basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Teori Gujarat tentang Islamisasi Nusantara Dari manakah sebenarnya I...

Teori Gujarat tentang Islamisasi Nusantara


Dari manakah sebenarnya Islam pertama kali datang ke Nusantara?

Apakah langsung dari Jazirah Arab?

Ataukah melalui Gujarat, Coromandel, Malabar, Bengal, atau bahkan wilayah lain di Anak Benua India?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sejak lama menjadi bahan perdebatan para sejarawan. Setidaknya ada tiga persoalan pokok yang terus dikaji, yaitu: dari mana sumber kedatangan Islam, siapa pembawanya, dan kapan proses Islamisasi itu dimulai.

Namun, mengapa hingga kini belum ada kesepakatan?

Karena setiap teori umumnya hanya menyoroti satu sisi persoalan, sementara proses Islamisasi Nusantara berlangsung sangat panjang, melibatkan banyak pelaku, berbagai jalur perdagangan, serta terjadi dalam beberapa gelombang. Akibatnya, tidak satu pun teori mampu menjelaskan seluruh kompleksitas sejarah tersebut secara utuh.

Teori Gujarat

Salah satu teori yang paling terkenal adalah Teori Gujarat.

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh orientalis Belanda Pijnappel dari Universitas Leiden. Menurutnya, Islam datang ke Nusantara melalui kawasan Gujarat dan Malabar di India. Alasannya, banyak pedagang Arab bermazhab Syafi'i telah bermukim di wilayah-wilayah tersebut sebelum melanjutkan pelayaran ke Kepulauan Melayu. Dari sanalah, menurut Pijnappel, Islam kemudian dibawa ke Nusantara.

Apakah teori ini kemudian diterima begitu saja?

Tidak.

Snouck Hurgronje merevisi pandangan tersebut. Menurutnya, setelah Islam berkembang pesat di kota-kota pelabuhan India Selatan, para pedagang Muslim setempat menjadi penghubung perdagangan antara Timur Tengah dan Nusantara. Mereka dipandang sebagai penyebar Islam pertama, kemudian disusul para ulama dan keturunan Nabi Muhammad ﷺ yang bergelar Sayyid atau Syarif yang memperkuat dakwah Islam.

Snouck juga memperkirakan bahwa proses Islamisasi Nusantara mulai berlangsung sekitar abad ke-12 Masehi.

Bukti Batu Nisan

Lalu, bukti apa yang sering digunakan untuk mendukung Teori Gujarat?

Sejarawan Belanda J. P. Moquette mengemukakan bahwa batu nisan Sultan Malik al-Shalih di Pasai memiliki kemiripan dengan batu nisan Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Bahkan, keduanya dianggap serupa dengan batu nisan dari Cambay, Gujarat.

Dari temuan itu, Moquette berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat. Kemudian ia menarik kesimpulan lebih jauh bahwa apabila batu nisannya berasal dari Gujarat, maka Islam pun pasti berasal dari wilayah yang sama.

Sekilas logika ini tampak sederhana.

Namun, apakah kesimpulan seperti itu cukup kuat?

Belum tentu.

Mengimpor batu nisan tidak otomatis berarti mengimpor agama. Barang dagangan dapat berasal dari satu tempat, sedangkan ide, keyakinan, dan dakwah dapat datang melalui jalur yang berbeda.

Kritik terhadap Teori Gujarat

Karena itulah, S. Q. Fatimi mengkritik keras pendapat Moquette.

Menurut hasil penelitiannya, batu nisan Sultan Malik al-Shalih justru lebih mirip dengan batu nisan dari Bengal (kini Bangladesh), bukan Gujarat.

Berdasarkan temuan tersebut, Fatimi kemudian mengajukan teori baru bahwa Islam di Nusantara berasal dari Bengal.

Menariknya, Fatimi menggunakan pola penalaran yang hampir sama dengan Moquette. Jika Moquette menyimpulkan asal Islam dari Gujarat berdasarkan batu nisan, Fatimi menarik kesimpulan serupa tetapi mengarah ke Bengal.

Hal ini menunjukkan bahwa bukti arkeologis berupa batu nisan saja belum cukup untuk menentukan asal-usul Islamisasi Nusantara secara pasti.

Dukungan terhadap Teori Gujarat

Walaupun mendapat kritik, Teori Gujarat tetap memperoleh banyak pendukung.

Di antaranya adalah Kein, William Winstedt, Bousquet, Vlekke, Gonda, Schrieke, dan Hall.

William Winstedt, misalnya, menunjukkan adanya batu nisan serupa di Bruas, Perak, Semenanjung Malaya. Ia juga mengutip Sejarah Melayu yang menyebutkan adanya kebiasaan masyarakat Melayu mengimpor batu nisan dari India.

Sementara itu, Schrieke lebih menekankan peran penting para pedagang Muslim Gujarat dalam jaringan perdagangan internasional. Menurutnya, hubungan dagang yang intens menjadi jalur efektif bagi penyebaran Islam.

Kritik Morrison

Apakah semua sejarawan menerima teori tersebut?

Tidak.

G. E. Morrison mengajukan kritik yang cukup mendasar.

Menurutnya, meskipun beberapa batu nisan memang berasal dari Gujarat, hal itu tidak membuktikan bahwa Islam juga berasal dari sana.

Ia mengemukakan fakta sejarah yang menarik.

Ketika Sultan Malik al-Shalih wafat pada tahun 698 H/1297 M, Gujarat sendiri masih berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu yang belum sepenuhnya menjadi pusat dakwah Islam.

Wilayah Cambay baru benar-benar dikuasai oleh kaum Muslim sekitar tahun 699 H/1298 M.

Karena itu, Morrison mempertanyakan:

Bagaimana mungkin Gujarat menjadi pusat penyebaran Islam ke Nusantara jika pada saat yang sama wilayah itu sendiri belum sepenuhnya berada di bawah pemerintahan Islam?

Atas dasar itulah Morrison berpendapat bahwa para penyebar Islam lebih mungkin berasal dari Coromandel di pesisir timur India pada akhir abad ke-13.

Pendapat Thomas W. Arnold

Pandangan Morrison ternyata sejalan dengan pendapat Thomas W. Arnold.

Arnold berpendapat bahwa Islam datang ke Nusantara melalui Coromandel dan Malabar.

Apa alasannya?

Ia melihat adanya kesamaan mazhab.

Mayoritas Muslim Nusantara menganut mazhab Syafi'i, demikian pula masyarakat Muslim di Coromandel dan Malabar. Kesamaan ini diperkuat oleh catatan perjalanan Ibnu Battutah yang menyaksikan kuatnya mazhab Syafi'i di kawasan tersebut.

Selain itu, para pedagang dari Coromandel dan Malabar diketahui aktif berdagang ke berbagai pelabuhan Nusantara. Mereka bukan hanya membawa komoditas perdagangan, tetapi juga memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat.

Refleksi

Lalu, teori manakah yang paling benar?

Hingga kini belum ada jawaban yang benar-benar final.

Setiap teori memiliki data pendukung sekaligus kelemahannya masing-masing.

Karena itu, banyak sejarawan modern cenderung memandang bahwa Islamisasi Nusantara merupakan proses yang berlangsung melalui banyak jalur sekaligus. Pedagang Arab, Persia, Gujarat, Coromandel, Malabar, dan berbagai kawasan lain kemungkinan sama-sama berkontribusi dalam penyebaran Islam sesuai ruang dan waktunya masing-masing.

Dengan demikian, perdebatan tentang asal-usul Islam di Nusantara bukan sekadar mencari satu titik asal, melainkan memahami bagaimana jaringan perdagangan, dakwah, budaya, dan interaksi antarmasyarakat membentuk proses Islamisasi yang berlangsung selama berabad-abad hingga akhirnya melahirkan peradaban Islam yang berkembang luas di Kepulauan Nusantara.


Adam Diturunkan ke Bumi: Awal Peperangan Abadi antara Petunjuk dan Godaan Apakah diturunkann...

Adam Diturunkan ke Bumi: Awal Peperangan Abadi antara Petunjuk dan Godaan



Apakah diturunkannya Nabi Adam `alaihissalam ke bumi merupakan hukuman semata?

Ataukah justru awal dimulainya misi besar manusia sebagai khalifah di muka bumi?

Al-Qur'an mengajak kita melihat peristiwa ini bukan sekadar sebagai kisah tentang keluarnya Adam dari surga, tetapi sebagai dimulainya sejarah panjang umat manusia.

Allah berfirman:

«"Kami berfirman, 'Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi serta kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.'"
(QS. Al-Baqarah: 36)»

Sejak saat itulah medan perjuangan berpindah.

Jika sebelumnya godaan setan terjadi di surga, kini peperangan itu berlangsung di bumi, tempat manusia menjalankan tugas sebagai khalifah hingga akhir zaman.

Manusia Bisa Tergelincir, tetapi Pintu Tobat Selalu Terbuka

Apakah kesalahan Adam menjadi akhir dari segalanya?

Tidak.

Yang membedakan Adam dari Iblis bukanlah ada atau tidaknya kesalahan, melainkan bagaimana mereka menyikapi kesalahan itu.

Adam segera menyadari kekeliruannya. Ia kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan. Allah pun membimbingnya dengan kalimat-kalimat tobat.

Allah berfirman:

«"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."
(QS. Al-Baqarah: 37)»

Inilah salah satu pelajaran terbesar dalam kehidupan.

Manusia bukan makhluk yang tidak pernah salah.

Manusia terbaik adalah mereka yang segera kembali kepada Allah ketika tergelincir.

Rahmat Allah selalu lebih dahulu menyambut hamba yang mau kembali kepada-Nya.

Misi Manusia Dimulai di Bumi

Sesudah tobat Adam diterima, Allah kembali berfirman:

«قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Kami berfirman, 'Turunlah kamu semua dari surga! Lalu jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.'"
(QS. Al-Baqarah: 38)»

Ayat ini bukan sekadar perintah turun ke bumi.

Ayat ini merupakan piagam kehidupan seluruh umat manusia.

Sejak hari itu Allah menetapkan bahwa kehidupan manusia akan selalu berada di antara dua jalan.

Jalan pertama adalah mengikuti petunjuk Allah.

Jalan kedua adalah mengikuti bisikan hawa nafsu dan godaan setan.

Pilihan itulah yang menentukan masa depan setiap manusia.

Apa Jaminan bagi Orang yang Mengikuti Petunjuk Allah?

Allah memberikan kabar yang sangat menenangkan.

Mereka yang mengikuti petunjuk-Nya akan memperoleh dua anugerah besar.

Pertama, tidak ada rasa takut terhadap masa depan.

Kedua, tidak ada penyesalan yang menghancurkan hati terhadap masa lalu.

Mengapa demikian?

Karena orang beriman memahami bahwa seluruh hidup berada dalam ketentuan Allah.

Ketika menghadapi musibah, ia bersabar.

Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur.

Ketika kehilangan sesuatu yang dicintainya, ia yakin bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik apabila hal itu membawa kebaikan baginya.

Keimanan melahirkan ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan dunia.

Mengapa Allah Melarang Sebagian Kenikmatan?

Bukankah semua manusia menyukai kenikmatan?

Benar.

Namun tidak semua kenikmatan membawa kebaikan.

Karena itulah Allah mengharamkan sebagian makanan, minuman, maupun perbuatan tertentu.

Larangan tersebut bukan untuk menyulitkan manusia, melainkan untuk melindungi mereka dari kerusakan yang mungkin tidak selalu tampak oleh pandangan manusia.

Orang yang memahami hikmah syariat akan menjauhi perkara haram sebagaimana seseorang menjauhi penyakit yang membahayakan dirinya.

Lebih dari itu, seorang mukmin menyadari bahwa setiap dosa meninggalkan noda pada hati, sedangkan setiap ketaatan membersihkan dan memuliakannya.

Bagaimana Nasib Orang yang Menolak Petunjuk?

Setelah menjelaskan jalan keselamatan, Allah menjelaskan pula jalan kebinasaan.

Allah berfirman:

«"Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya."
(QS. Al-Baqarah: 39)»

Mengapa mereka mendapat balasan demikian?

Karena mereka bukan sekadar tidak mengetahui kebenaran.

Mereka menolak, mengingkari, bahkan mendustakan petunjuk yang telah datang kepada mereka.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa bentuk kekafiran tidak selalu lahir karena ketidaktahuan.

Sering kali penyebabnya adalah kesombongan yang membuat seseorang enggan tunduk kepada kebenaran.

Sebagaimana firman Allah:

«"...Sebenarnya mereka bukan mendustakan engkau, tetapi orang-orang zalim itulah yang mengingkari ayat-ayat Allah."
(QS. Al-An'am: 33)»

Sejak Hari Itu, Peperangan Tidak Pernah Berakhir

Peristiwa turunnya Adam ke bumi bukanlah penutup kisah.

Justru di sanalah sejarah manusia dimulai.

Peperangan antara petunjuk Allah dan godaan setan berlangsung terus dari generasi ke generasi.

Namun Allah tidak membiarkan manusia berjuang sendirian.

Dia mengutus para nabi, menurunkan kitab-kitab-Nya, dan memberikan petunjuk yang jelas.

Karena itu, setiap manusia telah mengetahui jalan menuju kemenangan.

Jika ia mengikuti petunjuk Allah, hidupnya akan dipenuhi ketenangan, harapan, dan keselamatan.

Sebaliknya, jika ia memilih berpaling dari petunjuk tersebut, maka akibatnya pun kembali kepada dirinya sendiri.

Dengan demikian, kisah Nabi Adam bukan sekadar kisah manusia pertama. Ia adalah cermin perjalanan setiap manusia. Kita semua pernah tergelincir, tetapi pintu tobat tetap terbuka. Kita semua hidup di medan perjuangan yang sama, dan kemenangan hanya akan diraih oleh mereka yang berpegang teguh kepada petunjuk Allah.

Kondisi Bangsa dan Agama Menjelang Kelahiran Rasulullah ﷺ Mengapa Al...

Kondisi Bangsa dan Agama Menjelang Kelahiran Rasulullah ﷺ

Mengapa Allah memilih waktu tertentu untuk mengutus Rasulullah ﷺ?

Mengapa risalah Islam tidak diturunkan beberapa abad lebih awal atau beberapa abad kemudian?

Apakah pemilihan tempat dan zaman kelahiran Islam hanyalah sebuah kebetulan sejarah?

Jika kita memperhatikan kondisi dunia menjelang diutusnya Rasulullah ﷺ, tampak bahwa seluruh peristiwa itu berjalan dalam sebuah rancangan Ilahi yang sangat teratur.

Dunia Dikuasai Empat Imperium

Pada masa itu, dunia berada di bawah pengaruh empat kekuatan besar.

Imperium Romawi menguasai Eropa, sebagian Asia, dan Afrika. Imperium Persia membentang luas hingga sebagian besar Asia dan Afrika. Sementara itu, Imperium India dan Imperium Cina berkembang sebagai dua peradaban besar yang relatif tertutup dan terisolasi dari dinamika politik internasional.

Akibat keterisolasian tersebut, justru Romawi dan Persia menjadi dua kekuatan yang paling menentukan arah sejarah manusia pada masa itu. Perebutan pengaruh, peperangan, ekonomi, budaya, bahkan kehidupan keagamaan, banyak ditentukan oleh persaingan kedua imperium tersebut.

Agama-Agama Samawi Kehilangan Kepemimpinannya

Bagaimana keadaan agama-agama samawi ketika itu?

Yahudi dan Nasrani memang masih ada, tetapi keduanya tidak lagi memimpin negara. Justru negaralah yang menguasai agama.

Di samping itu, kedua agama tersebut telah mengalami berbagai penyimpangan sehingga tidak lagi tampil sebagaimana ketika pertama kali diturunkan.

Agama Yahudi hidup berpindah-pindah di bawah tekanan kekuasaan. Terkadang menjadi korban Romawi, pada kesempatan lain berada di bawah dominasi Persia. Dalam perjalanan sejarahnya, agama ini semakin berkembang menjadi agama yang eksklusif bagi Bani Israil dan hampir tidak lagi memiliki misi mengajak seluruh umat manusia kepada ajarannya.

Bagaimana dengan agama Nasrani?

Keadaannya tidak jauh berbeda.

Pada awal kemunculannya, agama ini mengalami penindasan yang sangat keras dari Imperium Romawi. Ribuan pengikutnya dibunuh hanya karena mempertahankan keyakinan mereka.

Namun ketika Romawi akhirnya memeluk agama Kristen, muncul persoalan baru.

Alih-alih negara berubah mengikuti ajaran agama, justru agama itulah yang banyak dipengaruhi oleh budaya Romawi Pagan dan filsafat Yunani. Berbagai unsur asing masuk ke dalam ajaran Kristen sehingga karakter aslinya mengalami perubahan yang sangat besar.

Negara tetap mempertahankan watak kekuasaannya. Yang berubah bukan negara, melainkan agama.

Di sisi lain, perpecahan antarmadzhab semakin meluas. Sesama kelompok Kristen saling menekan, saling mengafirkan, bahkan saling membunuh. Perselisihan itu bukan hanya meretakkan gereja, tetapi juga mengancam keutuhan negara.

Mengapa Islam Lahir di Jazirah Arab?

Di tengah kondisi seperti itulah Islam hadir.

Apakah Islam sekadar menjadi agama baru di antara agama-agama yang telah ada?

Bukan.

Islam datang membawa misi yang jauh lebih besar: membebaskan manusia dari kesyirikan, kezaliman, kerusakan moral, penindasan politik, dan kebodohan spiritual menuju penghambaan hanya kepada Allah.

Misi sebesar itu tentu membutuhkan ruang yang merdeka.

Bagaimana mungkin sebuah risalah dapat tumbuh apabila sejak awal telah berada di bawah kendali imperium besar?

Karena itulah, Islam tidak lahir di Romawi, bukan pula di Persia.

Allah memilih Jazirah Arab.

Mengapa?

Karena tidak ada satu pun imperium yang benar-benar menguasai seluruh wilayah tersebut. Tidak ada pemerintahan pusat yang memiliki birokrasi, tentara, ataupun sistem hukum yang mampu mengekang lahirnya agama baru.

Islam tumbuh dalam keadaan bebas sejak hari pertama.

Ia tidak dibentuk oleh kekuatan asing.

Justru kelak ia yang membentuk peradaban baru.

Kekosongan Politik dan Agama

Keadaan politik di Jazirah Arab memang tampak kacau.

Namun justru kekosongan itulah yang menjadi lahan subur bagi lahirnya perubahan besar.

Di bidang keagamaan pun kondisinya serupa.

Bangsa Arab menyembah berbagai macam sesembahan: berhala, malaikat, jin, bintang, dan berbagai bentuk paganisme lainnya. Ritual mereka tidak memiliki kesatuan yang kokoh.

Memang Ka'bah dan Quraisy mempunyai pengaruh keagamaan yang besar, tetapi pengaruh itu lebih bersifat simbolik daripada ideologis.

Para pemimpin Quraisy sendiri memahami kelemahan agama yang mereka pertahankan.

Karena itu, penolakan mereka terhadap Islam lebih banyak dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi, sosial, dan politik daripada keyakinan terhadap agama mereka sendiri.

Sistem Kabilah Menjadi Pelindung Dakwah

Apakah sistem kesukuan selalu membawa dampak buruk?

Tidak selalu.

Dalam fase awal dakwah, sistem kabilah justru menjadi benteng perlindungan bagi Rasulullah ﷺ.

Selama Bani Hasyim masih melindungi beliau, suku-suku lain enggan memulai peperangan terbuka karena tradisi Arab sangat menghormati ikatan keluarga dan kabilah.

Bahkan banyak orang yang baru masuk Islam pada awal dakwah tetap memperoleh perlindungan dari keluarganya masing-masing.

Bagaimana dengan para budak yang tidak memiliki pelindung?

Mereka memang mengalami penyiksaan yang berat.

Namun Allah menghadirkan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu yang membeli dan memerdekakan banyak budak Muslim, sehingga mereka terbebas dari siksaan para tuannya.

Semua itu menjadi bagian dari cara Allah menjaga pertumbuhan Islam pada masa-masa awal.

Bangsa Arab Telah Dipersiapkan

Mengapa Allah memilih bangsa Arab?

Apakah karena mereka merupakan bangsa paling maju?

Justru sebaliknya.

Namun mereka memiliki berbagai potensi yang luar biasa.

Mereka dikenal pemberani, teguh memegang janji, sederhana dalam kehidupan, serta memiliki daya tahan menghadapi kesulitan.

Di samping itu, perjalanan dagang ke Syam pada musim panas dan ke Yaman pada musim dingin telah memperkaya pengalaman mereka berinteraksi dengan berbagai bangsa dan peradaban.

Sebagaimana diabadikan dalam Surah Quraisy, Allah telah membiasakan mereka melakukan perjalanan-perjalanan itu sehingga wawasan mereka semakin luas.

Semua pengalaman tersebut menjadi bekal yang sangat berharga ketika Islam datang.

Islam tidak menciptakan seluruh potensi itu dari nol.

Islam membangunkannya.

Potensi yang selama ini terpendam dibuka oleh Allah dengan cahaya wahyu.

Karena itulah, tidak mengherankan apabila lahir generasi sahabat yang luar biasa: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hamzah, Abbas, Abu Ubaidah, Sa'ad bin Abi Waqqash, Khalid bin Al-Walid, Sa'ad bin Mu'adz, Abu Ayyub Al-Anshari, dan banyak lagi.

Islam menemukan hati-hati yang telah dipersiapkan untuk menerima kebenaran.

Diutus di Tengah Kemunduran

Ketika Rasulullah ﷺ diutus, wilayah-wilayah Arab yang paling subur justru berada di bawah kekuasaan Romawi dan Persia.

Syam dikuasai Romawi.

Yaman berada di bawah Persia.

Bangsa Arab hanya menguasai Hijaz, Najd, dan kawasan-kawasan gurun yang keras.

Dari sisi ekonomi pun keadaan mereka sangat timpang.

Segelintir orang menguasai perdagangan dan kekayaan melalui praktik riba, sedangkan mayoritas hidup dalam kemiskinan.

Kekayaan menjadi ukuran kehormatan.

Mereka yang miskin kehilangan bukan hanya harta, tetapi juga martabat sosial.

Bagaimana dengan kondisi moral masyarakat?

Banyak bentuk kerusakan telah mengakar dalam kehidupan mereka.

Meskipun masih terdapat sejumlah sifat terpuji seperti keberanian, kemurahan hati, dan penghormatan terhadap tamu, secara umum masyarakat Arab saat itu berada dalam masa yang oleh Al-Qur'an disebut sebagai jahiliah.

Sebuah Persiapan Menuju Perubahan Besar

Jika seluruh kondisi tersebut disatukan, tampaklah sebuah gambaran yang menakjubkan.

Dunia sedang mengalami krisis politik.

Agama-agama samawi telah kehilangan kemurniannya.

Imperium-imperium besar saling berebut kekuasaan.

Jazirah Arab berada di luar kendali mereka.

Masyarakatnya memiliki berbagai potensi besar, tetapi belum memiliki petunjuk yang benar.

Bukankah semua itu seakan menjadi panggung yang telah dipersiapkan bagi lahirnya sebuah peradaban baru?

Di tengah dunia yang kehilangan arah itulah Allah mengutus Rasulullah ﷺ.

Melalui beliau, Islam tidak hanya memperbaiki akidah manusia, tetapi juga membangun kembali peradaban yang menjadikan wahyu sebagai pemimpin kehidupan.

Dengan demikian, kelahiran Islam bukanlah sebuah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan jawaban Allah atas krisis kemanusiaan yang telah mencapai puncaknya.

Kerusakan dan Pengusiran Yahudi yang Kedua  Penghancuran yang pertam...



Kerusakan dan Pengusiran Yahudi yang Kedua 


Penghancuran yang pertama terjadi dengan dikeluarkannya bangsa Yahudi dari seluruh bumi Hijaz. Sebagian dari mereka melarikan diri ke Adzra'at (kini: Dar'a, termasuk wilayah Huran, pen) di bumi Syam, hingga dimulainya kembali episode kedua dari kerusakan dan kesombongan mereka.

Dalam firman Allah Ta'ala di surat Isra' ayat 5 di atas diakhiri dengan, "Suatu ketetapan yang pasti akan terlaksana", yakni bahwa penghancuran yang pertama dari kerusakan dan ke sombongan mereka itu terjadi di zaman Nabi Saw. pada waktu itu wahyu masih turun dan pembersihan selanjutnya terhadap mereka dilanjutkan oleh para sahabatnya.

Kemudian ayat-ayat berikutnya mulai bercerita tentang kerusakan dan kesombongan mereka tahapan kedua,

ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَادُنَكُمُ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَ جَعَلْنَكُمُ اكْتَرَ نَفِيرًا

"Kemudian Kami berikan giliran untuk mengalahkan mereka kembali, dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar." (Al-Isra': 6)

Ayat itu memberitahukan bahwa Allah Ta'ala akan mem-berikan "Al-Karrata 'alaihim", giliran untuk mengalahkan mereka kembali. Mengalahkan siapa? 

Mengalahkan orang yang pernah mengejar-ngejarmu keluar masuk kampung dan lorong di seluruh negeri pada waktu tahap pertama terjadi. "Al-Karrata" ini mencakup juga kedaulatan dan kekuasaan. Ketika Allah Ta'ala ingin memberikan giliran kepada bangsa Yahudi itu, Dia menggunakan "Tsumma" yang menurut tatabahasa berfungsi sebagai kata penghubung (conjuction), menghubungkan peristiwa yang pertama dengan peristiwa yang berikutnya dengan memberikan tempo dan kelonggaran.

Apakah pernah tercatat dalam sejarah bangsa Yahudi menggunakan giliran untuk menaklukkan bangsa Babilonia, padahal mereka mempunyai kekuasaan dan kedaulatan? Tidak pernah terjadi! Tidak akan pernah terjadi baik sekarang maupun di masa-masa yang akan datang, karena bangsa Babilonia itu sudah purah dari bumi ini sebagai suatu bangsa. 

Mereka tidak dikenal orang lagi di mana tempatnya dan di mana negaranya. Maka Małasuci Allah Ta'ala kalau cerita-Nya dalam Al-Qur'an ini akan dikatakan bohong dan tidak terbukti.

Namun fakta yang tidak dapat dibantah lagi, "giliran untuk mengalahkan" yang diberikan dan dibantu Allah Ta'ala itu ialah terhadap anak keturunan orang-orang yang pernah mengejar-ngejar mereka keluar masuk kampung dan lorong di seluruh negeri. Mereka adalah umat Islam atau bangsa Arab yang muslim.

Bangsa Yahudi sudah berhasil melakukan balas dendamnya kembali menduduki dan mengalahkan negeri Syam, dan Palestina merupakan sebagian dari negeri tersebut. Itulah yang terjadi yang kita alami dan yang diderita oleh seluruh umat Islam.

Kini, mari kami ajak pembaca mengikuti bagian akhir ayat tersebut sehingga lebih meyakinkan, bagaimana ayat itu menggambarkan realitas yang kita alami dan dialami juga oleh negara Yahudi itu.

Sesudah Allah memberikan giliran mengalahkan lawan-lawannya, lalu Dia berfirman, "Dan kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak, dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar." Beranjak dari sini, marilah kita ajukan pertanyaan sekali lagi, pernahkan Allah Ta'ala membantu bangsa Yahudi dengan harta dan kekayaan dan anak-anak pada kesempatan yang lain?

Kami kira tidak pemah! Karena bangsa Yahudi itu sejak dimurkai Allah, mereka selalu hidup dalam bencana dan kesengsaraan yang tiada putus-putusnya.

Sebelum Islam, mereka mengalami kehancuran dan siksaan dari bangsa Babilonia dan Romawi. Sesudah Islam datang, mereka diusir keluar dari seluruh Jazirah Arab, kemudian mereka pergi mengembara ke seluruh Eropa. Tetapi Eropa membenci dan menyiksa mereka hingga abad ini.

Kaum muslimin berjasa sekali menyelematkan mereka dari tangan bangsa Spanyol, mereka hidup berabad-abad di bawah naungan negara Islam dengan aman dan tenang, darah dan hartanya dilindungi, namun mereka tidak pernah memelihara dan membalas baik budi orang.

Untuk lebih jelasnya kebenaran ayat tersebut di atas dan agar kita dapat melihat mukjizatnya dengan nyata, marilah kita tengok sejenak negara Yahudi yang pada dewasa ini hidup dengan bala bantuan anak-anaknya yang datang dari seluruh penjuru dunia untuk dipersiapkan sebagai pasukarı sukarela, di antara mereka sebagian besar datang dari Rusia. Sedang bantuan keuangan datang melimpah ruah tanpa limit dari negara-negara Barat, supaya mereka melanjutkan permusuhan, kesombongan dan angkara murkanya.

Maka tepat sekali firman Allah Ta'ala yang mengatakan, "Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar." Nah, jelaslah kini, bahwa kekuatan militer dan keuangan blok Barat dan Blok Timur seluruhnya ada di belakang negara Yahudi itu dalam persekutuan dan peperangannya.

Maka tidak heran kalau kali ini mereka meningkatkan ke-sombongannya, sehingga mencapai tahapan kesombongan yang kedua yang dinyatakan dalam Al-Qur'an. Bagaimana dengan kerusakan yang telah dilakukan?

Supaya realisasi kerusakan itu juga tercapai, kita lihat bangsa Yahudi melakukan berbagai perbuatan yang paling jahat dan keji, sehingga melampaui segala macam penyiksaan yang mereka derita atau yang diderita oleh yang lain. Lantaran itu Allah memperingat-kan mereka, firman-Nya,

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لا نُفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan itu) bagi dirimu sendiri juga." (Al-Isra': 7)

Kebaikan itu duniawi sifatnya dan dibalas di dunia juga, seperti yang dinyatakan dalam surat Al-Baqarah ayat 200,

"Maka di antara manusia ada yang berdoa: 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia,' dan tidak ada baginya bagian di akhirat."

Ternyata bangsa Yahudi itu tidak mengindahkan semua peringatan dan semua larangan dilanggarnya. Mereka melakukan pembunuhan, penyiksaan, dan penganiayaan di luar perikemanusiaan. Banyak anak-anak menjadi yatim piatu, para wanita dipenjara, rumah-rumah dihancurkan, tanah penduduk dirampas, pembangunan koloni-koloni digalakkan, Masjidil Aqhsa pada tanggal 21 Agustus 1969 dibakar, padahal masjid itu di sisi Allah besar sekali nilainya. 

Mereka memasuki dan mengotori Masjid Al-Khalil alaihissalam, padahal Anda tahu derajat Al-Khalil di sisi Allah. Pasukan mereka memasuki masjid tersebut dengan bersepatu. Mereka merobek-robek kitab suci Al-Qur'an. Kini mereka memasuki Libanon dengan curang dan khianat. Mereka melakukan berbagai kejahatan dan kekejian yang belum pernah dilakukan oleh umat manusia di sepanjang lintasan sejarahnya. 

Bekerjasama dengan Kristen Maronit yang terkenal paling keras permusuhannya terhadap kaum mukminin, yang telah melakukan berbagai tindakan kriminal dengan mengatas-namakan Salib, dan dengan mengatas namakan Al-Masih, sedang Al-Masih bersih dari perbuatan jahat mereka itu.

Saya telah memproklamasikan di hadapan khalayak ramai, kaum muslimin di Amman pada Idul Adha yang mulia tahun 1402 H/1982 M, bahwa kaum Kristen Maronit tidak terbilang Ahlud Dzimmah lagi di negara-negara kaum muslimin, dan bahwa mereka telah melanggar perjanjian yang telah diberikan Khalifah Umar r.a. kepada kaum Nasrani di negeri Syam pada masa pamerintahannya. Maka perempu-an-perempuan dan anak-anak mereka halal hukumnya di-tawan, seperti halnya mereka memperlakukan wanita-wanita dan anak-anak kaum Muslimin di Shabra dan Shatila.

Berbagai perbuatan kejam dan keji mereka lakukan, mengundang datangnya lebih cepat lagi siksa dan hukuman Allah,

"Dan apabila datang saat hukuman bagi (Kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuram-kan muka-muka kamu, dan untuk memasuki masjid, sebagai-mana mereka telah memasukinya pada pertama kali, dan untuk membinasakan habis-habisan apa saja yang mereka kuasai." (Al-Isra': 7).

Di sini Allah Ta'ala memberitahukan tentang segera lenyapnya negara mereka. Dia menggunakan kalimat "fa" sebagai penghubung, bukan kata "tsumma", dan fa di sini menunjukkan 'at haf bersama susulan. Susulan bagi segala sesuatu yang telah terjadi dengan berimbang atau setimpal, dan Dia menunjukkan juga cepatnya peristiwa terjadi, "Dan apabila datang saat hukuman datang bagi (kejahatan) yang kedua," yakni; lenyapnya kesombongan mereka yang kedua, maka wajah-wajah Bani Israil menjadi buruk.

Allah Swt. memberi kabar gembira kepada kita, Mahasuci Allah Yang Mahakuasa, bahwa kita akan memasuki Masjidilaksa seperti halnya kita telah memasukinya dahulu.

Di sini terdapat isyarat yang indah tentang masuknya kita ke dalam masjid itu sebanyak dua kali. Kedua peristiwa itu terjadi sesudah turunnya ayat tersebut. 

Pertama, berupa penaklukan di zaman khalifah Umar bin Khat-tab, ketika memasuki masjid itu dengan nama Allah dan Islam.

Kedua, yaitu penaklukan terakhir yang saatnya akan segera tiba dimana kaum muslimin akan memasuki kembali Masjidil Aqsha dengan kemenangan gilang-gemilang sebagaimana yang dialami oleh para sahabat dahulu.

Kemudian Allah Ta'ala menegaskan juga bahwa kata: "Wa li-yutab-biru", dan mereka (baca: kita) akan menghancur-leburkan apa saja yang menjadi kebanggaan dan kesombongan bangsa Yahudi itu, material maupun spiritual.

Perlu kami ingatkan di sini bahwa selama ini Palestina tidak pernah mengenal bangunan-bangunan bertingkat dua puluh atau lebih kurang dari itu, kecuali di bawah pendudukan bangsa Yahudi. Maka bangunan-banguan pencakar langit mereka yang dibangun di bumi yang berkeberkatan itu, akan mengalami penghancuran dan pengrusakan. Kemudian ayat itu mengulangi kembali peringatannya kepada bangsa Yahudi, firman-Nya,

"Dan sekiranya kamu kembali (ke kedurhakaan) niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka jahannam penjara bagi orang-orang yang kafir." (Al-Isra': 8).

Selanjutnya Allah Ta'ala memberikan kabar gembira, sesudah memberi pengertian kepada kita, bahwa Al-Qur'an ini berdaya guna menuntun kita ke jalan yang lurus dan menuju kehidupan hakiki, lalu menjanjikan dengan datangnya kemenangan, firman'Nya,

"Sesunggunya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk ke jalan yang lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang besar." (Al-Isra': 9).

Pada akhir surat Al-Isra' ada lagi ayat yang erat hubung-annya dengan peristiwa ini, firman-Nya:

"Dan kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israel: 'Diamlah kamu di negeri ini, maka apabila telah datang janji terakhir, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur." (Al-Isra': 104).

"Lafifa" artinya berjamaah-jamaah dan bercampur-baur. Demikian pula dengan kedatangan bangsa Yahudi dewasa ini ke Palestina, dari berbagai penjuru bumi dan terdiri dari bermacam-macam kewarganegaraan.

Dalam ayat selanjutnya dilancarkan peringatan kepada kaum Yahudi dan berita gembira kepada kaum Muslimin:

"Dan Kami turunkan (Al-Qur'an) ini dengan sebenar-benarnya dan ia telah turun dengan (mem-bawa) kebenaran, dan Kami tidak mengutusmu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan memberi peringatan." (Al-Isra': 105).

Kalau kita rangkaikan penafsiran ayat-ayat tersebut dengan ramalan dan mukjizat Rasulullah Saw. yang tersimpul dalam hadits beliau, kiranya sejajar benar, Sabdanya,

لا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتَلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَقُوْلَ الْحَجَرُ وَالشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ ، يَا عَبْدَ اللهِ ، هَذَا يَهُودِيُّ خَلْفِى

فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ ، إِلَّا الْغَرْقَدَ ، فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ اليَهُودَ : رواه الشيخان :

"Belum akan tiba kiamat, hingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi, kemudian mereka diperangi oleh kaum Mus-limin, sehingga batu dan pohon berkata: Hai, Muslimin, hai hamba Allah! inilah seorang Yahudi bersembunyi di belakang-ku, datangilah dan bunuhlah, kecuali pohon Al-Gharqad ka-rena ia tergolong pohon (simpatisan) kaum Yahudi." (R. Asy-Syaikhan: Al.Bukhari dan Muslim).

Pohon al-Gharqad itu terbilang pohon perdu yang bercabang-cabang, dewasa ini banyak ditanam hampir di seluruh kawasan Palestina, dan hingga kini penduduk An-Naqab di Palestina menamakannya pohon "Gharqad", meskipun di tempat-tempat lainnya di sana sudah berubah nama dan pohonan ini ditanam oleh bangsa Yahudi sendiri.

Itulah salah satu sebab kenapa semua daya upaya untuk mengukuhkan kedaulatan bangsa Yahudi selalu gagal. Sejak tahun 1948, semua usaha orang mencari jalan damai untuk memantapkan kedaulatan bangsa Yahudi itu selalu menemui jalan buntu, bahkan kegagalan itu banyak disebabkan karena sikap dan ulah bangsa Yahudi itu sendiri. 

Karena bangsa itu terkenal tidak dapat memecahkan masalah apapun kecuali dengan kedengkian, persekongkolan, dan tipu daya. Hal ini dijelaskan Allah Ta'ala, karena mereka suatu kaum yang tidak berakal; 

"Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu-padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah-belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada berakal." (Al. Hasyar: 14).

Perkembangan ini terus akan berlanjut, hingga datang saat yang dijanjikan, ketika kaum Muslimin sudah mencampakkan semua ideologi yang bertentangan dengan Islam. Seperti digambarkan oleh hadits Rasulullah Saw. bahwa batu dan pohon hidup berdampingan dan sepaham dengan kaum muslimin, mereka akan mengatakan,

"Hai, Muslim, hai Abdullah! Inilah Yahudi bersembunyi di belakang saya, datanglah dan bunuhlah dia."

Jadi kemenangan akhir di Palestina itu tidak akan diraih oleh kelompok-kelompok yang menamakan dirinya kanan atau kiri, akan tetapi yang akan terjadi adalah peperangan Islami di jalan Allah yang senantiasa merupakan peperangan yang memenangkan.

Karena itu, kami tidak pernah merasa heran kalau kita hingga kini tidak pernah menang melawan Yahudi, karena kita tidak memeranginya dengan Islam. Kalau pemerintah-pemerintah Arab itu dimenangkan, tentulah Al-Qur'an akan didustakan, karena mereka adalah pemerintah kafir yang menghalalkan riba, zina, minuman keras, judi, dan mereka tidak bersedia memerangi musuh-musuhnya, dan bahkan tidak memberlakukan lagi hukum jihad dalam kehidupan maupun program kerjanya.

Para penguasa itu semua hidup di luar tata cara keislaman. Maka sudah pasti revolusi bangsa Palestina itu akan gagal di dalam memenangkan perjuangannya, karena ia tidak menggunakan Islam sebagai cara, program dan perjuangan. Sedang Allah Ta'ala berfirman, 

"Apabila kamu memenangkan (agama) Allah, niscaya Dia akan me-menangkan kamu." (Muhammad: 7).

Mereka tidak pernah bermimpi akan memenangkan agama Allah, sehingga Allah tidak merasa berkewajiban akan memenangkan mereka.




Al-Qur'an: Kitab yang Membangun Manusia dan Peradaban Bagaimana mungkin sebuah kitab mam...

Al-Qur'an: Kitab yang Membangun Manusia dan Peradaban


Bagaimana mungkin sebuah kitab mampu mengubah sekelompok manusia yang tercerai-berai menjadi umat yang memimpin dunia?

Apa yang membuat generasi pertama Islam tampil sebagai generasi yang tidak hanya unggul dalam akhlak dan spiritualitas, tetapi juga mampu membangun peradaban yang mengubah arah sejarah?

Jawabannya terletak pada cara Al-Qur'an mendidik manusia.

Al-Qur'an tidak sekadar menyampaikan ajaran atau memberikan kumpulan hukum. Ia menghadirkan penafsiran yang utuh tentang manusia dan kehidupannya. Ajarannya berbicara kepada seluruh dimensi eksistensi manusia secara serasi dan seimbang: kepada akal yang berpikir, hati yang merasakan, nurani yang membedakan kebenaran, intuisi yang menangkap hikmah, serta jiwa dan raga yang menjalankan amanah kehidupan.

Karena berasal dari Allah, Sang Pencipta manusia, Al-Qur'an memahami seluruh potensi, kebutuhan, dan fitrah manusia. Oleh sebab itu, gaya bahasanya tidak hanya menginformasikan, tetapi juga menyeru, menyentuh, memengaruhi, dan mengarahkan seluruh unsur kehidupan manusia secara terpadu.

Bukankah hanya Pencipta yang paling mengetahui bagaimana ciptaan-Nya harus dibimbing?

Dari konsep yang bersumber langsung kepada Al-Qur'an inilah lahir komunitas Muslim generasi pertama. Mereka bukan sekadar kelompok yang mempelajari sebuah kitab, melainkan manusia-manusia yang dibentuk sepenuhnya oleh nilai-nilai Al-Qur'an.

Hasilnya sungguh menakjubkan.

Mereka tampil sebagai pemimpin umat manusia dengan corak kepemimpinan yang belum pernah disaksikan sejarah, baik sebelumnya maupun sesudahnya. Mereka memberikan teladan yang luar biasa, bukan hanya dalam kehidupan moral dan spiritual, tetapi juga dalam bidang sosial, politik, ekonomi, dan peradaban.

Fenomena ini merupakan salah satu keajaiban terbesar dalam sejarah manusia: lahirnya sebuah umat dari celah-celah wahyu sebuah kitab. Al-Qur'an menjadi sumber kehidupan mereka, pusat pembentukan karakter mereka, sekaligus fondasi seluruh gerakan mereka.

Adapun As-Sunnah merupakan pengejawantahan yang paling sempurna dari nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan nyata. Seluruh ajaran Al-Qur'an tampak hidup dalam pribadi Rasulullah ﷺ.

Karena itulah, ketika 'Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, beliau memberikan jawaban yang sangat singkat, tetapi mencakup segalanya:

«"Akhlak beliau adalah Al-Qur'an." (HR. an-Nasa'i)»

Tidakkah ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar kitab untuk dibaca, melainkan kitab yang membentuk manusia, melahirkan masyarakat, dan membangun peradaban?

Kerusakan dan Pengusiran Yahudi yang Pertama  Perlu ditegaskan di si...

Kerusakan dan Pengusiran Yahudi yang Pertama 



Perlu ditegaskan di sini bahwa di antara para mufassirin terdapat perbedaan dalam menafsirkan, siapa yang meng-hancurkan kedua kesombongan dan kedua kerusakan yang dimaksudkan oleh ayat dalam kitab itu:

"Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan kamu pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi kejahatan pertama dari kejahatan itu, Kami mendatangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka mencarimu keluar masuk kampung (dan lorong) ke seluruh negeri. Suatu ketetapan yang pasti akan terlaksana." (Al-Isra': 4-5)

Ada yang mengatakan bahwa pasukan Babilonia di bawah pimpinan Nebukadnezar yang menghancurkannya.

Qutaadah mengatakan:

"Allah mengirimkan kepada mereka pasukan Jalut yang perkasa."

Mujahid berkata:

"Mereka diserang oleh pasukan Parsi dan Babilonia di bawah pimpinan Nebukadnezar."

Muhammad bin Ishak berkata: 

"Mereka dihancurkan oleh pasukan Raja Sinhareb dari Assuria. Ada lagi yang mengatakan mereka dihancurkan oleh bangsa 'Amaliqah yang mendiami Palestina Selatan."

Demikianlah perselisihan pendapat di kalangan mufassirin. Namun kalau kita melihat pada ayat-ayat itu secara objektif, kita akan temukan hal-hal sebagai berikut:

Pertama. Kalau kita perhatikan, ayat-ayat yang berbicara tentang dua kali kesombongan dan kerusakan yang hendak dilakukan oleh bangsa Yahudi itu, diturunkan di kota Mekah. 

Lalu timbul pertanyaan:

Apakah mereka sudah melakukannya sebelum turunnya ayat-ayat?

Menurut sejarah, bangsa Yahudi sudah berkali-kali dihancurkan oleh lawan-lawannya sebelum datangnya Islam dan sebelum ayat-ayat itu diturunkan. Mereka ditawan oleh bangsa Babilonia. Mereka juga pernah dihancurkan oleh bangsa Romawi. Mungkin saja hal itu sebagai hukuman dan pertanda kemurkaan Allah Ta'ala kepada mereka akibat kejahatan dan kedengkian mereka terhadap Allah dan nabi-nabi-Nya, sehingga setiap bangsa yang ada di sekitarnya berusaha ingin menggempur dan menghina mereka, seperti yang tertera dalam surat Al-Baqarah ayat 61:

"Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu terjadi karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu terjadi karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas." 

Kemudian dikukuhkan dengan ayat lain di dalam surat yang lain bahwa siksaan Allah terhadap bangsa Yahudi itu akan terus berlanjut hingga hari kiamat: 

"Dan ketika Tuhanmu memberitahukan bahwa sesungguhnya Dia akan mengirimkan kepada mereka (bangsa Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpa-kan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya." (Al-A'raf: 167)

Jadi tidak heran kalau kerusakan dan kesombongan bangsa Yahudi serta kehancurannya terjadi berulang kali sebelum Islam datang, dan bukan hal yang aneh apabila kerusakan dan kesombongan yang lebih dahsyat akan mereka ulangi, kemudian Allah Ta'ala melenyapkan mereka dari permukaan bumi ini.

Sekali lagi tidak ada salahnya kalau kerusakan, kesombongan dan kemudian hukuman penghancuran terhadap mereka terjadi sesudah turunnya ayat-ayat tersebut. 

Kenyataannya, bagi yang mengamati ayat-ayat ini dengan cermat akan menemukan bahwa kedua kerusakan dan kesombongan yang diisyaratkan oleh surat Al-Isra', kemudian hukuman kehancurannya akan datang sesudah turunnya ayat tersebut. 

Kami ajak Anda mengamati kembali firman Allah agar lebih yakin:

"Dan kami telah menetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di bumi ini dua kali, dan kamu pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi kejahatan pertama dari kedua kejahatan itu."

Perhatikan arti penggunaan huruf "lam" pada awal kedua kata kerja mudhari' di atas. "Lam" disini berarti akan datang dan bersifat suatu kepastian.

Jadi arti "La-tus dunna" dan "La-ta'lunna" yaitu: Kamu pasti akan melakukan kerusakan dan kamu pasti akan melakukan kesombongan.

La-tufsidunna, diberi keterangan bilangan dua kali sedang la lunna diberi keterangan lebih tegas: "Uluwan", dengan suatu kesombongan yang sifatnya: "Kabiran", yakni: besar sekali.

Kemudian disusul dengan huruf "Idza", kata dharfiah (adverb) Adanya kata "idza" di sini berati: apabila, yaitu menunjukan akan terjadinya sesuatu masa yang akan datang yang tidakada hubungannya dengan peristiwa sebelumnya.

Jadi adanya kata "idza" dalam ayat itu menunjukkan bahwa kerusakan, kesombongan, kemudian penghancuran yang pertama akan segera datang dan belum berlalu, seperti juga penggunan kata "idza" untuk yang kedua menunjukkan sesuatu yang akan datang, bukan hal yang sudah berlalu.

Kemudian Allah Swt. melanjutkan firman-Nya,

بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أَوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ : الإسراء: ه :

"Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mem-punyai kekuatan besar, lalu mereka mencarimu keluar-masuk kampung (dan lorong) di seluruh negeri."

Dari firman-Nya itu sangat jelas dan mudah untuk dapat kita fahami, bahwa orang-orang yang mendapat kehormatan untuk menghancurkan mereka ialah kaum mukminin, yaitu orang-orang yang mendapat kehormatan dengan "ibadan lana", hamba-hamba Kami, seperti dalam firman-Nya yang lain

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجِهَلُونَ قَالُوا سَلما

"Dan hamba-hamba Ar-Rahman yang berjalan di atas bumi, (memiliki sifat) rendah hati dan apabila ditegur-sapa oleh orang-orang jahil, mereka mengucapkan: Selamat!" (Al-Furqan: 63)

قُلْ يُعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ

"Katakanlah (Muhammad): Hai hamba-hamba-Ku yang me-lampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (Az-Zumar: 53)

سبْحَنَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ

"Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya.'

(Al-Isra': 1)

Allah Ta'ala juga memuliakan kedudukan Nabi Saw dengan mengakuinya sebagai "Abdullah wa Rasuluh", hamba Allah dan Rasul-Nya. Dalam At-Tahiyaat juga kita diperintah. kan mengucapkan,

السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

"Moga-moga selamat sejahtera dilimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang salehin."

Sudah tentu gelar kehormatan dan predikat kemuliaan yang bersifat imani itu tidak sesuai dengan karakteristik bangsa Babilonia dan Romawi yang watsani. Tetapi ia lebih tepat di peruntukkan kepada Rasulullah Saw. dan para sahabatnya yang hijrah ke Madinah, ke pusat kekuasaan, pengaruh politik, dan ekonomi bangsa Yahudi.

Maka tidak heran kalau aktivitas Rasulullah Saw. yang pertama di Madinah ialah; menyusun perjanjian politik antara beliau dengan wakil-wakil bangsa Yahudi yang menyatakan bahwa bangsa Yahudi itu adalah suatu Jamaah merdeka, dan umat Islam juga merupakan suatu jamaah merdeka pula.

Sesudah bangsa Yahudi menyusun persekongkolan rahasia dan melanggar materi serta jiwa perjanjian yang sudah di sepakati bersama sesuai dengan watak dan adat istiadat, maka Allah Ta'ala berkenan "mendatangkan kepadamu hamba-hamba Kami (kaum muslimin) yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka mencarimu keluar masuk kampung (dan lorong) di seluruh negeri.”

Maka berakhirlah wibawa dan ke kuasaan bangsa Yahudi di Madinah, di Khaibar, dan di Taima Bahkan lenyaplah seluruh pengaruh mereka di seluruh Jazirah Arab, sesudah penghancuran kubu-kubu pertahanan Ban Quraidza, Bani An-Nadhir dan pertempuran di Khaibar yang tersohor itu. 

Kiranya lebih objektif kita mendengar berita dan ceritanya dari yang Mahatahu, firman-Nya,

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لا وَلِ الْحَشْرِ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ تَخَرْجُوا وَظَلُّوا أَنَّهُمْ مَا نِعَتُهُمْ حُصُونَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَهُمُ اللهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِم الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا وُلِي الْأَبْصَالَ

"Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir dari ahli kitab itu dari negeri-negeri mereka pada waktu pengusiran yang pertama kali. Kamu tiada menyangka bahwa mereka akan keluar, dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan mampu mempertahankan mereka dari hukuman Allah. Kemudian Allah mendatangkan kepada mereka sangka-sangka, dan Allah mencampakkan ke dalam hati mereka rasa takut (ngeri). Mereka menghancurkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman (kaum muslimin). Maka kejadian itu hendaklah di-jadikan pelajaran, hai orang-orang yang berpandangan jauh." (Al-Hasyar: 2)


Pemahaman yang Benar terhadap Islam Mengapa sebagian kaum Muslimin memiliki sema...

Pemahaman yang Benar terhadap Islam
Mengapa sebagian kaum Muslimin memiliki semangat beribadah yang tinggi, tetapi berbeda-beda dalam memahami Islam?

Mengapa ada yang memandang Islam hanya sebagai urusan ibadah pribadi, sementara yang lain melihatnya sebagai pedoman yang mengatur seluruh aspek kehidupan?

Apakah perbedaan itu sekadar persoalan cara berpikir?

Ataukah justru berawal dari perbedaan dalam memahami hakikat Islam itu sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong Imam Hasan Al-Banna menjadikan al-fahm—pemahaman yang benar—sebagai rukun pertama dalam Risalah Ta'lim.

Bagi beliau, kebangkitan umat tidak mungkin dimulai dari banyaknya aktivitas, tetapi harus dimulai dari cara memahami Islam secara benar.

Mengapa Pemahaman Didahulukan?

Dalam Risalah Ta'lim, Hasan Al-Banna menyusun sepuluh rukun baiat yang menjadi fondasi pembinaan seorang aktivis Muslim.

Rukun-rukun itu adalah:

Al-fahm (pemahaman), ikhlas, amal, jihad, pengorbanan, ketaatan, keteguhan, kemurnian, ukhuwah, dan tsiqah (kepercayaan).

Mengapa urutannya dimulai dari pemahaman?

Karena seseorang tidak mungkin beramal dengan benar apabila ia belum memahami apa yang harus diamalkan.

Ia juga tidak mungkin berjuang dengan istiqamah apabila arah perjuangannya sendiri belum jelas.

Pemahaman adalah fondasi.

Amal adalah bangunannya.

Jika fondasinya rapuh, bangunan sebesar apa pun mudah runtuh.

Mengapa Islam Memerlukan Pemahaman yang Menyeluruh?

Apa sebenarnya tujuan besar yang ingin diwujudkan oleh dakwah Islam?

Apakah hanya memperbanyak ibadah individu?

Ataukah membangun kehidupan yang tunduk kepada petunjuk Allah?

Al-Qur'an menegaskan:

«"Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam."
(QS. Ali 'Imran: 19)»

Allah juga berfirman:

«"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu."
(QS. Al-Ma'idah: 3)»

Kesempurnaan Islam menunjukkan bahwa ajaran ini tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah.

Islam juga memberikan petunjuk bagi kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga peradaban.

Karena itu, membangun masyarakat Islam tidak cukup dengan semangat.

Ia harus dibangun di atas pemahaman yang benar.

Mengapa Umat Mudah Terpecah?

Mengapa sepanjang sejarah umat Islam melahirkan begitu banyak kelompok, aliran, bahkan pertentangan?

Salah satu penyebab utamanya adalah perbedaan dalam memahami ajaran Islam.

Ketika setiap orang memahami Islam menurut sudut pandangnya sendiri tanpa pijakan yang kokoh, lahirlah berbagai penafsiran yang saling bertentangan.

Di sinilah Hasan Al-Banna memandang pentingnya Ushul Isyrin atau Dua Puluh Prinsip.

Prinsip-prinsip ini bukan dimaksudkan untuk membatasi keluasan Islam, tetapi menjadi bingkai agar pemahaman tetap berada dalam koridor Al-Qur'an dan Sunnah.

Dengan demikian, umat memiliki titik temu yang menjaga persatuan sekaligus mencegah penyimpangan.

Mengapa Baiat Dimulai dari Pemahaman?

Risalah Ta'lim ditujukan kepada mereka yang telah memilih jalan perjuangan.

Karena itu, baiat dalam risalah ini bukan sekadar janji emosional.

Ia merupakan komitmen untuk berjalan di atas pemahaman yang sama.

Hasan Al-Banna menggambarkannya sebagai baiat antara seorang prajurit dengan panglimanya.

Mengapa demikian?

Karena perjuangan memerlukan kesatuan arah.

Mustahil sebuah barisan mampu bergerak serempak apabila setiap anggotanya memiliki peta yang berbeda.

Kesatuan amal lahir dari kesatuan pemahaman.

Mengapa Amal Harus Didahului Ilmu?

Apakah cukup seseorang mencintai Islam tanpa memahami ajarannya?

Tentu tidak.

Islam mengajarkan bahwa ilmu mendahului amal.

Seseorang yang ingin memperjuangkan Islam harus mengetahui apa yang diperjuangkannya.

Ia juga harus meluruskan niatnya agar seluruh amal dilakukan semata-mata mencari ridha Allah.

Karena itu, dua hal selalu berjalan beriringan:

Pemahaman yang benar.

Keikhlasan yang benar.

Dari keduanya lahirlah amal yang benar.

Islam Itu Menyeluruh

Salah satu prinsip paling terkenal dalam Risalah Ta'lim adalah penjelasan Hasan Al-Banna tentang hakikat Islam.

Beliau menegaskan bahwa Islam adalah sistem hidup yang menyeluruh.

Islam adalah agama dan negara.

Akidah dan syariat.

Ibadah dan muamalah.

Akhlak dan kekuatan.

Ilmu dan peradaban.

Ekonomi dan keadilan.

Dakwah dan jihad.

Dengan kata lain, Islam tidak hanya berbicara tentang masjid.

Ia juga berbicara tentang pasar, keluarga, pendidikan, pemerintahan, ilmu pengetahuan, dan kehidupan sosial.

Mengapa penjelasan ini terasa sangat penting?

Karena pada masa Hasan Al-Banna banyak orang memahami Islam secara parsial.

Sebagian menganggap Islam hanya mengatur ibadah ritual.

Sebagian lain membatasinya pada persoalan akhlak.

Ada pula yang memisahkan agama dari urusan sosial dan politik.

Hasan Al-Banna mengingatkan bahwa Islam tidak dapat dipahami dengan memisahkan bagian-bagiannya.

Seperti Orang Buta yang Meraba Gajah

Untuk menggambarkan bahaya memahami Islam secara parsial, dapat digunakan sebuah perumpamaan.

Bayangkan beberapa orang buta diminta mengenali seekor gajah.

Seseorang memegang belalainya, lalu berkata, "Gajah itu seperti ular."

Yang lain memegang telinganya dan berkata, "Tidak, gajah itu seperti kipas."

Ada yang memegang kakinya lalu berkata, "Gajah itu seperti batang pohon."

Masing-masing mengatakan sesuatu yang benar.

Namun, tidak seorang pun melihat keseluruhan.

Demikian pula ketika Islam dipahami hanya dari satu sisinya.

Ada yang hanya melihat ibadah.

Ada yang hanya melihat politik.

Ada yang hanya melihat akhlak.

Padahal Islam adalah satu kesatuan yang utuh.

Memahami sebagian tanpa memahami keseluruhannya dapat melahirkan kesimpulan yang tidak utuh.

Ke Mana Seorang Muslim Harus Merujuk?

Jika demikian, dari mana seorang Muslim memperoleh pemahaman yang benar?

Hasan Al-Banna menjawab dengan tegas.

Rujukan utama setiap Muslim adalah Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.

Keduanya menjadi sumber utama dalam memahami hukum, nilai, dan arah kehidupan.

Seluruh ijtihad, pemikiran, maupun gerakan dakwah harus kembali kepada dua sumber tersebut.

Dengan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai rujukan, umat memiliki standar yang tetap meskipun zaman terus berubah.

Apa Pelajaran Besarnya?

Mengapa Hasan Al-Banna menempatkan al-fahm sebagai rukun pertama?

Karena beliau memahami satu kenyataan yang sangat mendasar.

Kesalahan berpikir akan melahirkan kesalahan bertindak.

Sebaliknya, pemahaman yang benar akan melahirkan amal yang benar, perjuangan yang benar, serta persatuan yang benar.

Kebangkitan Islam tidak dimulai dari banyaknya slogan.

Ia dimulai dari cara memahami Islam sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Ketika pemahaman telah lurus, niat menjadi ikhlas.

Ketika niat telah ikhlas, amal menjadi benar.

Ketika amal dilakukan secara benar dan bersama-sama, lahirlah masyarakat yang kokoh.

Dan dari masyarakat yang kokoh itulah peradaban Islam dibangun kembali.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (4) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (10) Dakwah (3) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (55) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (105) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (74) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (268) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (676) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (303) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)