basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Medan-Medan Pertempuran Manusia dalam Surah Āli 'Imrān Dari Pertempuran Melawan Hawa Nafsu hingga Medan Perang Uhud Ketika Surah Āli ...


Medan-Medan Pertempuran Manusia dalam Surah Āli 'Imrān

Dari Pertempuran Melawan Hawa Nafsu hingga Medan Perang Uhud


Ketika Surah Āli 'Imrān disebut, kebanyakan orang langsung mengingat Perang Uhud.

Padahal, jika ditelusuri secara utuh, surah ini tidak sekadar menceritakan sebuah peperangan. Ia menyusun sebuah peta besar tentang berbagai medan pertempuran yang akan dihadapi manusia sepanjang hidupnya.

Menariknya, Al-Qur'an tidak memulai surah ini dengan kisah perang.

Perang justru muncul setelah manusia lebih dahulu diuji pada medan yang jauh lebih sulit: pertempuran melawan dirinya sendiri, pertempuran gagasan, dan pertempuran mempertahankan kebenaran.

Seolah-olah Al-Qur'an ingin mengajarkan bahwa kemenangan di medan perang tidak mungkin diraih tanpa kemenangan di medan batin.

Medan Pertama: Pertempuran Ego dan Hawa Nafsu

Surah Āli 'Imrān lebih dahulu mengarahkan perhatian kepada musuh yang tidak terlihat.

Allah berfirman:

"Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada apa yang diingini, berupa perempuan, anak-anak, harta yang bertimbun dari emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang..." (QS. Āli 'Imrān: 14).

Ayat ini tidak melarang manusia memiliki harta, keluarga, maupun berbagai kenikmatan dunia.

Yang dipersoalkan adalah ketika semua itu berubah dari amanah menjadi tujuan hidup.

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa seluruh kenikmatan tersebut merupakan ujian keimanan. Manusia diuji apakah ia menjadikan dunia sebagai sarana menuju ridha Allah atau justru menjadikannya sebagai orientasi akhir kehidupannya.

Dengan demikian, peperangan pertama dalam Surah Āli 'Imrān bukanlah melawan musuh di luar diri, melainkan melawan ego, keserakahan, dan hawa nafsu.

Seseorang yang kalah pada medan ini akan sulit menang di medan yang lain.

Medan Kedua: Pertempuran Pemikiran

Setelah membahas ujian terhadap diri sendiri, Al-Qur'an membawa pembaca kepada pertempuran berikutnya: pertarungan gagasan.

Surah Āli 'Imrān mengabadikan dialog Rasulullah ﷺ dengan Ahlul Kitab, khususnya delegasi Nasrani Najran.

Allah mengecam mereka karena mengetahui kebenaran, tetapi menolaknya akibat kedengkian.

"Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahuinya?" (QS. Āli 'Imrān: 70).

Lebih jauh lagi, Al-Qur'an mengungkap strategi penyimpangan informasi.

"Mengapa kamu mencampuradukkan yang benar dengan yang batil dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?" (QS. Āli 'Imrān: 71).

Tafsir menjelaskan adanya upaya sebagian tokoh Ahlul Kitab untuk menciptakan kebingungan: berpura-pura beriman pada pagi hari, lalu mengingkarinya pada sore hari agar kaum Muslim meragukan agamanya.

Ini bukan sekadar perdebatan teologis.

Ini adalah perang informasi, perang opini, dan perang narasi.

Fenomena yang tetap relevan hingga hari ini.

Puncaknya terdapat pada ayat mubāhalah (QS. Āli 'Imrān: 61).

Setelah seluruh argumentasi disampaikan, Rasulullah ﷺ mengajak pihak yang tetap membangkang untuk menyerahkan keputusan kepada Allah melalui mubāhalah.

Namun delegasi Najran memilih berdamai.

Pertempuran pemikiran berakhir tanpa peperangan.

Medan Ketiga: Pertempuran Kehidupan

Barulah setelah fondasi akidah, pengendalian diri, dan keteguhan berpikir dibangun, Surah Āli 'Imrān membawa pembaca ke medan perang yang sesungguhnya.

Perang Uhud bukan sekadar kisah sejarah.

Ia menjadi laboratorium pendidikan umat.

Al-Qur'an memperlihatkan bahwa kemenangan dan kekalahan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasukan atau kecanggihan persenjataan.

Di Uhud, kaum Muslimin sempat unggul.

Namun keadaan berubah ketika sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi demi mengejar harta rampasan.

Kekalahan tidak bermula dari serangan musuh.

Ia bermula dari lemahnya disiplin dan godaan dunia.

Padahal Rasulullah ﷺ telah menempatkan setiap pasukan pada posisi strategis.

Al-Qur'an juga merekam bagaimana sepertiga pasukan memilih mundur akibat provokasi kaum munafik.

Bahkan dua kelompok kaum Muslim hampir kehilangan keberanian sebelum Allah meneguhkan hati mereka.

Dengan demikian, pertempuran fisik ternyata dipengaruhi oleh kondisi moral, mental, dan spiritual.

Mengapa Badar Menang, Tetapi Uhud Terpuruk?

Surah Āli 'Imrān memberikan jawaban yang sangat jujur.

Di Badar, kaum Muslim menunjukkan kesabaran, ketakwaan, dan ketaatan.

Di Uhud, sebagian mulai tergoda oleh keuntungan duniawi.

Karena itu Allah mengingatkan:

"Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya Allah akan membantu kamu..." (QS. Āli 'Imrān: 125).

Kemenangan ternyata bukan sekadar persoalan strategi.

Ia merupakan buah dari kualitas karakter.

Pergiliran Kemenangan

Setelah Uhud, Allah mengajarkan prinsip sejarah yang berlaku sepanjang zaman.

"Hari-hari kemenangan dan kekalahan itu Kami pergilirkan di antara manusia." (QS. Āli 'Imrān: 140).

Kemenangan bukan hak permanen siapa pun.

Demikian pula kekalahan.

Pergiliran itu menjadi sarana untuk menguji siapa yang benar-benar beriman, memurnikan hati orang-orang beriman, sekaligus menyingkap kemunafikan yang tersembunyi.

Karena itu, kekalahan bukan selalu tanda ditinggalkan Allah.

Adakalanya ia merupakan proses pendidikan dan pemurnian.

Kunci Memenangkan Seluruh Medan Pertempuran

Surah Āli 'Imrān ditutup dengan sebuah kesimpulan yang merangkum seluruh isi surah.

"Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Āli 'Imrān: 200).

Ayat penutup ini bukan hanya penutup kisah Perang Uhud.

Ia adalah strategi menghadapi seluruh medan kehidupan.

Pertama, bersabar menghadapi ujian pribadi.

Kedua, menguatkan kesabaran ketika menghadapi tekanan dari luar.

Ketiga, selalu bersiap siaga, menjaga diri, masyarakat, dan peradaban.

Keempat, bertakwa, karena seluruh kemenangan pada akhirnya bergantung kepada pertolongan Allah.

Penutup

Surah Āli 'Imrān memperlihatkan bahwa perang terbesar manusia bukan dimulai di medan tempur.

Ia dimulai di dalam hati.

Dilanjutkan di ruang pemikiran.

Diuji dalam kehidupan sosial.

Baru kemudian tampak di medan peperangan.

Karena itu, kemenangan yang sejati bukan sekadar mengalahkan musuh di luar diri.

Kemenangan yang hakiki adalah ketika seseorang mampu menaklukkan hawa nafsunya, mempertahankan kebenaran di tengah arus kebatilan, tetap taat ketika memperoleh kemenangan, tetap sabar ketika mengalami kekalahan, serta terus bertakwa dalam setiap keadaan.

Inilah peta besar Surah Āli 'Imrān: sebuah panduan tentang bagaimana manusia memenangkan seluruh medan pertempuran kehidupannya.

9 Kegagalan Beruntun Firaun Ketika Penguasa Terkuat di Zamannya Tidak Mampu Mengalahkan Ketetapan Allah Firaun adalah simbol kekuasaan absol...


9 Kegagalan Beruntun Firaun

Ketika Penguasa Terkuat di Zamannya Tidak Mampu Mengalahkan Ketetapan Allah


Firaun adalah simbol kekuasaan absolut.

Ia menguasai Mesir dengan birokrasi yang kuat, militer yang besar, kekayaan yang melimpah, serta propaganda yang berhasil membuat sebagian rakyatnya menganggapnya sebagai tuhan. Dari sudut pandang manusia, hampir tidak ada yang mampu menggoyahkan kekuasaannya.

Namun Al-Qur'an justru memperlihatkan sisi lain yang jarang diperhatikan.

Di balik kemegahan istananya, perjalanan Firaun dipenuhi oleh kegagalan demi kegagalan. Hampir setiap langkah yang ditempuh untuk mempertahankan kekuasaannya justru berakhir dengan kekalahan.

Semakin besar kekuatan yang dimilikinya, semakin tampak bahwa kekuasaan manusia memiliki batas ketika berhadapan dengan kehendak Allah.

Berikut jejak sembilan kegagalan beruntun Firaun sebagaimana digambarkan Al-Qur'an.

1. Gagal Membunuh Bayi Musa

Kegagalan pertama terjadi bahkan sebelum Musa mampu berbicara.

Firaun mengeluarkan kebijakan membunuh setiap bayi laki-laki Bani Israil demi menggagalkan ramalan tentang lahirnya sosok yang akan menggulingkan kekuasaannya.

Namun justru bayi yang paling diburunya berhasil diselamatkan Allah.

Ibu Musa memperoleh ilham agar menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil, sementara Allah menjanjikan keselamatannya serta kelak mengangkatnya menjadi seorang rasul (QS. Al-Qaṣaṣ: 7).

Ironisnya, Musa kemudian dibesarkan di lingkungan istana Firaun sendiri.

Rencana terbesar Firaun gagal sejak hari pertama.

2. Gagal Menangkap Musa yang Melarikan Diri ke Madyan

Ketika Musa dewasa dan meninggalkan Mesir setelah peristiwa terbunuhnya seorang lelaki Mesir, Firaun kembali berusaha menangkapnya.

Musa keluar dari kota dengan penuh kewaspadaan seraya berdoa agar diselamatkan dari kaum yang zalim. Allah kemudian membimbingnya hingga tiba di Madyan dengan selamat (QS. Al-Qaṣaṣ: 21–22).

Meski memiliki aparat keamanan dan jaringan kekuasaan yang luas, Firaun gagal menangkap orang yang paling ingin disingkirkannya.

3. Gagal Memenangkan Pertarungan Sihir

Untuk mempertahankan legitimasi kekuasaannya, Firaun mengumpulkan para ahli sihir terbaik dari seluruh Mesir.

Ia berharap kemenangan mereka akan mematahkan dakwah Musa di hadapan rakyat.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Tongkat Nabi Musa menelan seluruh tipu daya para pesihir (QS. Asy-Syu'arā': 45).

Di hadapan masyarakat, kebatilan runtuh oleh kebenaran.

4. Gagal Mencegah Para Ahli Sihir Beriman

Kekalahan di arena sihir bukanlah akhir.

Para ahli sihir yang sebelumnya menjadi alat propaganda Firaun justru menjadi saksi pertama kebenaran Musa.

Mereka bersujud dan menyatakan keimanan kepada Allah.

Ancaman potong tangan, potong kaki, dan penyaliban tidak mampu mengembalikan mereka kepada kekafiran (QS. Asy-Syu'arā': 49).

Firaun kehilangan instrumen penting untuk mempertahankan citra kekuasaannya.

5. Gagal Mengatasi Krisis dan Wabah

Setelah berbagai penolakan terhadap dakwah Musa, Allah menurunkan serangkaian bencana.

Banjir, belalang, kutu, katak, dan berubahnya air menjadi darah melumpuhkan kehidupan Mesir (QS. Al-A'rāf: 133).

Setiap kali bencana datang, Firaun memohon kepada Musa agar berdoa kepada Allah untuk mengangkat azab tersebut.

Namun setelah keadaan kembali normal, ia mengingkari janjinya.

Kekuasaan politik ternyata tidak mampu mengendalikan bencana yang datang atas kehendak Allah.

6. Gagal Menyatukan Elit Kekuasaan

Retaknya kekuasaan Firaun tidak hanya terjadi di tengah rakyat.

Di dalam istananya sendiri muncul seorang mukmin dari keluarga Firaun yang secara terbuka membela Nabi Musa dengan argumentasi yang rasional (QS. Ghāfir: 28).

Ini menunjukkan bahwa propaganda dan tekanan tidak lagi mampu menyatukan seluruh lingkaran kekuasaan.

Perpecahan mulai muncul dari dalam.

7. Gagal Menangkap Musa di Laut Merah

Puncak operasi militer Firaun terjadi ketika ia memimpin langsung pengejaran terhadap Musa dan Bani Israil.

Di depan terbentang Laut Merah.

Di belakang pasukan Mesir semakin mendekat.

Para pengikut Musa mengira semuanya telah berakhir.

Namun Musa berkata, "Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS. Asy-Syu'arā': 61–62).

Laut terbelah.

Musa dan pengikutnya selamat.

Pasukan Firaun justru tenggelam di tempat yang sama.

Operasi militer terbesar Firaun berubah menjadi kegagalan terbesar dalam sejarah kekuasaannya.

8. Gagal Menyelamatkan Warisan Kekuasaannya

Kekalahan Firaun bukan hanya menimpa dirinya.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa berbagai bangunan, proyek, dan hasil peradaban yang mereka banggakan pun akhirnya hancur (QS. Al-A'rāf: 137).

Seluruh simbol kejayaan yang dibangun bertahun-tahun tidak mampu bertahan menghadapi keputusan Allah.

9. Gagal Menyelamatkan Sekutu-sekutunya

Al-Qur'an juga menampilkan Qarun sebagai simbol kekuatan ekonomi yang bersekutu dengan kekuasaan.

Dengan kekayaan yang luar biasa, Qarun mengira hartanya dapat melindunginya.

Namun Allah membenamkannya bersama rumah dan seluruh kemegahannya ke dalam bumi. Tidak ada satu pun kelompok yang mampu menyelamatkannya (QS. Al-Qaṣaṣ: 81).

Kekuatan politik Firaun dan kekuatan ekonomi Qarun sama-sama berakhir tanpa mampu saling menolong.

Benang Merah Seluruh Kegagalan

Jika sembilan peristiwa ini disusun secara berurutan, tampak sebuah pola yang konsisten.

Firaun gagal mengendalikan masa depan.

Ia gagal mengendalikan manusia.

Ia gagal mengendalikan informasi.

Ia gagal mengendalikan keyakinan.

Ia gagal mengendalikan bencana.

Ia gagal menjaga kesatuan elitnya.

Ia gagal memenangkan operasi militernya.

Ia gagal mempertahankan aset-aset kekuasaannya.

Bahkan ia gagal menyelamatkan sekutu-sekutunya.

Semakin besar kekuasaan yang dimilikinya, semakin nyata keterbatasannya di hadapan Allah.

Penutup

Kisah Firaun bukan sekadar catatan sejarah tentang seorang raja yang tenggelam di Laut Merah.

Ia adalah pelajaran bahwa kezaliman sering kali tampak kokoh dari luar, tetapi sesungguhnya rapuh dari dalam.

Al-Qur'an menunjukkan bahwa kehancuran sebuah rezim tidak selalu diawali oleh kekalahan di medan perang. Sering kali, ia dimulai oleh rangkaian kegagalan yang menggerogoti legitimasi, strategi, dan kesombongannya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, seluruh instrumen kekuasaan—militer, ekonomi, birokrasi, dan propaganda—tidak mampu menyelamatkan seorang penguasa ketika ia memilih menentang kebenaran dan melampaui batas.

Karena itu, kisah Firaun mengingatkan bahwa sebesar apa pun kekuatan manusia, ia tetap lemah di hadapan ketetapan Allah. Kezaliman mungkin tampak perkasa untuk sementara waktu, tetapi tidak pernah memiliki jaminan untuk bertahan selamanya.

Kehancuran Penguasa Zalim Tidak Selalu Melalui Militer Jika menelusuri kisah-kisah para nabi dalam Al-Qur'an, muncul sebuah pertanyaan...


Kehancuran Penguasa Zalim Tidak Selalu Melalui Militer


Jika menelusuri kisah-kisah para nabi dalam Al-Qur'an, muncul sebuah pertanyaan yang menarik.

Mengapa kehancuran para penguasa zalim hampir tidak pernah diawali oleh perang besar yang dipimpin para nabi?

Padahal, sejarah dunia pada masa itu dipenuhi peperangan. Babilonia, Mesir, Persia, Yunani, Macedonia, hingga Romawi membangun dan mempertahankan kekuasaannya melalui ekspansi militer. Perang menjadi bahasa politik yang paling lazim.

Namun, ketika Al-Qur'an mengisahkan perjuangan para nabi menghadapi penguasa zalim, pola yang tampak justru berbeda.

Hampir tidak ditemukan kisah para nabi membentuk pasukan untuk menggulingkan penguasa.

Satu-satunya kisah yang menampilkan peperangan secara jelas adalah pertempuran Thalut melawan Jalut. Itu pun Al-Qur'an lebih banyak menyoroti proses seleksi pasukan, pembinaan keimanan, dan kualitas kepemimpinan daripada strategi perangnya.

Mengapa demikian?

Namrud: Kekalahan Sebelum Kehancuran

Namrud adalah simbol kekuasaan yang mengandalkan logika kekuatan.

Nabi Ibrahim tidak menghadapinya dengan pasukan, melainkan dengan hujah.

Melalui dialog yang sangat singkat namun menghancurkan fondasi pemikiran Namrud, Nabi Ibrahim memperlihatkan bahwa kekuasaan manusia memiliki batas, sedangkan kekuasaan Allah tidak terbatas.

Ketika Namrud mengaku mampu menghidupkan dan mematikan, Nabi Ibrahim menantangnya dengan fenomena matahari.

Namrud tidak mampu menjawab.

Ia kalah secara intelektual sebelum akhirnya dihancurkan secara fisik.

Yang menarik, Nabi Ibrahim bukanlah pihak yang mengakhiri hidup Namrud.

Menurut riwayat, Allah menghancurkannya melalui makhluk yang sangat kecil: seekor nyamuk.

Pesannya sangat jelas.

Kezaliman tidak selalu dihancurkan oleh kekuatan yang lebih besar. Allah mampu memperlihatkan bahwa simbol kesombongan dapat diruntuhkan oleh sesuatu yang sama sekali tidak diperhitungkan manusia.

Firaun: Militer Terbesar yang Tidak Menyelamatkan

Hal serupa terjadi pada Firaun.

Ia memiliki tentara terbesar pada masanya.

Seluruh instrumen negara berada di tangannya.

Ia mengendalikan ekonomi, birokrasi, propaganda, bahkan memanfaatkan agama demi mempertahankan kekuasaan.

Namun Nabi Musa tidak membangun pasukan tandingan.

Perjuangannya dimulai melalui dakwah, dialog, serta penyampaian tanda-tanda kebesaran Allah.

Sedikit demi sedikit, tembok kekuasaan Firaun mulai retak.

Para ahli sihir yang semula menjadi alat legitimasi penguasa justru menjadi orang-orang pertama yang mengakui kebenaran.

Seorang mukmin dari keluarga Firaun membela Musa dari dalam istana.

Sebagian keluarga kerajaan pun beriman.

Keruntuhan sebuah rezim ternyata diawali oleh retaknya legitimasi moral, bukan oleh kekalahan militer.

Ketika akhirnya Firaun mengejar Musa dengan seluruh kekuatan tentaranya, ia tidak dikalahkan oleh pedang.

Ia ditelan gelombang laut yang sebelumnya justru dibelah Allah untuk menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil.

Militer terbesar pada zamannya tidak mampu menyelamatkan seorang penguasa ketika keputusan Allah telah datang.

Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

Kisah lain yang patut dicermati adalah pertemuan Nabi Sulaiman dengan Ratu Balqis.

Keduanya sama-sama memiliki kerajaan dan kekuatan militer.

Secara logika politik, benturan bersenjata sangat mungkin terjadi.

Namun Al-Qur'an justru memperlihatkan jalan yang berbeda.

Komunikasi, diplomasi, serta penyampaian kebenaran menjadi pintu perubahan.

Balqis akhirnya memilih menerima kebenaran tanpa peperangan.

Kemenangan terjadi tanpa penghancuran.

Pola yang Berulang

Jika seluruh kisah tersebut disusun, tampak sebuah pola yang konsisten.

Para nabi lebih dahulu membangun kesadaran sebelum perubahan politik.

Mereka memperbaiki manusia sebelum mengganti penguasa.

Mereka menghancurkan kebatilan melalui hujah sebelum menghancurkan simbol-simbol kekuasaan.

Adapun kehancuran fisik para penguasa zalim sepenuhnya berada dalam ketentuan Allah.

Ada yang dihancurkan banjir.

Ada yang dihancurkan angin.

Ada yang dihancurkan gempa.

Ada yang dihancurkan suara keras.

Ada pula yang dihancurkan oleh laut.

Semuanya menunjukkan satu pesan penting: Allah tidak bergantung kepada kekuatan militer manusia untuk menegakkan keputusan-Nya.

Pelajaran bagi Peradaban Modern

Pandangan ini ternyata memiliki irisan dengan berbagai teori modern mengenai runtuhnya sebuah kekuasaan.

Sejarawan Muslim Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa sebuah dinasti biasanya runtuh ketika kehilangan 'ashabiyyah (solidaritas sosial) akibat kemewahan, kezaliman, dan rusaknya moral para penguasanya.

Hannah Arendt membedakan antara kekuasaan (power) dan kekerasan (violence). Menurutnya, ketika sebuah rezim semakin bergantung pada kekerasan, sesungguhnya ia sedang kehilangan legitimasi.

Gene Sharp menjelaskan bahwa kekuatan penguasa sesungguhnya berasal dari kepatuhan rakyat. Ketika dukungan moral masyarakat hilang, kekuasaan perlahan kehilangan fondasinya.

Bahkan Sun Tzu dalam The Art of War menyatakan bahwa kemenangan tertinggi adalah menundukkan musuh tanpa peperangan.

Perspektif para pemikir tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan militer bukanlah faktor tunggal yang menentukan jatuh bangunnya sebuah kekuasaan.

Penutup

Al-Qur'an menghadirkan perspektif yang berbeda dari sejarah peperangan manusia.

Kemenangan para nabi bukan pertama-tama diukur dari banyaknya wilayah yang ditaklukkan, tetapi dari banyaknya hati yang berhasil menerima kebenaran.

Karena itu, perjuangan mereka lebih banyak berlangsung di medan dakwah, dialog, pendidikan, dan pembentukan karakter masyarakat.

Sedangkan kehancuran penguasa zalim bukanlah hasil ambisi politik para nabi, melainkan bagian dari sunnatullah yang berlaku ketika kezaliman telah mencapai puncaknya.

Dengan demikian, kisah-kisah Al-Qur'an mengajarkan bahwa perubahan peradaban tidak selalu dimulai dari medan perang.

Sering kali, ia dimulai dari perubahan cara berpikir, keberanian menyampaikan kebenaran, dan keteguhan mempertahankan prinsip. Ketika fondasi moral sebuah kekuasaan runtuh, kehancuran fisiknya sering kali tinggal menunggu waktu.

Sebelum Pembangunan Kembali Kabah, Berulang di Baitul Maqdis? Bagaimana peristiwa dan  perjuangan, sebelum Nabi Ibrahim, Siti Ha...

Sebelum Pembangunan Kembali Kabah, Berulang di Baitul Maqdis?



Bagaimana peristiwa dan  perjuangan, sebelum Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail mewujudkan pembangunan kembali Kabah? Bagaimana nasib rakyat Palestina di sekitar Baitul Maqdis sekarang? Bukankah Kabah dan Baitul Maqdis tanah suci Muslimin? 

Nabi Ibrahim dan Siti Hajar tidak tahu sama sekali, mengapa Allah swt memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menempatkan Siti Hajar di tanah yang gersang, tak ada kehidupan dan tanpa air? Mereka hanya mengikuti takdir saja. Seperti rakyat Palestina di Gaza, seluruhnya hancur lebur dibumihanguskan oleh penjajah Zionis Israel. 

Mengapa Siti Hajar ridha ditinggalkan dan berjuang sendirian bersama sang bayinya? Mengapa rakyat Palestina tak pernah menyerah di tanah yang telah dihancurkan? Bukankah target utama penghancuran  penjajah Zionis Israel itu wanita, bayi dan anak?

Yang memberikan kehidupan itu Allah swt. Yang merancang takdir itu Allah swt. Bukankah Allah swt melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi karena ketakwaan? Bukan dukungan sumber daya?

Secara tiba-tiba air memancar dari hentakan kaki bayi Ismail. Sesuatu yang tidak pernah terduga oleh Siti Hajar. Setelah itu, berbondong kabilah Arab menetap di tempat tersebut, dimana mereka rela tunduk pada kepemimpinan Siti Hajar dan keturunannya.

Allah swt telah berjanji kepada mereka yang tinggal di sekitar Baitul Maqdis, bahwa mereka hadir menjadi umat yang tangguh dan tabah. Dengan karakter ini, akan menyuramkan wajah para perampas dan penjajah Baitul Maqdis.

Liku-liku pembebasan kembali Baitul Maqdis akan seperti peristiwa sebelum pembangunan kembali Kabah di era Nabi Ibrahim. Yaitu, bertahan di tanah yang tandus. Logikanya, tak ada yang bisa bertahan hidup di tempat tersebut. Rakyat Palestina sedang menjalani liku-liku ini.

Nasrani dan Yahudi di Era Turki Utsmani Sultan Salim I, Khalifah Turki Utsmani, pernah mencoba mengambil anak-anak orang Nasrani...

Nasrani dan Yahudi di Era Turki Utsmani


Sultan Salim I, Khalifah Turki Utsmani, pernah mencoba mengambil anak-anak orang Nasrani untuk dididik  dengan dididikan Islam. Apa respon para ulama? 

Mereka bangkit menentangnya dan dengan tegas menyatakan bahwa perbuatan itu tidak benar. Karena ditentang ulama, sultan Salim I mundur dari ide tersebut.

Makarius, Patriarch Antiokhia, berkata, "Semoga Tuhan senantiasa membangun negara Turki abadi untuk selamanya. Mereka hanya memungut jizyah yang telah mereka wajibkan, dan tidak ikut campur tangan dengan berbagai agama, baik rakyat mereka itu orang-orang Masehi, Nazaret, Yahudi maupun Samaritan."

TW Arnold, dalam The Preaching of Islam, menyebutkan, "Hingga di Italia pun, ada sejumlah orang yang menanti-nanti dengan keriduan kepada orang Turki (Muslim), diiringi harapan Mudah-mudahan mereka memperoleh kebebasan dan toleransi yang pernah dinikmati oleh rakyat Turki sebelumnya. Hal itu disebabkan mereka telah putus asa akan mendapatkan kedua hal itu di bawah pemerintahan Kristen yang mana pun."

"Pernah terjadi, orang-orang Yahudi Spanyol yang teraniaya berevakuasi dari Spanyol dalam jumlah besar, dan yang mereka tuju tidak lain adalah berlindung kepada Turki. Itu terjadi pada akhir abad ke-15 Masehi."

Richard Steeper, yang hidup pada abad ke-16 Masehi, berkata, "Meskipun secara umum orang-orang Turki itu bangsa yang paling buas, namun mereka mengizinkan seluruh umat Kristen, baik yang berasal dari Yunani maupun Latin, hidup bebas memeluk agama mereka dan mengekspresikan perasaan keagamaan mereka."

"Orang-orang Turki mengizinkan semua hal itu dengan cara memberikan kepada orang-orang Kristen gereja-gereja mereka untuk melakukan ritual keagamaan, baik di Konstantinopel maupun di tempat lain yang tak terhitung jumlahnya."

"Sementara itu, saya dapat menegaskan dengan sejujurnya karena selama dua belas tahun saya berdiam di Spanyol, kami tidak hanya dipaksa untuk menyaksikan perayaan mereka yang bersifat kepausan. Bahkan, hidup kami da orang-orang tua kami selalu dalam keadaan terancam bahaya."


Sumber:
Said Hawa, Allah dan Ar-Rasul, GIP 

Bani Israil dan Duetnya Para Nabi Apa perbedaan Nabi dan Rasul yang diutus kepada Bani Israil dan kaum yang l Koain? Nabi Ibrahi...

Bani Israil dan Duetnya Para Nabi


Apa perbedaan Nabi dan Rasul yang diutus kepada Bani Israil dan kaum yang l
Koain? Nabi Ibrahim dan Nabi Luth, berada di era yang sama, tetapi dakwah mereka di lokasi dan kaum yang berbeda.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memang berada di waktu yang sama, tetapi Nabi Ibrahim di Palestina dan Nabi Ismail di Mekah. Hanya 4 kali mereka melakukan pertemuan. Bagaimana dengan Nabi dan Rasul yang diutus ke Bani Israil?

Duet utusan para Nabi dan Rasul justru terjadi bila diutus kepada Bani Israil. Duet Ayah dan Anak, seperti Nabi Yakub dan Nabi Yusuf, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria dan Nabi Yahya.

Duet dua bersaudara seperti Nabi Musa dan Nabi Harun. Duet Guru dan Murid, seperti Nabi Musa dan Nabi Yusha. Duet saudara kerabat, seperti Nabi Yahya dan Isa. Duet paman dan keponakan, seperti Nabi Zakaria dan Siti Maryam. Apa maknanya?

Di era Nabi Yakub dan Yusuf, persoalan terbesar adalah perselisihan internal Bani Israil karena kedengkian. Di era Nabi Musa dan Harun, persoalan terbesar bukan pada Firaun, tetapi saat perjalanan dari Mesir ke Palestina, hingga Nabi Musa dan Harun berselisih dan Bani Israil dihukum kembali.

Di era Nabi Daud dan Sulaiman, apakah yang diceritakan kehebatan Bani Israil? Justru banyak berkisah tentang kepribadian Nabi Daud dan Sulaiman, juga pasukan selain manusia seperti burung, jin dan semut.

Di era Nabi Zakaria, Nabi Yahya dan Nabi Isa, apakah permusuhan terbesarnya dari Romawi? Justru durhaka dan penghianatan dari Bani Israil itu sendiri. Setelah Yahudi dikalahkan di Madinah, apakah terjadi penghianatan gabungan kembali?

Mengapa hanya Bani Israil yang disebutkan nikmat-nikmatnya secara khusus dan diperintahkan untuk bersyukur secara khusus dalam Al-Qur'an? Bani Israil yang kemudian menjelma menjadi Yahudi kemudian berubah menjadi Zionis Israel memang yang paling mendurhakai dan membuat kerusakan di muka bumi.


Dakwah di Lingkungan Jin Di tengah salah satu fase paling berat dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, terjadi sebuah peristiwa y...


Dakwah di Lingkungan Jin


Di tengah salah satu fase paling berat dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, terjadi sebuah peristiwa yang hampir tidak disaksikan manusia. Ketika pintu-pintu dakwah di bumi tampak tertutup, Allah justru membuka pintu dakwah dari alam yang tidak terlihat oleh mata.

Peristiwa itu diabadikan dalam Surah Al-Aḥqāf ayat 29–32.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

«"Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Nabi Muhammad) sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur'an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, 'Diamlah!' Setelah bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan." (QS. Al-Aḥqāf: 29)»

Ketika Dakwah Ditolak Manusia

Saat ayat ini turun, Rasulullah ﷺ sedang berada pada masa yang dikenal sebagai 'Āmul Ḥuzn (Tahun Kesedihan).

Beliau baru saja kehilangan dua pelindung terbesarnya: Khadijah ra., istri yang selalu menguatkan beliau, dan Abu Thalib, paman yang selama ini melindungi beliau dari tekanan kaum Quraisy.

Tekanan kaum musyrik semakin keras. Rasulullah ﷺ kemudian pergi ke Thaif dengan harapan mendapatkan dukungan dari Bani Tsaqif. Namun harapan itu pupus. Beliau justru dihina, diusir, bahkan dilempari batu hingga kedua kaki beliau berdarah.

Dalam perjalanan pulang menuju Makkah, beliau singgah di Nakhlah. Pada malam itulah Allah menghadapkan sekelompok jin agar mendengarkan bacaan Al-Qur'an.

Menariknya, menurut hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ tidak mengetahui kedatangan mereka. Bahkan para sahabat pun tidak ada yang menyertai beliau pada malam tersebut. Baru setelah wahyu turun, beliau mengetahui bahwa ada sekelompok jin yang telah mendengarkan bacaan Al-Qur'an.

Pendengar yang Beradab

Hal pertama yang diperlihatkan Al-Qur'an bukanlah siapa jin itu, melainkan bagaimana adab mereka ketika mendengar wahyu.

Mereka berkata,

«"Anṣitū" (Diamlah dan dengarkanlah).»

Mereka saling mengingatkan agar tidak berbicara ketika Al-Qur'an dibacakan. Mereka memusatkan perhatian sepenuhnya kepada firman Allah.

Mereka tidak menyela.

Tidak membantah.

Tidak mencemooh.

Tidak membuat kegaduhan.

Sikap ini menjadi pelajaran bahwa adab merupakan pintu pertama menuju hidayah.

Dari Pendengar Menjadi Dai

Begitu bacaan Al-Qur'an selesai, mereka tidak berhenti sebagai pendengar.

Al-Qur'an menyebut,

«"...mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan."»

Mereka segera pulang membawa risalah.

Tidak menunggu bertahun-tahun.

Tidak menunggu menjadi ulama besar.

Tidak menunggu memiliki pengikut.

Begitu memperoleh kebenaran, mereka merasa memiliki tanggung jawab untuk menyampaikannya kepada kaumnya.

Isi Dakwah Jin

Sesampainya kepada kaumnya, mereka menyampaikan beberapa pokok dakwah.

1. Mengakui Al-Qur'an sebagai wahyu Allah

Mereka berkata,

«"Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah Kitab yang diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, menunjukkan kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus." (QS. Al-Aḥqāf: 30)»

Mereka memahami bahwa Al-Qur'an bukan kitab yang memutus risalah para nabi terdahulu, tetapi menjadi pembenar dan penyempurna wahyu sebelumnya.

2. Mengajak beriman kepada Rasulullah ﷺ

Mereka melanjutkan,

«"Wahai kaum kami, penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah dan berimanlah kepadanya..." (QS. Al-Aḥqāf: 31)»

Dakwah mereka sangat jelas: menerima Rasulullah ﷺ sebagai utusan Allah dan mengikuti risalah yang beliau bawa.

3. Menjelaskan balasan iman

Mereka menyampaikan kabar gembira bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa orang yang beriman dan menyelamatkannya dari azab yang pedih.

4. Memberikan peringatan

Mereka juga mengingatkan,

«"Barang siapa tidak memenuhi seruan Allah, maka ia tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah di bumi dan tidak ada pelindung baginya selain Allah." (QS. Al-Aḥqāf: 32)»

Dakwah selalu menghadirkan dua sisi: kabar gembira dan peringatan.

Apa yang Diungkap Tafsir?

Tafsir Tahlili Kementerian Agama menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan beberapa fakta penting.

Pertama, jin adalah makhluk gaib yang benar-benar ada. Keberadaan mereka wajib diimani sebagaimana keberadaan malaikat, karena keduanya ditegaskan dalam Al-Qur'an dan hadis-hadis sahih.

Kedua, Nabi Muhammad ﷺ diutus bukan hanya untuk manusia, tetapi juga bagi bangsa jin. Karena itu, jin pun memikul kewajiban menjalankan syariat Islam.

Ketiga, jin memiliki pilihan sebagaimana manusia. Ada yang beriman dan ada yang kafir. Mereka memperoleh pahala apabila taat dan mendapatkan azab apabila durhaka.

Keempat, jin juga berkewajiban beribadah kepada Allah sebagaimana firman-Nya,

«"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)»

Dakwah yang Menembus Alam Gaib

Peristiwa ini mengandung pesan yang sangat menguatkan Rasulullah ﷺ.

Ketika manusia menolak dakwah beliau, Allah memperlihatkan bahwa masih ada makhluk lain yang menerima Al-Qur'an dengan penuh penghormatan.

Ketika penduduk Thaif mengusir beliau, sekelompok jin justru datang untuk mendengarkan.

Ketika para pemuka Quraisy menutup telinga terhadap Al-Qur'an, jin justru saling mengingatkan agar diam dan menyimak.

Peristiwa ini menjadi bukti bahwa keberhasilan dakwah tidak ditentukan oleh banyaknya manusia yang menerima, tetapi oleh kehendak Allah yang memberi hidayah kepada siapa pun yang Dia kehendaki.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Peristiwa dakwah di lingkungan jin memberikan sejumlah pelajaran penting.

- Dakwah Rasulullah ﷺ bersifat universal, mencakup manusia dan jin.
- Adab mendengarkan Al-Qur'an merupakan pintu masuk menuju hidayah.
- Orang yang memperoleh petunjuk memiliki tanggung jawab untuk menyampaikannya kepada orang lain.
- Jin juga merupakan mukallaf yang dibebani syariat sebagaimana manusia.
- Hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah; ketika satu pintu dakwah tertutup, Allah mampu membuka pintu lain yang tidak pernah diduga.

Kisah ini mengajarkan bahwa seorang dai tidak boleh berputus asa. Ketika dakwah tampak ditolak oleh manusia, Allah mampu memperluas jangkauan risalah-Nya hingga ke alam yang tidak terlihat. Tidak ada ruang yang terlalu jauh bagi cahaya Al-Qur'an untuk menjangkaunya, selama Allah menghendaki.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (43) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (18) Kecerdasan (312) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (48) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (87) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (266) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (655) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (293) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (246) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (169) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (26) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)