Persatuan: Antara Takdir dan Ikhtiar
Perpecahan yang terjadi pada umat ini merupakan bagian dari takdir Allah. Namun, memahami perpecahan sebagai sesuatu yang telah ditakdirkan bukan berarti kita boleh berserah diri kepadanya, apalagi menjadikannya alasan untuk membiarkan perselisihan terus berlangsung.
Takdir tidak menghapus kewajiban untuk berikhtiar.
Justru kita diperintahkan untuk menempuh sebab-sebab syar'i yang dapat menghilangkan perselisihan atau setidaknya meminimalisirnya. Karena itu, Al-Qur'an dan Sunnah tidak hanya memberitahukan bahwa perpecahan akan terjadi, tetapi juga memberikan petunjuk bagaimana umat harus menyikapinya.
Ada perintah untuk bersatu dan berpegang teguh. Allah dan Rasul-Nya memuji persatuan. Sebaliknya, terdapat larangan keras terhadap perpecahan yang tercela serta ancaman bagi mereka yang menjadikannya jalan kehidupan.
Dengan demikian, persoalan persatuan bukan persoalan sampingan. Ia merupakan salah satu pokok besar agama yang bahkan terus diingatkan kepada kaum muslimin dalam setiap shalat melalui Surah Al-Fatihah.
Setiap hari kita memohon kepada Allah:
"Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat."
(QS Al-Fatihah: 6–7)
Ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan di sini.
Kita tidak hanya memohon agar ditunjukkan kepada "jalan", tetapi memohon kepada jalan yang lurus. Jalan itu harus jelas arahnya, tidak bercabang ke berbagai arah yang saling menjauhkan, dan harus membawa manusia menuju tujuan yang benar.
Karena itu, Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa secara bahasa Ash-Shirath memiliki beberapa sifat: ia merupakan jalan yang lurus, mudah ditempuh, dapat dilalui, luas, dan mengantarkan orang yang menempuhnya kepada tujuan.
Secara syariat, hakikat Ash-Shirath juga satu: jalan Allah yang telah ditetapkan-Nya bagi hamba-hamba-Nya melalui para rasul. Jalan itulah yang mengantarkan manusia kepada Allah. Tidak ada jalan lain yang dapat menggantikannya.
Jalan tersebut berdiri di atas dua hal: memurnikan tauhid kepada Allah dan mengikuti Rasulullah saw. dengan sebenar-benarnya.
Maka, jalan yang lurus, baik secara bahasa maupun secara syariat, mengandung makna yang sangat kuat tentang persatuan. Orang-orang yang berjalan menuju tujuan yang sama tidak seharusnya mengambil jalan yang saling menjauhkan.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan yang lain yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya."
(QS Al-An'am: 153)
Perhatikan hubungan antara jalan Allah dan persatuan.
Allah menyebut jalan-Nya dalam bentuk tunggal, sedangkan jalan-jalan lain yang menyimpang disebut dalam bentuk jamak. Jalan Allah satu; jalan yang menyimpang banyak dan bercabang. Semakin manusia menjauh dari jalan yang satu itu, semakin terbuka kemungkinan terjadinya perpecahan.
Allah juga menjelaskan bahwa jalan tersebut adalah jalan orang-orang yang diberi-Nya nikmat: para nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka.
Salah satu sifat besar para nabi adalah mereka bersatu di atas kebenaran. Mereka berpegang teguh kepada wahyu dan tidak meninggalkan kebenaran hanya karena perbedaan kepentingan.
Demikian pula orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dalam Al-Fatihah digambarkan dengan dua sisi. Ada sifat yang mereka miliki, yaitu berjalan di atas jalan yang benar, dan ada pula sifat yang mereka tinggalkan, yaitu jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat.
Dengan demikian, menjadi bagian dari orang-orang yang diberi nikmat tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa kita berada di atas kebenaran. Kita juga harus memastikan bahwa kita tidak berjalan di atas jalan orang-orang yang menyimpang.
Al-Qur'an Memerintahkan Persatuan
Karena itu, Allah berulang kali mencela perselisihan dan perpecahan dalam Al-Qur'an. Sebaliknya, Dia memerintahkan kaum mukminin untuk berhimpun dan bersatu.
Bahkan Allah menyebut persatuan sebagai salah satu nikmat-Nya yang terbesar.
1. Berpegang teguh kepada tali Allah
Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu, pada masa jahiliah, bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. Sedangkan ketika itu kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk."
(QS Ali 'Imran: 102–103)
Perhatikan bagaimana ayat tersebut menghubungkan tiga hal: ketakwaan, berpegang teguh kepada tali Allah, dan persatuan.
Allah memerintahkan ketakwaan, kemudian memerintahkan berpegang teguh kepada tali-Nya, lalu melarang perpecahan. Setelah itu Allah mengingatkan kaum muslimin kepada sebuah kenikmatan yang pernah mereka rasakan: permusuhan berubah menjadi persaudaraan.
Sebelum Islam, mereka berada dalam keadaan saling bermusuhan. Islam tidak sekadar memberikan keyakinan baru, tetapi juga menyatukan hati yang sebelumnya tercerai-berai.
Karena itu, persatuan bukan sekadar strategi sosial. Ia merupakan bagian dari petunjuk Allah.
Ibnu Katsir berkata bahwa firman Allah, "dan janganlah kamu bercerai-berai," merupakan perintah kepada mereka untuk berjamaah dan larangan dari perpecahan. Banyak hadis juga menjelaskan larangan perpecahan serta perintah untuk bersatu.
Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa persatuan tidak mungkin dibangun hanya dengan kesepakatan manusia. Ia harus dibangun di atas tali Allah.
Tanpa ketakwaan, persatuan mudah berubah menjadi kepentingan kelompok. Tanpa Sunnah, jamaah mudah kehilangan arah. Dan ketika tali Allah ditinggalkan, persatuan dapat berubah menjadi sekadar slogan.
Karena itu, menyia-nyiakan ketakwaan dan Sunnah merupakan salah satu sebab terbesar munculnya perpecahan.
Perpecahan Bukan Sekadar Perbedaan
2. Jangan menjadi seperti umat yang terpecah
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat. Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram, kepada mereka dikatakan, 'Mengapa kamu kafir setelah beriman?' Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu."
(QS Ali 'Imran: 105–106)
Ayat ini tidak sekadar menyebut perpecahan sebagai sebuah keadaan yang harus dihindari. Allah melarang kaum mukminin menyerupai orang-orang yang bercerai-berai setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas.
Ini memberikan pelajaran penting: tidak setiap perbedaan merupakan perpecahan yang tercela, tetapi perbedaan yang menjauhkan manusia dari kebenaran dan memecah jamaah merupakan persoalan yang serius.
Karena itu, seorang muslim tidak cukup hanya mengatakan, "Saya berada di dalam kelompok orang-orang yang diberi nikmat." Ia juga harus membebaskan dirinya dari jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat.
Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan:
"Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian binasa karena perselisihan mereka mengenai Al-Kitab."
Perselisihan yang dimaksud bukan sekadar perbedaan pemahaman yang lahir dari keterbatasan manusia. Perselisihan menjadi berbahaya ketika manusia menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh, menolak kebenaran, atau menjadikan hawa nafsu sebagai hakim.
Ketika Berselisih, Kembalikan kepada Allah dan Rasul
3. Perselisihan harus dikembalikan kepada wahyu
Allah Ta'ala berfirman:
"Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul."
(QS An-Nisa': 59)
Allah juga berfirman:
"Dan apa pun yang kamu perselisihkan padanya tentang sesuatu, keputusannya terserah kepada Allah."
(QS Asy-Syura: 10)
Dua ayat ini memberikan jalan keluar yang sangat mendasar.
Islam tidak mengajarkan bahwa manusia tidak akan pernah berbeda. Perbedaan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tetapi ketika perbedaan muncul, ada tempat untuk kembali.
Tempat kembali itu bukan hawa nafsu, bukan fanatisme kelompok, bukan sekadar pendapat tokoh, dan bukan pula kekuatan mayoritas.
Tempat kembali itu adalah Allah dan Rasul-Nya.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ayat tersebut mencakup perkara kecil maupun besar yang diperselisihkan kaum muslimin. Ia tidak terbatas pada satu jenis persoalan tertentu.
Ketika terjadi perselisihan, kembali kepada Al-Qur'an berarti kembali kepada Allah. Kembali kepada Sunnah Rasulullah saw. juga berarti kembali kepada Allah, karena Rasulullah menyampaikan hukum yang berasal dari-Nya.
Dengan demikian, wahyu berfungsi bukan hanya sebagai sumber petunjuk ketika manusia sepakat, tetapi justru menjadi tempat kembali ketika manusia berselisih.
Di sinilah kedudukan Al-Qur'an dan Sunnah menjadi sangat penting dalam menjaga persatuan. Persatuan tidak berarti semua orang harus selalu mempunyai pendapat yang sama. Persatuan berarti ketika perbedaan muncul, seluruh pihak memiliki tempat kembali yang sama.
Perpecahan Agama Adalah Jalan yang Harus Dijauhi
4. Jangan memecah-belah agama
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi beberapa golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu, Muhammad, atas mereka."
(QS Al-An'am: 159)
Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya persoalan perpecahan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa ketika Allah menyatakan kepada Nabi-Nya bahwa beliau tidak bertanggung jawab sedikit pun atas mereka yang memecah-belah agama, hal itu menunjukkan pemutusan hubungan dengan mereka dalam persoalan tersebut.
Allah bahkan menjadikan tindakan memecah-belah agama sebagai salah satu sifat yang menonjol dari kelompok-kelompok yang menyimpang.
Pesannya sangat jelas: perpecahan bukan identitas yang boleh dibanggakan.
Ketika seseorang menjadikan kelompok, fanatisme, atau pendapat tertentu sebagai ukuran kebenaran, kemudian menganggap semua yang berada di luar kelompoknya sebagai musuh, maka persatuan umat semakin jauh dari kenyataan.
Perselisihan dan Rahmat
5. Tidak semua manusia akan selalu bersatu dalam hawa nafsunya
Allah Ta'ala berfirman:
"Tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu."
(QS Hud: 118–119)
Ayat ini menggambarkan kenyataan manusia: perselisihan akan selalu muncul. Namun Allah memberikan pengecualian kepada orang-orang yang mendapatkan rahmat-Nya.
Ini memberi kita perspektif yang seimbang.
Kita tidak boleh membayangkan bahwa persatuan berarti menghapus seluruh perbedaan manusia. Yang harus diusahakan adalah persatuan di atas kebenaran dan meminimalisir perselisihan yang tercela.
Rahmat Allah menjadi salah satu sebab yang membuat manusia mampu keluar dari lingkaran perselisihan.
Karena itu, ketika kita melihat perselisihan, pertanyaan kita seharusnya bukan hanya, "Siapa yang salah?" tetapi juga, "Rahmat Allah apa yang harus kita cari agar perselisihan ini tidak berubah menjadi perpecahan?"
Fanatisme terhadap Kelompok
6. Setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang dimilikinya
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka."
(QS Ar-Rum: 31–32)
Ayat ini memperingatkan bahaya fanatisme kelompok.
Masalahnya bukan hanya ketika manusia berbeda, tetapi ketika setiap kelompok merasa cukup dengan apa yang dimilikinya sehingga tidak lagi bersedia kembali kepada kebenaran.
Setiap kelompok kemudian memiliki ukuran kebenarannya sendiri. Apa yang datang dari kelompoknya diterima, sedangkan apa yang datang dari kelompok lain dicurigai atau ditolak.
As-Sa'di memberikan peringatan bahwa ayat ini mengandung pelajaran bagi kaum muslimin agar tidak terpecah menjadi berbagai kelompok yang fanatik terhadap kebenaran maupun kebatilan yang mereka pegang sehingga menyerupai orang-orang musyrik dalam perpecahan.
Dengan demikian, persoalan persatuan bukan hanya tentang berada dalam satu barisan secara lahiriah. Ia juga berkaitan dengan keadaan hati.
Seseorang dapat berada dalam satu majelis bersama orang lain, tetapi hatinya penuh fanatisme terhadap kelompoknya. Sebaliknya, seseorang mungkin berbeda dalam persoalan cabang yang dibenarkan, tetapi tetap memiliki hati yang bersaudara karena sama-sama tunduk kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Ketika Perselisihan Berubah Menjadi Pedang
Ibnul Qayyim menggambarkan betapa beratnya perselisihan bagi Rasulullah saw.
Beliau menjelaskan bahwa ketika Rasulullah saw. melihat para sahabat berselisih dalam memahami nash, bahkan dalam perkara yang kecil, beliau menunjukkan ketidaksenangannya. Perselisihan merupakan sesuatu yang sangat beliau khawatirkan.
Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq ra., Allah menjaga pemerintahannya dari perselisihan yang menetap dalam salah satu hukum agama. Pada masa Umar bin Khattab ra., para sahabat mengalami perselisihan dalam beberapa persoalan kecil. Namun mereka tetap saling menghormati. Sebagian menerima ijtihad sebagian yang lain tanpa celaan dan tuduhan.
Pada masa Utsman bin Affan ra., perselisihan dalam beberapa persoalan kecil mulai disertai perkataan dan celaan.
Kemudian ketika kekuasaan beralih kepada Ali bin Abi Thalib ra., perselisihan itu berkembang menjadi pertumpahan darah dan peperangan.
Perubahan tersebut patut direnungkan.
Perselisihan tidak selalu langsung dimulai dengan pedang.
Ia dapat bermula dari perbedaan pendapat. Kemudian berubah menjadi perdebatan. Perdebatan berubah menjadi saling mencela. Saling mencela berubah menjadi kebencian. Kebencian akhirnya dapat berubah menjadi permusuhan.
Karena itu, menjaga persatuan bukan berarti menunggu sampai konflik menjadi besar. Persatuan harus dijaga sejak benih-benih perpecahan mulai muncul.
Persatuan sebagai Pokok Agama
Dari seluruh keterangan tersebut, semakin jelas bahwa perintah untuk bersatu dan larangan terhadap perselisihan yang tercela bukanlah perkara tambahan dalam agama. Ia merupakan salah satu pokok agama.
Agama tidak akan berdiri dengan kokoh apabila umatnya kehilangan kemampuan untuk berhimpun di atas kebenaran.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
"Sesungguhnya berpegang teguh kepada jamaah dan persatuan merupakan bagian dari pokok agama. Sedangkan cabang yang diperselisihkan merupakan bagian dari hal-hal yang tersembunyi. Bagaimana mungkin pokok dicela karena menjaga ranting?"
Kalimat ini mengandung pelajaran yang sangat penting.
Tidak semua persoalan memiliki kedudukan yang sama. Ada pokok-pokok yang harus menjadi titik temu, dan ada cabang-cabang yang memungkinkan terjadinya perbedaan.
Jika cabang dijadikan alasan untuk merusak pokok, maka bangunan agama justru akan kehilangan kekuatannya.
Karena itu, umat membutuhkan kemampuan untuk membedakan antara perbedaan yang masih berada dalam ruang ijtihad dan perselisihan yang memecah agama serta merusak jamaah.
Di sinilah kita kembali kepada Al-Fatihah.
Setiap hari kita meminta kepada Allah agar menunjukkan kita jalan yang lurus. Kita tidak meminta banyak jalan. Kita meminta satu jalan: jalan orang-orang yang telah diberi nikmat.
Dan setiap kali kita membaca permohonan itu, seakan-akan kita sedang diingatkan kembali bahwa kehidupan seorang muslim bukan perjalanan tanpa arah. Ada jalan yang harus ditempuh, ada jalan yang harus dihindari, dan ada jamaah orang-orang yang telah berjalan di atas jalan tersebut.
Karena itu, persatuan bukan sekadar kebutuhan sosial. Ia adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.
Takdir memberi tahu kita bahwa fitnah dan perselisihan akan terjadi. Syariat mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyerah kepadanya.
Kita tetap diperintahkan untuk memperbaiki, mendamaikan, kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah, menjaga adab dalam perbedaan, serta memelihara persaudaraan.
Sebab, mengetahui bahwa perpecahan akan terjadi adalah berita tentang takdir; sedangkan berusaha mencegahnya adalah bagian dari ketaatan kepada Allah.
Di antara keduanya terdapat wilayah ikhtiar manusia.
Dan di situlah ujian kita: apakah kita menjadi bagian dari orang-orang yang memperpanjang perselisihan, atau menjadi bagian dari orang-orang yang berusaha mengembalikan umat kepada jalan yang lurus?
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif