Juru Dakwah: Penyambung Misi Masa Lalu dan Masa Depan Islam hari ini membutuhkan jamaah para juru dakwah yang memiliki pandangan...
Juru Dakwah: Penyambung Misi Masa Lalu dan Masa Depan
Pengemban Dakwah dan Mukmin yang Bisu Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani Setiap mukmin berharap Allah mengampuninya dan memasu...
Pengemban Dakwah dan Mukmin yang Bisu Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Tarbiyah yang Penuh Kasih Sayang Seorang juru dakwah tidak akan mampu teguh di atas jalan kebenaran, apalagi meningkatkan peng...
Tarbiyah yang Penuh Kasih Sayang
Tarbiyah yang Penuh Kasih Sayang
Seorang juru dakwah tidak akan mampu teguh di atas jalan kebenaran, apalagi meningkatkan pengorbanan dan mendahulukan saudaranya, kecuali bila dalam dirinya telah sempurna makna kemerdekaan dan kesetiaan. Di atas semua itu, ia menjaga kasih sayang dan afiliasi sebagai fondasi hubungan.
Kasih sayang inilah mustika akhlak dan kesucian yang harus dijaga terlebih dahulu, sebelum syarat ilmu pengetahuan dan kemampuan kepemimpinan. Sebab tarbiyah bukan sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi pembentukan jiwa.
Di kalangan para juru dakwah, ketaatan bukanlah sikap buta, melainkan kesadaran yang tumbuh dari keteladanan. Karena itu, mereka menyeleksi setiap calon pemimpin pertama-tama dari sisi kesucian jiwa dan ketinggian kepribadian, sebelum menimbang kemampuan teknis, pengalaman organisasi, atau kecakapan politik.
Seorang penyair menggambarkan hal ini:
“Para juru dakwah akan berpaling kepada pemimpin keselamatan—
bersih jiwanya dan bersih akhlaknya.
Jiwa seperti itu akan ditaati oleh jiwa-jiwa lain,
bahkan sebelum dibaiat dengan ikatan kesetiaan yang paling kuat.”
Akhlak dan pengalaman memang sama-sama dibutuhkan. Namun, ukuran pengutamaan dalam tradisi tarbiyah berbeda dengan tradisi politik. Yang didahulukan dan diakhirkan bukan semata karena kecakapan, tetapi karena ketakwaan.
Para juru dakwah memahami bahwa akhlak adalah wujud nyata dari takwa, dan takwa adalah pintu kesadaran. Dengan takwa, seorang hamba yang sederhana mampu belajar, terbuka terhadap kebenaran, dan memperoleh ilham yang lurus. Dari sinilah terbentuk pribadi yang utuh dan seimbang.
Kesempurnaan akhlak melahirkan jiwa yang merdeka—jiwa yang setia kepada para pendidik yang telah membinanya, bukan karena ikatan formal, tetapi karena ikatan hati dan nilai. Ini bukan ungkapan sesaat, sebagaimana dikatakan:
“Sesungguhnya para juru dakwah itu telah menyuapkan pikiran kepadamu,
mereka membawa petunjuk bagi timur dan barat.
Engkau hidup dalam ketulusan mereka,
betapa indah hidupmu selama mereka masih mengasuhmu.”
Al-Qur’an sendiri mengajarkan pentingnya penghormatan kepada pendidik melalui perintah agar kaum Muslimin memuliakan Rasulullah ﷺ, tidak menyamakan panggilan kepada beliau dengan panggilan kepada sesama manusia:
“Janganlah kamu menjadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain…”
(QS. An-Nūr [24]: 63)
Ayat ini menegaskan bahwa hati seorang Muslim harus dipenuhi rasa hormat kepada Rasulullah ﷺ agar ia mampu memahami, menerima, dan menghargai setiap arahan beliau. Prinsip ini menjadi dasar dalam tarbiyah: penghormatan adalah syarat tumbuhnya pengaruh dan keberkahan.
Karena itu, seorang juru dakwah perlu memiliki kharisma, dan seorang pemimpin atau panglima harus memiliki wibawa. Ada perbedaan jelas antara rendah hati dan lemah lembut, dengan sikap yang menghapus jarak kehormatan antara pendidik dan yang dididik.
Bagaimanapun, seorang pendidik harus menempati posisi yang mulia di hati murid-muridnya. Dari sanalah arahan akan diterima dengan lapang, dan pelanggaran batas akan terasa sebagai sesuatu yang memalukan, bukan karena tekanan, tetapi karena adab.
Namun, kehormatan ini tidak boleh melahirkan kesombongan. Jangan pernah berkata, “Dia hanyalah anak didikku,” atau “Dia tidak pernah membinaku.” Bisa jadi, pada suatu hari, seseorang pernah memberi kita nasihat yang menyelamatkan kita dari kekeliruan besar.
Betapa banyak orang yang baru mengenal dakwah hari ini, tetapi Allah alirkan melalui dirinya semangat, kejujuran, atau dorongan kebaikan yang menguatkan langkah kita. Semua itu adalah bentuk tarbiyah—dan setiap tarbiyah menuntut balasan berupa kasih sayang, bukan perendahan.
Di sinilah tarbiyah menemukan ruhnya: kasih sayang yang melahirkan ketaatan, adab yang melahirkan pengaruh, dan kemerdekaan jiwa yang melahirkan kesetiaan.
Kasih Sayang dan Jalinan Hubungan Dakwah Sikap adil dan proporsional adalah pintu awal bagi pengenalan diri dan pengenalan terh...
Kasih Sayang dan Jalinan Hubungan Dakwah
Sikap adil dan proporsional adalah pintu awal bagi pengenalan diri dan pengenalan terhadap orang lain. Dari sanalah seseorang belajar menempatkan diri, membaca situasi, dan memahami makna hubungan. Sebab sejatinya, seorang mukmin adalah seorang mujahid. Dan seorang mujahid tidak menerima kehinaan. Ia menolak tunduk pada kerendahan, lalu bangkit untuk bergerak.
Namun, kemerdekaan tidak berhenti pada semangat perlawanan semata. Seorang yang merdeka memiliki prinsip, karakter, dan keluhuran sikap. Inilah langkah awal—bukan keseluruhan jalan—menuju kemuliaan.
Di antara tanda kemerdekaan jiwa adalah sikapnya dalam membalas kebaikan. Ketika seseorang membalas kebaikan orang lain dengan tulus, ia sesungguhnya sedang melepaskan salah satu bentuk perbudakan: perbudakan ego, gengsi, dan kepentingan diri. Ia tidak lagi terikat oleh rasa ingin unggul, ingin dipuji, atau ingin menang sendiri.
Makna inilah yang ditunjukkan oleh Imam Syafi‘i ketika berkata:
“Orang merdeka adalah orang yang memelihara kasih sayang walau hanya sesaat. Atau, ia memilih menjalin hubungan dengan orang yang pernah memberinya sepatah kata yang bermanfaat.”
Kasih sayang, dalam pandangan ini, bukan emosi sesaat dan bukan pula basa-basi hubungan. Ia adalah pilihan sadar untuk menjaga ikatan kebaikan, meski tipis dan sederhana. Bahkan, sepatah kata yang memberi manfaat cukup menjadi alasan bagi seorang yang merdeka untuk memelihara hubungan.
Dakwah telah mengajarkan makna kasih sayang secara utuh—bukan sekadar sebagai istilah, tetapi sebagai sikap hidup. Kasih sayang adalah keikhlasan, penjagaan hubungan, dan kesediaan menjauh dari fitnah-fitnah yang selalu mengintai relasi manusia. Orang yang berjiwa merdeka akan menjaga kasih sayangnya, tulus di dalamnya, dan tidak menjadikannya alat kepentingan.
Sebaliknya, ketika seseorang mengorbankan kemerdekaan jiwanya demi kepentingan diri, maka nilai dirinya akan mengikuti pilihan itu. Ia mungkin tampak bebas secara lahir, tetapi sejatinya terbelenggu oleh ambisi, rasa iri, dan kepentingan dunia.
Seseorang yang benar-benar selamat dari fitnah tidak akan terus-menerus hidup di dalamnya. Namun, orang yang malas secara ruhani sering kali memutus hubungan, meninggalkan sahabat, dan mengganti lingkaran pergaulan hanya karena ketidakmampuan menjaga makna kemerdekaan. Ia mudah kecewa, mudah berpaling, dan mudah membuang hubungan—bukan karena kebenaran, tetapi karena ia telah mengenakan “pakaian perbudakan dunia”.
Pada titik inilah, kasih sayang menjadi ujian kemerdekaan. Apakah ia dijaga, atau dikorbankan. Apakah hubungan dirawat dengan kesadaran, atau diputus oleh hawa nafsu. Di situlah nilai diri seseorang ditimbang—bukan oleh apa yang ia miliki, tetapi oleh apa yang ia pelihara dalam jiwanya.
Pelaksanaan Dakwah atas Dasar Pilihan Pada fase dakwah rahasia, penyampaian Islam tidak dilakukan secara terbuka di pasar-pasa...
Pelaksanaan Dakwah atas Dasar Pilihan
Pelaksanaan Dakwah atas Dasar Pilihan
Pada fase dakwah rahasia, penyampaian Islam tidak dilakukan secara terbuka di pasar-pasar, majelis umum, atau forum kabilah. Dakwah dijalankan secara selektif dan personal, berdasarkan pertimbangan matang para dai terhadap karakter, integritas, dan kesiapan orang-orang yang akan diajak.
Dakwah pada tahap ini bukanlah dakwah massa, melainkan dakwah pilihan.
Fondasi pertama dakwah Islam dibangun dari lingkaran terdekat Rasulullah ﷺ. Khadijah binti Khuwailid, istri beliau, menjadi orang pertama yang beriman. Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat karib yang paling mengenal kejujuran dan keagungan akhlak Nabi. Ali bin Abi Thalib, anak pamannya yang diasuh sejak kecil. Dan Zaid bin Haritsah, mantan budak yang telah lama hidup dalam naungan rumah kenabian.
Keempat sosok ini bukan sekadar orang-orang terdekat secara emosional, tetapi juga orang-orang yang paling mengenal pribadi Rasulullah ﷺ. Mereka adalah saksi hidup atas kejujuran, ketulusan, dan keteguhan beliau jauh sebelum risalah disampaikan secara luas.
Ketika Abu Bakar mulai menjalankan peran dakwahnya, pola yang sama terus dijaga: dakwah berbasis kepercayaan. Ia tidak mengajak sembarang orang, melainkan mereka yang dikenalnya memiliki kejernihan akal, kematangan akhlak, dan kemampuan menjaga rahasia.
Ibnu Ishaq menggambarkan sosok Abu Bakar sebagai berikut:
“Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang akrab dengan kaumnya, dicintai dan disayangi. Ia termasuk Quraisy yang paling mengetahui nasab kaumnya serta memahami kebaikan dan keburukan yang ada di dalamnya.”
Ibnu Ishaq melanjutkan:
“Ia dikenal sebagai seorang pedagang yang berakhlak mulia. Banyak tokoh kaumnya mendatanginya untuk meminta pendapat dalam berbagai urusan, karena ilmunya, perniagaannya, dan kebaikan pergaulannya.”
Dengan modal kepercayaan sosial inilah Abu Bakar memulai dakwahnya. Ia mengajak kepada Islam orang-orang yang diyakininya mampu mendengar dengan jujur dan menjaga amanah dakwah. Melalui dakwah Abu Bakar, masuk Islamlah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa‘ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.
Ibnu Ishaq menegaskan:
“Mereka adalah para pendahulu yang pertama-tama masuk Islam, melaksanakan shalat, dan membenarkan risalah Nabi.”
Kelompok kecil ini kelak menjadi tulang punggung dakwah Islam—bukan hanya karena kedudukan sosial mereka, tetapi karena kualitas iman, keteguhan hati, dan kesiapan berkorban.
Dengan demikian, dakwah pada fase awal ini berjalan di atas pondasi kepercayaan, kedekatan personal, dan ketepatan memilih sasaran. Faktor-faktor yang membuat dakwah Abu Bakar diterima memang banyak, tetapi yang paling utama adalah integritas pribadi dan hubungan kepercayaan yang telah terbangun jauh sebelum dakwah dimulai.
Inilah pelajaran besar dari fase dakwah rahasia: Islam tidak lahir dari kebisingan massa, melainkan dari kejernihan hati segelintir manusia yang dipilih dan siap memikul amanah kebenaran.
Lamanya Dakwah Rahasia Setelah turunnya surah Al-Muddatstsir ayat 1–4—yang menandai dimulainya perintah dakwah—Rasulullah ﷺ m...
Lamanya Dakwah Rahasia
Lamanya Dakwah Rahasia
Setelah turunnya surah Al-Muddatstsir ayat 1–4—yang menandai dimulainya perintah dakwah—Rasulullah ﷺ menjalankan dakwah dengan metode rahasia. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: berapa lama fase dakwah rahasia ini berlangsung?
Menurut Urwah bin Zubair, rentang waktu sejak awal kenabian hingga turunnya perintah dakwah secara terang-terangan adalah tiga tahun. Perintah tersebut termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ
Maka sampaikanlah (Nabi Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.
(Al-Ḥijr [15]: 94)
Mengapa tiga tahun?
Bukan karena angka itu memiliki keutamaan khusus, melainkan karena pada saat itu kaum Muslimin telah memiliki basis yang cukup kuat—dari sisi kualitas iman, keteguhan pribadi, dan posisi sosial—untuk menghadapi tekanan masyarakat Mekah. Mereka belum besar secara jumlah, tetapi telah matang secara ruhani dan strategis sehingga tidak mudah dimusnahkan.
Dari sinilah letak pelajaran penting dalam manhaj dakwah. Yang menjadi tolok ukur bukanlah lamanya waktu, melainkan hasil operasional dakwah: sejauh mana dakwah mampu membentuk kader, melahirkan tokoh, dan menciptakan jaringan perlindungan sosial yang memungkinkan risalah bertahan dan berkembang.
Lalu, kapan dakwah secara terang-terangan benar-benar dimulai?
Setelah turunnya perintah tersebut, Allah kembali menurunkan jaminan perlindungan kepada Rasulullah ﷺ melalui firman-Nya:
اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِءِيْنَۙ
Sesungguhnya cukuplah Kami yang memeliharamu (Nabi Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan.
(Al-Ḥijr [15]: 95)
Dakwah terbuka dilakukan setelah adanya jaminan ilahi bahwa Rasulullah ﷺ akan dilindungi dari gangguan, cemoohan, dan makar kaum musyrikin. Jaminan ini bukan sekadar penghiburan, melainkan penegasan bahwa fase konfrontasi telah tiba dan siap dihadapi.
Dalam konteks Rasulullah ﷺ, peralihan tahap dakwah diketahui secara pasti melalui wahyu. Namun setelah beliau wafat, tanggung jawab menilai tahapan dakwah berpindah kepada para pemimpin gerakan Islam yang terpimpin, yang harus membaca realitas, mengukur kekuatan, dan mempertimbangkan risiko sebelum berpindah ke fase berikutnya.
Pemahaman bahwa tahapan dakwah tidak terikat pada masa tertentu juga diperkuat oleh fakta sejarah. Sebagian kaum Muslimin yang berada di luar Mekah tetap menjalankan Islam mereka secara rahasia dalam rentang waktu yang berbeda-beda, sesuai dengan kondisi kabilah masing-masing dan kemampuan mereka dalam berdakwah serta membina kader.
Dengan demikian, fase dakwah bukan ditentukan oleh hitungan tahun, tetapi oleh kesiapan iman, kekuatan struktur, dan kecermatan membaca zaman. Inilah manhaj kenabian yang lentur dalam bentuk, tetapi kokoh dalam tujuan.
Wahyu Pertama, Lalu Terhenti Al-Muqrizi dalam Imtā‘ al-Asmā’ meriwayatkan bahwa setelah Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ di ...
Wahyu Pertama, Lalu Terhenti
Wahyu Pertama, Lalu Terhenti
Al-Muqrizi dalam Imtā‘ al-Asmā’ meriwayatkan bahwa setelah Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ di Gua Hira dan membacakan firman Allah, “Iqra’ bismi rabbika alladzī khalaq”, Rasulullah ﷺ pulang ke rumah Khadijah r.a. Dalam keadaan itu, beliau terdiam dan tinggal di rumah selama masa yang dikehendaki Allah, tanpa menerima wahyu apa pun.
Wahyu pun terhenti.
Terhentinya wahyu itu menghadirkan kesedihan yang mendalam di hati Rasulullah ﷺ. Kerinduannya kepada kalam Allah mendorong beliau berulang kali naik ke puncak-puncak gunung, berharap peristiwa agung seperti di Gua Hira kembali terulang.
Para ulama berbeda pendapat tentang lamanya masa terhentinya wahyu tersebut. Ada yang mengatakan dua tahun, sebagaimana dinukil dari sebagian riwayat. Ibnu Abbas berpendapat berlangsung selama empat puluh hari. Al-Zujjaj menyebut lima belas hari. Sementara dalam tafsir Muqatil disebutkan hanya tiga hari, dan pendapat inilah yang dikuatkan oleh banyak ulama.
Muqatil menjelaskan bahwa masa terhentinya wahyu itu memiliki keserupaan dengan ihwal seorang hamba yang sedang ditempa kedekatan dan keteguhan di sisi Rabb-nya. Hingga akhirnya, Jibril kembali menampakkan diri kepada Rasulullah ﷺ, terlihat di antara langit dan bumi, duduk di atas kursi. Malaikat itu meneguhkan hati beliau dan menyampaikan kabar gembira bahwa ia benar-benar adalah utusan Allah.
Namun pemandangan itu membuat Rasulullah ﷺ diliputi rasa takut. Beliau segera pulang menemui Khadijah dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Dalam keadaan itulah Allah menurunkan firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ
Wahai orang yang berselimut,
قُمْ فَاَنْذِرْۖ
bangkitlah, lalu berilah peringatan!
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ
dan Tuhanmu agungkanlah!
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ
dan pakaianmu bersihkanlah.
(Al-Muddatstsir [74]: 1–4)
Dengan turunnya ayat-ayat ini, jelaslah bahwa peristiwa di Gua Hira adalah awal kenabian dan pewahyuan. Sedangkan perintah dalam surah Al-Muddatstsir menandai fase baru: perintah untuk bangkit, memberi peringatan, dan mengajak manusia kepada Allah.
Dari sinilah dakwah Rasulullah ﷺ dimulai—awalannya dilakukan secara rahasia, perlahan, namun dengan fondasi ruhani yang telah ditempa melalui kesunyian, kerinduan, dan penantian yang mendalam terhadap wahyu.
Paling Banyak Dibaca
-
Bukan Muslim, Tapi Rakyatnya Minta Dinaungi Kekhalifahan Islam
-
Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali
-
Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani
-
Saad bin Abi Waqqash, Aktor Interaksi Awal Islam dan Tiongkok
-
Kilas Balik Sejarah, Bisakah Palestina Dihapus dari Peta Dunia?
-
Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara
-
Manuskrip Nusantara Beraksara Arab Melayu di Eropa, Bukti Tingginya Peradaban Islam dan Kemakmurannya
Cari Artikel Ketik Lalu Enter
Artikel Lainnya
- ► 2021 (1014)
- ► 2022 (604)
- ► 2023 (330)
- ► 2024 (825)
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif