ISLAM DAN PENGENALAN TERHADAP ALAM
Konsep Islam tidak hanya memperkenalkan manusia kepada dirinya sendiri dan kepada Penciptanya, tetapi juga memperkenalkan manusia kepada alam tempat ia hidup. Islam mengungkapkan kepada manusia tabiat alam, karakteristiknya, hubungannya dengan Penciptanya, serta berbagai tanda yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan-Nya.
Alam bukan sesuatu yang berdiri sendiri tanpa makna. Ia memiliki keteraturan, hukum, karakteristik, dan tujuan. Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang mengarahkan manusia kepada Penciptanya. Alam juga disiapkan untuk menerima kehidupan dan berbagai makhluk hidup di dalamnya, serta ditundukkan bagi manusia atas izin Allah.
Semua itu diungkapkan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh fitrah dan akal. Kebenarannya tidak hanya dapat direnungkan secara abstrak, tetapi juga dapat disaksikan dalam realitas indrawi dan dirasakan melalui fitrah yang tersimpan dalam diri manusia.
Karena itu, Islam tidak mengajarkan manusia untuk memandang alam sebagai sesuatu yang asing atau terpisah dari kehidupan spiritualnya. Islam justru mengajak manusia untuk mengenalnya secara luas, memahami hukum-hukumnya, menyelami rahasia-rahasianya, dan berinteraksi dengannya secara benar.
Dengan demikian, hubungan manusia dengan alam bukan hubungan yang dibangun di atas ketidaktahuan, apalagi sekadar pemanfaatan tanpa arah. Ia merupakan hubungan yang bertumpu pada pengenalan, pemahaman, pengamatan, dan interaksi yang benar.
Al-Qur'an berulang kali mengarahkan pandangan manusia kepada alam. Bukan sekadar agar manusia melihat, tetapi agar mereka memikirkan apa yang dilihatnya dan menangkap makna yang berada di baliknya.
Allah berfirman:
«“Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
(QS. al-Baqarah, 2:22)»
Perhatikan bagaimana ayat ini menghubungkan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia—bumi, langit, hujan, buah-buahan, dan rezeki—dengan persoalan tauhid.
Manusia melihat bumi sebagai tempat berpijak. Ia melihat langit sebagai ruang yang menaunginya. Ia melihat hujan turun, tumbuh-tumbuhan berkembang, dan buah-buahan menjadi rezeki. Namun Al-Qur'an mengajak manusia melangkah lebih jauh: siapakah yang menjadikan semua itu ada dan berlangsung dengan keteraturan seperti itu?
Dengan demikian, pengamatan terhadap alam tidak berhenti pada fenomena. Ia mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Penciptanya.
Allah juga berfirman:
«“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”
(QS. al-An'am, 6:1)»
Langit dan bumi, gelap dan terang, bukan sekadar objek yang dilihat mata. Semuanya merupakan bagian dari tanda-tanda yang mengarahkan manusia kepada Allah.
Karena itu, semakin manusia mengenal alam dengan benar, seharusnya semakin terbuka pula kesadarannya terhadap kebesaran Penciptanya.
Hal itu semakin jelas ketika Al-Qur'an membawa manusia mengamati keteraturan yang lebih luas:
«“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.»
«Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya, dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.»
«Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang. (Meskipun) disirami dengan air yang sama, (namun) Kami lebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain dalam rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal.”
(QS. ar-Ra'd, 13:2–4)»
Di sini manusia diarahkan untuk melihat alam sebagai suatu sistem yang teratur. Matahari dan bulan bergerak dalam perjalanan masing-masing. Malam dan siang silih berganti. Bumi membentang, gunung-gunung berdiri, sungai-sungai mengalir, dan berbagai tanaman tumbuh.
Bahkan sesuatu yang tampak sederhana—seperti air yang sama-sama menyirami tanaman—dapat menghasilkan rasa dan karakter yang berbeda.
Maka alam bukan sekadar sesuatu yang berada di luar diri manusia. Ia adalah ruang terbuka untuk berpikir.
Al-Qur'an kemudian membawa manusia lebih dekat lagi kepada berbagai kenikmatan dan mekanisme kehidupan yang mereka jumpai setiap hari:
«“Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuh)nya kamu menggembalakan ternakmu.»
«Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.»
«Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.»
«Dan Dia menundukkan pula apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.»
«Dan Dia-lah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.»
«Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.»
«Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
(QS. an-Nahl, 16:10–17)»
Perhatikan kembali alurnya. Air turun dari langit. Tumbuhan tumbuh. Hewan memperoleh makanan. Manusia memperoleh rezeki. Malam dan siang silih berganti. Matahari, bulan, dan bintang berjalan menurut ketentuan-Nya. Laut dapat dilayari. Dari laut manusia memperoleh makanan dan berbagai manfaat.
Semua itu kemudian ditutup dengan pertanyaan yang sangat mendasar:
“Maka apakah Allah yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa?”
Pertanyaan tersebut mengubah cara manusia memandang alam. Alam tidak lagi sekadar tempat manusia mengambil manfaat. Alam menjadi ayat kauniyah, tanda yang mengarahkan manusia kepada Allah.
Karena itu, Al-Qur'an juga mengajak manusia memperhatikan asal-usul dan keteraturan kehidupan:
«“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?»
«Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.»
«Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.»
«Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”
(QS. al-Anbiya', 21:30–33)»
Ayat ini kembali memperlihatkan bahwa Al-Qur'an tidak memisahkan pengenalan terhadap alam dari pengenalan terhadap Allah.
Manusia diajak melihat langit, bumi, air, kehidupan, gunung, jalan-jalan, malam, siang, matahari, dan bulan. Namun semua pengamatan itu diarahkan kepada satu kesadaran: di balik keteraturan tersebut terdapat kehendak dan kekuasaan Allah.
Karena itu, memahami alam dalam perspektif Islam bukan berarti sekadar mengumpulkan pengetahuan tentang benda-benda yang ada di dalamnya. Pengetahuan itu seharusnya mengantarkan manusia kepada pemahaman tentang hubungan antara alam dan Penciptanya.
Allah berfirman:
«“Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya dan Dia menahan (benda-benda) langit hingga tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”
(QS. al-Hajj, 22:65)»
Di sini muncul dimensi lain dari hubungan manusia dengan alam: ketundukan alam bagi manusia atas izin Allah.
Alam bukan Tuhan yang harus disembah. Alam juga bukan sesuatu yang boleh diperlakukan semaunya. Ia adalah ciptaan Allah yang ditundukkan bagi manusia dalam batas-batas yang telah ditetapkan-Nya.
Maka ketundukan alam kepada manusia bukan alasan untuk berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Justru karena alam merupakan amanah dari Allah, manusia dituntut mengenalinya, memahami hukum-hukumnya, dan memperlakukannya dengan benar.
Al-Qur'an juga mengarahkan perhatian manusia kepada keteraturan air dan kehidupan:
«“Dan sungguh Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami). Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.»
«Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur. Di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebagian dari buah-buahan itu kamu makan.”
(QS. al-Mu'minun, 23:17–19)»
Air turun menurut suatu ukuran. Ia menetap di bumi. Kemudian kehidupan tumbuh darinya.
Apakah manusia tidak seharusnya berhenti sejenak untuk memikirkan keteraturan itu?
Bukankah di balik sesuatu yang begitu biasa—air hujan yang turun dari langit—terdapat rangkaian proses yang memungkinkan kehidupan berlangsung?
Al-Qur'an bahkan mengajak manusia memperhatikan proses terbentuknya hujan:
«“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkannya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya, dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.»
«Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.”
(QS. an-Nur, 24:43–44)»
Yang menarik bukan hanya fenomenanya, tetapi cara Al-Qur'an mengarahkan manusia untuk menyikapinya. Awan bukan hanya untuk dilihat. Hujan bukan hanya untuk dimanfaatkan. Pergantian malam dan siang bukan hanya sesuatu yang berlangsung berulang-ulang.
Semua itu adalah pelajaran bagi orang yang mempunyai penglihatan.
Dengan demikian, penglihatan dalam perspektif Al-Qur'an bukan sekadar kemampuan mata. Mata melihat fenomena, tetapi akal dan fitrah menangkap makna.
Perhatikan pula bagaimana Al-Qur'an mengajak manusia memperhatikan bayang-bayang, malam, tidur, siang, angin, hujan, tanah yang mati, dan kehidupan:
«“Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang; dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu. Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan.»
«Dan Dia-lah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.»
«Dan Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami hidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami beri minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang ternak dan manusia yang banyak.”
(QS. al-Furqan, 25:45–49)»
Di sini alam bahkan menjadi bagian dari ritme kehidupan manusia.
Malam memberi kesempatan untuk beristirahat. Siang membuka ruang untuk berusaha. Angin membawa kabar tentang hujan. Air menghidupkan tanah yang mati. Dari tanah itu manusia, hewan, dan berbagai makhluk memperoleh kehidupan.
Bukankah semua itu menunjukkan bahwa manusia hidup di dalam sebuah sistem yang jauh lebih besar daripada dirinya?
Ia tidak menciptakan siang dan malam. Ia tidak mengatur perjalanan matahari. Ia tidak menciptakan hujan. Ia tidak menentukan dari mana angin datang. Namun ia hidup di antara semua ketetapan tersebut dan memperoleh kehidupan darinya.
Karena itu, kesadaran terhadap alam semestinya melahirkan kesadaran terhadap posisi manusia di dalamnya.
Allah berfirman:
«“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.»
«Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?»
«Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.»
«Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta-merta mereka berada dalam kegelapan.»
«Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.»
«Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang; masing-masing beredar pada garis edarnya.”
(QS. Yasin, 36:33–40)»
Perhatikan penutup bagian pertama ayat tersebut: “Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?”
Di sinilah pengenalan terhadap alam bertemu dengan akhlak.
Manusia melihat bumi yang mati kemudian hidup kembali. Ia melihat tanaman tumbuh, mata air memancar, buah-buahan dapat dimakan, matahari dan bulan berjalan pada ketentuannya. Semua itu bukan hanya pengetahuan untuk disimpan dalam pikiran. Ia seharusnya melahirkan syukur.
Dengan demikian, dalam konsep Islam, ilmu tentang alam tidak berhenti pada mengetahui bagaimana sesuatu berlangsung, tetapi juga mengarahkan manusia untuk bertanya untuk apa pengetahuan itu digunakan dan kepada siapa semua itu akhirnya mengantarkan dirinya.
Al-Qur'an kemudian mengarahkan manusia kepada penciptaan bumi dan langit:
«“Katakanlah: ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam.’»
«Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa sesuai bagi segala yang memerlukannya.»
«Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka rela atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka rela.’»
«Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Fushshilat, 41:9–12)»
Ayat ini kembali membawa manusia dari pengamatan terhadap ciptaan menuju pengenalan terhadap Sang Pencipta.
Bumi memiliki ketentuan. Langit memiliki ketentuan. Masing-masing berjalan dalam tatanan yang telah ditetapkan Allah.
Maka semakin manusia mengenal keteraturan alam, semakin ia seharusnya menyadari bahwa alam bukan sesuatu yang berjalan tanpa hukum dan tanpa arah.
Dan akhirnya Al-Qur'an mengajak manusia menatap langit dan bumi dengan pandangan yang lebih dalam:
«“Maka apakah mereka tidak melihat langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun?»
«Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pengajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).»
«Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.”
(QS. Qaf, 50:6–11)»
Sekali lagi, manusia diajak melihat.
Namun melihat saja tidak cukup.
Ia harus memperhatikan, memikirkan, memahami, dan mengambil pelajaran. Langit yang tinggi, bumi yang terbentang, gunung-gunung, tumbuh-tumbuhan, air yang turun dari langit, dan tanah yang kembali hidup setelah mati—semuanya berada dalam satu rangkaian tanda.
Bahkan kehidupan tumbuhan setelah turunnya hujan dijadikan perumpamaan bagi kebangkitan manusia.
Dengan demikian, alam dalam konsep Islam bukan sekadar objek penelitian, dan bukan pula sekadar sumber pemenuhan kebutuhan manusia. Alam adalah ayat Allah yang terbentang.
Manusia diperintahkan untuk membacanya dengan mata, memahaminya dengan akal, merasakannya dengan fitrah, dan memperlakukannya dengan amanah.
Di sinilah hubungan antara wahyu dan alam menjadi jelas. Wahyu membimbing manusia membaca alam, sedangkan alam menghadirkan tanda-tanda yang dapat direnungkan manusia. Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Alam mengajarkan manusia tentang keteraturan. Wahyu mengajarkan manusia bagaimana memahami keteraturan itu dan bagaimana menempatkan dirinya di dalamnya.
Karena itu, mengenal alam dalam perspektif Islam pada akhirnya bukan hanya persoalan mengetahui alam, tetapi juga persoalan mengenal diri, mengenal batas diri, dan mengenal Pencipta alam.
Manusia boleh menjelajahi rahasia-rahasia alam sejauh kemampuan akalnya. Ia boleh meneliti hukum-hukumnya, memahami mekanismenya, memanfaatkan sumber dayanya, dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang lahir darinya.
Namun semakin luas pengetahuannya, semakin dalam pula seharusnya kesadarannya bahwa ia hidup di dalam tatanan yang bukan ciptaannya sendiri.
Di situlah pengetahuan berubah menjadi pengenalan, pengenalan melahirkan kesadaran, kesadaran melahirkan syukur, dan syukur mengarahkan manusia untuk berinteraksi dengan alam secara benar.
Alam tidak hanya untuk ditaklukkan. Ia untuk dibaca.
Tidak hanya untuk dimanfaatkan. Ia untuk dipahami.
Tidak hanya untuk diteliti. Ia untuk direnungkan.
Sebab di balik setiap keteraturan yang terbentang di hadapan mata, Al-Qur'an mengajak manusia menemukan tanda-tanda kebesaran Allah.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif