basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Apa yang Dibawa Para Rasul Dihimpun dalam Risalah Nabi Kita Muhammad ﷺ Perlu dik...



Apa yang Dibawa Para Rasul Dihimpun dalam Risalah Nabi Kita Muhammad ﷺ

Perlu diketahui bahwa pokok-pokok agama yang dibawa oleh para rasul telah dihimpun dalam risalah nabi penutup, Muhammad ﷺ. Risalah beliau menyempurnakan dan menghimpun pokok kebenaran yang dibawa para rasul sebelumnya. Karena itu, setelah datangnya kebenaran yang dibawa Rasulullah ﷺ, tidak ada jalan lain selain mengikutinya. Allah Ta'ala berfirman bahwa setelah kebenaran tidak ada lagi selain kesesatan.

Hal ini tergambar dalam peristiwa ketika Umar bin Khaththab r.a. mendapatkan lembaran yang berisi sesuatu dari Taurat. Nabi Muhammad ﷺ bersabda kepadanya:

أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً؟ كَانَ أَخِي مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا اتِّبَاعِي.

“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Bukankah aku membawanya dalam keadaan putih bersih? Seandainya saudaraku, Musa, masih hidup, maka tidak ada yang dilakukannya selain mengikutiku.”45

Pesan dalam hadis ini sangat kuat. Risalah Nabi Muhammad ﷺ bukanlah risalah yang terputus dari risalah para nabi sebelumnya. Sebaliknya, ia merupakan penyempurna dan penghimpun pokok-pokok kebenaran yang telah dibawa oleh mereka. Karena itu, kedatangan Rasul terakhir sekaligus menempatkan manusia pada satu rujukan wahyu yang terakhir dan sempurna.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

“Penutup para nabi, pemimpin mereka, dan yang paling dihormati Tuhannya adalah Muhammad. Dia mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam, tujuan bagi para penempuh, dan hujjah atas seluruh manusia. Dia mengambil sumpah dan perjanjian dengan beriman kepada beliau dan mengikutinya atas semua nabi dan rasul, dan memerintahkan mereka untuk mengambilnya (sumpah dan janji) atas orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan orang-orang mukmin.

Dia menutup risalah dengan-Nya, menjadikannya sebagai petunjuk dari kesesatan, mengajarkan dengannya dari kebodohan, membuka dengannya mata-mata buta, telinga-telinga tuli, dan hati-hati yang tertutup. Dengan demikian, bumi bersinar dengannya setelah kegelapan, hati bersatu setelah perpecahannya. Dia menegakkan agama yang bengkok dengannya dan menjelaskan jalan yang terang benderang. Dia juga menjadikan kehinaan dan kenistaan terhadap orang yang menyalahi perintahnya.

Dia mengutusnya pada rentang (kekosongan) para rasul dan terhapusnya kitab-kitab ketika firman-firman diselewengkan, syariat-syariat diganti, setiap kaum bersandar kepada pendapat mereka yang paling zalim, dan menetapkan hukum atas Allah dan hamba-hamba-Nya dengan perkataan-perkataan yang mereka buat dengan akal mereka yang rusak dan hawa nafsunya. Lantas Allah memberi petunjuk manusia dan menjelaskan jalan dengannya, serta mengeluarkan manusia dengannya dari kegelapan menuju cahaya...”

Dengan demikian, kehadiran Rasulullah ﷺ tidak hanya berarti hadirnya seorang nabi setelah nabi-nabi sebelumnya. Ia juga menandai hadirnya risalah terakhir yang menjadi petunjuk bagi manusia hingga akhir zaman. Ketika manusia mengalami perselisihan, wahyu memberikan ukuran untuk membedakan antara kebenaran dan kesesatan.

Kitab-Kitab dan Risalah-Risalah Itulah yang Menetapkan Hukum di Antara Manusia

Mengapa manusia membutuhkan wahyu untuk menetapkan hukum di antara mereka?

Bagaimanapun manusia berupaya untuk berkumpul, pada tingkat apa pun, sesungguhnya mereka tidak akan pernah mampu membangun perkumpulan yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat kecuali dengan hukum Allah Ta'ala. Sebab, manusia bukan hanya berbeda dalam kepentingan, tetapi juga memiliki keterbatasan pengetahuan, kecenderungan, dan hawa nafsu.

Karena itu, barangsiapa ingin memberikan nasihat kepada manusia secara umum dan kepada kaum muslimin secara khusus, hendaknya dia menyeru kepada Allah Ta'ala. Itulah agama yang benar yang mereka anut sebelum terjadi perselisihan.

Pada mulanya, manusia berada dalam kebenaran. Kemudian mereka berselisih. Maka Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab bersama mereka untuk menetapkan hukum di antara manusia ketika mereka berselisih tentang kebenaran. Para rasul menjelaskan kebenaran yang diperselisihkan tersebut.

Namun, sesuatu yang menarik untuk direnungkan adalah bahwa kedatangan wahyu tidak serta-merta membuat seluruh manusia bersatu. Bahkan, sebagian manusia justru semakin berselisih setelah datangnya penjelasan. Para rasul dan kitab-kitab merupakan pendorong manusia untuk bersepakat di atas kebenaran dan mengikutinya. Akan tetapi, kesepakatan dan persatuan tidak tercapai. Mereka justru semakin berselisih karena kelaliman dan kedengkian.

Di sinilah tampak bahwa persoalan manusia bukan semata-mata karena tidak adanya petunjuk. Petunjuk telah datang. Persoalannya adalah apakah manusia mau tunduk kepada petunjuk tersebut.

Allah Ta'ala kemudian memberikan hidayah kepada orang-orang beriman kepada kebenaran yang diperselisihkan oleh selain mereka, dengan izin, rahmat, dan kemudahan-Nya.

Dengan demikian, wahyu bukan hanya memberikan informasi tentang kebenaran. Wahyu juga menjadi ukuran yang dengannya manusia menimbang perselisihan mereka. Ia menjadi rujukan ketika akal, kepentingan, dan hawa nafsu membawa manusia kepada arah yang berbeda-beda.

Perselisihan Merupakan Kebinasaan di Akhir Zaman, dan Keselamatan Darinya dengan Mengikuti Rasul

Jika demikian keadaan manusia, maka persoalan perselisihan tidak berhenti pada masa lalu. Bahkan, Nabi Muhammad ﷺ telah mengabarkan bahwa menjelang akhir zaman fitnah akan semakin banyak, berbagai urusan menjadi samar, Islam kembali asing sebagaimana pada awalnya, ilmu dihilangkan, dan kebodohan merebak.

Setan pun berhasil menguasai manusia hingga berhala-berhala kembali disembah. Perselisihan menjadi semakin gawat sehingga dapat membinasakan orang-orang terakhir sebagaimana telah membinasakan orang-orang pertama.

Karena itu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

لَا تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

“Janganlah kalian berselisih. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa.”

Pesan ini mengajak kita untuk melihat perselisihan bukan sekadar sebagai perbedaan pendapat. Ada perselisihan yang lahir dari keterbatasan manusia dan masih dapat ditoleransi. Namun, ada pula perselisihan yang menjauhkan manusia dari kebenaran dan pada akhirnya menjadi sebab kebinasaan.

Keselamatan dari kebinasaan itu adalah dengan mengikuti kebenaran yang dibawa Rasulullah ﷺ.

Nabi ﷺ juga bersabda:

“Bagaimana dengan kalian pada suatu masa yang hampir saja datang, ketika manusia disaring pada masa itu satu kali saringan hingga tersisa ampas dari manusia? Perjanjian-perjanjian dan amanah-amanah mereka telah kacau, dan mereka berselisih sehingga mereka begini”—beliau merenggangkan antara jari-jemarinya.

Para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan kami, wahai Rasulullah?”

Beliau bersabda, “Kalian mengambil apa yang kalian ketahui dan meninggalkan apa yang kalian ingkari, menuju kepada urusan orang-orang khusus kalian dan meninggalkan urusan orang-orang umum (kaum awam) kalian.”

Dengan demikian, ketika perselisihan semakin banyak dan keadaan semakin samar, keselamatan tidak terletak pada mengikuti setiap suara yang muncul. Keselamatan terletak pada memegang kebenaran yang telah diketahui dan mendidik diri untuk tetap berada di atasnya.

Dalam hadis Al-Irbadh bin Sariyah disebutkan:

“Aku berwasiat kepada kalian dengan takwa kepada Allah. Sesungguhnya orang yang hidup setelahku maka dia akan melihat banyak perselisihan. Karena itu, hendaknya kalian memegang Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku. Berpeganglah kepadanya dan gigitlah erat-erat dengan geraham kalian, dan hindarilah hal-hal baru (dalam urusan agama).”

Nabi Muhammad ﷺ dengan demikian telah mengabarkan bahwa perselisihan akan semakin banyak pada akhir zaman. Dan beliau sekaligus menunjukkan jalan keselamatan darinya: berpegang teguh kepada Sunnah beliau dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.

Sunnah Muhammadiyyah dinukil secara nash, sedangkan Sunnah Khulafaur Rasyidin dipahami melalui apa yang mereka pahami dan praktikkan dari nash-nash wahyu. Karena itu, mengikuti mereka bukan berarti membuat sumber petunjuk baru, melainkan mengikuti pemahaman generasi yang mendapatkan petunjuk terhadap wahyu.

Pada akhirnya, rangkaian pembahasan ini membawa kita kembali kepada satu persoalan mendasar: manusia membutuhkan wahyu bukan hanya karena mereka tidak mengetahui kebenaran, tetapi juga karena mereka mudah berselisih setelah mengetahui kebenaran.

Para rasul datang membawa petunjuk. Kitab-kitab diturunkan untuk menjelaskan kebenaran dan menetapkan hukum di antara manusia. Risalah Nabi Muhammad ﷺ kemudian menghimpun dan menyempurnakan pokok-pokok agama yang dibawa para rasul sebelumnya. Karena itu, ketika perselisihan semakin banyak, jalan keselamatan bukanlah mengikuti setiap pendapat yang muncul, melainkan kembali kepada petunjuk yang telah diwariskan oleh Rasulullah ﷺ.

Di sinilah mengikuti Rasul bukan sekadar persoalan identitas keagamaan. Ia menjadi jalan untuk menjaga manusia agar tetap berada di atas kebenaran ketika berbagai suara, kepentingan, dan perselisihan berusaha menariknya ke arah yang berbeda-beda.

Kondisi Finansial Rasulullah saw di Awal Kenabian  Fase awal turunnya permulaan ...

Kondisi Finansial Rasulullah saw di Awal Kenabian 


Fase awal turunnya permulaan wahyu. Pada masa itu, Rasulullah saw. memiliki banyak anggota keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggung jawab beliau di rumah, termasuk Ali bin Abi Thalib a.s. dan lainnya.

Gambaran mengenai keadaan tersebut dapat kita lihat dalam hadis Abdullah bin Abbas yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya. Ia berkata:

“Kaum Quraisy menghadapi krisis pangan luar biasa hingga mereka terpaksa mengonsumsi tulang-belulang. Tiada kaum Quraisy yang lebih kaya dibandingkan Rasulullah dan Al-Abbas bin Abdul Muthalib. Rasulullah berkata kepada Al-Abbas, ‘Wahai paman, sungguh saudaramu Abu Thalib memiliki banyak anggota keluarga sebagaimana yang telah kamu ketahui. Sekarang ini kaum Quraisy menghadapi krisis pangan luar biasa sebagaimana yang kamu lihat. Marilah kita menemuinya untuk mengasuh sebagian anggota keluarganya.’

Keduanya pun bergegas menemui Abu Thalib seraya berkata, ‘Wahai Abu Thalib, sesungguhnya kondisi kaummu telah kamu lihat. Kami mengetahui bahwa kamu bagian dari mereka. Kami datang kepadamu untuk mengasuh sebagian anggota keluargamu.’

Abu Thalib berkata, ‘Biarkanlah Uqail bersamaku dan lakukanlah sesuai yang kalian kehendaki kepada yang lain.’

Kemudian Rasulullah mengasuh Ali bin Abi Thalib a.s., sedangkan Al-Abbas mengasuh Ja‘far. Keduanya senantiasa bersama Rasulullah dan Al-Abbas hingga keduanya berkecukupan.”151

Hadis tersebut memberikan gambaran penting tentang keadaan Rasulullah saw. pada masa itu. Setidaknya terdapat dua hal yang patut diperhatikan.

Pertama, kondisi finansial Rasulullah saw. relatif lebih baik dibandingkan pamannya, Abu Thalib. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, beliau memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik dan lebih berhasil dalam perdagangan.

Kedua, keadaan tersebut tidak membuat beliau melupakan jasa pamannya. Justru ketika Abu Thalib mengalami kesulitan dan memiliki banyak anggota keluarga yang harus ditanggung, Rasulullah saw. datang untuk membantu. Beliau mengambil sebagian tanggung jawab tersebut dengan mengasuh Ali bin Abi Thalib a.s.

Di sinilah kita melihat bahwa kecukupan harta bagi Rasulullah saw. tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan tanggung jawab. Kekayaan bukan sekadar sesuatu yang dinikmati, tetapi juga sarana untuk menolong keluarga dan meringankan beban orang lain.

Selain Ali bin Abi Thalib a.s., Khadijah r.a. memiliki seorang hamba sahaya bernama Zaid bin Haritsah. Rasulullah saw. kemudian meminta Khadijah memberikan Zaid kepada beliau. Hal itu dilakukan setelah pernikahan beliau dengan Khadijah. Rasulullah saw. kemudian memerdekakan Zaid.

Di antara bekas sahaya Rasulullah saw. lainnya adalah Syaqran Al-Habasyi, yang nama aslinya adalah Shaleh bin Adi. Ia merupakan hamba sahaya yang diwariskan kepada beliau oleh ayahnya.152

Dengan demikian, jika dihitung secara minimal, keluarga Rasulullah saw. pada masa itu terdiri atas istri beliau, Khadijah r.a., keempat putra-putri beliau, Ali bin Abi Thalib a.s., Zaid bin Haritsah, dan Syaqran.

Gambaran mengenai tanggung jawab keluarga tersebut menjadi penting ketika kita memahami firman Allah:

«“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”
(Adh-Dhuha: 8)»

Al-Akhfasy berkata, “Dia mendapatimu memiliki banyak anggota keluarga.” Pendapat ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw., “Dan mulailah dengan orang yang menjadi tanggung jawabmu.”

Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah tidak menggunakan ungkapan wa wajadaka faqīran—“Dia mendapatimu dalam keadaan fakir”—melainkan menggunakan kata ‘āilan. Karena itu, makna ayat tersebut juga berkaitan dengan keadaan seseorang yang memiliki banyak tanggungan.

Penjelasan lebih rinci mengenai ayat ini akan dibahas dalam pembahasan tentang janji Allah kepada Nabi-Nya Muhammad saw. untuk memberikan kecukupan.

1. Janji Allah kepada Rasulullah untuk Melimpahkan Harta yang Cukup

Kecukupan yang Allah berikan kepada Rasulullah saw. memiliki kaitan erat dengan tugas besar yang beliau emban. Beliau harus berkonsentrasi dalam menjalankan seruan dakwah. Tugas tersebut tentu membutuhkan kondisi yang memungkinkan beliau mencurahkan perhatian dan tenaga untuk risalah yang dibawanya.

Karena itu, sumber-sumber pendapatan beliau terjamin secara khusus sehingga tangan beliau berada di atas, bukan di bawah, dibandingkan orang-orang yang beliau seru untuk masuk ke dalam agama ini.

Dalam konteks tersebut, Islam tidak hanya datang untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Islam juga membawa manusia keluar dari kefakiran dan kerendahan menuju kecukupan, kemuliaan, dan kehormatan. Demikianlah janji Allah kepada Rasul-Nya.

Allah berfirman:

«“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”
(Adh-Dhuha: 8)»

Demikian pula firman Allah:

«“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”
(Thaha: 132)»

Ayat-ayat tersebut mengingatkan bahwa rezeki pada akhirnya berasal dari Allah. Manusia memang diperintahkan untuk berusaha, tetapi kecukupan dan keberkahan tetap berada dalam karunia-Nya.

Islam adalah agama yang mengakui kenikmatan yang Allah sediakan bagi manusia. Nikmat Allah tidak diperintahkan untuk ditolak hanya karena seseorang ingin menunjukkan kesalehan. Sebaliknya, nikmat tersebut harus diterima dengan syukur dan digunakan sesuai dengan petunjuk-Nya.

Allah berfirman:

«“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”
(Luqman: 20)»

Karena itu, Islam bukanlah agama yang memerintahkan manusia untuk mencari penderitaan atau memelihara kemiskinan. Islam membuka jalan bagi kemakmuran hidup dan kebahagiaan, dengan memanfaatkan keberkahan yang Allah letakkan di langit dan di bumi.

Manusia diperintahkan untuk mengelola apa yang telah Allah tundukkan bagi mereka, menikmati nikmat-Nya, serta merasakan ketenteraman yang lahir dari kehidupan yang baik. Semua itu tetap berada dalam kerangka syukur dan penghambaan kepada-Nya.

Allah berfirman:

«مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ»

«“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(An-Nahl: 97)»

Kehidupan yang baik (hayātan thayyibah) bukanlah kehidupan yang dibangun di atas penderitaan sebagai tujuan. Ia adalah kehidupan yang baik karena di dalamnya terdapat iman, amal saleh, ketenteraman, dan kenikmatan yang digunakan dalam ketaatan kepada Allah.

Karena itu, Islam mendorong manusia untuk memanfaatkan berbagai potensi dan karunia yang terdapat di bumi.

Allah berfirman:

«“Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya.”
(Hud: 61)»

Ayat ini mengingatkan manusia bahwa bumi bukan sekadar tempat untuk berpijak. Ia adalah amanah yang harus dimakmurkan. Manusia diciptakan dari bumi sekaligus diberi tugas untuk membangun dan mengelolanya.

Sang Maha Pencipta menciptakan berbagai kenikmatan dunia bagi manusia. Apabila manusia bersyukur atas limpahan nikmat tersebut, Allah akan menambah karunia-Nya.

Karena itu Allah berfirman:

«“Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada Hari Kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui.”
(Al-A‘raf: 32)»

Islam tidak menghendaki para pemeluknya hidup dalam penderitaan karena kekurangan harta. Terlebih lagi apabila penderitaan tersebut muncul bukan karena keterbatasan sumber daya, melainkan karena distribusi yang keliru dan kezaliman di antara anggota masyarakat.

Ketika kekayaan tidak terdistribusi dengan baik, manusia dapat saling memusuhi dan mendengki. Kemiskinan kemudian tidak lagi sekadar menjadi persoalan individu, tetapi berkembang menjadi persoalan sosial.

Karena itu, sistem Islam memotivasi umatnya untuk hidup berkecukupan dan terbebas dari penderitaan akibat kekurangan harta. Kecukupan tersebut memungkinkan seseorang menjaga kehormatan dirinya, menghadap kepada Allah dengan lebih tenang, dan tidak terus-menerus disibukkan oleh kecemasan dalam mencari sesuap nasi.

Bukankah seseorang yang sepanjang hidupnya hanya memikirkan secuil roti akan sulit mengangkat pandangannya kepada persoalan yang lebih besar? Ketika seluruh tenaga dan pikirannya habis untuk mempertahankan hidup, ruang untuk mengenal Allah, membangun hubungan yang baik dengan-Nya, dan mengejar kehidupan yang lebih baik dan lebih kekal dapat menjadi semakin sempit.

Dalam kerangka inilah kecukupan memiliki makna yang lebih luas. Harta bukan tujuan akhir. Kecukupan justru menjadi sarana agar manusia dapat menjalankan tujuan hidupnya dengan lebih baik.

Kekayaan sebagai Bentuk Kemuliaan bagi Umat

Di antara bentuk penghormatan Allah kepada Rasulullah saw. adalah memuliakan umat beliau dalam persoalan finansial.

Tidak jarang para ulama menghindar atau menolak keyakinan yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. merupakan sumber kekayaan finansial. Hal ini, misalnya, dikemukakan oleh Dr. Muhammad Sa‘id Ramadhan Al-Buthi ketika memaparkan hadis Rasulullah saw. mengenai kekuasaan umat beliau:

«“Dan bahwasanya kekuasaan umatku akan mencapai sebagaimana bumi itu digulung untukku...”»

Menurut Al-Buthi, kekuasaan atau harta yang diwariskan Rasulullah saw. bukanlah dirham dan bukan pula dinar, melainkan agama yang beliau wariskan kepada umatnya.

Namun, perlu diperhatikan bahwa hadis yang dikemukakan tersebut justru menyebut kekuasaan materi secara jelas, bersamaan dengan penyebaran Islam dan perluasan wilayah kekuasaan umatnya. Bahkan Rasulullah saw. menjelaskan bahwa Allah akan menganugerahkan kepada umatnya dua harta simpanan: merah dan putih, yang dimaksudkan sebagai dinar dan dirham, yaitu keping emas dan keping perak yang menjadi mata uang kerajaan-kerajaan klasik.

Rasulullah saw. bersabda:

«“Sesungguhnya Allah melipat bumi ini untukku sehingga aku dapat melihat bagian timur dan baratnya, dan bahwasanya kekuasaan umatku akan mencapai sebagaimana bumi itu digulung untukku. Dan aku diberikan dua harta simpanan: merah dan putih. Dan sungguh aku memohon kepada Tuhanku untuk umatku agar tidak dibinasakan oleh paceklik...”»

(HR. Muslim dalam Shahih-nya, dari Tsauban a.s., Kitab Al-Fitan, Bab Halak Hadzihi Al-Ummah Ba‘dhuhum Ba‘dhan, no. 2889).

Yang dimaksud dengan al-ahmar (merah) dan al-abyadh (putih) adalah harta simpanan Kaisar dan Kisra. Hal itu disebabkan mata uang yang beredar di kerajaan atau pemerintahan Kisra berupa koin emas, sedangkan mata uang yang beredar di istana kekaisaran berupa koin-koin perak. Lihat Tuhfat Al-Ahwadzi, 6/332.

Maka, dari sini muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: jika Rasulullah saw. adalah utusan bagi umat ini, dan jika dalam perjalanan sejarah umat beliau Allah membuka berbagai sumber kekayaan dan kekuasaan materi, mengapa kita tidak dapat mengatakan bahwa Rasulullah saw. merupakan sumber kekayaan bagi umatnya?

Kekayaan tersebut tentu tidak berhenti pada kepemilikan materi. Ia terkait dengan risalah yang beliau bawa: sebuah ajaran yang membentuk manusia, mengatur hubungan sosial, mengarahkan pemanfaatan bumi, dan membuka jalan bagi kehidupan yang lebih baik.

Dengan demikian, pembahasan tentang harta Rasulullah saw. bukan sekadar pembahasan tentang berapa banyak yang beliau miliki. Yang lebih penting adalah memahami hubungan antara kecukupan, tanggung jawab, dakwah, dan kemakmuran umat.

Harta yang berada di tangan seorang mukmin tidak seharusnya menjauhkannya dari Allah. Sebaliknya, kecukupan dapat menjadi sarana untuk semakin dekat kepada-Nya, membantu orang lain, memikul tanggung jawab, dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Di sinilah makna kecukupan yang dijanjikan Allah memperoleh tempatnya: bukan kemewahan sebagai tujuan, melainkan kemampuan untuk menjalankan amanah dengan lebih leluasa.

Terbentuknya Modal dalam Masyarakat Islam  Suatu sistem ekonomi Islam harus beba...

Terbentuknya Modal dalam Masyarakat Islam 
Suatu sistem ekonomi Islam harus bebas dari bunga. Dalam sistem tersebut, bunga tidak diperkenankan memainkan pengaruhnya yang merugikan pekerja, produksi, dan distribusi. Dengan alasan inilah, modal menempati tempat yang khusus dalam ilmu ekonomi Islam.

Dalam hal ini, kita cenderung menganggap modal sebagai “sarana produksi yang menghasilkan”, bukan sebagai faktor produksi pokok, melainkan sebagai suatu perwujudan tanah dan tenaga kerja yang telah tersimpan. Pada kenyataannya, modal dihasilkan oleh penggunaan tenaga kerja dan sumber-sumber daya alam. Dalam karya-karya Wicksell, modal disebut sebagai “suatu keseluruhan tunggal yang terpadu dari tanah dan tenaga kerja yang tersimpan, tertumpuk bertahun-tahun lamanya.”

Oleh karena itu, dalam suatu masyarakat bebas bunga, modal dapat diperlakukan dalam pengertian yang digunakan dalam produksi kapitalistik.

Atas dasar itu, kita akan membatasi pembahasan pada analisis mengenai masalah penumpukan modal dalam sistem ekonomi Islam. Namun, analisis tersebut sebaiknya didahului dengan rujukan singkat mengenai penggolongan modal secara luas, yang dapat dilihat dari sudut pandang masyarakat maupun dari sudut pandang masing-masing individu.

Dari sudut sosial, semua benda yang menghasilkan pendapatan selain tanah dapat dianggap sebagai modal, termasuk barang-barang milik umum. Adapun modal pribadi adalah sesuatu yang diharapkan pemiliknya dapat memberikan penghasilan kepadanya.

Dalam pengertian modern, pinjaman pemerintah merupakan modal jika dipandang dari sudut orang-orang yang memberikan pinjaman tersebut. Namun, jika dilihat dari sudut pandang sosial, pinjaman semacam itu bukanlah modal.

Karena sistem ekonomi Islam mendukung terbentuknya masyarakat yang seimbang, perbedaan antara modal pribadi dan modal sosial menjadi tidak terlalu penting. Tetapi hal itu tidak demikian dalam masyarakat kapitalis sekarang ini. Negara mempunyai hak untuk turun tangan apabila modal swasta digunakan dengan cara yang merugikan masyarakat.

Tersedia hukuman yang berat bagi mereka yang menyalahgunakan kekayaan sehingga merugikan masyarakat. Allah berfirman:

«“Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.”»

(Q.S. Al-Haqqah, 69:30–32).

Takwa kepada Tuhan, dalam praktiknya, berarti menghindari segala bentuk perilaku antisosial. Islam mengingatkan hati nurani moral yang mendasar dengan menanamkan bentuk perilaku yang mencegah seseorang menggunakan kekayaan untuk merugikan masyarakat.

Penumpukan Modal dan Tabungan

Modal tumbuh dari tabungan yang memungkinkan terciptanya barang-barang modal. Namun, terciptanya barang-barang modal tersebut bergantung pada dua hal yang tampaknya bertentangan: berkurangnya konsumsi sekarang dan adanya harapan akan meningkatnya produksi pada masa mendatang.

Dengan demikian, seperti yang dinyatakan oleh Keynes, kita diingatkan pada Fable of the Bees (Dongeng tentang Lebah): kegembiraan hari esok harus ada karena raison d’être—alasan adanya—kesuraman hari ini.

Dari sini timbul pertanyaan: mengapa dalam sebuah sistem ekonomi Islam yang bebas bunga orang tidak menggunakan seluruh barang-barang konsumsi yang tersedia untuk ditabung bagi masa depan?

Para penulis seperti Marshall berpendapat bahwa tingkat bunga merupakan salah satu faktor yang mengatur volume tabungan. Semakin tinggi tingkat bunga, yakni semakin besar imbalan bagi tabungan, semakin tinggi pula kecenderungan untuk menabung, dan sebaliknya.

Namun, banyak penulis seperti Keynes telah melontarkan keraguan yang cukup serius terhadap hubungan langsung antara tingkat bunga dan volume tabungan. Menurut mereka, tingkat bunga yang tinggi dapat menekan kegiatan ekonomi dan menyebabkan volume penanaman modal menjadi lebih kecil. Sebagai akibatnya, pendapatan yang terkumpul akan mengecil dan, dengan adanya kecenderungan yang sama untuk menabung, volume tabungan pun akan berkurang.

Kenyataannya, jika individu-individu bertindak rasional, mereka mungkin lebih banyak menabung ketika tingkat bunga tinggi. Tingkat bunga yang tinggi berarti imbalan yang lebih besar bagi tabungan. Oleh karena itu, berdasarkan alasan-alasan rasional semata, orang akan terdorong untuk lebih banyak menabung.

Akan tetapi, menabung tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat bunga. Banyak motif yang menyebabkan seseorang menabung.

Terdorong oleh kebijaksanaan dan pandangan ke depan, seseorang menabung dengan mengumpulkan cadangan untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga atau hari-hari yang suram. Ia menyiapkan persediaan yang memadai untuk pendidikan anak-anaknya di masa depan, perkawinan anak-anak perempuannya, atau kebutuhan pada masa tua.

Mereka yang memiliki uang juga dapat menikmati kehormatan dan kemuliaan yang tinggi dalam masyarakat. Hal itu memungkinkan seseorang untuk membayangkan bahwa pada suatu hari ia akan termasuk dalam golongan orang yang menikmati kekuasaan dan kemuliaan. Inilah motif kebanggaan.

Pada akhirnya, seseorang mungkin menabung semata-mata karena dorongan kekikiran, disertai ketakutan yang tidak masuk akal untuk membelanjakan uangnya bagi keperluan apa pun. Inilah motif kekikiran.

Dengan demikian, motif-motif menabung tersebut dapat disimpulkan sebagai motif kebijaksanaan, pandangan ke masa depan, perbaikan, cinta keluarga, kebanggaan, dan kekikiran.

Dalam masyarakat modern, sebagian besar tabungan berasal dari lembaga-lembaga seperti perusahaan-perusahaan perseroan terbatas. Mereka yang bertugas dalam lembaga-lembaga tersebut melakukan penabungan dengan motif kehati-hatian dan usaha.

Yang penting dalam pembahasan ini ialah bahwa modal tetap dapat tumbuh dalam masyarakat yang bebas bunga. Janganlah dilupakan bahwa Islam memperbolehkan adanya laba yang berlaku sebagai insentif untuk menabung.

Modal, Distribusi Kekayaan, dan Masyarakat

Persoalan berikutnya adalah bagaimana modal yang terbentuk dari tabungan tersebut dapat memberikan manfaat secara luas. Dalam sistem kapitalis modern, manfaat kemajuan teknik yang dicapai oleh ilmu pengetahuan sering kali hanya dapat dinikmati oleh masyarakat yang relatif kaya, yaitu mereka yang pendapatannya melebihi batas pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Mereka yang hidup sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terpaksa tetap berada dalam kemiskinan, karena untuk menyediakan hasil yang semakin bertambah bagi hari esok, seseorang harus mampu mengurangi konsumsi hari ini. Hal itu sulit dilakukan apabila pendapatan sekarang hanya sedikit di atas kebutuhan hidup sehari-hari.

Dengan demikian, masyarakat yang relatif kaya berada dalam kedudukan yang lebih menguntungkan untuk menjadi semakin kaya, sedangkan masyarakat miskin dapat terjebak dalam lingkaran yang sulit untuk mereka keluarinya.

Namun, masyarakat kaya pun menghadapi persoalan yang tidak kalah membingungkannya dengan masyarakat miskin. Di mana terdapat sistem hak milik pribadi dan sistem usaha swasta, terdapat pula kecenderungan ke arah pemupukan kekayaan yang terlalu besar di tangan golongan minoritas.

Pada saat yang sama, kenaikan konsumsi tidak selalu berlangsung secepat kenaikan pendapatan. Akibatnya, syarat kedua bagi pembentukan modal—yaitu harapan akan bertambahnya konsumsi pada masa mendatang—tidak selalu terpenuhi.

Diperlukan penjelasan yang panjang mengenai faktor ini: mengapa manfaat kemajuan teknik tidak digunakan sepenuhnya, terutama oleh masyarakat kaya, dan mengapa pengangguran berkembang walaupun tidak terdapat kekurangan sumber daya untuk memberikan kesempatan kerja kepada seluruh faktor produksi yang belum digunakan.

Di sinilah Islam memberikan kerangka yang berbeda.

Islam melindungi kepentingan si miskin dengan memberikan tanggung jawab moral kepada si kaya untuk memperhatikan mereka. Kedua, Islam mengakui sistem hak milik pribadi secara terbatas. Setiap usaha yang mengarah pada penumpukan kekayaan secara tidak layak di tangan segelintir orang dikutuk.

Karena itu, Al-Qur’an memerintahkan orang-orang kaya untuk mengeluarkan sebagian dari rezeki yang dianugerahkan kepada mereka bagi kesejahteraan masyarakat. Kekayaan tidak boleh berhenti beredar hanya di antara kelompok tertentu.

Allah berfirman:

«“… dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.”»

(Q.S. Fathir, 35:29).

Selanjutnya dinyatakan:

«“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kamu.”»

(Q.S. Al-Hasyr, 59:7).

Bersamaan dengan itu, pemborosan juga dicela. Al-Qur’an menyatakan:

«“… dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”»

(Q.S. Al-An‘am, 6:141).

Dengan cara ini, Islam mengakui dua hal yang tampaknya berlawanan dalam pembentukan modal: berkurangnya konsumsi sekarang dan bertambahnya konsumsi pada masa mendatang. Keseimbangan keduanya memungkinkan modal memainkan peranan yang sesungguhnya dalam proses produksi.

Biaya Modal dan Masa Depan

Pembicaraan terdahulu jangan sampai menyebabkan orang beranggapan bahwa dalam Islam modal sebagai faktor produksi kurang penting dibandingkan dengan faktor-faktor produksi lainnya dalam susunan ekonomi sekular.

Justru arti penting modal memperoleh dimensi tambahan karena perhatian Islam tidak hanya tertuju kepada generasi sekarang, tetapi juga kepada generasi yang akan datang.

Walaupun terdapat larangan terhadap bunga, hal itu tidak berarti bahwa dalam sistem ekonomi Islam tidak terdapat biaya modal yang dapat dinyatakan dari segi penggunaan-penggunaan alternatifnya. Karena itu, tingkat keuntungan pada suatu usaha ekonomi tertentu antara lain dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk menentukan biaya modal.

Dengan demikian, persoalan modal dalam Islam tidak berhenti pada pertanyaan tentang ada atau tidak adanya bunga. Persoalannya lebih luas: bagaimana tabungan terbentuk, bagaimana modal digunakan, bagaimana keuntungan menjadi insentif, dan bagaimana kekayaan yang dihasilkan dari modal tetap berfungsi bagi keseimbangan masyarakat serta kepentingan generasi yang akan datang.

Di sinilah modal menemukan tempatnya dalam sistem ekonomi Islam: bukan sekadar sebagai alat untuk menghasilkan kekayaan, melainkan sebagai bagian dari mekanisme produksi dan distribusi yang harus tetap berada dalam kerangka keseimbangan sosial.

Seni Beradaptasi: Bagaimana Khalifatur Rasyidin Memanfaatkan Peradaban Lain?  Ketika sebuah ...

Seni Beradaptasi: Bagaimana Khalifatur Rasyidin Memanfaatkan Peradaban Lain? 

Ketika sebuah peradaban berkembang dengan akselerasi yang melampaui batas geografis asalnya, ia akan selalu berbenturan dengan realitas baru yang menantang stabilitas tradisinya. Inilah disrupsi administratif yang dialami oleh entitas Islam pasca-pembebasan besar-besaran di abad ke-7. 

Transformasi dari kesederhanaan masyarakat gurun menuju kompleksitas imperium yang menguasai eks-wilayah Persia dan Romawi menuntut solusi birokrasi yang radikal.

Di sinilah letak ujian kepemimpinan sesungguhnya: bagaimana mempertahankan integritas nilai inti sembari melakukan adaptasi teknis terhadap sistem yang jauh lebih mapan?

Ketegangan ini tidak diselesaikan dengan isolasi, melainkan dengan sebuah strategi adaptasi yang jenius dan pragmatis.


Memisahkan "Prinsip" dari "Pola dan Sarana"

Kunci keberhasilan stabilitas awal kekhalifahan terletak pada kemampuan para pemimpinnya untuk melakukan distingsi filosofis antara "ideologi" dan "sarana administrasi."

Dalam diskursus kebijakan publik awal, pembaharuan organisasi dipandang sebagai instrumen dinamis yang berada dalam kategori pola dan sarana—elemen yang bersifat teknis dan profan—bukan pada ranah prinsip atau akidah yang sakral.

Legitimasi atas fleksibilitas ini berpijak pada otonomi manusia dalam mengelola urusan duniawi demi kemaslahatan umum. Sebagai fondasi tindakan administratif ini, Khalifah Umar bin Khattab merujuk pada prinsip yang digariskan oleh Rasulullah SAW:

"Kalian lebih tahu akan urusan-urusan dunia kalian."

Dengan paradigma ini, mengadopsi pengalaman non-muslim dalam hal organisasi dan manajemen materi tidak lagi dipandang sebagai ancaman terhadap identitas, melainkan sebagai bentuk profesionalisme yang dianjurkan.


Interoperabilitas Budaya: Mengadopsi Inovasi "Liyan"

Eksperimen dalam meminjam praktik terbaik dari luar lingkungan sendiri bukanlah sebuah anomali, melainkan kelanjutan dari preseden yang telah diletakkan di Madinah. 

Sejarah mencatat peran Salman Al-Farisi yang mengusulkan teknik pembuatan parit (Khandaq)—sebuah teknologi pertahanan Persia—saat menghadapi pengepungan.


Keputusan Rasulullah SAW untuk mengadopsi teknologi asing tersebut menjadi bukti autentik bahwa keterbukaan terhadap keunggulan teknis bangsa lain adalah bagian dari strategi ketahanan nasional. 

Inovasi sering kali tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari keberanian untuk mengakui keunggulan fungsional pihak luar dan mengintegrasikannya ke dalam sistem internal demi keselamatan kolektif.


Profesionalisme di Atas Sentimen: Retensi Talenta Birokrasi

Langkah paling transformatif sekaligus mengejutkan dalam administrasi Umar bin Khattab adalah keputusannya untuk tidak melakukan "pembersihan" birokrasi di wilayah taklukan. 

Sebaliknya, Umar menjalankan kebijakan retensi talenta dengan tetap mempekerjakan para petugas pajak lama dari administrasi sebelumnya, meskipun mereka belum memeluk Islam.

Keputusan ini adalah bentuk manajemen risiko yang sangat kalkulatif. Umar menyadari bahwa kaum muslimin pada saat itu datang dari latar belakang sosio-ekonomi yang tidak mengenal kompleksitas sistem keuangan dan administrasi imperial. 

Memaksakan penempatan tenaga yang tidak berpengalaman hanya demi sentimen kelompok dipandang sebagai ancaman yang dapat memicu "kehancuran pemerintahan" (destruction of government). Bagi Umar, efektivitas sistem jauh lebih berharga daripada simbolisme administratif.


Logika "Batalyon Pengumpul Pajak" untuk Fokus Strategis

Pembagian kerja antara urusan sipil dan militer dilakukan untuk meminimalisir friksi administrasi. Strategi ini memungkinkan kaum muslimin untuk menjaga fokus operasional mereka pada perluasan wilayah dan jihad, tanpa harus terbebani oleh kerumitan birokrasi harian yang dapat menghambat mobilitas negara.

Kepemimpinan Umar menunjukkan pragmatisme luar biasa dengan membiarkan sistem pajak diatur oleh penduduk setempat. Bahkan, urusan administrasi tersebut tetap ditulis dalam bahasa asli wilayah tersebut, bukan langsung dipaksakan menggunakan bahasa Arab. 

Dengan mengerahkan tenaga ahli lokal yang diibaratkan sebagai "batalyon pengumpul pajak," pemerintah pusat berhasil menjamin stabilitas arus kas (pendapatan negara) yang krusial untuk membiayai logistik militer dan infrastruktur negara yang baru berdiri.


Arsitektur Birokrasi di Wilayah Sudan (Sawad)

Secara teknis, efisiensi ini diwujudkan melalui pendataan yang presisi. Tokoh spesialis seperti Hudzaifah bin Al-Yaman dan Utsman bin Hanif diutus secara khusus untuk melakukan pemetaan tanah dan penaksiran pajak di wilayah-wilayah subur seperti Sudan (yang dalam konteks sejarah dikenal sebagai wilayah Sawad di Irak).

Struktur pelaporan dibangun dengan alur yang sangat sistematis untuk menjamin akuntabilitas:

Kepala Desa setempat: Melakukan penghimpunan di tingkat akar rumput.

Lembaga Keuangan (Financial Institution): Bertugas mengonsolidasikan data dan dana.

Gubernur Wilayah: Bertanggung jawab atas stabilitas dan supervisi regional.

Pemerintahan Pusat: Sebagai otoritas tertinggi di ibu kota.

Model hierarkis ini memastikan bahwa setiap keping koin yang dikumpulkan dari pelosok desa dapat terlacak hingga ke perbendaharaan pusat, menciptakan transparansi yang luar biasa pada masanya.


Warisan Pragmatisme yang Bijaksana

Kekhalifahan awal tidak membangun kejayaannya dengan menolak kemajuan peradaban lain, melainkan dengan menjadi "kurator" terbaik atas praktik-praktik manajemen yang ada. Mereka mampu menyerap pola dan sarana yang efisien tanpa sedikit pun menggadaikan prinsip dasar mereka.

 Keberhasilan ini memberikan pelajaran abadi bahwa sebuah organisasi hanya akan mencapai puncak efektivitasnya ketika ia mampu menempatkan profesionalisme dan kemaslahatan di atas sentimen sempit.

Tantangan Kepemimpinan: Di tengah gelombang disrupsi modern saat ini, sejauh mana Anda berani mengadopsi instrumen dan teknologi "asing" demi efisiensi sistemik, tanpa kehilangan esensi dan nilai inti yang menjadi ruh organisasi Anda?

Dalam memelihara ingatan Nabi Muhammad saw. terhadap wahyu secara konstan, Malai...


Dalam memelihara ingatan Nabi Muhammad saw. terhadap wahyu secara konstan, Malaikat Jibril berkunjung kepada beliau setiap tahun. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa hadis berikut.

Fatimah berkata, “Muhammad memberitahukan kepadaku secara rahasia, ‘Malaikat Jibril hadir membacakan Al-Qur’an kepadaku dan saya membacakannya sekali setahun. Hanya pada tahun ini ia membacakan seluruh isi kandungan Al-Qur’an sebanyak dua kali. Saya tidak berpikir lain kecuali, rasanya, masa kematian sudah semakin dekat.’”

Ibnu Abbas melaporkan bahwa Nabi Muhammad saw. berjumpa dengan Malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadan hingga akhir bulan. Keduanya membaca Al-Qur’an secara silih berganti.

Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad saw. dan Malaikat Jibril membaca Al-Qur’an secara bergantian setiap tahun. Hanya pada tahun wafatnya, mereka membaca secara bergantian sebanyak dua kali.

Ibnu Mas‘ud melaporkan hal yang serupa, dengan tambahan, “Manakala Nabi Muhammad saw. dan Malaikat Jibril selesai membacanya, lalu memberi giliran kepada saya untuk membaca di hadapan Nabi Muhammad saw., dan beliau memberikan penghargaan atas keindahan bacaan saya.”41

Nabi Muhammad saw., Zaid bin Tsabit, dan Ubay bin Ka‘ab juga membaca Al-Qur’an secara bergiliran setelah sesi terakhir bersama Malaikat Jibril. Nabi Muhammad saw. juga membaca Al-Qur’an di hadapan Ubay dua kali pada tahun wafatnya.

Tiap hadis di atas memberikan gambaran tentang pembacaan Al-Qur’an antara Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad saw. dengan menggunakan istilah mu‘aradhah. Al-Qur’an tidak hanya diterima, tetapi juga dibaca kembali, disimak, dan diperiksa secara berulang. Dengan demikian, proses penerimaan wahyu tidak berhenti pada saat ayat diturunkan. Ada proses pemeliharaan yang berlangsung terus-menerus.

Di sinilah kita dapat memahami betapa padatnya tugas Nabi Muhammad saw. terhadap wahyu. Beliau tidak hanya menerima wahyu secara divine reception, tetapi juga menjadi pengawas ketepatan penyampaiannya, memberikan keterangan yang diperlukan, mendorong masyarakat luas untuk mengenal dan menyebarluaskannya, serta menjadi mahaguru bagi para sahabat.

Allah tentu tidak perlu turun ke bumi untuk menjelaskan ayat demi ayat kepada manusia. Allah justru berfirman, “Adalah tugas Kami untuk menjelaskan,” bukan, “Ini tugasmu, Muhammad, untuk memberi penjelasan.” Hal ini menunjukkan bahwa Allah memberikan legitimasi sepenuhnya kepada Nabi Muhammad saw. untuk menjelaskan ayat-ayat-Nya. Penjelasan tersebut bukan berdasarkan perkiraan pribadi, melainkan berada dalam bimbingan dan inspirasi Allah sendiri.

Demikian pula halnya dengan pemeliharaan dan kompilasi Al-Qur’an.

Setelah menghafalnya, tugas membaca, memelihara, mengompilasi, mengajarkan, dan menerangkan Al-Qur’an menyatu dalam tugas utama beliau sepanjang masa kenabian. Semua itu beliau laksanakan dengan penuh kesetiaan dan mendapatkan persetujuan Allah SWT atas upaya yang beliau lakukan.

Karena itu, perhatian utama dalam bab-bab mendatang akan mencakup tiga masalah penting. Pertama, penjelasan tentang wahyu. Kedua, literatur sunnah Nabi Muhammad saw., yang keseluruhannya merupakan penjelasan terhadap Al-Qur’an. Ketiga, penyatuan seluruh ajaran tersebut ke dalam praktik kehidupan sehari-hari.


Klaim-klaim para Orientalis

Pembahasan tentang pemeliharaan Al-Qur’an tidak terlepas dari berbagai teori yang dikemukakan oleh sebagian penulis orientalis. Beberapa di antara mereka membangun teori yang berbeda dari keyakinan umat Islam mengenai bagaimana Al-Qur’an dipelihara sejak masa Nabi Muhammad saw.

Noldeke, misalnya, menganggap bahwa Nabi Muhammad saw. pernah lupa terhadap wahyu sebelumnya. Sementara itu, Rev. Mingana menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw. maupun masyarakat Muslim tidak pernah memberikan perhatian yang berlebihan terhadap Al-Qur’an, kecuali setelah negara Islam meluas. Dengan kata lain, menurut pandangan tersebut, perhatian untuk memelihara ayat-ayat Al-Qur’an bagi generasi mendatang baru muncul kemudian.

Namun, apakah masuk akal jika perhatian terhadap pemeliharaan Al-Qur’an baru muncul setelah wilayah Islam meluas?

Pendekatan terhadap persoalan ini semata-mata dari sudut pandang akal memang tidak cukup untuk membuktikan seluruh persoalan. Akan tetapi, ada satu pertanyaan mendasar yang tetap perlu diajukan: bagaimana mungkin seseorang yang meyakini bahwa dirinya menerima kalamullah akan bersikap acuh terhadap pemeliharaan wahyu tersebut?

Terlepas dari apakah seseorang menerima Muhammad saw. sebagai seorang nabi atau tidak, secara logis beliau akan tetap berusaha mempertahankan apa yang diyakininya sebagai kalamullah. Jika beliau benar-benar seorang rasul, persoalannya tentu menjadi semakin jelas. Pemeliharaan Al-Qur’an merupakan tugas suci.

Sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya, Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diturunkan kepada beliau. Karena itu, pemeliharaannya bukanlah persoalan sampingan. Ia merupakan bagian dari amanah kenabian itu sendiri.

Lalu, bagaimana jika—sekadar sebagai alasan dalam sebuah perdebatan—Muhammad saw. sebenarnya berpura-pura mengaku sebagai nabi? Atau, katakanlah, Al-Qur’an merupakan hasil rekayasa beliau sendiri? Apakah dalam keadaan demikian beliau akan mampu menghasilkan sesuatu yang berbeda dari apa yang ada sekarang?

Dalam kerangka argumentasi tersebut, jawabannya tetap tidak mudah diberikan. Sebab, jika beliau benar-benar mempertahankan keyakinan yang disampaikannya, maka tindakan untuk mengubah atau mengabaikan wahyu justru akan bertentangan dengan pengakuannya sendiri. Sebaliknya, jika beliau konsisten dengan apa yang diyakininya, maka pemeliharaan Al-Qur’an menjadi konsekuensi yang wajar dari keyakinan tersebut.

Dengan demikian, persoalan ini tidak cukup dijelaskan hanya dengan dugaan bahwa perhatian terhadap Al-Qur’an baru muncul setelah Islam berkembang menjadi kekuatan politik. Ada rangkaian fakta mengenai hafalan, pembacaan, pengajaran, mu‘aradhah, dan pencatatan yang telah berlangsung sejak masa Nabi Muhammad saw.

Apakah seseorang menempatkan Muhammad saw. dalam kelompok para nabi ataupun menganggap beliau berpura-pura, perilaku beliau terhadap Al-Qur’an tetap menunjukkan perhatian yang sangat besar terhadap wahyu tersebut.

Karena itu, teori apa pun yang mengandaikan adanya perubahan atau perbedaan dalam pemeliharaan Al-Qur’an harus berhadapan dengan rangkaian fakta tersebut. Jika seorang ahli teori mengajukan penjelasan tentang mengapa Nabi Muhammad saw. bertindak sedemikian rupa, bahkan mengorbankan kepentingannya demi menjalankan perintah Allah, maka penjelasan itu semestinya tidak berhenti pada dugaan. Ia harus berhadapan dengan bukti-bukti yang dapat ditelusuri.


Kesimpulan 

Hafalan, pengajaran, pencatatan, kompilasi, dan penjelasan Al-Qur’an—sebagaimana telah kita uraikan—merupakan bagian penting dari misi Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an bukan hanya dibacakan kepada beliau, tetapi juga dihafalkan, dibaca kembali, diajarkan, dijelaskan, dan dipraktikkan. Bahkan orang-orang kafir pun tertarik untuk mendengarkannya secara sembunyi-sembunyi.

Semua ini membawa kita kepada satu pertanyaan yang lebih luas: bagaimana mungkin sebuah kitab yang telah berusia lebih dari empat belas abad tetap hidup begitu kuat dalam ingatan manusia?

Jawabannya tidak cukup dicari hanya pada keberadaan sebuah mushaf. Sebab, Al-Qur’an tidak hanya hidup dalam lembaran-lembaran yang tertulis. Ia hidup dalam hafalan, dalam bacaan, dalam pengajaran, dan dalam transmisi dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dalam bab-bab berikutnya, kami akan menjelaskan lebih mendalam sikap kehati-hatian Nabi Muhammad saw. dan masyarakat Muslim pada masa awal Islam dalam memelihara Al-Qur’an. Semua itu memberikan dasar bagi keyakinan bahwa Al-Qur’an muncul dan beredar dalam bentuknya yang asli tanpa perubahan.

Sebelum halaman ini kita akhiri, mari kita alihkan pandangan ke zaman sekarang. Kita tidak lagi berbicara hanya tentang bagaimana Al-Qur’an dipelihara pada masa Nabi Muhammad saw. Kita juga dapat melihat bagaimana ia terus diajarkan dan dihafalkan hingga masa kita.

Umat Islam di seluruh dunia berjalan melalui suatu periode yang amat suram dalam sejarah, suatu masa ketika harapan dan keimanan tampak begitu sulit dan tidak menentu dari hari ke hari. Namun, di tengah keadaan tersebut, terdapat umat Islam dalam jumlah yang tidak terhitung—dari berbagai kelompok usia, jenis kelamin, dan berbagai belahan dunia—yang berkomitmen menghafal Al-Qur’an seluruhnya.

Di sinilah kenyataan itu menjadi menarik untuk direnungkan.

Sebuah kitab yang diturunkan lebih dari empat belas abad yang lalu tidak hanya tersimpan dalam perpustakaan atau ruang-ruang khusus. Ia berada di dalam dada manusia. Anak-anak menghafalnya. Orang dewasa mengulanginya. Para guru mengajarkannya. Para penghafal menyimaknya kembali di hadapan guru. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, rangkaian itu terus berlangsung.

Bandingkan hal ini dengan kitab Injil yang telah diterjemahkan, baik seluruhnya maupun sebagian, ke dalam ribuan bahasa, dicetak dan dibagikan dalam jumlah yang amat besar dengan dana yang sangat besar pula. Dengan upaya tersebut, kitab Injil dapat dianggap memiliki peredaran yang luas dan banyak orang berminat membelinya. Akan tetapi, menurut sumber yang dikutip dalam pembahasan ini, hanya sebagian kecil yang berminat membacanya.

Sikap masa bodoh terhadap isi kitab suci bahkan dapat berjalan lebih jauh daripada yang mungkin dibayangkan seseorang.

Pada tanggal 26 Januari 1997, harian The Sunday Times menurunkan hasil penelitian yang dilakukan oleh koresponden Rajeev Syal dan Cherry Norton tentang Sepuluh Perintah Tuhan. Secara acak, jajak pendapat terhadap dua ratus ribu anggota pastor Kristen Anglican mengungkap bahwa dua pertiga dari pendeta wakil Paus Inggris tidak dapat mengungkapkan isi Sepuluh Perintah Tuhan.

Hal ini, menurut laporan tersebut, bukan saja terjadi pada orang Kristen biasa, melainkan juga pada para pendetanya.

Gambaran tersebut memperlihatkan perbedaan dalam pola transmisi dan pengajaran kitab suci yang sedang dibandingkan. Di satu sisi, teks agama dapat memiliki peredaran yang sangat luas melalui pencetakan dan penerjemahan. Di sisi lain, Al-Qur’an juga memiliki tradisi hafalan dan pengajaran yang berlangsung secara langsung dari manusia kepada manusia.

Al-Qur’an tidak hanya berada di atas kertas. Ia berada dalam bacaan. Ia berada dalam hafalan. Ia berada dalam proses pengajaran yang terus berlangsung.

Maka, jika kita ingin memahami pengaruh mendalam Al-Qur’an dan keberhasilan misi pendidikan Nabi Muhammad saw., perhatian tidak cukup diarahkan kepada jumlah mushaf yang dicetak atau luasnya penerjemahan. Kita perlu melihat pula kehidupan sebuah kitab di dalam ingatan manusia.

Di situlah salah satu gambaran paling nyata tentang bagaimana Al-Qur’an terus hidup: dibaca, dihafal, diajarkan, disimak, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

ISLAM DAN PENGENALAN TERHADAP ALAM Konsep Islam tidak hanya memperkenalkan manusia kepada di...

ISLAM DAN PENGENALAN TERHADAP ALAM

Konsep Islam tidak hanya memperkenalkan manusia kepada dirinya sendiri dan kepada Penciptanya, tetapi juga memperkenalkan manusia kepada alam tempat ia hidup. Islam mengungkapkan kepada manusia tabiat alam, karakteristiknya, hubungannya dengan Penciptanya, serta berbagai tanda yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Alam bukan sesuatu yang berdiri sendiri tanpa makna. Ia memiliki keteraturan, hukum, karakteristik, dan tujuan. Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang mengarahkan manusia kepada Penciptanya. Alam juga disiapkan untuk menerima kehidupan dan berbagai makhluk hidup di dalamnya, serta ditundukkan bagi manusia atas izin Allah.

Semua itu diungkapkan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh fitrah dan akal. Kebenarannya tidak hanya dapat direnungkan secara abstrak, tetapi juga dapat disaksikan dalam realitas indrawi dan dirasakan melalui fitrah yang tersimpan dalam diri manusia.

Karena itu, Islam tidak mengajarkan manusia untuk memandang alam sebagai sesuatu yang asing atau terpisah dari kehidupan spiritualnya. Islam justru mengajak manusia untuk mengenalnya secara luas, memahami hukum-hukumnya, menyelami rahasia-rahasianya, dan berinteraksi dengannya secara benar.

Dengan demikian, hubungan manusia dengan alam bukan hubungan yang dibangun di atas ketidaktahuan, apalagi sekadar pemanfaatan tanpa arah. Ia merupakan hubungan yang bertumpu pada pengenalan, pemahaman, pengamatan, dan interaksi yang benar.

Al-Qur'an berulang kali mengarahkan pandangan manusia kepada alam. Bukan sekadar agar manusia melihat, tetapi agar mereka memikirkan apa yang dilihatnya dan menangkap makna yang berada di baliknya.

Allah berfirman:

«“Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
(QS. al-Baqarah, 2:22)»

Perhatikan bagaimana ayat ini menghubungkan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia—bumi, langit, hujan, buah-buahan, dan rezeki—dengan persoalan tauhid.

Manusia melihat bumi sebagai tempat berpijak. Ia melihat langit sebagai ruang yang menaunginya. Ia melihat hujan turun, tumbuh-tumbuhan berkembang, dan buah-buahan menjadi rezeki. Namun Al-Qur'an mengajak manusia melangkah lebih jauh: siapakah yang menjadikan semua itu ada dan berlangsung dengan keteraturan seperti itu?

Dengan demikian, pengamatan terhadap alam tidak berhenti pada fenomena. Ia mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Penciptanya.

Allah juga berfirman:

«“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”
(QS. al-An'am, 6:1)»

Langit dan bumi, gelap dan terang, bukan sekadar objek yang dilihat mata. Semuanya merupakan bagian dari tanda-tanda yang mengarahkan manusia kepada Allah.

Karena itu, semakin manusia mengenal alam dengan benar, seharusnya semakin terbuka pula kesadarannya terhadap kebesaran Penciptanya.

Hal itu semakin jelas ketika Al-Qur'an membawa manusia mengamati keteraturan yang lebih luas:

«“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.»

«Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya, dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.»

«Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang. (Meskipun) disirami dengan air yang sama, (namun) Kami lebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain dalam rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal.”
(QS. ar-Ra'd, 13:2–4)»

Di sini manusia diarahkan untuk melihat alam sebagai suatu sistem yang teratur. Matahari dan bulan bergerak dalam perjalanan masing-masing. Malam dan siang silih berganti. Bumi membentang, gunung-gunung berdiri, sungai-sungai mengalir, dan berbagai tanaman tumbuh.

Bahkan sesuatu yang tampak sederhana—seperti air yang sama-sama menyirami tanaman—dapat menghasilkan rasa dan karakter yang berbeda.

Maka alam bukan sekadar sesuatu yang berada di luar diri manusia. Ia adalah ruang terbuka untuk berpikir.

Al-Qur'an kemudian membawa manusia lebih dekat lagi kepada berbagai kenikmatan dan mekanisme kehidupan yang mereka jumpai setiap hari:

«“Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuh)nya kamu menggembalakan ternakmu.»

«Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.»

«Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.»

«Dan Dia menundukkan pula apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.»

«Dan Dia-lah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.»

«Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.»

«Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
(QS. an-Nahl, 16:10–17)»

Perhatikan kembali alurnya. Air turun dari langit. Tumbuhan tumbuh. Hewan memperoleh makanan. Manusia memperoleh rezeki. Malam dan siang silih berganti. Matahari, bulan, dan bintang berjalan menurut ketentuan-Nya. Laut dapat dilayari. Dari laut manusia memperoleh makanan dan berbagai manfaat.

Semua itu kemudian ditutup dengan pertanyaan yang sangat mendasar:

“Maka apakah Allah yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa?”

Pertanyaan tersebut mengubah cara manusia memandang alam. Alam tidak lagi sekadar tempat manusia mengambil manfaat. Alam menjadi ayat kauniyah, tanda yang mengarahkan manusia kepada Allah.

Karena itu, Al-Qur'an juga mengajak manusia memperhatikan asal-usul dan keteraturan kehidupan:

«“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?»

«Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.»

«Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.»

«Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”
(QS. al-Anbiya', 21:30–33)»

Ayat ini kembali memperlihatkan bahwa Al-Qur'an tidak memisahkan pengenalan terhadap alam dari pengenalan terhadap Allah.

Manusia diajak melihat langit, bumi, air, kehidupan, gunung, jalan-jalan, malam, siang, matahari, dan bulan. Namun semua pengamatan itu diarahkan kepada satu kesadaran: di balik keteraturan tersebut terdapat kehendak dan kekuasaan Allah.

Karena itu, memahami alam dalam perspektif Islam bukan berarti sekadar mengumpulkan pengetahuan tentang benda-benda yang ada di dalamnya. Pengetahuan itu seharusnya mengantarkan manusia kepada pemahaman tentang hubungan antara alam dan Penciptanya.

Allah berfirman:

«“Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya dan Dia menahan (benda-benda) langit hingga tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”
(QS. al-Hajj, 22:65)»

Di sini muncul dimensi lain dari hubungan manusia dengan alam: ketundukan alam bagi manusia atas izin Allah.

Alam bukan Tuhan yang harus disembah. Alam juga bukan sesuatu yang boleh diperlakukan semaunya. Ia adalah ciptaan Allah yang ditundukkan bagi manusia dalam batas-batas yang telah ditetapkan-Nya.

Maka ketundukan alam kepada manusia bukan alasan untuk berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Justru karena alam merupakan amanah dari Allah, manusia dituntut mengenalinya, memahami hukum-hukumnya, dan memperlakukannya dengan benar.

Al-Qur'an juga mengarahkan perhatian manusia kepada keteraturan air dan kehidupan:

«“Dan sungguh Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami). Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.»

«Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur. Di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebagian dari buah-buahan itu kamu makan.”
(QS. al-Mu'minun, 23:17–19)»

Air turun menurut suatu ukuran. Ia menetap di bumi. Kemudian kehidupan tumbuh darinya.

Apakah manusia tidak seharusnya berhenti sejenak untuk memikirkan keteraturan itu?

Bukankah di balik sesuatu yang begitu biasa—air hujan yang turun dari langit—terdapat rangkaian proses yang memungkinkan kehidupan berlangsung?

Al-Qur'an bahkan mengajak manusia memperhatikan proses terbentuknya hujan:

«“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkannya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya, dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.»

«Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.”
(QS. an-Nur, 24:43–44)»

Yang menarik bukan hanya fenomenanya, tetapi cara Al-Qur'an mengarahkan manusia untuk menyikapinya. Awan bukan hanya untuk dilihat. Hujan bukan hanya untuk dimanfaatkan. Pergantian malam dan siang bukan hanya sesuatu yang berlangsung berulang-ulang.

Semua itu adalah pelajaran bagi orang yang mempunyai penglihatan.

Dengan demikian, penglihatan dalam perspektif Al-Qur'an bukan sekadar kemampuan mata. Mata melihat fenomena, tetapi akal dan fitrah menangkap makna.

Perhatikan pula bagaimana Al-Qur'an mengajak manusia memperhatikan bayang-bayang, malam, tidur, siang, angin, hujan, tanah yang mati, dan kehidupan:

«“Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang; dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu. Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan.»

«Dan Dia-lah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.»

«Dan Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami hidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami beri minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang ternak dan manusia yang banyak.”
(QS. al-Furqan, 25:45–49)»

Di sini alam bahkan menjadi bagian dari ritme kehidupan manusia.

Malam memberi kesempatan untuk beristirahat. Siang membuka ruang untuk berusaha. Angin membawa kabar tentang hujan. Air menghidupkan tanah yang mati. Dari tanah itu manusia, hewan, dan berbagai makhluk memperoleh kehidupan.

Bukankah semua itu menunjukkan bahwa manusia hidup di dalam sebuah sistem yang jauh lebih besar daripada dirinya?

Ia tidak menciptakan siang dan malam. Ia tidak mengatur perjalanan matahari. Ia tidak menciptakan hujan. Ia tidak menentukan dari mana angin datang. Namun ia hidup di antara semua ketetapan tersebut dan memperoleh kehidupan darinya.

Karena itu, kesadaran terhadap alam semestinya melahirkan kesadaran terhadap posisi manusia di dalamnya.

Allah berfirman:

«“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.»

«Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?»

«Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.»

«Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta-merta mereka berada dalam kegelapan.»

«Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.»

«Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang; masing-masing beredar pada garis edarnya.”
(QS. Yasin, 36:33–40)»

Perhatikan penutup bagian pertama ayat tersebut: “Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?”

Di sinilah pengenalan terhadap alam bertemu dengan akhlak.

Manusia melihat bumi yang mati kemudian hidup kembali. Ia melihat tanaman tumbuh, mata air memancar, buah-buahan dapat dimakan, matahari dan bulan berjalan pada ketentuannya. Semua itu bukan hanya pengetahuan untuk disimpan dalam pikiran. Ia seharusnya melahirkan syukur.

Dengan demikian, dalam konsep Islam, ilmu tentang alam tidak berhenti pada mengetahui bagaimana sesuatu berlangsung, tetapi juga mengarahkan manusia untuk bertanya untuk apa pengetahuan itu digunakan dan kepada siapa semua itu akhirnya mengantarkan dirinya.

Al-Qur'an kemudian mengarahkan manusia kepada penciptaan bumi dan langit:

«“Katakanlah: ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam.’»

«Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa sesuai bagi segala yang memerlukannya.»

«Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka rela atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka rela.’»

«Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Fushshilat, 41:9–12)»

Ayat ini kembali membawa manusia dari pengamatan terhadap ciptaan menuju pengenalan terhadap Sang Pencipta.

Bumi memiliki ketentuan. Langit memiliki ketentuan. Masing-masing berjalan dalam tatanan yang telah ditetapkan Allah.

Maka semakin manusia mengenal keteraturan alam, semakin ia seharusnya menyadari bahwa alam bukan sesuatu yang berjalan tanpa hukum dan tanpa arah.

Dan akhirnya Al-Qur'an mengajak manusia menatap langit dan bumi dengan pandangan yang lebih dalam:

«“Maka apakah mereka tidak melihat langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun?»

«Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pengajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).»

«Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.”
(QS. Qaf, 50:6–11)»

Sekali lagi, manusia diajak melihat.

Namun melihat saja tidak cukup.

Ia harus memperhatikan, memikirkan, memahami, dan mengambil pelajaran. Langit yang tinggi, bumi yang terbentang, gunung-gunung, tumbuh-tumbuhan, air yang turun dari langit, dan tanah yang kembali hidup setelah mati—semuanya berada dalam satu rangkaian tanda.

Bahkan kehidupan tumbuhan setelah turunnya hujan dijadikan perumpamaan bagi kebangkitan manusia.

Dengan demikian, alam dalam konsep Islam bukan sekadar objek penelitian, dan bukan pula sekadar sumber pemenuhan kebutuhan manusia. Alam adalah ayat Allah yang terbentang.

Manusia diperintahkan untuk membacanya dengan mata, memahaminya dengan akal, merasakannya dengan fitrah, dan memperlakukannya dengan amanah.

Di sinilah hubungan antara wahyu dan alam menjadi jelas. Wahyu membimbing manusia membaca alam, sedangkan alam menghadirkan tanda-tanda yang dapat direnungkan manusia. Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Alam mengajarkan manusia tentang keteraturan. Wahyu mengajarkan manusia bagaimana memahami keteraturan itu dan bagaimana menempatkan dirinya di dalamnya.

Karena itu, mengenal alam dalam perspektif Islam pada akhirnya bukan hanya persoalan mengetahui alam, tetapi juga persoalan mengenal diri, mengenal batas diri, dan mengenal Pencipta alam.

Manusia boleh menjelajahi rahasia-rahasia alam sejauh kemampuan akalnya. Ia boleh meneliti hukum-hukumnya, memahami mekanismenya, memanfaatkan sumber dayanya, dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang lahir darinya.

Namun semakin luas pengetahuannya, semakin dalam pula seharusnya kesadarannya bahwa ia hidup di dalam tatanan yang bukan ciptaannya sendiri.

Di situlah pengetahuan berubah menjadi pengenalan, pengenalan melahirkan kesadaran, kesadaran melahirkan syukur, dan syukur mengarahkan manusia untuk berinteraksi dengan alam secara benar.

Alam tidak hanya untuk ditaklukkan. Ia untuk dibaca.
Tidak hanya untuk dimanfaatkan. Ia untuk dipahami.
Tidak hanya untuk diteliti. Ia untuk direnungkan.

Sebab di balik setiap keteraturan yang terbentang di hadapan mata, Al-Qur'an mengajak manusia menemukan tanda-tanda kebesaran Allah.

Alangkah baiknya jika kita mau berhenti sejenak dan berp...



Alangkah baiknya jika kita mau berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam. Bukan sekadar memikirkan apa yang sedang terjadi di hadapan kita, tetapi juga mencoba memahami bagaimana orang lain memikirkan apa yang ingin mereka capai.

Zionisme kita, misalnya, telah menetapkan tujuan mereka sejak awal dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Mereka menggariskan sarana yang harus ditempuh, memprogram tahapan-tahapan yang mesti dicapai, mempelajari berbagai kendala yang mungkin dihadapi dan cara mengatasinya, serta meneliti faktor-faktor yang dapat mendukung usaha mereka dan bagaimana memanfaatkannya sebaik-baiknya.

Mereka tahu bahwa mereka menginginkan sesuatu yang penting. Karena itu, mereka mau memikirkannya secara serius, sabar, dan terarah. Mereka tidak hanya memikirkan tujuan, tetapi juga jalan yang harus ditempuh untuk mencapainya.

Di sinilah kita patut bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita memikirkan persoalan kita dengan kesungguhan yang sama?

Mereka mengetahui bahwa orang-orang Yahudi telah lama tercerai-berai di berbagai negara tanpa suatu pengikat yang cukup kuat untuk menyatukan mereka, baik bahasa, ras, maupun nasionalisme. Mereka tersebar di tengah berbagai bangsa yang menggunakan bahasa berbeda, memiliki ras berbeda, dan hidup dalam kebangsaan yang berbeda-beda pula.

Di tengah keadaan seperti itu, mereka melihat bahwa Yudaisme merupakan salah satu unsur yang dapat menjadi pengikat. Karena itu, semangat keagamaan di dalam jiwa mereka perlu dibangkitkan. Semangat tersebut diharapkan menjadi landasan yang mampu menghimpun mereka kembali sekaligus menjadi motif yang mendorong mereka untuk merealisasikan tujuan yang mereka pandang sejalan dengan tujuan agama mereka.

Itulah makna ucapan Herzl:

«“Kembali kita ke Zion ini haruslah didahului oleh kembali kita kepada Yudaisme.”»

Apa yang menarik untuk direnungkan dari semua itu bukan semata-mata hasil akhirnya, melainkan kesungguhan mereka dalam membaca keadaan, menetapkan tujuan, dan menyusun langkah untuk mencapainya.

Musuh yang licik, demikian pandangan penulis, tentu menyadari bahwa ia menghadapi suatu umat yang menegakkan dirinya di atas landasan agama. Jika umat tersebut berhasil menggerakkan dirinya berdasarkan agama dan berada di bawah panji keyakinannya, maka akan lahir kekuatan yang besar.

Karena itu, mereka berusaha mengerahkan para cendekiawan, murid-murid mereka, dan berbagai kekuatan yang dimiliki untuk meruntuhkan asas yang menjadi pijakan lawannya, yakni kaum Muslimin dan usaha mereka untuk kembali kepada agamanya.

Dari sinilah kemudian orang-orang Zionis, menurut uraian ini, melancarkan usaha dalam dua medan. Pertama, medan negatif, yaitu memerangi esensi diri kita dan melemahkan umat kita. Kedua, medan positif, yaitu membangun diri mereka sendiri, baik secara moral maupun spiritual, sekalipun jumlah mereka kecil dan kondisi geografis serta strategis mereka tidak selalu menguntungkan.

Lantas, bagaimana dengan kita?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika kita melihat kembali perjalanan sejarah kita sendiri.

KITA YANG TERLALU LAMBAT BERPIKIR

Ternyata, selama ini kita begitu lengah dan lalai sehingga timbullah petaka yang menyakitkan pada tahun 1948. Sesudah kekalahan pertama itu, persoalan Palestina berubah menjadi komoditas yang sangat laris diperbincangkan di pasar-pasar negeri Arab dan di ruang pikiran para pemimpin serta tokoh politik yang hendak memanfaatkannya untuk kepentingan masing-masing.

Kemudian lahirlah petaka kedua pada tahun 1967.

Berbagai aliran politik di dunia memanfaatkan persoalan Palestina sebagai kesempatan untuk memperluas pengaruhnya. Sementara itu, orang-orang yang tulus berjuang memang terus berusaha melakukan penyelamatan. Namun, sebagian besar usaha itu ditempuh melalui lawatan, pertemuan, dan kegiatan diplomatis.

Tentu saja semua itu memiliki tempatnya sendiri. Akan tetapi, persoalannya adalah: apakah kita telah mengerahkan seluruh kekuatan intelektual kita untuk memahami persoalan tersebut secara mendalam?

Inilah yang perlu kita pikirkan.

Yang kita inginkan sekarang adalah mendorong kaum intelektual untuk memainkan peranan mereka dalam persoalan yang kita hadapi. Bukan sekadar hilir-mudik ke berbagai negeri, bukan sekadar hadir dalam pertemuan para diplomat, bukan pula terjebak dalam demagogi politik atau perdebatan internal yang pada akhirnya hanya menguras tenaga.

Kita membutuhkan pemikiran yang mampu melihat persoalan secara lebih dalam, lebih jernih, dan lebih jauh.

Karena itu, pertanyaan berikutnya adalah: pemikiran seperti apa yang harus kita kembangkan?

PEMIKIRAN YANG MESTI KITA KEMBANGKAN

Pemikiran yang harus kita kembangkan adalah pemikiran yang bebas, murni, berani, dan praktis.

Keempat sifat tersebut tampaknya berbeda, tetapi pada hakikatnya saling berkaitan. Pemikiran yang bebas membutuhkan kemurnian. Pemikiran yang murni membutuhkan keberanian. Dan keberanian itu harus berujung pada sikap praktis yang berpijak pada kenyataan.

Pemikiran yang bebas

Yang saya maksudkan dengan pemikiran bebas ialah pemikiran yang tidak mau berkompromi terhadap berbagai tekanan, tidak rela terhadap usaha “dagang sapi”, dan tidak bersedia menukarnya dengan kekayaan apa pun.

Kebebasan berpikir bukan berarti bebas dari nilai. Sebaliknya, ia berarti mampu berpikir tanpa diperbudak oleh tekanan, kepentingan, atau kekaguman kepada sesuatu yang datang dari luar.

Salah satu tanda pemikiran yang bebas adalah bahwa ia merupakan pemikiran yang murni.

Yang saya maksudkan dengan pemikiran murni adalah pemikiran yang bersumber dari pendidikan dan aspirasi umat kita, bukan pemikiran yang dibentuk oleh sistem yang diselundupkan ke dalam diri mereka atau yang sama sekali asing dengan aspirasi mereka.

Pemikiran yang datang dari negeri-negeri asing tidak dengan sendirinya memperkaya umat kita. Setiap pemikiran yang asing bagi jiwa, akidah, dan warisan kaum Muslimin, menurut gambaran penulis, ibarat darah yang berbeda golongan yang ditransfusikan ke dalam tubuh kita. Percampuran darah yang berbeda itu tidak otomatis membuat tubuh yang sakit menjadi sehat; bahkan, apabila tidak sesuai, justru dapat membahayakannya.

Namun, apakah ini berarti kita harus menutup jendela negeri kita dari dunia luar?

Tidak.

Kita tetap harus membuka jendela itu. Kita perlu mengetahui apa yang berkembang di dunia, mempelajari pemikiran-pemikiran yang muncul, dan memahami pengalaman bangsa-bangsa lain. Tetapi kita harus melakukannya dengan kesadaran tentang siapa diri kita.

Pemikiran yang kita kembangkan hendaknya sesuai dengan watak, warisan, dan kepribadian kita, tanpa mempersempit pandangan hanya pada satu kutub pemikiran dan tanpa kehilangan akar asli kita.

Kita harus bersikap bebas dan merdeka terhadap berbagai pemikiran yang ada, bukan menjadi hamba bagi pemikiran-pemikiran tersebut.

Kita harus bersikap seperti orang kaya, bukan seperti peminta-minta.

Kita adalah umat yang memiliki tujuan, risalah, dan sejarah tersendiri. Karena itu, kita tidak boleh menyerahkan begitu saja kepribadian kita kepada siapa pun untuk dikuliti, lalu digantikan dengan pemikiran dan akidah yang berasal dari luar.

Kita tidak mungkin benar-benar membebaskan diri jika jiwa dan alam pikiran kita sendiri masih terbelenggu.

Di sinilah persoalan menjadi semakin serius. Ketika kita menghadapi pertarungan dengan orang-orang Yahudi, kita justru menemukan sebagian orang yang mengekor pada pemikiran tokoh-tokoh Yahudi dalam bidang psikologi, sosiologi, ekonomi, dan berbagai bidang lainnya. Setiap kali mengemukakan sesuatu, rujukan mereka adalah nama-nama asing yang telah demikian terkenal.¹

1) Murid-murid Freud, Marx, dan Durkheim tidaklah sedikit jumlahnya di negeri kita. Menurut penulis, tokoh-tokoh tersebut memainkan peranan penting dalam meruntuhkan nilai-nilai luhur umum Islam dalam berbagai aspek: Freud dalam bidang psikologi, Marx dalam bidang ekonomi, dan Durkheim dalam bidang sosiologi.

Di sini kita perlu membedakan antara mempelajari suatu pemikiran dan menjadikannya sebagai sumber orientasi utama. Yang pertama menuntut keterbukaan; yang kedua menuntut kesadaran kritis.

Karena itu, menjadi bebas bukan berarti menolak semua yang datang dari luar. Bebas berarti mampu mengambil, menilai, dan menggunakan tanpa kehilangan jati diri.

Kesatuan sumber inspirasi

Pada fase sejarah yang kita lalui, menurut penulis, menjadi suatu keharusan untuk menyatukan sumber inspirasi pemikiran kita. Kesatuan pola pikir dipandang sebagai salah satu syarat bagi keberhasilan kita di berbagai bidang dan perjuangan.

Sebaliknya, beraneka-ragamnya sumber inspirasi dapat menyebabkan umat terpecah apabila tidak memiliki landasan bersama. Masing-masing aliran kemudian berjalan dengan tujuan dan orientasinya sendiri-sendiri.

Allah berfirman:

«“Dan janganlah kamu ikuti jalan-jalan yang tercerai-berai dan menyimpang itu, sebab dengan begitu kalian akan menyimpang dari jalan-Nya.”»

Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa persoalan kesatuan bukan hanya persoalan organisasi atau struktur. Ia juga menyangkut arah berpikir.

Sebuah umat mungkin memiliki jumlah yang besar, sumber daya yang melimpah, dan orang-orang terdidik yang banyak, tetapi jika mereka tidak memiliki orientasi yang sama, kekuatan tersebut dapat berjalan ke berbagai arah.

Pemikiran yang berani

Selanjutnya, yang saya maksudkan dengan pemikiran yang berani adalah pemikiran yang tidak gentar menghadapi “dewa-dewa” pemikiran yang disanjung oleh banyak orang.

Ia tidak takut memeriksa kembali berbagai berhala pemikiran, mitos, dan sanjung-puji yang mengitarinya.

Pemikiran yang berani tidak takut menghadapi kritik. Bahkan, ia bersedia melakukan otokritik dan tidak malu mengakui kesalahan apabila memang terbukti demikian.

Sikap kita adalah bahwa yang tidak pernah salah hanyalah Allah. Karena itu, kembali kepada kebenaran jauh lebih baik daripada terus-menerus mempertahankan kesalahan.

Keberanian berpikir, dengan demikian, bukan keberanian untuk selalu merasa benar. Justru sebaliknya. Keberanian berpikir adalah keberanian untuk mengatakan, “Saya mungkin salah, dan karena itu saya harus bersedia mencari kebenaran.”

Pemikiran yang berani juga tidak mudah terpedaya, bimbang, atau tersugesti. Tugasnya bukan untuk sekadar terpengaruh atau terkagum-kagum, tetapi untuk menjelaskan dan mengungkapkan sesuatu.

Ia tidak terombang-ambing oleh bunyi tambur, teriakan orang-orang yang kagum, atau cacian orang-orang yang menentangnya. Perhatiannya tetap tertuju pada inti persoalan.

Dalam batas-batas kemampuan manusia, ia berusaha menyelami apa yang ada di balik riak-riak kecil di permukaan. Ia berusaha menangkap arus besar yang menyebabkan riak-riak itu muncul dan menyingkap tabir yang menyelimutinya.

Dengan kata lain, ia tidak berhenti pada gejala. Ia berusaha mencari sebab.

Pemikiran yang praktis

Selanjutnya, yang saya maksudkan dengan pemikiran praktis adalah pemikiran yang memahami watak umat, nilai-nilai yang mereka anut, dan kepribadian asli mereka.

Pemikiran semacam ini tidak hidup di atas awan. Ia tidak berhenti pada gagasan yang indah, tetapi berusaha menyelami kenyataan.

Ia bergerak dari gejolak yang tampak di permukaan menuju jiwa umat yang berakar pada akidah, sejarah, dan warisan mereka. Setelah itu, ia menetapkan langkah berdasarkan kenyataan dan data empiris yang ada.

Pemikiran yang menutup mata terhadap kenyataan di tengah-tengah umat dan mengambang di udara adalah pemikiran yang berbahaya.

Di sinilah kita menemukan hubungan antara pemikiran dan realitas. Pemikiran yang benar tidak hanya bertanya, “Apa yang seharusnya terjadi?” tetapi juga, “Siapa umat yang sedang kita ajak bergerak, bagaimana keadaan mereka, apa yang mereka yakini, dan bagaimana potensi itu dapat diaktualisasikan?”

IMAN SEBAGAI KEKUATAN YANG ADA

Dengan demikian, posisi agama bagi umat seperti kita merupakan tiang utama bagi tegaknya kepribadian umat, sumber inspirasi bagi pemikiran mereka, dan pemberi arah bagi kesadaran mereka.

Pemikiran yang murni bukan pemikiran yang melarikan diri dari kenyataan. Sebaliknya, ia menangani kenyataan yang ada, lalu menggunakannya untuk menghadapi persoalan, membentuk kondisi, dan menciptakan situasi yang diperlukan.

Dalam mengemukakan uraian ini, saya tidak berdiri semata-mata dalam posisi orang yang membangun argumentasi berdasarkan keyakinan yang diimani umat Islam. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh potensi umat dapat dikerahkan untuk menghadapi persoalan besar yang mereka hadapi.

Di antara potensi itu terdapat potensi spiritual yang tidak boleh diabaikan.

Keimanan merupakan salah satu sumber kekuatan spiritual tersebut. Lantas, bagaimana mungkin seorang intelektual mengabaikan potensi yang demikian besar dalam diri umat dan menutup mata terhadap keimanan mereka kepada agama dan Tuhan mereka hanya karena ingin disebut sebagai intelektual modern?

Bukankah tugas seorang intelektual justru membaca kenyataan yang ada, termasuk kenyataan spiritual yang hidup dalam diri masyarakat?

Keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, dan hari kemudian merupakan kenyataan yang hidup di tengah-tengah umat Islam. Keyakinan tersebut memengaruhi pemikiran, motif, dan perilaku mereka. Ia juga berkaitan dengan potensi iradah dan pendidikan yang mereka terima.

Karena itu, seorang intelektual perlu turun dan berpijak pada kenyataan tersebut. Ia harus berbicara kepada umat sesuai dengan tingkat pemikiran mereka, mengarahkan tujuan mereka, dan mengaktualisasikan potensi terpendam yang mereka miliki sesuai dengan kemampuannya.

Di sinilah agama tidak cukup dipahami hanya sebagai sesuatu yang berada di dalam ruang ibadah individual. Dalam kehidupan umat, agama juga menjadi bagian dari struktur kesadaran, sumber orientasi, dan kekuatan yang membentuk perilaku.

PENGAMATAN GUSTAV LE BON

Gustav Le Bon mengatakan dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul Hadharat al-'Arab:

«“Pengaruh agama yang dibawa oleh Muhammad dalam jiwa, jauh lebih besar tinimbang pengaruh yang bisa ditanamkan oleh agama-agama lain mana pun, dan sekian banyak bangsa yang berbeda yang menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuknya, tetap melaksanakan hukum-hukumnya seperti yang pernah ada pada tiga belas abad yang lalu.»

«Memang benar bahwa di kalangan kaum Muslimin bisa ditemukan adanya sejumlah kecil orang-orang zindik, akan tetapi Anda tidak akan melihat adanya seorang Muslim yang dalam kondisi di mana ajaran-ajaran Islam tidak ditetapkan berani melanggar larangan-larangan Islam, semisal meninggalkan salat di masjid dan puasa Ramadan yang dilaksanakan hukumnya oleh seluruh kaum Muslimin, sekalipun dalam hukum itu terlihat adanya hal-hal yang cukup berat yang tidak ditemui dalam perintah puasa empat puluh hari yang dilaksanakan oleh kaum Nasrani.»

«Hal seperti itu saya temukan di banyak negara di Asia dan Afrika yang pernah saya kunjungi, di antaranya ketika saya berkesempatan melayari Sungai Nil. Dalam perahu yang saya tumpangi itu terdapat sekelompok orang yang diborgol karena tuduhan telah melakukan berbagai kejahatan. Saya betul-betul kagum melihat mereka. Orang-orang itu adalah manusia-manusia yang menginjak-injak berbagai larangan sosial dan meremehkan sanksi yang paling berat sekalipun, tetapi ternyata mereka tidak berani sama sekali melanggar ajaran-ajaran Nabi mereka. Ketika waktu salat tiba, saya saksikan borgol-borgol itu dibuka agar mereka bisa sujud kepada Tuhan mereka Yang Maha Perkasa.»

«Bagi orang-orang yang ingin memahami hakikat bangsa-bangsa Timur yang tidak diketahui persoalannya oleh orang-orang Eropa kecuali sebagian kecil saja, hendaknya mereka menggambarkan bagaimana besarnya kekuasaan agama atas para pemeluknya dibandingkan dengan pengaruh yang amat dangkal yang ditanamkan oleh agama kita. Agama begitu berpengaruh dalam diri mereka. Kalaulah tidak karena agama itu, niscaya penduduk Mesir tidak akan terjun dalam kancah revolusi modern yang mereka lumuri dengan darah mereka itu.»

«Setiap orang yang menyuruh orang Arab dengan mengatasnamakan Allah, tak bisa tidak, pasti akan ditaati sepanjang mereka itu tahu bahwa orang tersebut betul-betul berbicara atas nama Allah. Adalah wajib bagi seorang pembangkang atau ateis untuk menghormati keimanan mereka yang amat mendalam tersebut, yang mampu menggerakkan bangsa Arab untuk menaklukkan dunia pada masa lalu. Dan sekarang ini, mereka memang harus sabar menghadapi nasib yang sedang mereka hadapi.”»

Apa yang dikemukakan di atas merupakan pandangan seorang pengamat asing mengenai watak umat Islam dan besarnya pengaruh agama dalam kehidupan mereka.

Terlepas dari bagaimana kita menilai seluruh kesimpulan Le Bon, ada satu hal yang patut direnungkan: kekuatan sebuah umat tidak hanya terletak pada apa yang tampak di permukaan, tetapi juga pada keyakinan yang hidup di dalam jiwa mereka.

Jika seorang intelektual ingin memahami umat, ia tidak cukup hanya mempelajari struktur politik, ekonomi, atau sosial mereka. Ia juga harus memahami apa yang mereka yakini, apa yang mereka cintai, apa yang mereka harapkan, dan kepada siapa mereka menggantungkan makna kehidupannya.

Karena itu, bagi siapa saja yang ingin membangkitkan potensi kepahlawanan umat dan mengaktualisasikan kekuatan yang mereka miliki, menurut uraian ini, ia harus berbicara kepada mereka dengan nama Allah, memimpin mereka dengan kendali iman, dan bergerak di bawah panji tauhid.

Sebab, ketika sebuah gagasan bertemu dengan keyakinan yang hidup di dalam jiwa, gagasan itu tidak lagi berhenti sebagai wacana. Ia dapat berubah menjadi kesadaran, kesadaran dapat melahirkan kehendak, dan kehendak dapat melahirkan tindakan.

Di situlah persoalan kita sebenarnya bermula.

Bukan semata-mata pada apa yang kita miliki atau tidak kita miliki, tetapi pada apa yang kita pikirkan, bagaimana kita berpikir, dari mana kita mengambil inspirasi, dan apakah kita mampu mengubah keyakinan yang hidup di dalam diri menjadi kesadaran dan amal yang nyata.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (65) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (33) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (4) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (120) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (319) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (766) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (17) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (250) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)