Meraih Kembali Kemenangan di Perang Uhud dan Hunain
Sejarah mencatat bahwa ketika Muslimin menghadapi musuh, sementara hatinya dipenuhi dengan dunia, maka ketahuilah semua itu sedang menuju kekalahan.
Sebaliknya, tidaklah Muslimin menghadapi musuh, sedangkan yang terpelihara di hati adalah keinginan kuat meraih akhirat dan zuhud terhadap dunia, maka Allah swt akan memberikan kemenangan di akhirnya.
Di perang Uhud, ketika Rasulullah saw mengutus pasukan pemanah yang berjumlah 50 orang yang dipimpin oleh Abdullah bin Jabir. Mereka ditempatkan pada sebuah bukit. Rasulullah saw berpesan,
"Jika kalian melihat kami dicincang musuh, janganlah pergi dari dari sini, hingga mengutus seseorang pada kalian."
"Dan, jika kalian menyaksikan kami mengalahkan dan menundukkan musuh, janganlah pergi hingga kami mengutus orang kepada kalian."
Akhirnya, pasukan bisa mengalahkan musuh. Ghanimah peperangan berserakan di medan pertempuran. Pasukan pemanah berkata kepada Abdullah, "Ghanimahkah itu?, Saudara-saudara kalian telah memperoleh kemenangan, maka apa lagi yang ditunggu?"
Abdullah bin Jabir berkata, "Apakah kalian melupakan pesan Rasulullah saw?"
"Demi Allah swt, kami akan mendatangi mereka dan mengambil bagian ghanimah." Kata anggotacpasukan pemanah.
Mereka memaksa pergi. Mereka palingkan diri dari menghadapi musuh, maka korban di pihak Muslimin bergelimpangan karena serangan balik kafir Quraisy.
Padahal kasus ini terjadi pada sebaik-baiknya generasi dan di antara mereka terdapat sebaik-baiknya manusia seperti Rasulullah saw dan Abu Bakar. Namun, hampir terkalahkan juga. Lalu, bagaimana dengan generasi saat ini?
Di perang Hunain pun hampir menelan kekalahan, tatkala Muslimin mulai condong kepada dunia dan kagum terhadap banyaknya tentara, sehingga lupa akan pertolongan Allah swt. Bahkan sudah mendefinisikan bahwa kemenangan itu karena jumlah dan perlengkapan.
Barulah kemenangan diraih kembali saat Muslimin telah kembali kepada prinsip zuhud dari gemerlapnya dunia dan memenuhi panggilan Nabi saw. Allah swt memberikan kemenangan setelah menderita kehancuran.
Sumber:
Abdul Hamid Jasmin Al-Bilaly, Rambu-Rambu Tarbiyah, Era Intermedia
0 komentar: