Jaringan Ulama: Apa yang Membuatnya Bertahan dan Berkembang? Setelah mengenal para tokoh utama dalam jaringan ulama abad ke-17, muncul perta...
Jaringan Ulama: Apa yang Membuatnya Bertahan dan Berkembang?
Para Ulama pada Awal Abad ke-18: Mata Rantai yang Menjaga Nyala Keil...
Para Ulama pada Awal Abad ke-18: Mata Rantai yang Menjaga Nyala Keilmuan
Ekspansi Jaringan Ulama Abad ke-17: Dari Haramain Menuju Dunia Islam Bagaimana ...
Ekspansi Jaringan Ulama Abad ke-17: Dari Haramain Menuju Dunia Islam
Ekspansi Jaringan Ulama Abad ke-17: Dari Haramain Menuju Dunia Islam
Bagaimana sebuah jaringan ulama dapat berkembang hingga menghubungkan India, Yaman, Afrika Utara, Kurdistan, Nusantara, bahkan seluruh Dunia Islam?
Jawabannya dapat ditelusuri melalui perjalanan hidup para ulama yang menjadikan Haramain bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat pertukaran ilmu, gagasan, dan pembinaan generasi.
Jika Syibghat Allah dan Ahmad Al-Syinnawi meletakkan fondasi jaringan tersebut, maka Ahmad Al-Qusyasyi adalah tokoh yang memperluasnya. Melalui dirinya, jaringan ulama berubah dari sekadar hubungan guru dan murid menjadi sebuah komunitas intelektual lintas bangsa yang saling menguatkan.
Ahmad Al-Qusyasyi: Simpul Besar Jaringan Keilmuan
Riwayat hidup Ahmad Al-Qusyasyi memperlihatkan bagaimana ilmu berkembang melalui perjalanan, dialog, dan keterbukaan.
Biografi paling lengkap tentang dirinya ditulis oleh Mushthafa Al-Hamawi, seorang muhaddits dan sejarawan Makkah yang juga merupakan murid Ibrahim Al-Kurani. Riwayat tersebut banyak bersumber dari kesaksian Al-Kurani sendiri, murid paling terkenal Al-Qusyasyi. Dari sinilah tampak betapa besar pengaruh Al-Qusyasyi dalam sejarah jaringan ulama.
Ahmad Al-Qusyasyi lahir di Madinah pada 991 H dari keluarga Palestina yang masih bersambung nasabnya kepada Tamim Ad-Dari, sahabat Rasulullah ï·º. Masa mudanya dipenuhi perjalanan menuntut ilmu. Bersama ayahnya ia belajar di Yaman kepada para ulama terkemuka, kemudian kembali ke Haramain dan berguru kepada banyak tokoh besar, terutama Ahmad Al-Syinnawi.
Di bawah bimbingan Al-Syinnawi, ia mendalami hadis, fikih, teologi, dan tasawuf. Bahkan hubungan keduanya tidak berhenti sebagai guru dan murid; Al-Qusyasyi kemudian menikahi putri gurunya.
Menariknya, Al-Qusyasyi dikenal sebagai sosok yang rendah hati sekalipun keluasan ilmunya diakui banyak ulama. Ia tidak fanatik terhadap satu pandangan. Awalnya bermazhab Maliki, kemudian berpindah kepada mazhab Syafi'i setelah melalui proses ilmiah dan spiritual yang panjang. Perubahan itu menunjukkan bahwa baginya, kebenaran lebih penting daripada fanatisme.
Dari Syathariyyah Menuju Jaringan Dunia Islam
Al-Qusyasyi memang dikenal sebagai mursyid Tarekat Syathariyyah. Namun pengaruhnya jauh melampaui dunia tasawuf.
Ia berhasil menghubungkan tasawuf dengan hadis, fikih, dan syariat sehingga melahirkan tradisi keilmuan yang lebih seimbang. Murid-muridnya datang dari berbagai penjuru dunia Islam: Yaman, India, Afrika Utara, Kurdistan, Hijaz, hingga Nusantara.
Di antara murid-muridnya terdapat nama-nama besar seperti Ibrahim Al-Kurani, Hasan Al-'Ajami, Muhammad Al-Barzanji, Abdurrauf As-Sinkili, dan Muhammad Yusuf Al-Maqassari.
Melalui mereka, jaringan Haramain menjalar ke berbagai kawasan, termasuk kepulauan Nusantara.
Ibrahim Al-Kurani: Penggerak Besar Jaringan Internasional
Jika Al-Qusyasyi memperluas jaringan, maka Ibrahim Al-Kurani memperkokoh sekaligus menghidupkannya.
Banyak sejarawan menempatkan Al-Kurani sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh pada abad ke-17. Bahkan sebagian ulama kemudian memilihnya sebagai mujaddid (pembaru agama) abad ke-11 Hijriah.
Mengapa?
Karena ia berhasil memadukan berbagai cabang ilmu: hadis, fikih, ushul fikih, teologi, tafsir, bahasa Arab, logika, filsafat, hingga tasawuf. Semua itu dipelajarinya melalui perjalanan panjang dari Kurdistan menuju Baghdad, Damaskus, Kairo, Makkah, dan akhirnya Madinah.
Perjalanan ilmiahnya menunjukkan satu pelajaran penting.
Ilmu tidak tumbuh di tempat yang nyaman. Ilmu berkembang melalui perjalanan, dialog, kerendahan hati, dan kesediaan terus belajar.
Di Damaskus ia mendalami tasawuf, terutama pemikiran Ibn 'Arabi. Di Mesir ia memperdalam hadis kepada para muhaddits besar. Di Madinah ia menyempurnakan pendidikannya di bawah bimbingan Ahmad Al-Qusyasyi yang kemudian mengangkatnya sebagai khalifah Tarekat Syathariyyah.
Madinah Menjadi Pusat Pertemuan Dunia Islam
Setelah menetap di Madinah, Al-Kurani membuka halaqah yang segera menjadi magnet para pencari ilmu dari berbagai negeri.
Majelisnya bukan sekadar tempat menghafal kitab.
Ia membangun ruang dialog. Murid-murid diberi kesempatan berdiskusi, bertanya, bahkan mengkritisi persoalan yang dipelajari. Al-Hamawi menggambarkan suasana majelis Al-Kurani laksana "taman surga" karena dipenuhi keluasan ilmu sekaligus kehangatan akhlak.
Hampir seluruh penuntut ilmu yang datang ke Haramain pada zamannya pernah belajar kepadanya.
Dari sinilah lahir ulama-ulama besar yang kemudian menyebarkan ilmu ke India, Yaman, Afrika, Turki, dan Nusantara.
Jaringan Tidak Dibangun oleh Satu Orang
Apakah jaringan sebesar itu hanya dibangun oleh satu tokoh?
Tentu tidak.
Selain Al-Qusyasyi dan Al-Kurani, banyak ulama lain menjadi simpul penting yang saling menghubungkan tradisi keilmuan dari berbagai wilayah.
Muhammad Al-Babili dari Mesir, misalnya, menjadi mata rantai penting dalam transmisi hadis. Ia dikenal sebagai salah satu muhaddits terbesar abad ke-17. Melalui dirinya, sanad-sanad hadis Mesir tersambung kepada para ulama Haramain.
Dari India hadir Tajuddin Al-Hindi yang memperkenalkan tradisi Naqsyabandiyah kepada masyarakat Arab. Berkat dukungannya, tarekat tersebut berkembang dengan orientasi yang lebih kuat kepada Al-Qur'an, Sunnah, dan syariat.
Dari Afrika Utara muncul Isa Al-Maghribi dan Muhammad Al-Raddani. Keduanya membawa tradisi keilmuan Maghrib ke Haramain serta memperluas jaringan sanad hadis hingga melintasi tiga benua.
Semua tokoh itu saling bertemu, saling belajar, saling memberi ijazah, dan saling menguatkan.
Ulama Lokal Haramain Tidak Tinggal Diam
Apakah jaringan ini hanya digerakkan oleh para pendatang?
Tidak.
Ulama asli Makkah dan Madinah juga memainkan peran yang sangat besar.
Di antaranya adalah Ibn Ya'qub, Zain Al-'Abidin Ath-Thabari, Abdul Qadir Ath-Thabari, dan Ali Ath-Thabari.
Keluarga Ath-Thabari menjadi salah satu keluarga ulama paling berpengaruh di Makkah. Mereka mengajar hadis, fikih, sejarah Makkah, sekaligus menjadi penghubung antara generasi ulama terdahulu dengan generasi sesudahnya.
Bahkan beberapa karya mereka secara khusus ditulis untuk menjawab persoalan-persoalan keagamaan yang diajukan kaum Muslim Melayu-Nusantara.
Ini menunjukkan bahwa hubungan Haramain dengan Nusantara telah berlangsung sangat intens jauh sebelum era modern.
Sebuah Pelajaran Besar
Ketika menelusuri perjalanan para ulama ini, kita menemukan satu kenyataan yang menarik.
Jaringan ulama tidak dibangun karena kesamaan suku, bangsa, ataupun bahasa.
Ia dibangun oleh sanad ilmu, kepercayaan, akhlak, perjalanan mencari ilmu, dan kesediaan berbagi pengetahuan.
Haramain menjadi titik temu yang menyatukan India, Yaman, Mesir, Afrika Utara, Kurdistan, Palestina, Turki, hingga Nusantara.
Dari kota suci itu lahirlah sebuah jaringan intelektual yang selama berabad-abad menjaga kesinambungan ilmu Islam sekaligus menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.
Tokoh dan Pertalian dalam Jaringan Ulama Bagaimana sebuah jaringan keilmuan da...
Tokoh dan Pertalian dalam Jaringan Ulama Abad 17
Tokoh dan Pertalian dalam Jaringan Ulama
Bagaimana sebuah jaringan keilmuan dapat bertahan lintas abad? Apakah hanya karena banyaknya kitab yang ditulis? Ataukah karena adanya mata rantai guru dan murid yang terus bersambung dari satu generasi ke generasi berikutnya?
Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan utama jaringan ulama bukan terletak pada bangunan atau lembaga, melainkan pada hubungan antarmanusia: guru yang mendidik murid, murid yang kelak menjadi guru, lalu meneruskan warisan ilmu kepada generasi berikutnya.
Bukti-bukti sejarah memperlihatkan bahwa para ulama besar pada abad ke-17 bukanlah tokoh yang berdiri sendiri. Mereka merupakan bagian dari mata rantai keilmuan yang telah dibangun sejak berabad-abad sebelumnya. Hampir seluruh ulama inti dalam jaringan ini memiliki isnad hadis dan silsilah tarekat yang tersambung kepada para ulama generasi terdahulu.
Misalnya, Al-Fasi dikenal sebagai murid sekaligus sahabat dua muhaddits besar Mesir, yaitu Ibn Hajar Al-Asqalani dan Syihab Al-Din Al-Ramli. Demikian pula Quthb Al-Din Al-Nahrawali, ulama terkemuka Haramain abad ke-16, yang menjadi penghubung penting antara generasi ulama terdahulu dengan generasi berikutnya, termasuk Ibrahim Al-Kurani.
Hal ini memperlihatkan bahwa jaringan ulama bukanlah kumpulan tokoh yang hidup pada masa yang sama, melainkan rantai keilmuan yang saling menyambung melintasi zaman.
Jaringan yang bersifat kosmopolitan
Lalu, siapa yang menjadi penggerak utama jaringan ini?
Menariknya, sebagian tokoh terpenting justru bukan berasal dari Hijaz. Mereka datang dari berbagai wilayah Dunia Islam, membawa tradisi keilmuan masing-masing, lalu berinteraksi di Haramain hingga melahirkan sintesis intelektual yang baru.
Di antara tokoh yang paling berpengaruh adalah Sayyid Syibghat Allah Jamal Al-Barwaji dan Ahmad Al-Syinnawi.
Kisah keduanya menunjukkan bahwa Haramain bukan hanya menjadi tempat menerima ilmu, tetapi juga ruang perjumpaan berbagai tradisi Islam dari Persia, India, Mesir, hingga Nusantara.
Sayyid Syibghat Allah: pengembara yang menjadi penghubung
Siapakah Sayyid Syibghat Allah?
Ia adalah seorang ulama kelahiran India dari keluarga keturunan Persia yang wafat di Madinah pada tahun 1015 H/1606 M. Kehidupannya mencerminkan sosok ulama pengembara yang menjadikan perjalanan sebagai bagian dari pencarian ilmu.
Pada masa mudanya ia belajar kepada Wajih Al-Din Al-Gujarati, seorang mursyid besar Tarekat Syathariyyah di Ahmadabad. Setelah mengajar beberapa tahun di India, ia berangkat menunaikan ibadah haji.
Namun perjalanan itu ternyata bukan akhir, melainkan awal dari babak baru kehidupannya.
Sekembalinya ke India, ia kembali mengembara sebelum akhirnya memperoleh dukungan Sultan Ibrahim Adil Syah dari Bijapur untuk berangkat lagi ke Haramain menggunakan kapal kerajaan pada musim haji tahun 1005 H/1596 M.
Kali ini ia tidak kembali lagi.
Ia memilih menetap di Madinah, membangun rumah dan ribath melalui wakaf serta bantuan para penguasa Muslim. Di sanalah ia mengabdikan hidupnya sebagai guru, penulis, sekaligus pembimbing spiritual.
Dari satu tarekat menuju banyak tradisi
Apakah Syibghat Allah hanya mengajarkan Tarekat Syathariyyah?
Tidak.
Walaupun dikenal sebagai tokoh utama Syathariyyah, ia juga memperkenalkan murid-muridnya kepada berbagai tarekat lain seperti Chisytiyyah, Suhrawardiyyah, Khalwatiyyah, Naqsyabandiyyah, Firdausiyyah, Madariyyah, dan Hamadaniyyah.
Mengapa demikian?
Karena gurunya sendiri, Wajih Al-Din Al-Gujarati, telah mewarisi berbagai jalur tarekat tersebut. Tradisi inilah yang kemudian diteruskan Syibghat Allah di Madinah.
Dengan demikian, Haramain menjadi tempat bertemunya berbagai tradisi tasawuf tanpa kehilangan pijakan pada ilmu syariat.
Selain mengajar di Masjid Nabawi, Syibghat Allah juga menulis sejumlah karya tentang tasawuf, teologi, serta syarah atas Tafsir Al-Baidhawi.
Murid-murid dari berbagai penjuru dunia
Siapa saja yang belajar kepadanya?
Daftar muridnya menggambarkan wajah kosmopolitan Haramain.
Mereka datang dari Mesir, India, Kurdistan, Hadramaut, Asia Tengah, hingga Nusantara. Di antara murid-muridnya terdapat Ahmad Al-Syinnawi, Ahmad Al-Qusyasyi, Sayyid As'ad Al-Balkhi, Ibrahim Al-Hindi, Mulla Nizam Al-Din Al-Sindi, serta sejumlah ulama lainnya.
Bahkan halaqah-halaqahnya juga dihadiri jamaah haji dari Kesultanan Aceh.
Bayangkan suasana majelis ilmu itu. Berbagai bahasa, budaya, dan latar belakang bertemu dalam satu lingkaran pembelajaran. Mereka datang dengan pengalaman yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh semangat mencari ilmu.
Dari perjumpaan semacam inilah berita tentang perkembangan Islam di Nusantara turut sampai kepada para ulama Haramain, sementara gagasan-gagasan baru dari Timur Tengah mengalir kembali ke Asia Tenggara.
Ahmad Al-Syinnawi: pewaris dan pengembang jaringan
Di antara murid Syibghat Allah, salah satu yang paling berpengaruh adalah Ahmad Al-Syinnawi.
Ia lahir di Mesir pada tahun 975 H/1567 M dari keluarga ulama yang memiliki tradisi keilmuan yang kuat. Sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan tasawuf. Kakeknya merupakan guru sufi terkemuka, sedangkan ayahnya mewarisi tradisi Tarekat Ahmadiyyah melalui Syekh Abdul Wahhab Al-Sya'rani.
Namun Ahmad Al-Syinnawi tidak membatasi dirinya pada dunia tasawuf.
Ia juga mendalami hadis kepada para muhaddits besar Mesir, seperti Syams Al-Din Al-Ramli dan Muhammad bin Abi Al-Hasan Al-Bakri. Perpaduan antara hadis dan tasawuf inilah yang kelak menjadi ciri utama pemikirannya.
Setelah menetap di Madinah hingga wafat pada tahun 1028 H/1619 M, namanya semakin dikenal sebagai salah seorang ulama paling berpengaruh di Kota Nabi.
Ilmu yang menyatukan syariat dan tasawuf
Apa yang membuat Ahmad Al-Syinnawi begitu dihormati?
Jawabannya terletak pada kemampuannya memadukan kedalaman ilmu hadis dengan keluasan wawasan tasawuf.
Di Madinah, ia bersahabat sekaligus belajar kepada Syibghat Allah yang kemudian mengangkatnya ke dalam Tarekat Syathariyyah. Penguasaan terhadap berbagai jalur tarekat membuatnya memperoleh gelar Al-Bahir fi Al-Thariqah, yakni seorang yang sangat mendalam pengetahuannya tentang jalan-jalan spiritual.
Halaqahnya dipenuhi para penuntut ilmu. Di antara murid yang paling menonjol ialah Ahmad Al-Qusyasyi, Sayyid Salim Syaikhani, dan Sayyid Muhammad Al-Ghurabi—tokoh-tokoh yang kelak meneruskan dan memperluas jaringan ulama hingga menjangkau berbagai kawasan Dunia Islam.
Mata rantai yang terus bersambung
Hubungan keilmuan Ahmad Al-Syinnawi juga menunjukkan betapa kuatnya kesinambungan tradisi Islam.
Melalui sanad hadis dan silsilah tarekat, ia terhubung dengan tokoh-tokoh besar seperti Muhammad Zahirah Al-Makki, Quthb Al-Din Al-Nahrawali, Ibn Hajar Al-Asqalani, Jalaluddin Al-Suyuthi, hingga Ibn Arabi.
Dengan kata lain, ketika seorang murid belajar kepada Ahmad Al-Syinnawi, sesungguhnya ia sedang terhubung dengan mata rantai keilmuan yang membentang selama berabad-abad.
Warisan itu tidak hanya diteruskan melalui pengajaran, tetapi juga melalui karya-karyanya di bidang teologi dan tasawuf. Salah satu yang paling dikenal ialah Tajalliyah al-Basha'ir, sebuah syarah atas Al-Jawahir (Al-Khamsah) karya Muhammad Ghauts Al-Hindi.
Sebuah pelajaran dari jaringan ulama
Melihat perjalanan Syibghat Allah dan Ahmad Al-Syinnawi, kita menemukan satu pelajaran penting.
Ilmu tidak berkembang karena berdirinya seorang tokoh, tetapi karena lahirnya hubungan yang saling menyambung. Seorang guru melahirkan murid, murid melahirkan guru baru, lalu jaringan itu terus berkembang melampaui batas negeri, bahasa, dan generasi.
Dari mata rantai inilah lahir jaringan ulama internasional yang kemudian menjadi fondasi berkembangnya tradisi keilmuan Islam di Haramain, Samudra Hindia, hingga Nusantara.
Koneksi Jaringan Ulama di Samudra Hindia Bagaimana sebuah kota suci di Jazirah A...
Koneksi Jaringan Ulama di Samudra Hindia
Kesultanan Aceh dan Dinasti Turki Utsmaniyah: Ketika Solidaritas Islam Diuji oleh Realitas Politik ...
Kesultanan Aceh dan Dinasti Turki Utsmaniyah: Ketika Solidaritas Islam Diuji oleh Realitas Politik
Perebutan Nusantara Timur: Islam, Portugis dan Spanyol Apakah tujuan Portugis ...
Perebutan Nusantara Timur: Islam, Portugis dan Spanyol
Perebutan Nusantara Timur: Islam, Portugis dan Spanyol
Apakah tujuan Portugis datang ke Nusantara semata-mata untuk membeli rempah-rempah?
Jika demikian, mengapa mereka membangun benteng, mencampuri pergantian penguasa, bahkan terlibat dalam peperangan berkepanjangan dengan kerajaan-kerajaan Islam?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita melihat bahwa sejarah Nusantara Timur bukan hanya kisah perdagangan, melainkan juga kisah persaingan politik, kekuasaan, dan penyebaran agama.
Di wilayah barat Nusantara, Portugis memang berhasil menguasai Malaka. Namun, keberhasilan itu tidak berlanjut sebagaimana yang mereka harapkan. Mereka hanya mampu menanamkan pengaruh Kristen secara terbatas di Malaka dan gagal menguasai perdagangan Asia secara menyeluruh. Serangan Kesultanan Aceh yang terus-menerus memaksa Portugis menghabiskan sebagian besar kekuatan militernya hanya untuk mempertahankan diri.
Ironisnya, tekanan Portugis justru mendorong dunia Islam melakukan konsolidasi yang semakin kuat. Ancaman dari luar mempererat hubungan antarkerajaan Islam dan memperkuat identitas keagamaan mereka.
Mengapa Maluku Menjadi Tujuan Berikutnya?
Setelah merebut Malaka pada 1511, Portugis segera mengirim ekspedisi yang dipimpin Fransisco Serrão menuju Maluku. Mengapa?
Jawabannya sederhana. Maluku merupakan pusat penghasil cengkeh dan pala, dua komoditas yang pada masa itu bernilai sangat tinggi di pasar dunia.
Nama "Maluku" sendiri diduga berasal dari istilah Arab Jazirat al-Muluk, yang berarti "Pulau Raja-Raja". Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah lama dikenal dalam jaringan perdagangan internasional sebelum kedatangan bangsa Eropa.
Namun, meskipun Portugis berhasil mencapai Ambon, Ternate, dan Tidore, mereka tidak pernah benar-benar menguasai perdagangan rempah-rempah secara penuh. Mereka terus terjebak dalam konflik, persekutuan, dan persaingan dengan kerajaan-kerajaan lokal sehingga kekuatan mereka terpecah.
Islam Lebih Dahulu Hadir
Benarkah Portugis datang ke wilayah yang belum mengenal Islam?
Berbagai penelitian justru menunjukkan sebaliknya.
Menurut Meilink-Roelofsz dan de Graaf, Islam telah hadir di Maluku sekitar 50–80 tahun sebelum kedatangan Portugis. Bahkan, terdapat indikasi bahwa pengaruh Islam telah dikenal lebih awal melalui jaringan para pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan Nusantara.
Raja Ternate diyakini sebagai penguasa pertama di Maluku yang memeluk Islam. Dengan demikian, ketika Portugis tiba, mereka tidak memasuki ruang kosong, tetapi berhadapan dengan masyarakat yang sedang mengalami proses Islamisasi.
Dari Sekutu Menjadi Musuh
Pada awalnya hubungan Portugis dengan Kesultanan Ternate berjalan cukup baik.
Sultan Ternate berharap Portugis dapat menjadi mitra dagang sekaligus membantu menghadapi musuh-musuhnya. Karena itu, Portugis diizinkan membangun benteng pada tahun 1522.
Di sisi lain, Kesultanan Tidore memilih menjalin hubungan dengan Spanyol. Spanyol membeli rempah-rempah dengan harga lebih tinggi sekaligus memberikan dukungan politik yang meningkatkan wibawa Tidore.
Akibatnya, Maluku berubah menjadi arena persaingan yang melibatkan bukan hanya Ternate dan Tidore, tetapi juga Portugis dan Spanyol.
Persaingan antarsesama bangsa Eropa ini justru memperlihatkan kepada masyarakat lokal bahwa mereka pun saling berebut kepentingan. Citra moral Portugis dan Spanyol perlahan menurun di mata kerajaan-kerajaan Islam.
Melalui Perjanjian Zaragoza tahun 1529, Portugis dan Spanyol berusaha mengakhiri konflik mereka di Maluku. Namun, dalam praktiknya perselisihan tetap berlangsung selama bertahun-tahun.
Tragedi yang Mengubah Sejarah
Hubungan Portugis dengan Ternate akhirnya memburuk.
Puncaknya terjadi pada tahun 1570 ketika Sultan Khairun dibunuh oleh Portugis.
Apakah pembunuhan ini justru memperkuat posisi Portugis?
Yang terjadi justru sebaliknya.
Putra Sultan Khairun, Sultan Baabullah, berhasil menyatukan kekuatan-kekuatan Islam untuk mengusir Portugis dari Ternate. Kemenangan ini bukan hanya kemenangan militer, tetapi juga kemenangan politik yang mengangkat wibawa Ternate di seluruh kawasan Maluku.
Dalam beberapa tahun berikutnya, sebagian besar wilayah Maluku berada di bawah pengaruh Sultan Baabullah.
Islamisasi Semakin Menguat
Kemenangan Baabullah membawa dampak yang jauh melampaui medan perang.
Pengaruh Ternate meluas ke Ambon, Buton, Selayar, sebagian Sulawesi Timur dan Utara, bahkan hingga Mindanao Selatan.
Sebagai penguasa, Baabullah menjadikan Islam sebagai unsur penting dalam loyalitas politik. Sebagian pendukung Portugis yang memilih tetap berada di bawah kekuasaannya diwajibkan memeluk Islam sebagai bentuk kesetiaan kepada kesultanan.
Dalam catatan Anthony Reid, Portugis dan Spanyol bahkan menganggap Baabullah aktif mengirim para ulama dan dai ke berbagai wilayah seperti Brunei, Jawa, Aceh, dan Mindanao untuk memperkuat semangat perlawanan terhadap bangsa Eropa.
Terlepas dari bagaimana persepsi Portugis tersebut, fakta sejarah menunjukkan bahwa Islamisasi di kawasan timur memang berkembang semakin pesat setelah kemenangan Ternate.
Mengapa Kristenisasi Tidak Berkembang Pesat?
Sebaliknya, cita-cita Portugis untuk mengkristenkan Maluku tidak pernah tercapai sesuai harapan.
Jumlah penduduk yang dibaptis relatif sedikit.
Bahkan, misionaris terkenal seperti Francis Xavier yang datang ke Maluku pada 1546–1547 tidak mampu menghentikan pengaruh Islam yang telah mengakar.
Kegagalan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kuatnya jaringan Islam lokal, citra Portugis yang memburuk akibat konflik politik, praktik pemerintahan yang korup, serta tindakan sebagian pejabat Portugis yang justru merusak kepercayaan masyarakat.
Refleksi
Apakah persaingan di Maluku semata-mata merupakan perang agama?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Agama memang menjadi unsur penting dalam pembentukan identitas dan legitimasi politik. Namun, perdagangan rempah-rempah, perebutan jalur niaga, kepentingan ekonomi, serta ambisi kekuasaan sama besarnya dalam membentuk dinamika sejarah.
Karena itu, sejarah Maluku mengajarkan bahwa agama, politik, dan ekonomi sering kali berjalan beriringan. Memahami salah satunya tanpa melihat yang lain akan menghasilkan gambaran sejarah yang tidak utuh.
Inilah sebabnya banyak sejarawan memandang bahwa konflik Portugis dan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara Timur merupakan perpaduan antara persaingan perdagangan, perebutan kekuasaan, dan kompetisi penyebaran agama yang saling memengaruhi sepanjang abad ke-16.
Paling Banyak Dibaca
-
Bukan Muslim, Tapi Rakyatnya Minta Dinaungi Kekhalifahan Islam
-
Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali
-
Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani
-
Saad bin Abi Waqqash, Aktor Interaksi Awal Islam dan Tiongkok
-
Kilas Balik Sejarah, Bisakah Palestina Dihapus dari Peta Dunia?
-
Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara
-
Manuskrip Nusantara Beraksara Arab Melayu di Eropa, Bukti Tingginya Peradaban Islam dan Kemakmurannya
Cari Artikel Ketik Lalu Enter
Artikel Lainnya
- ► 2021 (1014)
- ► 2022 (604)
- ► 2023 (330)
- ► 2024 (825)
- ► 2025 (821)
-
▼
2026
(565)
-
▼
Agustus
(7)
-
▼
01 Agu
(7)
- Perebutan Nusantara Timur: Islam, Portugis dan Spa...
- Kesultanan Aceh dan Dinasti Turki Utsmaniyah: Keti...
- Koneksi Jaringan Ulama di Samudra Hindia
- Tokoh dan Pertalian dalam Jaringan Ulama Abad 17
- Ekspansi Jaringan Ulama Abad ke-17: Dari Haramain ...
- Para Ulama pada Awal Abad ke-18: Mata Rantai yang ...
- Jaringan Ulama: Apa yang Membuatnya Bertahan dan B...
-
▼
01 Agu
(7)
-
▼
Agustus
(7)
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif