Peradaban yang Dibuat-buat dan Kehidupan Berfoya-foya
Kemewahan yang Menjadi Ukuran Peradaban
Orang-orang dari lapisan atas di Persia dan Romawi hidup dalam kemewahan dan kecongkakan yang luar biasa. Mereka tenggelam dalam kehidupan yang serba berlebihan, seakan-akan kemewahan itu sendiri merupakan ukuran kemajuan sebuah peradaban.
Mereka bukan sekadar menikmati harta. Kemewahan telah berubah menjadi cara pandang terhadap kehidupan.
Raja-raja Persia dan Romawi, para bangsawan, penguasa, dan orang-orang yang berada di sekitar istana semakin jauh terbenam dalam kesenangan duniawi. Mereka mengejar makanan, pakaian, istana, pesta, pelayan, dan berbagai bentuk kenikmatan lainnya. Keangkuhan pun tumbuh seiring dengan bertambahnya kemewahan.
Maharaja Persia pada masa itu, Kisra Abruwis, disebut memiliki dua belas ribu selir, lima puluh ribu ekor kuda, istana-istana megah, dan berbagai kekayaan yang sulit dihitung.
Makarios menggambarkan kemewahan raja-raja Persia sebagai sesuatu yang luar biasa dalam sejarah. Para Kisra menerima hadiah dan upeti dari berbagai negeri yang berada di antara Timur Jauh dan Timur Dekat. Ketika kekuasaan mereka berakhir akibat masuknya Islam ke Irak, mereka meninggalkan simpanan pakaian kebesaran, hadiah, wewangian, dan berbagai benda berharga yang nilainya sangat besar.
Ketika orang-orang Arab memasuki Persia, mereka menemukan sejumlah wadah yang tertutup rapat dengan timah. Mereka mengira wadah-wadah tersebut berisi makanan. Setelah dibuka, ternyata isinya adalah emas dan perak.
Kemewahan itu bahkan diwujudkan dalam bentuk benda-benda yang menyerupai taman dan alam yang sebenarnya.
Diceritakan bahwa di Mada'in terdapat sebuah benda milik Kisra yang dibuat menyerupai pohon. Tingginya disebut mencapai enam puluh hasta, dengan hamparan yang sangat luas. Bagian-bagiannya dihiasi emas, permata, mutiara, sutera, dan berbagai bahan berharga lainnya. Di dalamnya dibuat gambaran jalan, sungai, taman, pepohonan, bunga, dan bangunan.
Bagi orang yang hidup dalam kesederhanaan, gambaran seperti itu mungkin sulit dibayangkan.
Namun, justru di situlah kita dapat melihat bagaimana kemewahan dapat berkembang menjadi sebuah dunia tersendiri. Alam tidak lagi cukup dinikmati sebagaimana adanya; ia harus dibuat ulang dengan emas, permata, sutera, dan benda-benda mahal agar sesuai dengan selera penguasa.
Peradaban akhirnya berubah menjadi pertunjukan.
Ketika Kemewahan Menjadi Gaya Hidup
Keadaan yang serupa juga terjadi di wilayah Syam yang berada di bawah kekuasaan Romawi.
Para pendeta, pejabat gereja, bangsawan, dan orang-orang yang dekat dengan kekuasaan hidup dalam kemewahan yang luar biasa. Istana dan gedung pertemuan digunakan untuk pesta-pesta. Peralatan yang digunakan serba mahal dan megah.
Hasan bin Tsabit, ketika menggambarkan pesta Jabalah bin Aiham al-Ghassani, menceritakan adanya sepuluh penyanyi perempuan. Lima orang menyanyikan lagu-lagu Romawi dengan iringan alat musik, sementara lima lainnya menyanyikan lagu-lagu rakyat Hirah.
Jabalah duduk di atas kasur empuk yang dilapisi permadani dan ditaburi bunga-bunga harum. Di hadapannya tersedia piring-piring emas dan perak yang berisi minyak wangi ambar dan misik.
Bahkan suhu ruangan pun disesuaikan dengan kenyamanan mereka. Pada musim dingin digunakan api pemanas, sedangkan pada musim panas disediakan salju sebagai penyejuk.
Pakaian pun disesuaikan dengan musim dan status sosial. Semua harus menunjukkan kemewahan.
Di sini terlihat bahwa kemewahan bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan simbol kedudukan.
Seseorang tidak cukup hanya menjadi kaya. Ia harus terlihat kaya.
Tidak cukup hanya memiliki kedudukan. Kedudukannya harus tampak dalam pakaian, rumah, makanan, pesta, kendaraan, dan seluruh gaya hidupnya.
Kemewahan yang Menular ke Masyarakat
Kebiasaan istana kemudian ditiru oleh kaum bangsawan, pedagang besar, hartawan, keluarga terhormat, dan lapisan menengah.
Mereka meniru cara berpakaian, makanan, pesta, dan berbagai bentuk kemewahan yang dilakukan oleh raja dan bangsawan.
Dengan demikian, pola hidup istana tidak berhenti di lingkungan istana. Ia menjalar ke masyarakat dan membentuk standar sosial baru.
Kemewahan akhirnya menjadi semacam hukum tidak tertulis.
Seorang bangsawan atau orang terkemuka harus hidup mewah. Jika tidak, ia dianggap rendah dan dapat dijauhkan dari pergaulan.
Ukuran kehormatan pun bergeser.
Bukan lagi akhlak yang menjadi ukuran utama, melainkan pakaian, harta, perhiasan, dan kemampuan menyelenggarakan kehidupan yang mewah.
Asy-Sya'bi meriwayatkan bahwa kopiah yang dikenakan penduduk Persia dibuat sesuai dengan martabat keturunan dan kedudukan sosial mereka. Orang yang sangat terpandang bahkan mengenakan kopiah yang bernilai sangat tinggi dan dihiasi mutiara serta berlian.
Seorang kepala daerah Hirah yang dianggap memiliki kedudukan setengah mulia disebut mengenakan kopiah seharga lima puluh ribu uang Persia.
Panglima perang Persia, Rustam, disebut pernah memiliki kopiah yang bernilai seratus ribu uang Persia.
Hal-hal semacam ini menunjukkan bahwa bahkan benda yang sederhana seperti penutup kepala dapat berubah menjadi tanda kelas sosial.
Ketika status sosial harus selalu dipertontonkan, manusia akhirnya hidup bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga untuk memenuhi tuntutan gengsi.
Ketika Peradaban Menjadi Watak Kedua
Orang-orang dari lapisan atas dan menengah Persia semakin tenggelam dalam kehidupan mewah dan adat istiadat yang berlebihan.
Mereka dibesarkan dalam lingkungan seperti itu hingga kemewahan menjadi watak kedua.
Akibatnya, kembali kepada kehidupan sederhana terasa sangat berat, bahkan ketika keadaan sudah tidak memungkinkan.
Kisah tentang Yazdajird, Maharaja Persia terakhir, menggambarkan betapa dalam ketergantungan tersebut. Ketika melarikan diri dari Mada'in, ia disebut membawa seribu koki, seribu penyanyi, seribu perawat harimau, dan seribu perawat burung. Bahkan ada riwayat yang menyebut jumlah itu masih belum mencukupi seluruh rombongannya.
Terlepas dari rincian angka dalam riwayat tersebut, gambaran yang hendak disampaikan sangat kuat: sebuah kehidupan yang telah begitu lama dimanjakan oleh kemewahan akhirnya kehilangan kemampuan untuk hidup secara sederhana.
Ada sebuah kisah tentang Hurmuzah, bangsawan Iran yang berkuasa atas Ahwaz. Ketika ia meminta minum kepada Khalifah Umar bin Khaththab, ia diberi air dalam sebuah wadah yang sederhana. Ia menolak minum karena tidak terbiasa menggunakan wadah seperti itu. Akhirnya Umar memberinya wadah yang lebih sesuai dengan kebiasaannya.
Kisah ini memberikan gambaran betapa gaya hidup dapat membentuk jiwa seseorang. Bahkan dalam keadaan sederhana sekalipun, seseorang yang telah terbiasa dengan kemewahan dapat merasa bahwa sesuatu yang sebenarnya cukup justru tidak layak baginya.
Harga Kemewahan Dibayar oleh Rakyat
Namun, sebuah pertanyaan penting muncul:
Dari mana kemewahan itu dibiayai?
Kemewahan istana tidak muncul dari ruang kosong.
Ketika penguasa membutuhkan lebih banyak kekayaan untuk mempertahankan gaya hidupnya, beban akhirnya jatuh kepada masyarakat.
Berbagai Pajak Tambahan yang Sangat Memberatkan
Akibat kehidupan lapisan atas yang semakin mewah, rakyat harus memikul berbagai tambahan pajak.
Peraturan-peraturan baru dibuat untuk mengambil kekayaan yang masih dimiliki kaum tani, pengrajin, pedagang kecil, dan pekerja tangan.
Beban itu semakin berat hingga banyak rakyat tidak lagi mampu menanggungnya.
Di Iran, raja-raja memiliki kebiasaan menerima hadiah dan upeti yang disebut Aayiin, di luar pajak resmi. Rakyat diwajibkan memberikan hadiah pada hari raya Nuruz dan berbagai perayaan lainnya.
Tambang-tambang emas di Armenia bahkan dinyatakan sebagai milik raja dan digunakan untuk kepentingannya.
Di wilayah Syam yang berada di bawah Romawi, rakyat diwajibkan membayar berbagai bentuk upeti, sepersepuluh hasil panen, dan pungutan berdasarkan jumlah penduduk.
Sumber-sumber penghasilan seperti bea cukai, pertambangan, tanah pertanian, dan hasil bumi berada di bawah penguasaan pemerintah atau pihak-pihak yang memperoleh hak pemungutan.
Dalam praktiknya, para pemungut pajak dapat mengambil lebih banyak daripada jumlah yang sebenarnya harus dibayarkan. Kekuasaan untuk memungut pajak berubah menjadi kesempatan untuk memperkaya diri.
Mereka tidak hanya mengambil kekayaan rakyat, tetapi dalam kasus tertentu bahkan disebut memperjualbelikan penduduk sebagai budak.
Ada sebuah ungkapan yang menggambarkan keadaan tersebut:
«“Penggembala yang baik mencukur bulu kambingnya, tidak mencabutinya.”»
Maksudnya, penguasa seharusnya mengambil dari rakyat secukupnya tanpa menghancurkan sumber kehidupannya.
Namun, ketika pajak dan pungutan telah melampaui kemampuan rakyat, yang terjadi bukan lagi pengelolaan negara, melainkan penggerogotan kehidupan masyarakat.
Kemewahan di Atas, Kesengsaraan di Bawah
Akhirnya masyarakat terbelah secara tajam.
Di satu sisi terdapat raja, pangeran, pejabat istana, keluarga penguasa, bangsawan, dan hartawan. Mereka hidup di istana dan gedung-gedung megah, dikelilingi sutera, wewangian, makanan mewah, dan berbagai benda berharga.
Di sisi lain terdapat petani, pengrajin, dan pekerja tangan.
Mereka hidup di bawah tekanan pajak dan berbagai kewajiban. Mereka bekerja keras, tetapi hasil kerja mereka tidak cukup untuk membebaskan diri dari kemiskinan.
Perbedaan itu bukan sekadar perbedaan tingkat pendapatan.
Ia telah menjadi perbedaan dunia kehidupan.
Yang satu hidup untuk menikmati hasil kekayaan.
Yang lain hidup hanya untuk mempertahankan hidup.
Yang satu memiliki waktu dan sarana untuk mengejar kesenangan.
Yang lain bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Yang satu memiliki kekuasaan untuk menentukan aturan.
Yang lain hanya menjadi objek dari aturan tersebut.
Inilah salah satu bentuk paling nyata dari ketidakadilan sosial: orang yang paling sedikit menikmati kekayaan justru menjadi orang yang paling berat menanggung biaya kemewahan.
Rakyat yang Melarikan Diri dari Penderitaan
Dalam keadaan yang demikian, sebagian rakyat mencari jalan untuk melupakan penderitaan.
Ada yang melarikan diri kepada minuman yang memabukkan. Ada pula yang mencari pelarian melalui berbagai perbuatan terlarang.
Ironisnya, sebagian dari mereka tetap berusaha meniru gaya hidup orang-orang kaya.
Mereka ingin menikmati standar kehidupan yang sebenarnya berada di luar kemampuan mereka.
Akibatnya, penderitaan menjadi semakin berat.
Kemewahan yang semula hanya menjadi kebiasaan kelompok atas akhirnya berubah menjadi cita-cita masyarakat luas. Orang miskin tidak hanya menderita karena kekurangan, tetapi juga karena terus-menerus membandingkan dirinya dengan kehidupan orang kaya.
Inilah sisi lain dari peradaban yang dibangun di atas gengsi: kemewahan bukan hanya memperkaya orang kaya, tetapi juga dapat menanamkan rasa kekurangan dalam jiwa orang miskin.
Antara Si Kaya yang Durhaka dan Si Miskin yang Terlupakan
Dalam keadaan seperti itu, persoalan akhirnya tidak lagi hanya bersifat ekonomi.
Ia menjadi persoalan moral dan spiritual.
Risalah para nabi semakin kehilangan pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai luhur dan akhlak utama tersisih oleh perlombaan mengejar kenikmatan dunia.
Si kaya menjadi durhaka karena terlalu sibuk mengejar kekayaan.
Si miskin menjadi terlupakan karena terlalu sibuk bertahan hidup.
Keduanya berada dalam kondisi yang berbeda, tetapi sama-sama kehilangan orientasi yang lebih tinggi.
Orang kaya tidak lagi memikirkan kehidupan akhirat karena tenggelam dalam kenikmatan dunia.
Orang miskin pun kesulitan memikirkan kehidupan akhirat karena seluruh energinya habis untuk menghadapi beban kehidupan.
Roda kehidupan berputar begitu keras di sekitar kebutuhan duniawi sehingga manusia tidak memiliki ruang untuk mengangkat kepala dan bertanya:
Untuk apa sebenarnya hidup ini?
Tidak ada lagi waktu untuk merenungkan hati nurani, nilai-nilai luhur, tanggung jawab kepada Allah, dan kehidupan setelah kematian.
Inilah keadaan yang lebih berbahaya daripada sekadar kemiskinan atau kemewahan.
Sebuah masyarakat dapat kehilangan arah bukan hanya ketika rakyatnya miskin, tetapi juga ketika orang-orang kaya kehilangan rasa tanggung jawab.
Gambaran Suasana Kejahiliyahan
Syeikh Waliyullah ad-Dahlawi memberikan gambaran yang sangat kuat mengenai keadaan tersebut.
Menurutnya, setelah berabad-abad memegang kepemimpinan dunia, masyarakat Persia dan Romawi tenggelam dalam kenikmatan duniawi dan melupakan akhirat. Mereka dikuasai hawa nafsu dan kehidupan mewah.
Berbagai kecerdasan manusia bahkan digunakan untuk menciptakan sarana-sarana baru bagi kenikmatan.
Mereka berlomba dalam kemegahan.
Seseorang dianggap rendah jika tidak mengenakan mahkota atau kopiah yang mahal, tidak memiliki istana, taman, kolam, air mancur, ternak, pelayan, makanan mewah, dan pakaian indah.
Kemewahan akhirnya bukan lagi sekadar pilihan pribadi.
Ia berubah menjadi standar sosial.
Orang yang tidak mampu mengikutinya dipandang rendah. Orang yang mampu mengejarnya justru semakin terdorong untuk melampaui yang lain.
Lalu penyakit itu menjalar ke seluruh lapisan masyarakat.
Tidak hanya orang kaya yang terjangkit, tetapi juga orang miskin.
Tidak hanya penguasa, tetapi juga rakyat.
Kemewahan menciptakan kebutuhan yang semakin besar. Kebutuhan yang semakin besar membutuhkan uang yang semakin banyak. Uang itu kemudian dicari dengan memperbesar pajak dan memeras hasil kerja petani, pedagang, serta rakyat kecil.
Jika mereka menolak, mereka dapat disiksa atau dibunuh.
Jika mereka tunduk, mereka diperlakukan seperti alat produksi yang hanya berguna selama mampu bekerja.
Mereka membajak tanah, menanam, menyiram, dan memanen. Tetapi mereka tidak benar-benar memiliki hasil dari tenaga mereka sendiri.
Mereka tidak diberi kesempatan untuk berhenti.
Tidak diberi kesempatan untuk mengangkat kepala.
Tidak diberi kesempatan untuk memikirkan kehidupan yang lebih tinggi.
Ketika Manusia Tidak Lagi Memiliki Waktu untuk Mengingat Allah
Di sinilah gambaran kejahiliyahan menjadi lebih dalam.
Jahiliyah bukan sekadar masyarakat yang tidak memiliki ilmu pengetahuan.
Sebuah masyarakat dapat memiliki istana yang megah, teknologi, kekayaan, administrasi, perdagangan, dan berbagai bentuk kemajuan material, tetapi tetap berada dalam keadaan jahiliyah apabila manusia kehilangan arah tentang tujuan hidupnya.
Ketika kemewahan menjadi tujuan, manusia diperbudak oleh harta.
Ketika kekuasaan menjadi tujuan, manusia diperbudak oleh kekuasaan.
Ketika gengsi menjadi tujuan, manusia diperbudak oleh pandangan manusia lain.
Dan ketika kebutuhan dunia begitu mendominasi kehidupan, manusia bahkan tidak lagi memiliki waktu untuk memikirkan akhirat.
Inilah ironi sebuah peradaban yang tampak maju dari luar, tetapi mengalami kemiskinan dari dalam.
Istana-istana boleh semakin tinggi, tetapi jiwa manusia dapat semakin rendah.
Kekayaan boleh semakin banyak, tetapi rasa cukup dapat semakin hilang.
Peradaban boleh semakin gemerlap, tetapi manusia dapat semakin jauh dari tujuan penciptaannya.
Karena itu, persoalan yang dihadapi masyarakat Jahiliyah bukan semata-mata persoalan kemewahan. Persoalannya adalah ketika kemewahan kehilangan kendali moral, kekayaan kehilangan amanah, dan kehidupan dunia kehilangan hubungan dengan kehidupan akhirat.
Pada titik itulah peradaban yang tampak megah dari luar dapat berubah menjadi peradaban yang dibuat-buat: besar dalam penampilan, tetapi rapuh dalam nilai; kaya dalam harta, tetapi miskin dalam keadilan; dan maju dalam kemegahan, tetapi kehilangan arah tentang untuk apa manusia sebenarnya hidup.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif