Jeritan Muslimah Palestina, Adakah yang Mau Mendengarnya?
Inilah kisah ketika satu teriakan muslimah mampu menggerakkan sepasukan tentara muslim untuk mengembalikan pada posisi dan kehormatan semula.
Dikisahkan, seorang muslimah pergi ke Yahudi Bani Qainuqa dengan membawa sebuah barang yang hendak dijual di pasar itu. Ia duduk di sebelah tukang sepuh, yang seorang yahudi.
Tukang sepuh sepuh itu memintanya agar ia membuka jilbabnya. Ia pun menolak. Lalu, tukang sepuh mengikatkan ujung pakaian muslimah tadi dengan punggungnya, sehingga ketika muslimah berdiri, terbukalah auratnya.
Tukang sepuh tertawa girang dan menjeritlah sang muslimah itu. Mengetahui hal itu, dengan cepat seorang muslim mendekat dan berkelahi dengan tukang sepuh. Tukang sepuh pun berhasil di bunuh.
Orang-orang yahudi di pasar tersebut mengeroyok dan membunuh si pemuda muslim. Peristiwa ini menyebabkan Rasulullah saw mengirimkan pasukan untuk mengepung Yahudi Bani Qainuqa.
Seorang khalifah Abbasiyah, Mu'tashim, ketika seorang muslimah dianiaya dan dihina kehormatannya, lalu dia berseru, "Wahai, Mu'tashim!" Tersentaklah hatinya, bergolaklah jantungnya.
Ia pun menyiapkan pasukan untuk memberikan pelajaran kepada musuh, untuk mengembalikan eksistensi dan kehormatan wanita tersebut. Sang khalifah berhasil menyelamatkannya.
Sekarang, wanita dan anak-anak Palestina dirampas kehormatan, nyawa, darah dan kebebasannya. Adakah yang mendengarkannya? Adakah yang tergerak untuk menolongnya? Apakah menunggu mereka syahid seluruhnya? Ternyata kita pun. Hanya bertopang dagu saja.
Sumber:
Abdul Hamid Jasmin Al-Bilaly, Rambu-Rambu Tarbiyah, Era Intermedia
0 komentar: