai dengan keimanan: mendengar, memahami, dan menaati.

Allah melarang mereka menggunakan ungkapan raa'inaa ketika berbicara kepada Rasulullah saw. Sebagai gantinya, mereka diperintahkan menggunakan ungkapan unzhurnaa, yang memiliki makna serupa dalam bahasa Arab, yaitu memohon agar diperhatikan.

Allah berfirman:

«"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengatakan, 'Raa'inaa', tetapi katakanlah, 'Unzhurnaa', dan dengarlah. Orang-orang kafir akan mendapat azab yang pedih."
(Al-Baqarah: 104)»

Menurut sejumlah riwayat, larangan ini berkaitan dengan perilaku sebagian orang Yahudi yang sengaja memelintir kata raa'inaa. Kata tersebut dapat dipelesetkan menjadi ru'uunah, yang mengandung makna kebodohan atau kedunguan. Mereka memanfaatkan kemiripan bunyi untuk menyampaikan penghinaan kepada Rasulullah saw. tanpa mengatakannya secara terang-terangan.

Perilaku ini memperlihatkan bagaimana bahasa dapat dijadikan alat untuk menyembunyikan niat buruk. Sebuah kata yang pada mulanya memiliki makna baik dapat dipelintir menjadi sarana penghinaan. Permainan bahasa semacam ini bukan sekadar persoalan pilihan kata, melainkan cerminan sikap batin seseorang terhadap orang yang sedang diajak berbicara.

Karena itu, Allah memerintahkan kaum muslimin menggunakan ungkapan lain yang tidak mudah disalahgunakan. Mereka juga diperintahkan untuk mendengar, dalam arti menerima dan menaati petunjuk Rasulullah saw.

Larangan ini sekaligus mengandung pelajaran tentang adab. Keimanan tidak hanya tercermin dalam keyakinan dan ibadah, tetapi juga dalam cara seseorang berbicara, memilih kata, serta menjaga kehormatan orang lain.

Di sisi lain, peristiwa ini memperlihatkan bagaimana Allah memelihara Rasul-Nya dan membimbing kaum muslimin menghadapi perilaku yang dapat merusak kehormatan dan hubungan sosial mereka.

Kedengkian terhadap Karunia Allah

Setelah memberikan petunjuk mengenai adab berbicara, Al-Qur'an mengungkap persoalan yang lebih mendasar: kedengkian sebagian orang terhadap karunia Allah yang diberikan kepada kaum muslimin.

Allah berfirman:

«"Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Namun, Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya untuk menerima rahmat-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar."
(Al-Baqarah: 105)»

Ayat ini mengungkap adanya sikap penolakan terhadap kebaikan yang diterima kaum muslimin. Dalam konteks turunnya wahyu dan hadirnya risalah terakhir, persoalan tersebut berkaitan dengan kenyataan bahwa Allah telah memilih Nabi Muhammad saw. untuk menerima amanah kenabian dan menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi umat manusia.

Bagi sebagian orang yang telah lama menganggap dirinya sebagai pemegang otoritas keagamaan, kehadiran risalah baru dapat menjadi sumber kegelisahan. Mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa karunia Allah tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan dan kepentingan mereka.

Di sinilah kedengkian dapat tumbuh. Ketika seseorang tidak mampu menerima bahwa Allah memberikan karunia kepada pihak lain, ia dapat mengubah ketidakpuasan menjadi penolakan, bahkan permusuhan.

Padahal, kenabian bukanlah sesuatu yang dapat ditentukan oleh keinginan manusia. Allah lebih mengetahui siapa yang layak menerima amanah risalah-Nya.

Allah berfirman bahwa Dia menentukan siapa yang dikehendaki-Nya untuk memperoleh rahmat-Nya dan bahwa karunia-Nya sangat besar.

Tidak ada nikmat yang lebih besar daripada nikmat kenabian dan kerasulan. Demikian pula, tidak ada karunia yang lebih agung bagi manusia selain memperoleh iman dan kesempatan untuk menyampaikan kebenaran.

Karena itu, ayat ini tidak hanya membongkar kedengkian pihak yang menolak risalah, tetapi juga mengajak kaum muslimin menyadari besarnya karunia yang telah mereka terima.

Kesadaran tersebut seharusnya melahirkan rasa syukur sekaligus tanggung jawab. Menerima nikmat iman bukan sekadar memperoleh keistimewaan, melainkan juga menerima amanah untuk menjaga dan menyebarkannya.

Nasakh dan Kebijaksanaan Allah

Persoalan kedengkian dan penolakan terhadap risalah berkaitan erat dengan perdebatan mengenai perubahan sebagian ketentuan dalam agama.

Ketika Allah menghapus atau mengganti suatu ketentuan dengan ketentuan lain, sebagian orang menjadikannya sebagai alasan untuk meragukan kebenaran wahyu. Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin perintah yang berasal dari Allah dapat berubah.

Padahal, perubahan hukum tidak menunjukkan perubahan pengetahuan Allah. Allah mengetahui keadaan manusia, kebutuhan mereka, serta kemaslahatan yang hendak diwujudkan melalui setiap ketentuan.

Allah berfirman:

«"Ayat mana saja yang Kami nasakhkan atau Kami jadikan manusia lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya."
(Al-Baqarah: 106)»

Nasakh merupakan bagian dari kebijaksanaan Allah dalam menetapkan ketentuan bagi manusia. Hukum dapat mengalami perubahan sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya, sementara ilmu dan kekuasaan Allah tetap sempurna.

Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan perkembangan kehidupan umat, perubahan keadaan, serta kebutuhan yang berbeda pada setiap tahap perjalanan risalah.

Dalam konteks pemindahan kiblat, misalnya, perubahan arah shalat menunjukkan bahwa Allah memiliki kewenangan penuh untuk menetapkan orientasi ibadah bagi kaum muslimin.

Karena itu, manusia tidak sepatutnya mengukur kebijaksanaan Allah hanya berdasarkan keterbatasan pengetahuannya sendiri. Apa yang tampak sebagai perubahan bagi manusia tidak berarti terdapat ketidaktetapan dalam kehendak Allah.

Al-Qur'an kemudian menegaskan:

«"Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Tidakkah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tidak ada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong."
(Al-Baqarah: 106–107)»

Ayat ini mengembalikan persoalan kepada fondasi keimanan: Allah adalah pemilik seluruh kerajaan langit dan bumi. Dia memiliki kekuasaan mutlak untuk menetapkan hukum, mengubah ketentuan, dan menentukan segala urusan sesuai dengan kehendak-Nya.

Kesadaran ini juga mengingatkan kaum muslimin agar tidak menggantungkan keselamatan akidahnya kepada pembelaan manusia semata. Pelindung dan penolong yang hakiki hanyalah Allah.

Ketika Keimanan Diuji oleh Pertanyaan

Al-Qur'an kemudian memberikan peringatan yang lebih tegas:

«"Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus."
(Al-Baqarah: 108)»

Peringatan ini ditujukan kepada sebagian kaum muslimin yang mulai terpengaruh oleh berbagai pertanyaan dan tuntutan yang diarahkan kepada Rasulullah saw.

Mereka meminta bukti dan penjelasan dengan sikap yang berpotensi melampaui batas kewajaran. Sikap tersebut mengingatkan pada perilaku sebagian Bani Israil yang kerap mempersulit nabi mereka dengan berbagai tuntutan, bahkan ketika petunjuk telah disampaikan dengan jelas.

Ada perbedaan mendasar antara bertanya untuk memperoleh pemahaman dan bertanya dengan maksud menghindari ketaatan.

Pertanyaan yang lahir dari keinginan memahami kebenaran merupakan bagian dari proses belajar. Namun, pertanyaan yang terus-menerus dijadikan alasan untuk menunda ketaatan dapat berubah menjadi penghalang bagi keimanan.

Di sinilah kaum muslimin perlu melakukan introspeksi. Jangan sampai mereka mengulang pola perilaku yang pernah menjadi sumber kesulitan bagi umat terdahulu.

Keimanan tidak berarti menutup akal dan menghentikan pertanyaan. Sebaliknya, keimanan mengarahkan akal agar bekerja dalam kerangka pencarian kebenaran, bukan menjadi alat untuk membenarkan keengganan menerima petunjuk.

Peringatan ini sekaligus menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi keimanan tidak selalu berasal dari luar. Ia dapat tumbuh dari dalam diri sendiri ketika seseorang mulai menjadikan keraguan sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban.

Kedengkian sebagai Sumber Permusuhan

Al-Qur'an kembali mengungkap motivasi yang tersembunyi di balik upaya sebagian Ahli Kitab untuk memalingkan kaum muslimin dari keimanan.

Allah berfirman:

«"Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran."
(Al-Baqarah: 109)»

Ayat ini menunjukkan bahwa kedengkian dapat menjadi kekuatan yang mendorong seseorang menolak kebenaran yang sebenarnya telah dikenalnya.

Kedengkian bukan sekadar perasaan tidak senang melihat keberhasilan orang lain. Ia dapat berkembang menjadi dorongan untuk merampas nikmat yang diterima pihak lain, bahkan menghalangi orang lain agar tidak memperoleh kebaikan.

Dalam konteks turunnya Al-Qur'an, kedengkian tersebut berkaitan dengan kenyataan bahwa Allah telah memberikan amanah risalah terakhir kepada Nabi Muhammad saw. dan menjadikan kaum muslimin sebagai umat yang menerima serta mengemban risalah itu.

Namun, yang perlu direnungkan bukan hanya perilaku pihak yang dengki. Kedengkian juga merupakan penyakit batin yang dapat menjangkiti siapa pun.

Seseorang mungkin merasa dirinya berada di pihak yang benar, tetapi ketika ia tidak rela melihat orang lain memperoleh karunia, kebenaran itu dapat tertutup oleh kepentingan dan kesombongan dirinya sendiri.

Karena itu, ayat ini tidak hanya mengajarkan kewaspadaan terhadap permusuhan dari luar, tetapi juga mengandung peringatan agar kaum muslimin membersihkan hati dari penyakit yang sama.

Memaafkan Tanpa Kehilangan Keteguhan

Setelah mengungkap kedengkian dan permusuhan yang dihadapi kaum muslimin, Al-Qur'an justru memberikan arahan yang menarik. Mereka tidak diperintahkan membalas kedengkian dengan kedengkian atau kejahatan dengan kejahatan.

Allah berfirman:

«"Maka, maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."
(Al-Baqarah: 109)»

Perintah ini mengandung pelajaran penting tentang pengendalian diri ketika menghadapi permusuhan.

Memaafkan bukan berarti menganggap semua tindakan buruk sebagai sesuatu yang benar. Membiarkan bukan berarti kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Sebaliknya, memaafkan dalam konteks ini merupakan bentuk pengendalian diri yang bersumber dari keyakinan kepada Allah. Kaum muslimin tidak harus membiarkan kebencian menguasai hati mereka, meskipun mereka mengetahui adanya permusuhan yang diarahkan kepada mereka.

Sikap tersebut juga memperlihatkan bahwa kekuatan umat tidak hanya diukur dari kemampuannya menghadapi tekanan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kejernihan hati ketika menghadapi perlakuan yang tidak adil.

Mereka diminta menempuh jalan yang telah ditetapkan Allah, tetap beribadah, dan terus mengumpulkan amal kebaikan.

Allah berfirman:

«"Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat. Segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(Al-Baqarah: 110)»

Perintah shalat dan zakat hadir setelah pembicaraan tentang kedengkian, permusuhan, dan perintah memaafkan. Susunan ini mengandung pesan yang mendalam.

Ketika menghadapi tekanan, kaum muslimin tidak boleh kehilangan hubungan dengan Allah. Mereka harus tetap menjaga ibadah, memperkuat kepedulian sosial, dan mengarahkan energi mereka kepada amal yang bermanfaat.

Dengan demikian, perhatian mereka tidak habis untuk memikirkan permusuhan orang lain. Mereka tetap memiliki orientasi yang jelas: beribadah kepada Allah dan membangun kehidupan yang diridhai-Nya.

Menjaga Hati, Meneguhkan Langkah

Rangkaian ayat ini memperlihatkan bagaimana Al-Qur'an membimbing kaum muslimin menghadapi tekanan yang dapat mengguncang keimanan.

Pertama, mereka diajarkan menjaga adab dan kehormatan Rasulullah saw. melalui cara berbicara yang baik.

Kedua, mereka diajak memahami bahwa karunia Allah, terutama nikmat iman dan risalah, merupakan pemberian yang sangat besar. Tidak semua orang mampu menerima kenyataan bahwa Allah memberikan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.

Ketiga, mereka diperintahkan memahami kebijaksanaan Allah dalam menetapkan hukum. Perubahan ketentuan tidak boleh dijadikan alasan untuk meragukan kesempurnaan ilmu dan kekuasaan-Nya.

Keempat, mereka diperingatkan agar tidak mudah terpengaruh oleh hasutan dan tuntutan yang dapat melemahkan kepercayaan terhadap wahyu.

Namun, ada satu pelajaran yang tidak kalah penting: kewaspadaan tidak boleh berubah menjadi kebencian yang membutakan hati.

Al-Qur'an mengungkap sikap sebagian pihak yang memusuhi kaum muslimin, tetapi sekaligus memerintahkan kaum muslimin untuk memaafkan dan menahan diri. Ini menunjukkan bahwa keteguhan iman tidak harus diwujudkan melalui permusuhan tanpa batas.

Umat yang kuat bukanlah umat yang selalu sibuk membalas setiap serangan. Umat yang kuat adalah umat yang mampu mengenali ancaman tanpa kehilangan kejernihan berpikir, mempertahankan keyakinan tanpa terjebak dalam kebencian, dan menghadapi tekanan tanpa meninggalkan tanggung jawabnya kepada Allah.

Pada akhirnya, ujian keimanan bukan hanya tentang bagaimana seseorang menghadapi musuh yang berada di luar dirinya. Ujian itu juga menyangkut bagaimana ia mengelola keraguan, mengendalikan kemarahan, membersihkan kedengkian, dan menjaga agar hatinya tidak dikuasai oleh kebencian.

Sebab, ketika seseorang mampu memelihara hatinya di tengah permusuhan, ia tidak sekadar mempertahankan keyakinan. Ia juga sedang menjaga kualitas keimanannya.

Dan ketika kaum muslimin tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, berbuat baik, serta menyerahkan urusannya kepada Allah di tengah berbagai tekanan, mereka sedang membuktikan bahwa orientasi hidup mereka tidak ditentukan oleh kebencian orang lain, melainkan oleh petunjuk dan keridaan Allah.

Ujian Akidah di Balik Pemindahan Kiblat Studi ini mengungkap berbagai bentuk mak...

Ujian Akidah di Balik Pemindahan Kiblat

Studi ini mengungkap berbagai bentuk makar dan tipu daya yang dilakukan oleh sebagian kaum Yahudi terhadap Islam dan kaum muslimin. Namun, yang lebih penting dari sekadar mengetahui bentuk tipu daya tersebut adalah memahami bagaimana sebuah serangan dapat diarahkan kepada fondasi keimanan manusia.

Kaum muslimin diperingatkan agar waspada terhadap permainan politik, rekayasa, fitnah, dan berbagai upaya yang dapat menimbulkan mudarat. Mereka juga diingatkan agar tidak menyerupai orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan.

Sebab, sebuah makar tidak selalu datang dalam bentuk serangan yang terbuka. Ia dapat hadir melalui pertanyaan, keraguan, argumentasi yang tampaknya masuk akal, bahkan melalui sesuatu yang pada permukaannya terlihat seperti pembelaan terhadap kebenaran.

Di sinilah Al-Qur’an membongkar sebab-sebab yang tersembunyi di balik sebagian perkataan dan perbuatan kaum Yahudi pada masa itu. Mereka tidak hanya berusaha menghadapi kaum muslimin secara lahiriah, tetapi juga berusaha mengguncang keyakinan mereka dari dalam.

Salah satu persoalan yang mereka jadikan sarana adalah nasakh, yaitu penghapusan atau penggantian sebagian perintah dan ketentuan agama dengan ketentuan yang lain sesuai dengan kehendak dan hikmah Allah.

Mereka menjadikan perubahan hukum sebagai bahan untuk menimbulkan keraguan terhadap sumber wahyu. Mereka berkata, kurang lebih:

«“Kalau semua ini benar-benar berasal dari Allah, mengapa ada perintah yang dihapus? Mengapa muncul perintah baru yang menggantikan perintah sebelumnya?”»

Pertanyaan itu sekilas tampak sederhana. Tetapi di baliknya terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar: apakah manusia percaya bahwa Allah Mahamengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya?

Jika Allah adalah Rabb Yang Mahabijaksana, maka perubahan suatu ketentuan tidak menunjukkan adanya pertentangan dalam wahyu. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa Allah menetapkan sesuatu sesuai dengan hikmah, maslahat, serta keadaan manusia yang Dia ciptakan dan Dia ketahui secara sempurna.

Persoalan ini kemudian menjadi semakin nyata ketika terjadi pemindahan kiblat.

Pemindahan Kiblat dan Guncangan yang Ditimbulkannya

Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah saw. melaksanakan shalat menghadap Baitul Maqdis. Kiblat ini juga menjadi arah shalat kaum Yahudi. Keadaan tersebut kemudian dijadikan oleh sebagian mereka sebagai alasan untuk mengklaim bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. tidak berbeda dari agama mereka.

Namun, Rasulullah saw. memiliki keinginan agar kiblat kaum muslimin diarahkan kepada Ka'bah, Baitullah, rumah Allah yang menjadi pusat tauhid sejak masa Nabi Ibrahim a.s.

Keinginan itu tidak disampaikan sebagai keputusan pribadi. Rasulullah saw. menunggu petunjuk Allah. Hingga akhirnya Allah mengabulkannya dan memerintahkan kaum muslimin menghadap ke Masjidilharam.

Pemindahan kiblat bukan sekadar perubahan arah ketika shalat.

Ia merupakan perubahan orientasi umat.

Ka'bah menjadi simbol bahwa umat Islam memiliki identitas, arah, dan pusat kehidupan spiritualnya sendiri. Karena itu, perubahan tersebut juga memutus salah satu klaim yang selama ini digunakan oleh kaum Yahudi untuk mengaitkan Islam dengan agama mereka berdasarkan kesamaan kiblat.

Ketika argumentasi itu runtuh, muncul persoalan baru.

Keraguan mulai diarahkan kepada kaum muslimin:

«“Jika menghadap Baitul Maqdis itu sekarang dianggap tidak benar, bagaimana dengan shalat dan ibadah kalian selama ini? Apakah semuanya sia-sia? Dan jika sebelumnya benar, mengapa sekarang kiblat harus dipindahkan?”»

Pertanyaan seperti ini tampaknya berbicara tentang arah kiblat. Tetapi sesungguhnya sasarannya jauh lebih dalam.

Yang hendak diguncang bukan sekadar arah shalat, melainkan kepercayaan kaum muslimin terhadap wahyu dan kepemimpinan Rasulullah saw.

Jika mereka berhasil membuat kaum muslimin meragukan sumber perintah, maka yang terguncang bukan hanya satu hukum. Yang terguncang adalah fondasi akidah.

Ketika Keraguan Masuk ke Dalam Jiwa

Makar semacam ini ternyata dapat memberikan pengaruh kepada sebagian kaum muslimin. Mereka kemudian bertanya kepada Rasulullah saw. dengan perasaan cemas dan gelisah.

Hal ini menunjukkan sesuatu yang sangat manusiawi.

Orang yang telah beriman sekalipun dapat mengalami keguncangan ketika berhadapan dengan pertanyaan yang terus-menerus diulang dan diarahkan kepada titik paling sensitif dalam keyakinannya.

Keraguan sering kali tidak datang sebagai penolakan langsung terhadap agama. Ia datang melalui pertanyaan yang sedikit demi sedikit menggerogoti kepastian.

Karena itu, Al-Qur’an tidak membiarkan persoalan ini berlalu tanpa penjelasan.

Allah menjelaskan bahwa penghapusan atau penggantian sebagian ketentuan bukanlah tanda kelemahan dalam wahyu. Nasakh merupakan bagian dari kebijaksanaan Allah dalam menetapkan hukum bagi manusia.

Allah mengetahui apa yang dibutuhkan hamba-hamba-Nya. Dia mengetahui apa yang lebih baik bagi mereka, kapan suatu ketentuan harus diberlakukan, dan kapan suatu ketentuan diganti dengan ketentuan yang lain.

Dengan demikian, perubahan hukum tidak menunjukkan perubahan pengetahuan Allah. Justru manusialah yang mengalami perubahan keadaan, sedangkan Allah mengetahui seluruh perubahan itu sejak awal.

Di sinilah kaum muslimin diajarkan untuk membedakan antara perubahan hukum dan perubahan kebenaran.

Hukum dapat berubah sesuai dengan hikmah dan ketetapan Allah, tetapi kebenaran wahyu tidak pernah cacat.

Bahaya Kedengkian terhadap Nikmat Allah

Al-Qur’an kemudian mengungkap bahwa di balik sebagian penolakan tersebut terdapat kedengkian terhadap karunia Allah kepada kaum muslimin.

Allah telah memilih mereka untuk menerima risalah terakhir dan menurunkan kitab terakhir melalui Nabi Muhammad saw.

Persoalan ini bukan lagi sekadar perselisihan mengenai arah kiblat. Ia menyentuh persoalan yang lebih dalam: siapa yang dipilih Allah untuk menerima amanah risalah terakhir?

Karena itu, kaum muslimin diperingatkan agar tidak membiarkan dirinya dikembalikan kepada kekafiran setelah beriman hanya karena terpengaruh oleh tekanan, propaganda, atau keraguan yang dilemparkan dari luar.

Namun, peringatan ini juga mengandung pelajaran yang lebih luas.

Sebuah komunitas tidak selalu dihancurkan dengan kekuatan dari luar. Terkadang ia dilemahkan dengan membuat anggotanya meragukan identitas, sumber nilai, dan kepemimpinannya sendiri.

Ketika keyakinan terhadap fondasi itu melemah, masyarakat akan mudah terpecah.

Perselisihan di antara Ahli Kitab

Al-Qur’an juga membongkar sebuah ironi besar di antara kaum Ahli Kitab.

Masing-masing kelompok merasa dirinya memiliki kebenaran dan menjatuhkan kelompok yang lain. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa orang-orang Nasrani tidak mempunyai pegangan, sementara orang-orang Nasrani mengatakan hal yang sama terhadap orang-orang Yahudi.

Mereka saling meniadakan, sementara masing-masing mengklaim dirinya berada di atas kebenaran.

Hal ini memperlihatkan bahwa klaim keagamaan tidak selalu identik dengan ketundukan kepada kebenaran.

Seseorang dapat berbicara tentang agama, membawa simbol agama, bahkan mengklaim memiliki kitab suci, tetapi tetap dapat terjebak dalam fanatisme, kedengkian, dan penolakan terhadap kebenaran ketika kebenaran itu datang tidak sesuai dengan kepentingannya.

Ka'bah dan Perebutan Arah Peradaban

Dalam konteks pemindahan kiblat, Al-Qur’an juga membongkar adanya upaya menghalangi kaum muslimin dari menghadap Ka'bah.

Persoalan ini tidak berhenti pada arah tubuh ketika shalat. Ka'bah adalah Baitullah dan salah satu simbol utama tauhid.

Karena itu, menghalangi manusia dari masjid dan dari mengingat nama Allah di dalamnya bukanlah persoalan kecil. Ia menyentuh hubungan manusia dengan tempat ibadah dan dengan Tuhannya.

Dari sini kita dapat memahami bahwa perebutan arah kiblat pada hakikatnya adalah bagian dari perebutan orientasi umat.

Ke mana umat menghadap?

Kepada siapa mereka tunduk?

Dari mana mereka mengambil nilai?

Dan kepada siapa mereka menyerahkan loyalitas tertingginya?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadikan persoalan kiblat jauh lebih besar daripada sekadar perubahan arah dalam shalat.

Sasaran Akhir: Menggoyahkan Identitas

Pada akhirnya, kaum muslimin dihadapkan pada satu kenyataan penting: sebagian Ahli Kitab tidak akan merasa puas sebelum kaum muslimin mengikuti jalan mereka.

Jika kaum muslimin tidak mengikuti agama mereka, maka tekanan dapat mengambil berbagai bentuk: argumentasi, propaganda, fitnah, tipu daya, dan berbagai bentuk permusuhan lainnya.

Namun, pelajaran yang lebih penting bagi kaum muslimin bukanlah membangun prasangka terhadap seluruh orang dari suatu kelompok. Al-Qur’an mengajarkan agar manusia melihat sikap, tindakan, dan posisi terhadap kebenaran, bukan membuat generalisasi tanpa batas.

Yang perlu diwaspadai adalah setiap upaya yang berusaha memalingkan manusia dari agamanya, mengguncang keyakinannya terhadap wahyu, atau membuatnya meninggalkan identitas dan prinsip yang telah diyakininya.

Di balik berbagai argumentasi yang tampak rasional, bisa saja terdapat kepentingan yang tersembunyi. Karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya mendengar sebuah argumentasi. Ia juga harus bertanya:

Ke mana argumentasi ini akan membawaku?

Apakah ia semakin mendekatkanku kepada Allah atau justru menjauhkan?

Apakah ia membuatku semakin tunduk kepada kebenaran atau semakin tunduk kepada tekanan manusia?

Apakah ia membangun keyakinan atau justru menanamkan keraguan tanpa dasar?

Inilah pelajaran reflektif dari pergolakan di sekitar pemindahan kiblat.

Ujian terbesar terkadang bukan ketika seseorang diminta meninggalkan agama secara terang-terangan. Ujian terbesar justru ketika ia dibuat meragukan agamanya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ia sendiri tidak lagi yakin mengapa harus mempertahankannya.

Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya memberi tahu kaum muslimin tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Ia juga membentuk kewaspadaan batin agar umat mampu mengenali pola yang sama ketika ia muncul dalam bentuk yang berbeda.

Sebab, sejarah dapat berganti wajah, bahasa dapat berubah, dan metode dapat berkembang. Tetapi pergulatan antara kebenaran dan kebatilan, iman dan keraguan, ketundukan kepada Allah dan ketundukan kepada hawa nafsu, akan terus menjadi bagian dari perjalanan manusia.

Sihir, Telepati, Magnetisme, Harut dan Marut Perlu kiranya kita memberi perhatian pada perso...

Sihir, Telepati, Magnetisme, Harut dan Marut

Perlu kiranya kita memberi perhatian pada persoalan sihir, khususnya sihir yang dipergunakan untuk memisahkan seorang suami dari istrinya. Al-Qur’an menyebut bahwa praktik semacam ini dipelajari oleh sebagian orang dari apa yang diajarkan oleh setan. Bani Israil pun terjerumus ke dalamnya hingga mereka meninggalkan Kitab Allah dan mengikuti sesuatu yang tidak membawa mereka kepada kebenaran.

Persoalan ini sekaligus mengajak manusia untuk menyadari bahwa tidak seluruh fenomena yang terjadi di alam dapat segera dijelaskan oleh pengetahuan yang dimilikinya. Dalam perjalanan sejarah, manusia menemukan berbagai gejala dan kemampuan tertentu yang belum sepenuhnya tersingkap hakikatnya. Manusia kemudian memberinya nama dan istilah, tetapi pemberian nama tidak selalu berarti bahwa hakikatnya telah dipahami.

Misalnya, ada yang disebut telepati, yaitu semacam getaran atau komunikasi dari jarak jauh. Tetapi apakah telepati itu? Bagaimana mekanismenya? Bagaimana seseorang dapat memanggil atau merasakan kehadiran orang lain yang berada jauh darinya, tanpa suara dan tanpa melihatnya secara langsung, seolah-olah jarak yang memisahkan keduanya tidak ada?

Demikian pula dengan apa yang disebut magnetisme. Bagaimana suatu kehendak dapat memengaruhi kehendak yang lain? Bagaimana satu pikiran berhubungan dengan pikiran lain, sehingga yang satu memengaruhi dan yang lain menerima pengaruh, seakan-akan seseorang sedang membaca kitab yang terbuka di hadapannya?

Masih banyak persoalan semacam ini yang terus diperdebatkan. Bisa jadi karena bukti-bukti yang tersedia belum cukup untuk menjadikannya sebagai pengetahuan yang dapat diterima secara ilmiah. Bisa pula karena manusia belum menemukan metode, sarana, dan jalan penelitian yang tepat untuk mengujinya.

Bahkan pengalaman batin manusia pun memperlihatkan adanya wilayah yang tidak selalu mudah dijelaskan. Mimpi-mimpi yang membawa informasi tertentu, misalnya, tidak mudah begitu saja disangkal hanya karena manusia belum mampu menjelaskan seluruh mekanismenya. Bagaimana seseorang bermimpi tentang sesuatu yang belum diketahuinya, lalu beberapa waktu kemudian apa yang hadir dalam mimpinya itu terjadi dalam kenyataan?

Demikian pula dengan perasaan-perasaan halus yang terkadang muncul tanpa diketahui sumbernya. Seseorang merasa bahwa sesuatu akan terjadi dalam waktu dekat, atau merasakan bahwa seseorang akan datang, lalu kenyataan seakan-akan membenarkan perasaan tersebut.

Karena itu, merupakan suatu bentuk keangkuhan apabila manusia bersikap statis dengan mengingkari begitu saja segala sesuatu yang belum mampu dijelaskan oleh pengetahuannya. Ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjelaskan suatu fenomena pada suatu masa tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa fenomena tersebut tidak ada.

Namun, sikap terbuka ini juga tidak berarti bahwa manusia boleh menyerah kepada segala khurafat dan menerima setiap mitos sebagai kebenaran.

Sikap yang lebih selamat adalah menempatkan akal secara proporsional di hadapan sesuatu yang belum diketahui. Ia tidak mengingkarinya secara mutlak, tetapi juga tidak menerimanya secara mutlak. Ia menunggu sampai ditemukan metode, sarana, dan bukti yang memungkinkan sesuatu itu dipahami dengan lebih baik.

Atau, manusia mengakui dengan rendah hati bahwa alam memiliki wilayah yang melampaui jangkauan pengetahuannya. Ia menyadari batas kemampuannya, lalu memperhitungkan kemungkinan adanya hal-hal yang belum mampu dipahaminya tanpa menjadikannya sebagai alasan untuk membenarkan segala macam kepercayaan.

Dalam kerangka inilah persoalan sihir dapat ditempatkan.

Sihir termasuk perkara yang memiliki dimensi yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan dengan pengalaman inderawi biasa. Al-Qur’an menyebut adanya sesuatu yang diajarkan oleh setan kepada manusia. Pengaruhnya dapat saja muncul dalam berbagai bentuk: memengaruhi persepsi, pikiran, perasaan, bahkan hubungan seseorang dengan orang lain.

Al-Qur’an sendiri menggambarkan bagaimana para tukang sihir Fir'aun memengaruhi pandangan manusia. Allah berfirman bahwa tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan merayap cepat karena sihir mereka.

«“Maka, tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.”
(Thaha: 66)»

Ayat ini menunjukkan bahwa setidaknya sebagian bentuk sihir dapat bekerja melalui pengaruh terhadap persepsi manusia. Apa yang sebenarnya tidak berubah pada benda dapat tampak berbeda dalam pandangan orang yang terkena pengaruhnya.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa daya pengaruh semacam inilah yang menjadi salah satu jalan terjadinya perpecahan antara manusia: antara suami dan istri, antara sahabat dengan sahabatnya, atau antara seseorang dengan orang yang dicintainya.

Pengaruh tersebut dapat bekerja melalui perasaan, persepsi, dan pikiran. Cara kerjanya mungkin belum sepenuhnya dapat dipahami manusia. Namun, apa pun bentuknya, sebab dan akibatnya tetap berada dalam ketetapan dan izin Allah. Tidak ada sesuatu pun yang dapat memberikan mudarat ataupun manfaat secara mandiri di luar kehendak-Nya.

Harut dan Marut

Adapun mengenai dua malaikat, Harut dan Marut, maka pertanyaan berikutnya adalah: siapakah mereka dan kapan mereka berada di negeri Babil?

Kisah tentang keduanya telah sangat populer di kalangan Yahudi. Al-Qur’an memberikan isyarat mengenai kisah tersebut secara global. Cara Al-Qur’an menyampaikannya menunjukkan bahwa perincian sejarah bukanlah tujuan utama ayat tersebut.

Al-Qur’an sering kali menyebut suatu kisah yang telah dikenal oleh orang-orang yang menjadi sasaran pembicaraannya. Karena itu, tidak semua detail diceritakan kembali. Isyarat yang diberikan sudah cukup untuk mencapai tujuan yang dikehendaki ayat.

Karena itu, tidak perlu kita membebani kisah Harut dan Marut dengan berbagai dongeng yang berkembang di sekitarnya. Tidak terdapat riwayat yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan yang memungkinkan kita memastikan seluruh rincian kisah tersebut.

Yang lebih penting adalah pesan yang hendak disampaikan Al-Qur’an.

Dalam perjalanan sejarah manusia, Allah menghadirkan berbagai ujian sesuai dengan keadaan dan perkembangan manusia. Bentuk ujian itu dapat beraneka ragam. Kadang-kadang ia datang melalui manusia biasa, kadang melalui sesuatu yang memiliki kemampuan luar biasa, dan kadang melalui sesuatu yang tidak segera dapat dijelaskan oleh manusia.

Jika ujian itu digambarkan melalui dua malaikat, atau melalui dua manusia yang memiliki penampilan dan kemampuan seperti malaikat, hal itu tidaklah terlalu mengherankan jika dibandingkan dengan beragam bentuk ujian dan peristiwa luar biasa yang telah mewarnai perjalanan manusia.

Yang terpenting bukanlah memburu setiap rincian yang samar, tetapi menangkap pesan yang jelas dan tegas dari ayat tersebut.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan merenung.

Manusia sering kali tertarik kepada sesuatu yang misterius. Ia ingin mengetahui siapa Harut dan Marut, bagaimana sihir bekerja, bagaimana kekuatan luar biasa itu terjadi, dan bagaimana berbagai kejadian ganjil dapat dijelaskan. Keingintahuan itu sendiri bukanlah kesalahan.

Namun, ketika perhatian kepada perkara-perkara yang samar membuat manusia meninggalkan pesan yang sudah jelas, di situlah masalah bermula.

Bani Israil menjadi contoh penting. Mereka meninggalkan Kitab Allah yang diyakini kebenarannya, lalu mengejar sesuatu yang bersifat misterius dan penuh mitos. Mereka memilih sesuatu yang memuaskan rasa ingin tahu, tetapi meninggalkan petunjuk yang seharusnya membimbing kehidupan.

Karena itu, yang muhkamat tidak boleh ditinggalkan hanya demi mengejar yang mutasyabihat.

Kita tidak perlu mengetahui seluruh rahasia di balik sesuatu untuk mengetahui apakah sesuatu itu membawa manusia kepada Allah atau justru menjauhkannya dari-Nya. Kita tidak harus memahami seluruh mekanisme sihir untuk mengetahui bahwa sihir merupakan perbuatan yang tercela. Kita tidak harus mengetahui seluruh rincian Harut dan Marut untuk memahami bahwa manusia sedang diuji dengan ilmu, kekuatan, dan pilihan yang dimilikinya.

Pada akhirnya, persoalan sihir bukan sekadar persoalan tentang kemampuan misterius manusia. Ia adalah persoalan iman, pilihan, dan tanggung jawab.

Sihir adalah bagian dari perbuatan setan dan merupakan jalan kekufuran yang mendatangkan konsekuensi berat bagi manusia. Orang yang memilih jalan tersebut bukan sedang memperoleh kekuatan yang bebas tanpa batas. Ia justru sedang mempertaruhkan keselamatannya sendiri.

Di dunia mungkin ia merasa memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain. Tetapi di hadapan Allah, seluruh kemampuan itu tidak menjadikannya berkuasa. Ia tetap seorang hamba yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Karena itu, pelajaran terpenting dari pembahasan ini bukanlah bagaimana manusia mengejar kekuatan yang tersembunyi, melainkan bagaimana ia menjaga dirinya agar tidak terseret oleh kekuatan yang menjauhkannya dari Allah.

Ilmu mengajarkan manusia untuk rendah hati di hadapan sesuatu yang belum diketahuinya. Wahyu mengajarkan manusia untuk tetap memiliki batas dalam rasa ingin tahunya. Dan iman mengajarkan bahwa di balik seluruh fenomena yang belum mampu dipahami manusia, tetap ada Allah Yang Mahamengetahui, sementara pengetahuan manusia hanyalah sebagian kecil dari apa yang telah Dia ajarkan kepadanya.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (363) Al-Qur’an (75) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (42) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (7) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (9) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (64) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (123) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (323) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (799) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (28) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) sirah penguasa (1) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (253) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (174) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)