Kita Tidak Akan Kembali pada Kegelapan
Apakah dunia Islam akan kembali memasuki era ketika agama disingkirkan dari ruang publik, syariat dipandang sebagai penghalang kemajuan, dan peradaban Barat dijadikan ukuran tunggal bagi segala aspek kehidupan?
Pertanyaan itu bukan sekadar wacana intelektual. Ia lahir dari pengalaman panjang negeri-negeri Muslim yang pernah mengalami gelombang kolonialisme, sekularisasi, sosialisme, hingga berbagai proyek modernisasi yang sering kali menempatkan Islam di pinggir kehidupan.
Bagi banyak pemikir Islam, termasuk Imam Hasan Al-Banna, pengalaman tersebut bukanlah perjalanan menuju kemajuan, melainkan sebuah fase kegelapan yang meninggalkan jejak sosial, moral, dan politik yang panjang.
Ketika Kegelapan Datang dengan Nama Kemajuan
Gelombang pemikiran yang datang dari Timur yang ateis maupun Barat yang sekuler pernah menyapu banyak negeri Muslim. Bersamaan dengan itu muncul propaganda bahwa kemajuan hanya dapat diraih jika Islam dipisahkan dari kehidupan publik.
Nilai-nilai agama diposisikan sebagai simbol keterbelakangan. Sebaliknya, segala sesuatu yang berasal dari Barat dipandang sebagai standar peradaban yang harus ditiru, tanpa membedakan antara ilmu yang bermanfaat dan budaya yang merusak.
Dalam situasi demikian, berbagai praktik yang sebelumnya dianggap menyimpang mulai memperoleh legitimasi sosial. Pergaulan bebas dipromosikan sebagai kebebasan, perjudian dan pelacuran memperoleh ruang, industri hiburan yang mengeksploitasi syahwat berkembang, sementara seruan untuk menerapkan syariat justru dicurigai sebagai ancaman terhadap kemajuan.
Di saat yang sama, agama didorong agar hanya menjadi urusan pribadi. Negara dan masyarakat diarahkan untuk melepaskan diri dari nilai-nilai wahyu.
Cahaya yang Perlahan Kembali Menyala
Namun sejarah tidak berhenti pada satu titik.
Di tengah gelombang sekularisasi itu, muncul kebangkitan kesadaran Islam di berbagai negeri. Para dai, ulama, intelektual, dan aktivis mulai mengingatkan masyarakat tentang akar persoalan yang mereka hadapi.
Sedikit demi sedikit terjadi perubahan.
Kesadaran beragama tumbuh di kalangan generasi muda. Hijab dikenakan kembali atas dasar keyakinan, bukan paksaan. Tuntutan agar syariat mendapat tempat dalam kehidupan publik semakin terdengar. Islam kembali dipahami sebagai agama yang membawa keadilan, keamanan, perdamaian, dan kemuliaan manusia.
Pengalaman pahit berbagai ideologi juga ikut membentuk kesadaran tersebut. Di banyak negara, eksperimen sosialisme yang pernah dipaksakan justru meninggalkan kerusakan ekonomi dan politik. Runtuhnya Uni Soviet menjadi salah satu penanda bahwa tidak semua proyek ideologi mampu menjawab kebutuhan manusia.
Hasan Al-Banna Membaca Akar Krisis
Imam Hasan Al-Banna menggambarkan kondisi umat Islam sebagai sebuah gelombang besar yang menyerbu akal, hati, dan cara berpikir kaum Muslim.
Menurut beliau, berbagai ideologi, filsafat, dan sistem asing tidak sekadar memasuki negeri-negeri Islam, tetapi juga berusaha membentuk cara pandang umat terhadap dirinya sendiri. Akibatnya lahirlah generasi yang secara budaya, politik, dan intelektual lebih dekat kepada nilai-nilai di luar Islam daripada kepada agamanya sendiri.
Yang paling berbahaya, proses itu sering berlangsung tanpa disadari.
Masyarakat merasa sedang bergerak menuju kemajuan, padahal perlahan kehilangan fondasi akidah dan identitasnya.
Islam Tidak Menolak Kemajuan
Al-Banna menegaskan bahwa persoalannya bukanlah ilmu pengetahuan atau kemajuan teknologi.
Islam justru mendorong umat mengambil hikmah dan ilmu yang bermanfaat dari mana pun datangnya.
Yang ditolak adalah taklid buta, yaitu menerima seluruh cara hidup suatu peradaban tanpa proses penyaringan berdasarkan akidah dan syariat.
Karena itu, kemajuan material semata tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan sebuah peradaban.
Pertanyaannya adalah:
Apakah manusia menjadi lebih tenteram?
Apakah keadilan semakin merata?
Apakah kemiskinan berkurang?
Apakah masyarakat merasa lebih aman?
Apakah penganiayaan terhadap manusia berhenti?
Jika berbagai kemajuan itu tidak menghadirkan ketenangan dan keadilan, maka manusia berhak mempertanyakan arah peradaban yang sedang dibangun.
Pengalaman Sejarah Menjadi Pelajaran
Selama lebih dari satu abad, dunia telah menyaksikan berbagai sistem politik, ekonomi, dan ideologi saling bergantian menawarkan solusi.
Namun sejarah juga memperlihatkan perang yang terus berulang, ketimpangan ekonomi yang melebar, eksploitasi manusia, serta krisis moral yang tidak kunjung selesai.
Bagi Al-Banna, kenyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan manusia tidak dapat diselesaikan hanya dengan pembangunan material.
Peradaban memerlukan fondasi ruhani.
Tanpa itu, kemajuan justru berpotensi melahirkan kehancuran dalam bentuk yang lebih canggih.
Tugas Umat Islam
Setelah menguraikan diagnosis tersebut, Hasan Al-Banna mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar:
"Lalu apakah tugas kita?"
Jawabannya bukan sekadar bertahan, tetapi menghidupkan kembali nilai-nilai Islam sehingga mampu menjadi rahmat bagi seluruh manusia.
Yang dimaksud bukan dominasi melalui pemaksaan, melainkan menghadirkan kembali kepemimpinan moral yang bersumber dari Al-Qur'an dan teladan Nabi Muhammad ï·º, sehingga manusia mengenal Islam sebagai jalan menuju keadilan, keamanan, dan kemuliaan.
Semangat itu sejalan dengan firman Allah:
«"Milik Allah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."
(QS. Ar-Rum: 4–5)»
Cahaya yang Tidak Akan Padam
Optimisme kaum Muslim bukan bertumpu pada kekuatan politik semata, tetapi pada janji Allah.
Al-Qur'an menggambarkan dirinya sebagai cahaya yang mengeluarkan manusia dari berbagai bentuk kegelapan menuju jalan keselamatan.
Allah berfirman:
«"Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus."
(QS. Al-Ma'idah: 15–16)»
Allah juga menegaskan:
«"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan Kamilah yang akan menjaganya."
(QS. Al-Hijr: 9)»
Karena itu, upaya memadamkan cahaya Islam tidak akan berhasil.
Sebagaimana firman-Nya:
«"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya."
(QS. At-Taubah: 32)»
Pelajaran dari Berbagai Negeri
Sejarah modern memperlihatkan bahwa identitas Islam tidak mudah dihapus.
Beberapa wilayah yang selama puluhan tahun berada di bawah sistem sekuler atau ateistik justru mengalami kebangkitan kembali kehidupan keagamaannya setelah tekanan politik berakhir. Fenomena di Turki maupun sejumlah negara Asia Tengah sering dijadikan contoh bahwa keyakinan masyarakat dapat hidup kembali ketika ruang kebebasan terbuka.
Bagi banyak pengamat, hal ini menunjukkan bahwa agama tetap menjadi kebutuhan mendasar manusia, bahkan setelah melewati proses sekularisasi yang panjang.
Menjawab Tuduhan terhadap Islam
Di tingkat global, Islam sering menghadapi berbagai tuduhan, mulai dari ekstremisme hingga terorisme.
Dalam membahas persoalan ini, penting membedakan antara ajaran suatu agama dan tindakan individu atau kelompok yang mengatasnamakan agama tersebut.
Sepanjang sejarah modern, kekerasan, perang, pelanggaran hak asasi manusia, dan ekstremisme dilakukan oleh pelaku yang berasal dari beragam latar belakang agama, etnis, maupun ideologi. Karena itu, menilai Islam semata-mata berdasarkan tindakan sebagian orang merupakan penyederhanaan yang tidak adil.
Al-Qur'an justru menggambarkan Islam sebagai jalan keselamatan, keadilan, dan rahmat bagi manusia.
Penutup
Pertanyaan terbesar bagi dunia Islam hari ini bukanlah apakah peradaban modern akan terus berkembang.
Pertanyaannya adalah: nilai apa yang akan menjadi fondasi peradaban tersebut?
Bila pengalaman sejarah menunjukkan bahwa kemajuan material saja tidak mampu menghadirkan keadilan, ketenteraman, dan kemuliaan manusia, maka pencarian terhadap nilai-nilai wahyu akan terus menemukan relevansinya.
Karena itulah, bagi orang-orang yang meyakini Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup, perjalanan bukanlah kembali kepada kegelapan, melainkan terus bergerak menuju cahaya yang dijanjikan Allah—cahaya yang membimbing manusia keluar dari berbagai bentuk krisis menuju jalan yang lurus.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif