Kisah Nabi Zakaria di Surat Al-Imran
Oleh: Nasrulloh Baksolahar
Kisah Nabi Zakaria dalam surat Al-Imran dimulai ketika diamanahkan untuk mendidik keponakannya yang bernama Maryam. Beliau berhasil mendidik keponakannya. Buktinya, Maryam fokus beribadah di Baitul Maqdis sesuai nazar ibunya.
Ini sebuah pelajaran, bahwa keponakan pun harus menjadi perhatian pendidikan bukan hanya anak kandung sendiri. Tidak itu saja, saat belum memiliki keturunan, didiklah keponakan.
Ada keterkejutan luar biasa, saat di Mihrab keponakannya terdapat buah-buahan. Bukankah, belum diberikan makanan? Atau, jenis buah-buahannya bukan yang disajikannya? Ternyata, itu dari Allah swt.
Lalu, muncullah keyakinan yang luar biasa, bahwa dia pun pasti bisa mendapatkan keturunan, walaupun secara logika manusia tidak mungkin lagi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dia (Allah) menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemui di mihrabnya, dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.
(Āli ‘Imrān [3]:37)
Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”
(Āli ‘Imrān [3]:38)
Lalu, Malaikat (Jibril) memanggilnya ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya yang membenarkan kalimat dari Allah, (menjadi) anutan, menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.”
(Āli ‘Imrān [3]:39)
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak, sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?” (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.”
(Āli ‘Imrān [3]:40)
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku suatu tanda (kehamilan istriku).” Allah berfirman, “Tandanya bagimu adalah engkau tidak (dapat) berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah pada waktu petang dan pagi hari.”
(Āli ‘Imrān [3]:41)
0 komentar: