basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Israel Akan Hancur oleh Perang yang Diciptakannya Sendiri Dalam sejarah geopolitik, tidak sedikit negara yang runtuh bukan karen...


Israel Akan Hancur oleh Perang yang Diciptakannya Sendiri


Dalam sejarah geopolitik, tidak sedikit negara yang runtuh bukan karena musuhnya terlalu kuat, tetapi karena perang yang mereka ciptakan sendiri menjadi terlalu banyak. Dalam beberapa tahun terakhir, Israel tampak bergerak ke arah itu: membuka terlalu banyak front sekaligus di Timur Tengah.

Serangan terhadap Iran, operasi militer berulang di Gaza dan Tepi Barat, konflik dengan Lebanon, hingga ketegangan dengan Suriah membentuk satu pola: perang yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Perang Melawan Iran: Membuka Seluruh Front Timur Tengah

Ketika Israel dan Amerika Serikat meluncurkan serangan besar terhadap Iran pada Februari 2026, konflik langsung melebar ke seluruh kawasan. Iran membalas dengan ratusan rudal dan drone ke wilayah Israel dan pangkalan Amerika di kawasan. 

Namun yang lebih penting adalah jaringan sekutu Iran di kawasan—yang sering disebut sebagai Axis of Resistance. Kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak, Lebanon, dan Yaman mulai mengancam akan memperluas konflik. 

Milisi Syiah di Irak bahkan mengancam menyerang pangkalan Amerika, sementara kelompok Houthi di Yaman juga memperingatkan akan melakukan serangan terhadap kepentingan Barat. 

Artinya, menyerang Iran tidak hanya berarti perang dengan satu negara. Ia berpotensi membuka konflik simultan di banyak medan: Teluk Persia, Irak, Lebanon, Laut Merah, hingga wilayah Israel sendiri.

Lebanon: Menghidupkan Kembali Semangat Perlawanan

Front paling berbahaya bagi Israel selama ini adalah Lebanon.

Ketika Israel menyerang target Iran, kelompok Hezbollah di Lebanon mulai meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel sebagai balasan atas serangan tersebut. 

Setiap eskalasi di Lebanon selalu membawa risiko perang regional. Lebanon memiliki sejarah panjang perlawanan terhadap invasi Israel sejak perang 1982 hingga konflik 2006. Serangan Israel sering kali tidak memadamkan perlawanan—justru menghidupkannya kembali.

Bagi banyak warga Lebanon, konflik dengan Israel tidak sekadar pertarungan militer, tetapi soal identitas nasional dan kedaulatan.

Gaza dan Tepi Barat: Pabrik Perlawanan Baru

Di wilayah Palestina, perang yang terus berlangsung juga menciptakan dinamika serupa.

Setiap operasi militer di Gaza dan Tepi Barat menimbulkan korban sipil, kehancuran infrastruktur, dan trauma kolektif. Dalam banyak konflik asimetris, kondisi seperti ini sering menjadi bahan bakar bagi lahirnya generasi perlawanan baru.

Banyak analis keamanan Barat sendiri mengakui bahwa operasi militer jangka panjang jarang menghilangkan gerakan perlawanan. Yang sering terjadi justru regenerasi—tokoh lama gugur, tokoh baru muncul.

Dengan kata lain, perang yang dimaksudkan untuk menghancurkan perlawanan kadang justru memperpanjangnya.

Suriah: Mengingatkan Tetangga Akan Ancaman Ekspansi

Di utara, Suriah juga menjadi medan konflik yang terus berulang. Israel secara berkala melakukan serangan udara di wilayah Suriah, termasuk di Damaskus dan kawasan militer lainnya. 

Pada saat yang sama, Israel terus mempertahankan kontrol atas Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang dianeksasi sejak 1981. Pemerintah Israel bahkan berencana memperluas permukiman di wilayah tersebut. 

Bagi Suriah dan banyak negara Arab, situasi ini memperkuat persepsi bahwa Israel adalah tetangga yang siap memperluas wilayahnya jika kesempatan muncul.

Negara yang Terus Berperang

Pertanyaan yang kemudian muncul sederhana namun fundamental:

Apakah negara yang terus-menerus hidup dalam perang dapat menjadi negara yang benar-benar stabil dan maju?

Sejarah menunjukkan bahwa perang panjang sering menguras ekonomi, memecah masyarakat, dan menempatkan negara dalam kondisi darurat permanen.

Hari ini, Israel mungkin masih memiliki keunggulan militer dan teknologi. Namun ketika konflik dibuka di banyak front sekaligus—Iran, Lebanon, Gaza, Suriah, dan jaringan milisi regional—perang tidak lagi menjadi operasi militer terbatas. Ia berubah menjadi perang ketahanan.

Dan dalam perang ketahanan, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang mampu bertahan paling lama.

Pada Akhirnya, Netanyahu Akan Berperang Sendirian Seperti Yahudi Madinah Perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran tidak...


Pada Akhirnya, Netanyahu Akan Berperang Sendirian Seperti Yahudi Madinah


Perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran tidak terjadi secara kebetulan. Ia bukan kecelakaan sejarah, melainkan hasil dari empat pendorong utama: retorika politik, kesalahan perhitungan strategis, kesombongan kepemimpinan, dan perbedaan waktu strategis antara dua sekutu yang tampak sejalan. Kombinasi keempat faktor ini membentuk perang yang sejak awal telah membawa benih kegagalan.

1. Retorika: Perang yang Diciptakan oleh Narasi

Perang modern sering kali tidak dimulai dengan deklarasi resmi, tetapi dengan narasi yang diproduksi terus-menerus. Dalam kasus ini, retorika politik menjadi alat utama. Selama berbulan-bulan, Iran digambarkan sebagai ancaman eksistensial yang hampir memiliki senjata nuklir.

Publik Amerika dan Israel diarahkan pada pilihan yang tampak sederhana: menyerang sekarang atau menghadapi kehancuran di masa depan. Pernyataan bahwa Iran “hanya satu minggu lagi” dari kemampuan nuklir militer menjadi alat mobilisasi psikologis.

Donald Trump bahkan menggambarkan perang sebagai operasi cepat dan mudah. Dalam berbagai pernyataan publik, ia menyebut kemenangan telah diraih bahkan sebelum perang benar-benar selesai. Narasi kemenangan cepat ini bukanlah laporan intelijen, melainkan pertunjukan politik.

Dalam politik modern, citra sering kali menggantikan realitas. Publik tidak selalu diberi informasi yang utuh; mereka lebih sering diberi cerita yang dirancang untuk membangun dukungan.

2. Kesalahan Perhitungan: Ilusi Perang Singkat

Sejarah mengenal istilah kemenangan Pyrrhic—kemenangan yang begitu mahal sehingga hampir sama dengan kekalahan. Semangat peringatan ini tampak membayangi perang terhadap Iran.

Trump dan Netanyahu mempresentasikan operasi militer sebagai serangan singkat yang akan melumpuhkan kepemimpinan Iran, menghancurkan kemampuan militernya, dan memicu pemberontakan rakyat Iran terhadap pemerintahnya.

Namun asumsi tersebut terbukti rapuh. Iran tahun 2026 bukanlah Irak tahun 2003. Negara itu memiliki jaringan militer regional, kemampuan rudal, serta strategi perang asimetris yang telah dikembangkan selama puluhan tahun.

Banyak analis militer sebenarnya telah memperingatkan risiko konflik berkepanjangan. Tetapi dalam banyak kasus, pertimbangan profesional sering kali kalah oleh kebutuhan politik. Ketika keputusan strategis dibuat demi kepentingan citra kepemimpinan, kesalahan perhitungan menjadi hampir tak terhindarkan.

3. Kesombongan: Bahaya Hubris Kekuasaan

Bangsa Yunani kuno memiliki istilah hubris, yaitu kesombongan berlebihan yang sering membawa kehancuran. Dalam banyak perang sepanjang sejarah, kesombongan para pemimpin sering menjadi faktor penentu.

Baik Trump maupun Netanyahu dikenal memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi terhadap kemampuan mereka sendiri. Keduanya sering menggambarkan diri sebagai pemimpin yang mampu melihat strategi besar yang tidak dipahami oleh orang lain.

Hubungan pribadi mereka memperkuat dinamika ini. Netanyahu memahami bagaimana memuji dan mendorong ego politik Trump. Sebaliknya, Trump menikmati citra sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan besar.

Situasi domestik juga menambah tekanan. Netanyahu menghadapi berbagai persoalan hukum dan politik di dalam negeri. Dalam sejarah, perang sering menjadi alat untuk mengalihkan perhatian publik dan membangun kembali legitimasi politik.

Namun strategi seperti ini selalu membawa risiko besar: perang yang dimulai sebagai alat politik dapat berubah menjadi krisis yang tak terkendali.

4. Dua Jam yang Berbeda: Konflik Waktu Strategis

Faktor paling penting mungkin justru perbedaan cara kedua pemimpin memandang waktu.

Bagi Trump, kebijakan luar negeri sering diperlakukan seperti perlombaan sprint: cepat, dramatis, dan menghasilkan deklarasi kemenangan. Pemilih Amerika yang lelah dengan perang panjang cenderung menyukai hasil yang cepat.

Sebaliknya, Netanyahu melihat konflik dengan Iran sebagai proyek strategis jangka panjang—bahkan obsesi politik yang telah ia bangun selama puluhan tahun. Ia memahami bahwa Israel tidak dapat menghadapi Iran sendirian, sehingga keterlibatan militer Amerika menjadi kebutuhan vital.

Masalahnya, kedua strategi ini tidak berjalan pada jam yang sama. Jika Amerika menginginkan kemenangan cepat dan kemudian menarik diri, Israel berpotensi menghadapi perang gesekan yang panjang tanpa dukungan penuh sekutunya.

Pelajaran Sejarah

Dalam sejarah Timur Tengah, situasi semacam ini bukan hal baru. Sekutu besar sering datang dengan janji dukungan penuh, tetapi ketika kepentingan domestik berubah, mereka dapat pergi dengan cepat.

Jika itu terjadi, Israel mungkin akan menghadapi konflik regional sendirian—sebuah situasi yang secara ironis mengingatkan pada pengalaman komunitas Yahudi di Madinah pada masa awal Islam. Ketika aliansi politik runtuh, mereka kehilangan dukungan dan akhirnya harus menghadapi konsekuensi dari konflik yang mereka dorong sendiri.

Seperti pepatah Persia kuno: pedang mungkin tajam, tetapi waktu jauh lebih tajam. Dalam perang yang panjang, bukan retorika yang menentukan hasil akhir, melainkan daya tahan strategi. Dan di medan inilah sejarah sering memberikan kejutan yang tidak diharapkan oleh para pemimpinnya.

Apakah Israel Menjadi Beban Strategis bagi Amerika Serikat? Dunia saat ini bergerak menuju era multipolar , sebuah fase ketika ...



Apakah Israel Menjadi Beban Strategis bagi Amerika Serikat?

Dunia saat ini bergerak menuju era multipolar, sebuah fase ketika dominasi tunggal Amerika Serikat mulai bergeser menuju distribusi kekuatan global yang lebih luas. Kebangkitan ekonomi dan teknologi Tiongkok, ketegasan militer Rusia dalam perang Ukraina, serta ekspansi blok BRICS menandai perubahan besar dalam struktur kekuasaan internasional.

Di tengah transformasi ini, Washington berusaha mempertahankan supremasinya melalui berbagai kebijakan agresif—mulai dari tarif ekonomi, tekanan terhadap sekutu, hingga keterlibatan militer di berbagai kawasan. Namun pertanyaan strategis muncul: apakah keterikatan Amerika dengan Israel justru menjadi beban dalam persaingan global tersebut?

Perang Iran dan Agenda Israel

Konflik terbaru dengan Iran memperlihatkan dinamika yang menarik. Banyak analis melihat bahwa perang ini pada dasarnya diprakarsai oleh pemerintah Benjamin Netanyahu, yang melihat momentum geopolitik setelah perang Gaza dan melemahnya Hezbollah di Lebanon. Tujuan strategis Israel adalah menetralkan Iran sebagai kekuatan regional sekaligus membentuk kembali lanskap Timur Tengah.

Namun bagi Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump, perang ini tidak memiliki legitimasi domestik yang kuat. Survei publik menunjukkan mayoritas warga Amerika menolak keterlibatan militer baru di Timur Tengah tanpa persetujuan Kongres. Bahkan sebagian pendukung gerakan “Make America Great Again” mempertanyakan manfaat strategis konflik ini, mengingat janji Trump untuk menghindari perang baru.

Menguras Fokus Strategis Amerika

Sejak pemerintahan Barack Obama, Washington sebenarnya telah merancang strategi “Pivot to Asia”—yaitu mengalihkan fokus militer dan diplomatik dari Timur Tengah ke kawasan Indo-Pasifik untuk menghadapi kebangkitan Tiongkok. Namun konflik berulang di Timur Tengah, khususnya yang terkait dengan keamanan Israel, terus menarik kembali perhatian dan sumber daya Amerika.

Akibatnya, fokus strategis yang seharusnya diarahkan untuk menghadapi pesaing utama seperti China dan Russia justru tersedot oleh konflik regional yang berkepanjangan.

Risiko Perubahan Rezim Iran

Salah satu tujuan yang sering dikemukakan dalam perang ini adalah menggulingkan rezim Iran. Namun berbagai lembaga pemikir Amerika memperingatkan bahwa skenario tersebut sangat berbahaya.

Lembaga seperti Brookings Institution, Council on Foreign Relations, dan RAND Corporation menilai bahwa runtuhnya pemerintahan Iran tanpa transisi politik yang jelas berpotensi menciptakan kekacauan regional. Ketidakstabilan tersebut dapat memicu konflik lintas batas, separatisme, gangguan perdagangan energi, serta ancaman keamanan yang lebih luas bagi kepentingan Amerika sendiri.

Strategi Eskalasi Iran

Sementara itu, Iran memilih strategi “eskalasi horizontal”, yaitu memperluas konflik secara geografis untuk meningkatkan biaya politik dan ekonomi bagi lawan. Target potensial mencakup pangkalan militer Amerika di negara-negara Teluk.

Strategi ini menimbulkan dilema baru bagi sekutu Washington di kawasan. Negara-negara Teluk yang selama ini menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika mulai mempertimbangkan diversifikasi sistem keamanan mereka agar tidak terseret ke dalam konflik besar.

Keraguan Sekutu Barat

Keraguan juga muncul di kalangan sekutu Barat. Inggris membatasi keterlibatannya dalam konflik, sementara negara-negara Eropa lain memilih peran defensif atau bahkan menolak berpartisipasi. Penolakan publik di berbagai negara Eropa menunjukkan meningkatnya jarak antara kepentingan strategis Amerika dan opini masyarakat sekutunya.

Pada saat yang sama, krisis energi akibat perang Ukraina membuat Eropa semakin sensitif terhadap potensi konflik baru di Timur Tengah.

Beban Strategis yang Semakin Nyata

Dalam konteks perubahan geopolitik global, perlindungan tanpa syarat terhadap Israel mulai dipandang oleh sebagian analis sebagai beban strategis bagi Amerika Serikat. Konflik yang dipicu oleh dinamika regional Israel berisiko menguras sumber daya militer, melemahkan hubungan dengan sekutu, serta mengalihkan fokus Washington dari persaingan utama dengan kekuatan besar lainnya.

Pertanyaannya kini bukan hanya apakah Amerika mampu mempertahankan hegemoni globalnya, tetapi juga apakah hubungan strategisnya dengan Israel justru mempercepat erosi kekuatan tersebut.


Sumber:

https://www.middleeastmonitor.com/20260312-is-israel-becoming-a-strategic-liability-for-the-us/

Turki Digambarkan sebagai “Iran Berikutnya”: Sinyal Konflik Baru di Timur Tengah Dalam beberapa bulan terakhir, retorika politi...



Turki Digambarkan sebagai “Iran Berikutnya”: Sinyal Konflik Baru di Timur Tengah

Dalam beberapa bulan terakhir, retorika politik Israel dan sejumlah kalangan konservatif Amerika mulai menggambarkan Turki sebagai “Iran berikutnya”. Narasi ini tidak lagi sekadar provokasi di pinggiran diskusi geopolitik. Ia kini semakin terbuka disuarakan oleh para pejabat Israel, komentator media Amerika, dan sebagian jaringan lembaga pemikir di Washington.

Bagi banyak pengamat, pola bahasa ini terasa sangat familiar. Selama beberapa dekade, narasi serupa telah digunakan untuk mendemonisasi aktor regional yang dianggap menentang kepentingan Israel. Irak, Libya, dan Iran sebelumnya mengalami proses serupa: dimulai dari pembingkaian sebagai ancaman eksistensial, dilanjutkan dengan tekanan politik, sanksi, hingga konflik terbuka.

Retorika Baru dari Israel

Pernyataan paling mencolok datang dari mantan perdana menteri Israel, Naftali Bennett, dalam sebuah konferensi organisasi Yahudi Amerika pada Februari 2026. Dalam pidatonya, Bennett menyatakan secara langsung bahwa “Turki adalah Iran yang baru.”

Ia menuduh Presiden Recep Tayyip Erdoğan berupaya mengepung Israel dengan membangun poros baru di Timur Tengah, termasuk dengan Pakistan dan sejumlah kekuatan regional lainnya. Retorika ini menggemakan bahasa yang selama puluhan tahun digunakan Israel terhadap Iran—yakni menggambarkan negara penentang sebagai ancaman peradaban yang harus dibendung sebelum menjadi terlalu kuat.

Nada serupa juga muncul dari mantan menteri pertahanan Israel, Yoav Gallant. Ia menyerukan agar negara-negara Barat mempertimbangkan pembatasan penjualan senjata kepada Turki meskipun negara tersebut adalah anggota NATO. Meskipun Gallant berbicara tentang diplomasi, pendekatan yang diusulkannya lebih menyerupai tekanan strategis untuk memaksa Ankara kembali ke orbit kebijakan Israel.

Keretakan Hubungan Israel–Turki

Ketegangan antara kedua negara sebenarnya telah berkembang selama lebih dari satu dekade. Titik balik penting terjadi pada 2010 ketika militer Israel menyerang armada bantuan kemanusiaan menuju Gaza, menewaskan sepuluh aktivis Turki. Sejak saat itu, Erdoğan semakin vokal mengkritik kebijakan Israel terhadap Palestina, terutama terkait operasi militer di Gaza.

Ketegangan ini semakin meningkat setelah perubahan politik di Suriah. Setelah runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024, Turki memperluas pengaruhnya di Suriah utara dan mendukung pemerintahan sementara. Bagi Israel, kebijakan Ankara yang ingin memulihkan integritas teritorial Suriah bertentangan dengan strategi keamanan regional yang lebih menyukai kawasan yang terfragmentasi.

Selain itu, hubungan erat Turki dengan Qatar dan sikap Ankara yang menolak wilayahnya digunakan untuk serangan terhadap Iran semakin memperdalam ketegangan.

Strategi Baru Israel: Mengelilingi Turki

Perubahan hubungan ini juga mengubah strategi regional Israel. Sejak era David Ben-Gurion, Israel menerapkan “doktrin periferi”, yaitu membangun aliansi dengan negara non-Arab seperti Iran pra-revolusi dan Turki.

Namun kini, dua pilar utama doktrin tersebut justru dipandang sebagai lawan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan mulai mempromosikan konsep aliansi baru yang melibatkan negara-negara seperti India, Greece, dan Cyprus untuk menahan pengaruh regional Turki.

Produksi Narasi Ancaman

Di Amerika Serikat, sejumlah analis dan lembaga pemikir mulai memperkuat narasi bahwa Turki merupakan masalah bagi kepentingan Barat. Artikel opini dan komentar media menyoroti kebijakan luar negeri Ankara yang dianggap semakin independen dari Washington. Beberapa bahkan mempertanyakan apakah keanggotaan Turki di NATO masih relevan.

Pola narasi ini mengikuti jalur yang sudah dikenal dalam politik internasional: pemilihan fakta tertentu, penguatan persepsi ancaman, dan pembingkaian negara penentang sebagai musuh strategis.

Bagi sebagian kalangan di Turki, perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa negara mereka sedang ditempatkan dalam posisi yang sama seperti Iran sebelumnya—yakni sebagai target kampanye delegitimasi global.

Apakah status Turki sebagai anggota NATO akan melindunginya dari eskalasi tersebut masih belum jelas. Namun sejarah Timur Tengah menunjukkan bahwa retorika yang dimulai sebagai wacana sering kali menjadi dasar bagi sanksi, isolasi, dan bahkan konflik di masa depan.


Sumber:

https://www.newarab.com/opinion/turkey-next-iran-we-have-seen-script

Perang AS–Israel terhadap Iran: Bayang-bayang Krisis Energi 1970-an Menghantui Ekonomi Amerika Perang yang melibatkan Amerika Se...


Perang AS–Israel terhadap Iran: Bayang-bayang Krisis Energi 1970-an Menghantui Ekonomi Amerika

Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya mengubah peta geopolitik Timur Tengah, tetapi juga mulai mengguncang stabilitas ekonomi global. Dampak paling langsung terasa di sektor energi, terutama setelah jalur vital perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz terganggu.

Selat sempit yang memisahkan Teluk Persia dan Teluk Oman ini merupakan jalur strategis bagi lebih dari seperlima pasokan minyak dunia. Ketika konflik militer memicu penutupan jalur tersebut dan serangan terhadap kapal tanker, pasar energi global segera bereaksi. Harga minyak melonjak melampaui 100 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran bahwa harga dapat menembus 200 dolar jika gangguan pasokan berlanjut.

Presiden Donald Trump sempat menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran berakhir dengan cepat dan berhasil. Namun, kenyataan di pasar menunjukkan cerita yang berbeda. Ketidakpastian keamanan pelayaran di kawasan Teluk membuat perusahaan pengiriman dan pasar energi bersikap waspada. Para analis menilai bahwa dampak ekonomi konflik ini sangat bergantung pada satu faktor utama: seberapa cepat kapal tanker dapat kembali melintasi Selat Hormuz dengan aman.

Jika gangguan berlangsung singkat, harga energi kemungkinan akan kembali stabil dalam beberapa minggu. Namun jika konflik berkepanjangan, ekonomi Amerika dapat menghadapi tekanan serius. Para ekonom bahkan mulai mengingatkan kemungkinan kembalinya fenomena stagflasi, situasi di mana inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan meningkatnya pengangguran.

Bayangan krisis energi pada dekade 1970-an pun kembali muncul. Saat itu, lonjakan harga minyak global menyebabkan perlambatan ekonomi besar di Amerika Serikat. Sejumlah analis memperingatkan bahwa jika harga minyak bertahan di kisaran 140 dolar per barel untuk waktu lama, risiko resesi di Amerika akan meningkat secara signifikan.

Dampak awal sudah mulai terlihat pada konsumen. Harga bensin nasional di Amerika Serikat meningkat tajam, mencapai rata-rata 3,59 dolar per galon, naik sekitar 65 sen sejak Februari. Kenaikan paling besar terjadi di wilayah pesisir, tempat pasokan bahan bakar Amerika lebih mudah dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pasar global yang kekurangan pasokan.

Lonjakan harga energi ini tidak berhenti pada sektor transportasi. Dalam ekonomi modern, minyak dan produk turunannya menjadi bahan dasar berbagai industri. Plastik, obat-obatan, pupuk, hingga komponen manufaktur bergantung pada rantai pasokan energi global. Gangguan pasokan dari negara-negara Teluk berpotensi memicu kenaikan harga barang konsumsi dalam beberapa bulan ke depan.

Rantai pasokan global juga menghadapi tekanan tambahan. Kemacetan pengiriman akibat konflik di Selat Hormuz memperparah situasi yang sebelumnya sudah terganggu oleh ketegangan di Laut Merah. Jika jalur perdagangan tetap tidak stabil selama beberapa minggu, keterlambatan distribusi barang akan semakin meluas dan harga produk global dapat meningkat.

Di sisi lain, perang juga membawa konsekuensi fiskal jangka panjang bagi Amerika Serikat. Pengeluaran militer yang meningkat akan menambah beban anggaran negara, termasuk biaya utang perang dan perawatan veteran di masa depan. Sejumlah ekonom menilai bahwa dana yang dialokasikan untuk perang sebenarnya dapat menghasilkan lebih banyak lapangan kerja jika digunakan untuk sektor pendidikan, kesehatan, atau infrastruktur.

Pada akhirnya, konflik ini bukan sekadar persoalan militer di Timur Tengah. Ia berpotensi menjadi krisis energi global yang mengguncang perekonomian dunia. Selama Selat Hormuz belum sepenuhnya aman dan stabil, pasar energi akan terus berada dalam ketegangan — dan ekonomi global, terutama Amerika Serikat, tetap berada di bawah bayang-bayang krisis yang mengingatkan pada gejolak energi tahun 1970-an.

Sumber:
https://www.aljazeera.com/economy/2026/3/12/how-will-the-war-on-iran-impact-the-us-economy

Perang AS–Israel terhadap Iran: Mampukah Strategi Asimetris Teheran Menahan Kekuatan Militer Barat? Konflik antara Amerika Serik...


Perang AS–Israel terhadap Iran: Mampukah Strategi Asimetris Teheran Menahan Kekuatan Militer Barat?

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin memperlihatkan perbedaan cara berperang di antara para pihak. Jika Washington dan Tel Aviv mengandalkan teknologi militer mutakhir—seperti rudal presisi, sistem pertahanan udara, dan kekuatan udara—Teheran justru memilih strategi yang berbeda: perang asimetris.

Meski Presiden Donald Trump berkali-kali mengklaim kemenangan cepat dalam operasi militer terhadap Iran, kenyataan di lapangan menunjukkan konflik masih berlangsung. Serangan balasan Iran terus menargetkan wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk, sekaligus mengguncang pasar energi dan keuangan global.

Apa itu perang asimetris?

Perang asimetris terjadi ketika dua pihak yang bertempur memiliki kemampuan militer yang sangat tidak seimbang. Pihak yang lebih lemah biasanya menghindari konfrontasi langsung dan memilih metode tidak konvensional seperti serangan gerilya, operasi siber, sabotase ekonomi, atau penggunaan kelompok proksi.

Strategi ini bertujuan bukan untuk memenangkan perang secara cepat, melainkan menguras sumber daya lawan, memanfaatkan kelemahan politiknya, dan memperpanjang konflik hingga biaya perang menjadi terlalu mahal bagi musuh.

Dalam konteks konflik saat ini, Iran menyadari bahwa secara konvensional ia tidak dapat menandingi kekuatan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel. Karena itu, sejak Revolusi Iran 1979, Teheran membangun doktrin militer yang berfokus pada pencegahan tidak langsung dan perang berlapis.

Taktik utama Iran

Salah satu strategi utama Iran adalah serangan berbiaya rendah yang memaksa musuh mengeluarkan biaya tinggi. Iran menggunakan drone murah seperti Shahed yang diproduksi massal. Biaya satu drone diperkirakan hanya puluhan ribu dolar, sementara sistem pencegat seperti Patriot atau THAAD yang digunakan untuk menembaknya dapat menelan biaya jutaan dolar per rudal.

Selain itu, Iran juga memanfaatkan perang ekonomi dengan menutup jalur energi strategis di Selat Hormuz, jalur yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di wilayah ini langsung memicu lonjakan harga minyak global dan memperluas dampak konflik ke pasar internasional.

Iran juga menargetkan infrastruktur penting seperti depot minyak, bandara, dan fasilitas desalinasi di kawasan Teluk. Serangan terhadap sektor sipil ini dirancang untuk menciptakan tekanan ekonomi dan politik terhadap sekutu Amerika.

Jaringan proksi regional

Bagian penting dari strategi asimetris Iran adalah jaringan sekutu dan kelompok proksi di berbagai wilayah Timur Tengah. Kelompok seperti Hezbollah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, serta kelompok bersenjata di Suriah dan Yaman memungkinkan Teheran membuka banyak front konflik sekaligus.

Melalui jaringan ini, Iran dapat menyerang kepentingan Amerika dan Israel tanpa harus mengerahkan pasukan reguler secara langsung. Strategi tersebut memperluas medan perang sekaligus menyulitkan lawan untuk memusatkan kekuatan militer pada satu titik.

Sistem pertahanan berlapis

Iran juga mengembangkan struktur pertahanan yang dikenal sebagai konsep “mosaic defence”, yaitu sistem komando militer yang tersebar dan semi-independen. Tujuannya adalah mencegah kelumpuhan total jika pusat komando diserang. Dengan sistem ini, Iran dapat terus melancarkan perlawanan meskipun beberapa fasilitas militernya hancur.

Apakah strategi ini berhasil?

Dalam beberapa hal, strategi Iran memang efektif. Serangan drone dan rudal berbiaya rendah telah memaksa Amerika Serikat mengeluarkan biaya miliaran dolar untuk pertahanan. Perang yang seharusnya cepat justru berubah menjadi konflik yang mahal dan berkepanjangan.

Namun strategi ini juga memiliki keterbatasan. Serangan presisi Amerika dan Israel telah menghancurkan sejumlah fasilitas militer Iran dan melemahkan sebagian jaringan proksinya. Selain itu, tekanan ekonomi dan sanksi internasional tetap menjadi tantangan besar bagi Teheran.

Pada akhirnya, perang asimetris Iran bukanlah strategi untuk meraih kemenangan militer cepat. Tujuan utamanya adalah memperpanjang konflik, meningkatkan biaya perang bagi lawan, dan memaksa keputusan politik di Washington dan Tel Aviv. Dalam logika ini, keberhasilan Iran tidak diukur dari kemenangan di medan perang, melainkan dari seberapa lama ia mampu bertahan dan menguras kekuatan musuh.

Sumber:
https://www.aljazeera.com/news/2026/3/12/can-irans-asymmetric-warfare-hold-us-israeli-military-power-at-bay

Tahun 9 Hijriah, seorang pemimpin suku dari Palestina datang ke Madinah menemui Rasulullah. Namanya Tamim ad-Dari. Ia baru masuk...


Tahun 9 Hijriah, seorang pemimpin suku dari Palestina datang ke Madinah menemui Rasulullah. Namanya Tamim ad-Dari. Ia baru masuk Islam dan meminta sesuatu yang tak biasa: tanah di kampung halamannya yang masih dikuasai Kekaisaran Romawi. Rasulullah tak ragu. Beliau menulis dokumen resmi di hadapan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali—empat khalifah agung sekaligus sebagai saksi. Isinya? Seluruh wilayah Hebron (Al-Khalil) berikut desa-desa di sekitarnya diwakafkan untuk Tamim dan keturunannya hingga hari kiamat [citation:7]. Di atas kertas, ini mustahil. Tapi 1.400 tahun kemudian, wakaf itu masih hidup, produktif, dan memberi makan jutaan manusia setiap tahunnya.

Tanah itu belum dikuasai Muslim saat Nabi menulis surat wakaf. Ini bukan hibah biasa; ini adalah janji dan mukjizat kenabian. Nabi Muhammad SAW, dengan izin Allah, mewakafkan tanah yang belum beliau miliki secara fisik—sebuah terobosan hukum yang mencengangkan. Maknanya: "Tanah ini akan terbebaskan dan akan menjadi wakaf abadi untuk umat." Ketika Umar bin Khattab menaklukkan Baitul Maqdis beberapa tahun kemudian, janji itu ia tepati. Surat Nabi dikeluarkan dari kantong sejarah, dan tanah Al-Khalil resmi menjadi wakaf pertama di Palestina atas nama Tamim ad-Dari.

Sekarang, bayangkan apa yang terjadi 14 abad kemudian. Al-Khalil adalah kota dengan Masjid Ibrahimi, tempat makam Nabi Ibrahim. Ratusan ribu peziarah datang setiap tahun. Dan siapa yang menyambut mereka? Keturunan Tamim ad-Dari masih tinggal di sana, memegang dokumen asli tulisan Nabi yang diwariskan turun-temurun. Mereka tidak menjual tanah itu, tidak menggadaikannya, tidak membaginya jadi kavling komersial. Mereka menjalankan amanah wakaf: dari hasil tanah itu, mereka mendirikan rumah tamu abadi (al-Dhiyafah) yang menyediakan makanan gratis bagi siapa pun yang singgah.

Al-Maqdisi, sejarawan geografi terkemuka abad ke-10, mencatat dalam kitabnya Ahsan al-Taqasim: "Di kota Al-Khalil, ada rumah tamu permanen yang memiliki tukang roti, juru masak, dan pelayan. Mereka menyajikan kacang lentil dengan minyak zaitun gratis bagi setiap peziarah dan pengembara yang melewati kota ini." Itu ditulis 1.000 tahun lalu. Dan tradisi itu TIDAK PERNAH BERHENTI sampai hari ini. Bayangkan: resep masakan yang sama, jenis minyak yang sama, niat yang sama, mengalir dari generasi ke generasi tanpa putus sejak Tamim ad-Dari menerima selembar kertas dari tangan Rasulullah.

Pada tahun 2025, tradisi itu masih hidup. Wakaf Tamim ad-Dari tidak hanya memberi makan puluhan ribu jamaah setiap musim haji dan Ramadhan, tetapi juga membiayai pemeliharaan Masjid Ibrahimi, membantu yatim-piatu di Tepi Barat, dan menjadi fondasi ekonomi masyarakat Palestina di Hebron. Bahkan di tengah konflik dan pendudukan, aset wakaf ini tidak pernah disita, tidak pernah dijual, tidak pernah berpindah tangan ke non-muslim. Karena sejak 1.400 tahun lalu, Umar bin Khattab sudah menetapkan: Tanah Palestina untuk muslim adalah wakaf majazi—boleh dimiliki dan diwariskan antar muslim, tapi HARAM hukumnya dijual kepada pihak asing. Ini adalah benteng ekonomi dan spiritual yang tak terlihat.

Coba renungkan: Selembar dokumen yang ditulis di atas kulit kambing di Madinah, disaksikan oleh para sahabat yang kelak menjadi khalifah, kini menjadi bukti sejarah sekaligus instrumen keadilan sosial tertua di dunia yang masih beroperasi. Ini bukan fosil museum. Ini adalah dapur umum yang setiap hari mengepul asapnya, roti yang setiap pagi diantar ke rumah-rumah fakir miskin, dan hotel gratis yang menyambut para musafir. Semua pahalanya, Rasulullah SAW bersabda, masih mengalir ke Nabi Muhammad SAW, kepada Tamim ad-Dari, dan kepada setiap generasi yang menjaga amanah ini.

Kisah Tamim ad-Dari adalah bukti bahwa wakaf tidak selalu tentang sumur atau kebun kurma yang membesar menjadi hotel bintang lima. Kadang, wakaf adalah tentang dokumen kecil yang tidak pernah diingkari, tentang janji yang ditepati meski penandatangan dan para saksinya telah tiada 14 abad. Tamim tidak meninggalkan gedung pencakar langit atas namanya. Tapi ia meninggalkan dapur umum yang terus menyala. Ia tidak punya rekening bank dengan saldo triliunan. Tapi ia punya "rekening langit" yang terus bertambah setiap kali seorang musafir usai menyantap sepiring lentil di Al-Khalil lalu mengucap: Alhamdulillah. Dan selama itu masih terjadi, selama peziarah masih singgah, selama roti masih dipecah, maka Tamim ad-Dari—sahabat Nabi yang namanya mungkin asing di telinga—akan terus menuai pahala hingga pintu surga terbuka untuknya. Maukah kita membuka "rekening abadi" versi kita sendiri, sekecil apa pun?

https://www.facebook.com/share/p/1BusbrErQ4/

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (361) Al-Qur’an (6) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (2) Kecerdasan (263) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (2) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (3) Nusantara (249) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (574) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (263) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (6) Sirah Penguasa (243) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (160) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (21) Sirah Ulama (157) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)