Kesabaran Rasulullah saw
Pada Perang Uhud, Rasulullah saw menjadi sasaran anak panah hingga retak tulang hidung dan tanggal gigi gerahamnya. Wajahnya yang mulia itu terluka, mencucurkan darah. Hingga, tersebarlah berita bahwa Rasulullah saw wafat.
Berbagai perasaan berkecamuk dalam diri Sahabat. Sebagian kembali ke Madinah, yang lain ke atas gunung. Meski demikian, Rasulullah saw tetap bersabar, tak bergeming dalam memimpin peperangan hingga akhir.
Ketika anaknya, Ibrahim, wafat di sisinya. Kedua kelopak matanya bercucuran air mata, seraya berkata,
"Mata meleleh, hati berduka. Namun, kita tak bisa berkata apa pun kecuali apa yang diridai Allah swt."
Rasulullah saw bersabar menahan lapar, hingga diselipkannya batu pada perutnya. Beliau pun pernah shalat sambil duduk karena lapar.
Dalam dakwah, Rasulullah saw menghadapi cercaan dan hinaan, tuduhan bohong seperti gila dan tukang sihir.
Beliau diusir dari Thaif, dikeroyok, dilempari batu dari satu tempat ke tempat lain, hingga terluka telapak kakinya. Wajahnya diludahi, namun beliau hanya mengusapnya.
Ini semuanya hanya untuk mencari ridha Allah swt semata dan Allah swt yang menyuruhnya bersabar.
Bersabarlah (Nabi Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan (pertolongan) Allah, janganlah bersedih terhadap (kekufuran) mereka, dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.
(An-Naḥl [16]:127)
Sumber:
Abdul Hamid Jasmin Al-Bilaly, Rambu-Rambu Tarbiyah, Era Intermedia
0 komentar: