Israel Akan Hancur oleh Perang yang Diciptakannya Sendiri Dalam sejarah geopolitik, tidak sedikit negara yang runtuh bukan karen...
Israel Akan Hancur oleh Perang yang Diciptakannya Sendiri
Pada Akhirnya, Netanyahu Akan Berperang Sendirian Seperti Yahudi Madinah Perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran tidak...
Pada Akhirnya, Netanyahu Akan Berperang Sendirian Seperti Yahudi Madinah
Apakah Israel Menjadi Beban Strategis bagi Amerika Serikat? Dunia saat ini bergerak menuju era multipolar , sebuah fase ketika ...
Apakah Israel Menjadi Beban Strategis bagi Amerika Serikat?
Apakah Israel Menjadi Beban Strategis bagi Amerika Serikat?
Dunia saat ini bergerak menuju era multipolar, sebuah fase ketika dominasi tunggal Amerika Serikat mulai bergeser menuju distribusi kekuatan global yang lebih luas. Kebangkitan ekonomi dan teknologi Tiongkok, ketegasan militer Rusia dalam perang Ukraina, serta ekspansi blok BRICS menandai perubahan besar dalam struktur kekuasaan internasional.
Di tengah transformasi ini, Washington berusaha mempertahankan supremasinya melalui berbagai kebijakan agresif—mulai dari tarif ekonomi, tekanan terhadap sekutu, hingga keterlibatan militer di berbagai kawasan. Namun pertanyaan strategis muncul: apakah keterikatan Amerika dengan Israel justru menjadi beban dalam persaingan global tersebut?
Perang Iran dan Agenda Israel
Konflik terbaru dengan Iran memperlihatkan dinamika yang menarik. Banyak analis melihat bahwa perang ini pada dasarnya diprakarsai oleh pemerintah Benjamin Netanyahu, yang melihat momentum geopolitik setelah perang Gaza dan melemahnya Hezbollah di Lebanon. Tujuan strategis Israel adalah menetralkan Iran sebagai kekuatan regional sekaligus membentuk kembali lanskap Timur Tengah.
Namun bagi Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump, perang ini tidak memiliki legitimasi domestik yang kuat. Survei publik menunjukkan mayoritas warga Amerika menolak keterlibatan militer baru di Timur Tengah tanpa persetujuan Kongres. Bahkan sebagian pendukung gerakan “Make America Great Again” mempertanyakan manfaat strategis konflik ini, mengingat janji Trump untuk menghindari perang baru.
Menguras Fokus Strategis Amerika
Sejak pemerintahan Barack Obama, Washington sebenarnya telah merancang strategi “Pivot to Asia”—yaitu mengalihkan fokus militer dan diplomatik dari Timur Tengah ke kawasan Indo-Pasifik untuk menghadapi kebangkitan Tiongkok. Namun konflik berulang di Timur Tengah, khususnya yang terkait dengan keamanan Israel, terus menarik kembali perhatian dan sumber daya Amerika.
Akibatnya, fokus strategis yang seharusnya diarahkan untuk menghadapi pesaing utama seperti China dan Russia justru tersedot oleh konflik regional yang berkepanjangan.
Risiko Perubahan Rezim Iran
Salah satu tujuan yang sering dikemukakan dalam perang ini adalah menggulingkan rezim Iran. Namun berbagai lembaga pemikir Amerika memperingatkan bahwa skenario tersebut sangat berbahaya.
Lembaga seperti Brookings Institution, Council on Foreign Relations, dan RAND Corporation menilai bahwa runtuhnya pemerintahan Iran tanpa transisi politik yang jelas berpotensi menciptakan kekacauan regional. Ketidakstabilan tersebut dapat memicu konflik lintas batas, separatisme, gangguan perdagangan energi, serta ancaman keamanan yang lebih luas bagi kepentingan Amerika sendiri.
Strategi Eskalasi Iran
Sementara itu, Iran memilih strategi “eskalasi horizontal”, yaitu memperluas konflik secara geografis untuk meningkatkan biaya politik dan ekonomi bagi lawan. Target potensial mencakup pangkalan militer Amerika di negara-negara Teluk.
Strategi ini menimbulkan dilema baru bagi sekutu Washington di kawasan. Negara-negara Teluk yang selama ini menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika mulai mempertimbangkan diversifikasi sistem keamanan mereka agar tidak terseret ke dalam konflik besar.
Keraguan Sekutu Barat
Keraguan juga muncul di kalangan sekutu Barat. Inggris membatasi keterlibatannya dalam konflik, sementara negara-negara Eropa lain memilih peran defensif atau bahkan menolak berpartisipasi. Penolakan publik di berbagai negara Eropa menunjukkan meningkatnya jarak antara kepentingan strategis Amerika dan opini masyarakat sekutunya.
Pada saat yang sama, krisis energi akibat perang Ukraina membuat Eropa semakin sensitif terhadap potensi konflik baru di Timur Tengah.
Beban Strategis yang Semakin Nyata
Dalam konteks perubahan geopolitik global, perlindungan tanpa syarat terhadap Israel mulai dipandang oleh sebagian analis sebagai beban strategis bagi Amerika Serikat. Konflik yang dipicu oleh dinamika regional Israel berisiko menguras sumber daya militer, melemahkan hubungan dengan sekutu, serta mengalihkan fokus Washington dari persaingan utama dengan kekuatan besar lainnya.
Pertanyaannya kini bukan hanya apakah Amerika mampu mempertahankan hegemoni globalnya, tetapi juga apakah hubungan strategisnya dengan Israel justru mempercepat erosi kekuatan tersebut.
Sumber:
https://www.middleeastmonitor.com/20260312-is-israel-becoming-a-strategic-liability-for-the-us/
Turki Digambarkan sebagai “Iran Berikutnya”: Sinyal Konflik Baru di Timur Tengah Dalam beberapa bulan terakhir, retorika politi...
Turki Digambarkan sebagai “Iran Berikutnya”: Sinyal Konflik Baru di Timur Tengah
Turki Digambarkan sebagai “Iran Berikutnya”: Sinyal Konflik Baru di Timur Tengah
Dalam beberapa bulan terakhir, retorika politik Israel dan sejumlah kalangan konservatif Amerika mulai menggambarkan Turki sebagai “Iran berikutnya”. Narasi ini tidak lagi sekadar provokasi di pinggiran diskusi geopolitik. Ia kini semakin terbuka disuarakan oleh para pejabat Israel, komentator media Amerika, dan sebagian jaringan lembaga pemikir di Washington.
Bagi banyak pengamat, pola bahasa ini terasa sangat familiar. Selama beberapa dekade, narasi serupa telah digunakan untuk mendemonisasi aktor regional yang dianggap menentang kepentingan Israel. Irak, Libya, dan Iran sebelumnya mengalami proses serupa: dimulai dari pembingkaian sebagai ancaman eksistensial, dilanjutkan dengan tekanan politik, sanksi, hingga konflik terbuka.
Retorika Baru dari Israel
Pernyataan paling mencolok datang dari mantan perdana menteri Israel, Naftali Bennett, dalam sebuah konferensi organisasi Yahudi Amerika pada Februari 2026. Dalam pidatonya, Bennett menyatakan secara langsung bahwa “Turki adalah Iran yang baru.”
Ia menuduh Presiden Recep Tayyip Erdoğan berupaya mengepung Israel dengan membangun poros baru di Timur Tengah, termasuk dengan Pakistan dan sejumlah kekuatan regional lainnya. Retorika ini menggemakan bahasa yang selama puluhan tahun digunakan Israel terhadap Iran—yakni menggambarkan negara penentang sebagai ancaman peradaban yang harus dibendung sebelum menjadi terlalu kuat.
Nada serupa juga muncul dari mantan menteri pertahanan Israel, Yoav Gallant. Ia menyerukan agar negara-negara Barat mempertimbangkan pembatasan penjualan senjata kepada Turki meskipun negara tersebut adalah anggota NATO. Meskipun Gallant berbicara tentang diplomasi, pendekatan yang diusulkannya lebih menyerupai tekanan strategis untuk memaksa Ankara kembali ke orbit kebijakan Israel.
Keretakan Hubungan Israel–Turki
Ketegangan antara kedua negara sebenarnya telah berkembang selama lebih dari satu dekade. Titik balik penting terjadi pada 2010 ketika militer Israel menyerang armada bantuan kemanusiaan menuju Gaza, menewaskan sepuluh aktivis Turki. Sejak saat itu, Erdoğan semakin vokal mengkritik kebijakan Israel terhadap Palestina, terutama terkait operasi militer di Gaza.
Ketegangan ini semakin meningkat setelah perubahan politik di Suriah. Setelah runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024, Turki memperluas pengaruhnya di Suriah utara dan mendukung pemerintahan sementara. Bagi Israel, kebijakan Ankara yang ingin memulihkan integritas teritorial Suriah bertentangan dengan strategi keamanan regional yang lebih menyukai kawasan yang terfragmentasi.
Selain itu, hubungan erat Turki dengan Qatar dan sikap Ankara yang menolak wilayahnya digunakan untuk serangan terhadap Iran semakin memperdalam ketegangan.
Strategi Baru Israel: Mengelilingi Turki
Perubahan hubungan ini juga mengubah strategi regional Israel. Sejak era David Ben-Gurion, Israel menerapkan “doktrin periferi”, yaitu membangun aliansi dengan negara non-Arab seperti Iran pra-revolusi dan Turki.
Namun kini, dua pilar utama doktrin tersebut justru dipandang sebagai lawan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan mulai mempromosikan konsep aliansi baru yang melibatkan negara-negara seperti India, Greece, dan Cyprus untuk menahan pengaruh regional Turki.
Produksi Narasi Ancaman
Di Amerika Serikat, sejumlah analis dan lembaga pemikir mulai memperkuat narasi bahwa Turki merupakan masalah bagi kepentingan Barat. Artikel opini dan komentar media menyoroti kebijakan luar negeri Ankara yang dianggap semakin independen dari Washington. Beberapa bahkan mempertanyakan apakah keanggotaan Turki di NATO masih relevan.
Pola narasi ini mengikuti jalur yang sudah dikenal dalam politik internasional: pemilihan fakta tertentu, penguatan persepsi ancaman, dan pembingkaian negara penentang sebagai musuh strategis.
Bagi sebagian kalangan di Turki, perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa negara mereka sedang ditempatkan dalam posisi yang sama seperti Iran sebelumnya—yakni sebagai target kampanye delegitimasi global.
Apakah status Turki sebagai anggota NATO akan melindunginya dari eskalasi tersebut masih belum jelas. Namun sejarah Timur Tengah menunjukkan bahwa retorika yang dimulai sebagai wacana sering kali menjadi dasar bagi sanksi, isolasi, dan bahkan konflik di masa depan.
Sumber:
https://www.newarab.com/opinion/turkey-next-iran-we-have-seen-script
Perang AS–Israel terhadap Iran: Bayang-bayang Krisis Energi 1970-an Menghantui Ekonomi Amerika Perang yang melibatkan Amerika Se...
Perang AS–Israel terhadap Iran: Bayang-bayang Krisis Energi 1970-an Menghantui Ekonomi Amerika
Perang AS–Israel terhadap Iran: Mampukah Strategi Asimetris Teheran Menahan Kekuatan Militer Barat? Konflik antara Amerika Serik...
Perang AS–Israel terhadap Iran: Mampukah Strategi Asimetris Teheran Menahan Kekuatan Militer Barat?
Tahun 9 Hijriah, seorang pemimpin suku dari Palestina datang ke Madinah menemui Rasulullah. Namanya Tamim ad-Dari. Ia baru masuk...
Wakaf Abadi Tamim Ad Dari
Paling Banyak Dibaca
-
Bukan Muslim, Tapi Rakyatnya Minta Dinaungi Kekhalifahan Islam
-
Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali
-
Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani
-
Saad bin Abi Waqqash, Aktor Interaksi Awal Islam dan Tiongkok
-
Kilas Balik Sejarah, Bisakah Palestina Dihapus dari Peta Dunia?
-
Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara
-
Manuskrip Nusantara Beraksara Arab Melayu di Eropa, Bukti Tingginya Peradaban Islam dan Kemakmurannya
Cari Artikel Ketik Lalu Enter
Artikel Lainnya
- ► 2021 (1014)
- ► 2022 (604)
- ► 2023 (330)
- ► 2024 (825)
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif