basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Syariat dan Permulaan Turunnya Wahyu Dari pemaparan di atas, kita da...

Syariat dan Permulaan Turunnya Wahyu
Dari pemaparan di atas, kita dapat mengatakan bahwa istilah syariat digunakan secara khusus untuk menyebut ajaran yang berasal dari Allah. Allah berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاؤُا شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang menetapkan aturan bagi mereka yang tidak diizinkan Allah?” (asy-Syura: 21)

Ajaran agama yang bersumber dari wahyu Allah ditetapkan selama Nabi masih hidup. Sebab, dengan wafatnya beliau, wahyu Allah terputus.

Syariat ditetapkan melalui dua bentuk wahyu. Pertama, wahyu dari Allah secara maknawi sekaligus lafzhi, yaitu Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw. Kedua, wahyu dari Allah secara maknawi, tetapi tidak secara lafzhi, yaitu sunah-sunah Rasulullah saw. Dengan demikian, lafal hadis-hadis beliau berasal dari diri beliau, sedangkan maknanya bersumber dari Allah.

Allah berfirman:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm: 3-4)

Hanya Allah yang memiliki hak menetapkan syariat. Sementara itu, Nabi bertugas menyampaikan dan menjelaskan syariat tersebut kepada manusia. Allah berfirman:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (an-Nahl: 44)

Allah juga mewajibkan manusia menaati Nabi karena ketaatan kepada beliau merupakan bentuk ketaatan kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang menaati Rasul (Muhammad), sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (an-Nisa’: 80)

Allah juga menetapkan bahwa hukum-hukum yang Nabi terapkan merupakan wahyu yang diberikan kepadanya. Allah berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.” (an-Nisa’: 105)

Dengan demikian, tidak ada syariat yang berlaku kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah ataupun dijelaskan dan ditetapkan oleh Rasulullah saw. Syariat Islam memiliki dua pokok sumber hukum, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Karena itu, penetapan syariat berakhir dengan wafatnya Nabi Muhammad saw., ketika wahyu telah terputus.

Permulaan Turunnya Wahyu

Hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a. menjelaskan bagaimana permulaan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw. Ia menjelaskan bahwa wahyu diawali dengan mimpi yang benar. Setelah itu, Allah menjadikan beliau tertarik untuk mengasingkan diri hingga akhirnya beliau menyendiri untuk beribadah di Gua Hira. Di tempat itulah Malaikat datang membawa wahyu kepadanya.

Ummul Mukminin Aisyah r.a. menuturkan:

“Awal mula turunnya wahyu kepada Rasulullah saw. dimulai dari mimpi yang benar ketika beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, sebagaimana jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu, hati beliau tertarik untuk mengasingkan diri ke Gua Hira. Di tempat itu beliau beribadah beberapa malam dan tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu, beliau membawa perbekalan secukupnya. Setelah perbekalan habis, barulah beliau kembali kepada Khadijah untuk mengambil perbekalan secukupnya. Kemudian beliau kembali lagi ke Gua Hira hingga suatu ketika datang kepadanya kebenaran (wahyu), yaitu ketika beliau masih berada di Gua Hira.

Malaikat datang kepadanya lalu berkata, ‘Bacalah!’ Nabi menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Nabi menceritakan, ‘Maka aku ditarik dan dipeluknya hingga aku kepayahan. Setelah itu aku dilepaskannya dan disuruh membaca. Malaikat berkata, ‘Bacalah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Maka aku ditarik dan dipeluknya lagi hingga aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskannya dan disuruh membaca. ‘Bacalah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Maka aku ditarik dan dipeluknya untuk kali ketiga. Kemudian aku dilepaskan seraya ia berkata:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

‘Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan. Dialah yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Demi Rabbmu yang Mahamulia.’

Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah binti Khuwailid dan berkata, ‘Selimuti aku, selimuti aku!’ Khadijah pun menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Nabi mengatakan kepada Khadijah, setelah menceritakan semua kejadian yang dialaminya, ‘Sesungguhnya aku cemas atas diriku.’

Khadijah menjawab, ‘Jangan takut. Demi Allah, Dia tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, dan menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.’

Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, sepupu Khadijah. Ia telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliah dan pandai menulis kitab dalam bahasa Ibrani. Ia menyalin Kitab Injil dalam bahasa Ibrani sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah untuk disalinnya. Pada saat itu usianya telah lanjut dan matanya telah buta.

Khadijah berkata kepada Waraqah, ‘Wahai sepupuku, dengarkan kabar dari anak saudaramu ini.’

Waraqah bertanya kepada Nabi, ‘Wahai anak saudaraku, apa yang terjadi atas dirimu?’

Nabi menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Lalu Waraqah berkata, ‘Inilah Namus yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Duhai, semoga saya masih hidup ketika kamu diusir oleh kaummu.’

Nabi bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusir aku?’

Waraqah menjawab, ‘Ya, betul. Belum ada seorang pun yang diberi wahyu seperti engkau yang tidak dimusuhi orang. Jika aku masih mendapati hari itu, niscaya aku akan menolongmu sekuat-kuatnya.’

Tidak berapa lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara.”

Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan kitab-kitab hadis lainnya.

Jeda Turunnya Wahyu

Terdapat beberapa pendapat mengenai lamanya jeda antara turunnya wahyu yang pertama dan wahyu berikutnya. Dalam kitab sejarah karangan Ahmad bin Hanbal terdapat riwayat bahwa Imam asy-Sya’bi berpendapat jeda tersebut berlangsung selama tiga tahun. Ibnu Ishaq juga berpendapat demikian. Sementara itu, Imam al-Baihaqi berpendapat bahwa masa mimpi Nabi saw. berlangsung selama enam bulan.

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa permulaan wahyu berupa mimpi yang benar terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, ketika usia beliau telah genap empat puluh tahun. Mimpi yang benar tersebut menjadi pengantar dan persiapan sebelum turunnya wahyu dalam keadaan terjaga. Adapun permulaan turunnya wahyu ketika Nabi saw. dalam keadaan terjaga terjadi pada bulan Ramadhan.

Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Bari, “Jika telah diketahui bahwa beliau berdiam diri di Gua Hira pada bulan Ramadhan dan awal turunnya wahyu adalah ketika beliau berada di dalam gua tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa beliau pertama kali diangkat menjadi nabi adalah pada bulan Ramadhan.”

Turunnya Surat Al-Muddatstsir

Setelah masa jeda turunnya wahyu, turunlah Surat al-Muddatstsir. Sebagaimana diriwayatkan dalam ash-Shahihain dari Abu Salamah, dari Jabir, Nabi saw. menceritakan tentang masa terputusnya wahyu. Beliau bersabda:

“Di saat aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu aku mengangkat pandanganku ke atas dan aku melihat Malaikat yang sebelumnya pernah mendatangiku di Gua Hira. Ia sedang duduk di atas kursi yang terletak di antara langit dan bumi. Aku pun merasa takut, lalu aku pulang ke rumah seraya berkata kepada penghuni rumah, ‘Selimuti aku, selimuti aku.’ Lantas mereka pun menyelimutiku. Kemudian Allah menurunkan ayat:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝ قُمْ فَأَنذِرْ ۝ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

“Wahai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Rabbmu! Dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah perbuatan dosa.” (al-Muddatstsir: 1-5)

Kata al-muddatstsir dan al-muzzammil memiliki makna yang berdekatan, yaitu orang yang berselimut. Meskipun demikian, bukan berarti Surat al-Muzzammil diturunkan pada saat yang bersamaan dengan Surat al-Muddatstsir. Menurut pendapat yang masyhur di kalangan ulama, Surat al-Muzzammil diturunkan setelah Surat al-Muddatstsir. Hal ini dapat dilihat dari kandungan masing-masing surat.

Awal Surat al-Muddatstsir mengandung perintah kepada Nabi saw. untuk memberi peringatan kepada kaumnya. Hal ini berkaitan dengan awal masa diutusnya beliau sebagai nabi dan rasul.

Sementara itu, awal Surat al-Muzzammil mengandung perintah kepada beliau untuk melakukan qiyamul lail dan membaca Al-Qur’an secara tartil. Dengan demikian, kedua surat tersebut memiliki penekanan yang berbeda: Surat al-Muddatstsir mengarahkan Nabi saw. untuk bangkit menyampaikan peringatan, sedangkan Surat al-Muzzammil mempersiapkan beliau dengan bekal ibadah dan pembinaan ruhani untuk menjalankan tugas tersebut.

Kefasikan Menyebabkan Bani Israel Mengingkari Al-Qur'an Pembicaraan selanjut...

Kefasikan Menyebabkan Bani Israel Mengingkari Al-Qur'an
Pembicaraan selanjutnya ditujukan kepada Rasulullah saw. untuk memantapkan hati beliau terhadap kebenaran wahyu yang diturunkan kepadanya. Sekaligus, untuk menjelaskan bahwa tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Allah yang jelas, kecuali orang-orang yang fasik, durhaka, dan menyimpang.

Pembicaraan ini juga mengungkap aib Bani Israel yang tidak konsisten dalam memenuhi janji, baik janji mereka kepada Tuhan, kepada nabi-nabi mereka terdahulu, maupun kepada Rasulullah saw. Mereka bahkan membuang Kitab Allah yang terakhir, padahal kitab tersebut datang untuk membenarkan kitab yang telah ada pada mereka. Allah berfirman:

وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلَّا الْفَاسِقُونَ ۝ أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَّبَذَهُ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ۝ وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya, Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya melainkan orang-orang yang fasik. Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah) dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan, sebagian besar dari mereka tidak beriman. Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung) mereka seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah).” (al-Baqarah: 99-101)

Di sini Al-Qur'an menyingkap 'illah, atau sebab, kekafiran Bani Israel terhadap ayat-ayat Allah yang jelas. Penyebabnya adalah kefasikan dan penyimpangan terhadap fitrah.

Fitrah yang lurus pasti mengimani ayat-ayat tersebut, dan hati yang sehat akan menerimanya. Karena itu, ketika orang-orang Yahudi atau siapa pun mengingkari ayat-ayat Allah, penyebabnya bukan karena ayat-ayat tersebut tidak memuaskan hati atau tidak dapat menjadi hujjah. Sebaliknya, penyebabnya adalah fitrah mereka telah rusak dan mereka telah memilih jalan kedurhakaan.

Tidak Konsisten dalam Memenuhi Janji

Selanjutnya, pembicaraan ditujukan kepada kaum muslimin dan manusia secara umum untuk mengungkap aib orang-orang Yahudi serta menyingkap salah satu sifat buruk mereka. Mereka adalah suatu golongan manusia yang berbeda-beda keinginannya, meskipun sama-sama memiliki sikap ta'assub atau fanatisme yang tercela.

Mereka tidak satu ide, tidak konsisten dalam memenuhi janji, dan tidak berpegang pada tali yang kuat. Di samping fanatik kepada diri dan golongan mereka sendiri, mereka juga tidak senang apabila Allah memberikan karunia-Nya kepada selain mereka. Dalam keadaan seperti itu, mereka tidak berpegang teguh pada persatuan dan tidak saling menepati perjanjian di antara mereka.

Tidak ada suatu perjanjian yang mereka sepakati melainkan akan muncul segolongan dari mereka yang merusaknya dan keluar dari kesepakatan yang telah dibuat. Allah berfirman:

“Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan, sebagian besar dari mereka tidak beriman.”

Mereka telah mengingkari janji kepada Allah di bawah bukit. Setelah itu, mereka melemparkan janji mereka dengan nabi-nabi terdahulu. Kemudian, mereka juga mengingkari janji mereka dengan Nabi saw. pada masa-masa pertama beliau datang ke Madinah, yaitu perjanjian yang berisi beberapa syarat tertentu.

Kenyataannya, mereka menjadi orang-orang yang pertama kali membantu musuh-musuh Rasulullah saw. untuk melawan beliau, pertama kali mencela agama yang beliau bawa, berusaha mengembuskan perpecahan dan fitnah di tengah barisan kaum muslimin, serta menyalahi perjanjian mereka dengan kaum muslimin.

Konsistensi Kaum Muslimin dalam Memenuhi Janji

Jelek nian mentalitas kaum Yahudi ini. Sebaliknya, kaum muslimin memiliki mentalitas yang dinyatakan Rasulullah saw. dalam sabdanya:

“Kaum muslimin itu setara kedudukan darahnya. Mereka adalah satu tangan (kekuatan) dalam menghadapi musuh-musuh mereka; orang yang terkecil pun di antara mereka akan berusaha memenuhi janjinya.”11

Karena itu, tidak seorang pun boleh melanggar janji yang telah dibuatnya dan tidak seorang pun boleh merusak kesepakatan yang telah disetujuinya.

Abu Ubaidah r.a., panglima tentara Khalifah Umar r.a., pernah menulis surat kepada Umar bahwa seorang hamba telah memberikan jaminan keamanan kepada penduduk suatu negeri di Irak. Abu Ubaidah kemudian menanyakan persoalan tersebut kepada Umar. Umar membalas surat itu dengan mengatakan, “Allah menghormati kesetiaan. Maka janganlah kamu menjadi orang-orang yang setia sebelum kamu menepati janji. Karena itu, tepatilah janjimu kepada mereka dan tinggalkanlah mereka.”

Demikianlah sifat jamaah yang mulia: memiliki komitmen dan konsisten dalam memenuhi janji. Itulah salah satu perbedaan antara akhlak kaum Yahudi yang durhaka dan akhlak kaum muslimin yang jujur.

Membuang Kitab Allah

Allah kemudian berfirman:

“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung) mereka seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah).”

Ini merupakan salah satu bentuk pengingkaran terhadap janji yang telah mereka ikrarkan. Di antara janji yang telah diambil Allah dari mereka adalah beriman kepada setiap Rasul yang diutus Allah, membantu, dan menghormatinya.

Akan tetapi, ketika datang kepada mereka seorang Rasul dari Allah yang membenarkan kitab yang telah ada pada mereka, mereka merusak janji tersebut. Segolongan dari orang-orang yang telah diberi Kitab (Taurat) justru melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka.

Pelemparan itu mereka lakukan terhadap kitab Allah yang ada pada mereka, yang berisi kabar gembira tentang akan datangnya Nabi Muhammad saw. Kitab tersebut telah mereka abaikan. Demikian pula kitab baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., mereka lemparkan dan ingkari.

Ayat ini juga menunjukkan sesuatu yang menggelikan sekaligus mengherankan. Orang-orang yang telah diberi Al-Kitab justru membuang dan melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka.

Jika mereka adalah orang-orang musyrik yang tidak mengenal kitab dan risalah, tindakan tersebut mungkin dapat dipahami. Namun, mereka adalah orang-orang yang telah diberi kitab, telah mengenal risalah dan para rasul, serta telah berhubungan dengan petunjuk dan melihat cahaya kebenaran. Akan tetapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka.

Yang dimaksud tentu bukan semata-mata tindakan fisik melemparkan sebuah kitab, melainkan mengingkari kitab tersebut dan tidak mau mengamalkannya. Mereka menjauhkannya dari wilayah pemikiran dan kehidupan mereka.

Namun, ungkapan Al-Qur'an tidak berhenti pada makna abstrak tersebut. Al-Qur'an mengalihkan makna dari kawasan hati ke kawasan indrawi, lalu menggambarkan perbuatan mereka dengan gerakan material yang begitu jelas. Tindakan itu digambarkan dalam bentuk yang buruk dan hina, penuh kedurhakaan dan keingkaran, kasar dan tidak beradab.

Dengan ungkapan tersebut, Al-Qur'an membiarkan imajinasi kita membayangkan sendiri gerakan mereka yang kasar itu: tangan-tangan yang melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka. Sebuah gambaran yang memperlihatkan betapa jauhnya mereka dari sikap tunduk kepada kebenaran, padahal mereka adalah orang-orang yang telah mengenal kitab dan petunjuk Allah.

Kriteria Memilih Pegawai dan Pejabat Pemerintahan Keinginan kuat dan...


Kriteria Memilih Pegawai dan Pejabat Pemerintahan
Keinginan kuat dan ketelitian dalam memilih orang-orang yang memiliki kompetensi juga berlaku dalam memilih para pendukung yang baik.

Mereka harus mampu menganjurkan dan menyuruh waliyul amri melakukan kebajikan, sekaligus memberikan nasihat terbaik kepadanya secara khusus dan kepada umat secara umum. Hal ini demi mengamalkan sabda Rasulullah saw.:

مَا بُعِثَ مِنْ نَبِي وَلَا اسْتُخْلِفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةُ تَأْمُرُهُ بِالْخَيْرِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ.

“Setiap nabi yang diutus dan setiap khalifah yang diangkat pasti memiliki dua teman dekat. Satu teman dekat yang menyuruh serta menganjurkannya pada kebajikan, dan satu teman dekat yang menyuruh serta menganjurkannya pada keburukan. Yang selamat adalah orang yang dijaga oleh Allah.”

Jika seorang pemimpin cenderung kepada teman dekat yang menyuruhnya pada keburukan, hal itu dapat mendatangkan kehancuran bagi seluruh masyarakat.

Sebab, orang-orang yang berada di sekelilingnya bukanlah orang-orang yang layak memikul tanggung jawab atau memiliki kompetensi dalam mengatur pemerintahan.

Akibat buruk dari menyerahkan urusan kepada orang yang tidak memiliki kompetensi telah diperingatkan jauh-jauh hari oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya:

إِذَا وُسِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”

Jika kita mengamati dasar-dasar yang dijadikan pedoman oleh para khalifah dalam memilih pegawai pemerintahan, terlihat bahwa mereka berpegang pada prinsip musyawarah dengan para sahabat senior.

Setelah memperoleh pertimbangan dan persetujuan, mereka kemudian meminta persetujuan orang yang dicalonkan atau diusulkan untuk mengemban tugas tersebut.

Apabila tugas yang diberikan adalah memimpin suatu wilayah, para khalifah juga mempertimbangkan apakah penduduk wilayah setempat dapat menerima calon yang diusulkan.

Bahkan, bagi pemimpin yang masih memegang jabatannya, keberlanjutan jabatannya terkadang bergantung pada apakah ia masih mendapatkan persetujuan dan penerimaan dari masyarakat setempat.

Dalam konteks ini, Umar tidak tertarik memilih seorang gubernur dari penduduk dusun untuk memimpin penduduk kota. Seorang penduduk desa pada umumnya belum tentu memiliki wawasan dan kapasitas intelektual yang memungkinkan dirinya memimpin penduduk kota dengan kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan struktur kehidupan mereka.

Hal ini disebabkan adanya perbedaan yang cukup signifikan antara karakter kehidupan desa dan kota.


Tidak Ambisius terhadap Jabatan

Para khalifah juga menaruh perhatian terhadap prinsip penting dalam memilih pegawai dan pejabat tinggi, yaitu seseorang tidak boleh berambisi terhadap kekuasaan atau meminta jabatan untuk dirinya sendiri. Prinsip ini mengikuti sabda Rasulullah saw.:

إِنَّا لَا نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلَا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ.

“Sesungguhnya kami tidak menguasakan jabatan ini kepada orang yang memintanya, dan juga kepada orang yang sangat menginginkannya.”

Berdasarkan pengertian hadis tersebut, Umar menyatakan, “Tidak ada seseorang yang suka kepemimpinan lalu bisa berbuat adil.”

Sebab, orang yang terlalu mencintai kepemimpinan cenderung hanya mengandalkan dirinya sendiri dan lebih mudah dikuasai oleh ambisi pribadinya.

Berbeda halnya dengan orang yang mendapatkan kekuasaan tanpa memintanya. Ia lebih mungkin memperoleh pertolongan Allah dalam menjalankan tanggung jawab tersebut. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.:

فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا.

“Sebab, jika kamu diberikan kekuasaan karena kamu meminta, maka kamu akan mengandalkannya. Tetapi jika kamu diberi kekuasaan tanpa meminta, maka kamu akan ditolong.”

Karena itu, para khalifah menjauhi fitnah dan dampak buruk dari ambisi terhadap jabatan. Ali, misalnya, sangat berhati-hati terhadap orang-orang yang meminta jabatan karena khawatir ambisi tersebut dapat menimbulkan fitnah dan penyesatan.

Sebaliknya, apabila para khalifah menemukan orang yang memang layak mengemban suatu tugas, mereka tidak segan-segan mendatangi dan mempercayakan kepadanya jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan.

Bahkan, terkadang mereka harus memaksa orang tersebut untuk bersedia menerimanya, meskipun ada di antara mereka yang bersikeras menolak dan meminta maaf karena tidak bersedia menerima jabatan tersebut.

 Penolakan itu muncul karena mereka menyadari besarnya tanggung jawab yang harus dipikul dan merasa khawatir tidak mampu menjalankannya dengan benar.


Tidak Berdasarkan Nepotisme

Aspek lain yang menjadi perhatian para khalifah adalah tidak menunjuk kaum kerabat semata-mata karena hubungan kekerabatan. Mereka menghindari kolusi dan nepotisme dalam pengangkatan pejabat.

Abu Bakar melarang seorang gubernur memprioritaskan kerabatnya sendiri dalam penyerahan jabatan. Prinsip tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah saw.:

مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ شَيْئًا فَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ أَحَدًا مُحَابَاةً فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ.

“Barangsiapa yang menguasai sesuatu dari urusan kaum muslimin, lalu ia mengangkat seseorang memimpin mereka karena kolusi, niscaya ia pasti terkena laknat Allah.”

Umar juga mengatakan, “Barangsiapa yang menunjuk seseorang sebagai petugas karena kecintaan atau karena kedekatan yang tidak bisa dihindarinya, berarti ia benar-benar telah berkhianat kepada Allah, kepada Rasul-Nya, dan kepada seluruh kaum mukmin.”

Demikian pula Ali pernah berpesan kepada salah seorang gubernurnya, “Amati urusan-urusan para pegawaimu lalu tugaskan mereka untuk menguji. Tetapi jangan beri mereka kekuasaan karena kolusi atau nepotisme.”

Namun demikian, hubungan kekerabatan bukan berarti menjadi penghalang mutlak bagi seseorang untuk menduduki jabatan. Jika seorang kerabat memang memiliki kompetensi dan pengalaman yang dibutuhkan, ia boleh dipercaya untuk menangani salah satu urusan pemerintahan.

Hal ini pernah dilakukan oleh Utsman ketika ia meminta bantuan kepada orang-orang yang memiliki kompetensi, baik dari kalangan kerabatnya sendiri maupun dari kalangan yang lain.

Dengan demikian, yang menjadi ukuran bukan hubungan kekerabatan, melainkan kelayakan dan kompetensi seseorang dalam mengemban amanah.


Mengutamakan Kompetensi dan Pengalaman

Dari aspek praktis, para khalifah mengutamakan kompetensi dalam menentukan seseorang untuk suatu pekerjaan.

Yang dimaksud dengan kompetensi adalah penguasaan dan pengalaman dalam bidang yang menjadi tanggung jawabnya, serta kemampuan untuk berijtihad ketika menghadapi berbagai kesulitan dengan menggunakan kecerdasan, kemampuan berpikir, dan kreativitas yang diperlukan dalam pekerjaannya.

Selain kompetensi, para khalifah juga mensyaratkan kepada para pejabat dan pembantu mereka agar bersikap zuhud terhadap dunia, baik dalam hal makanan, minuman, pakaian, maupun tempat tinggal.

Mereka juga dilarang menutup pintu yang menghalangi masyarakat menyampaikan kebutuhan mereka.

Para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar menyaksikan dan membenarkan prinsip-prinsip tersebut.

Bahkan, beberapa gubernur pada zaman Khulafaur Rasyidin dikenal sangat zuhud dan wara sehingga mereka harus berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti makanan, pakaian, dan kebutuhan lainnya.


Bersikap Adil dan Melayani Masyarakat

Sifat lain yang ditekankan oleh para khalifah kepada para pejabat dan pembantu mereka adalah memperlakukan masyarakat dengan baik. 

Mereka harus berlaku lembut kepada hamba-hamba Allah, rajin menjenguk orang-orang yang sakit, membantu mereka yang lemah, berlaku adil di tengah-tengah masyarakat, serta memperlakukan mereka secara setara dalam persoalan hukum.

Lebih dari itu, para khalifah selalu mengutamakan kepentingan umum dalam menunjuk gubernur dan pejabat tinggi lainnya.

Mereka menjauhkan perasaan sentimental dan kepentingan personal dalam menentukan siapa yang layak menduduki suatu jabatan.

Salah satu contohnya adalah ketika Abu Maryam al-Hanafi ditunjuk sebagai hakim di Bashrah.

Padahal, orang inilah yang membunuh saudara Zaid bin al-Khaththab dalam pertempuran Yamamah ketika memerangi orang-orang murtad. 

Pertimbangan terhadap kepentingan umum membuat hubungan personal dan sentimen masa lalu tidak dijadikan dasar dalam menentukan kelayakan seseorang untuk suatu jabatan.


Tidak Merangkap Jabatan dengan Kepentingan Pribadi

Syarat penting lainnya yang ditetapkan para khalifah, terutama Umar, adalah para gubernur dan pejabat tinggi tidak boleh merangkap pekerjaan khusus selama masih aktif memegang jabatan pemerintahan.

Mereka digaji oleh negara selama menjalankan tugasnya. Karena itu, seorang pejabat tidak boleh mengerjakan pekerjaan lain yang dapat menyibukkannya dari tugas utama.

Larangan tersebut dimaksudkan agar pekerjaan sampingan tidak membuatnya mengabaikan tanggung jawab jabatan.

Jika seorang pejabat lebih mendahulukan pekerjaan khususnya, berarti ia telah mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

Ia mengutamakan manfaat pribadi dengan mengorbankan amanah yang diberikan kepadanya.

Dengan demikian, prinsip-prinsip yang diterapkan para khalifah dalam memilih pegawai dan pejabat pemerintahan tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis.

 Mereka juga memperhatikan integritas, ketidakambisian terhadap kekuasaan, bebas dari nepotisme, sikap zuhud, keadilan, kepedulian kepada masyarakat, serta kemampuan mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Memahami Strategi Penghapusan Senyap Identitas Muslim di India Sebuah bangsa ser...


Memahami Strategi Penghapusan Senyap Identitas Muslim di India


Sebuah bangsa sering kali didefinisikan melalui sensus dan statistik, namun esensi sejatinya terletak pada sesuatu yang jauh lebih sublim: jiwanya. 

Bayangkan sebuah perpustakaan megah yang gedungnya tetap berdiri kokoh dan jumlah bukunya tidak berkurang, namun setiap huruf di dalamnya perlahan memudar hingga menjadi lembaran kosong. Gedungnya ada secara fisik, tetapi maknanya telah sirna.

Fenomena serupa kini tengah membayangi India. Di balik retorika pertumbuhan ekonomi, sedang berlangsung sebuah "penghapusan senyap"—sebuah proyek di mana suatu kelompok masyarakat tetap dibiarkan ada secara demografis, namun identitas peradabannya perlahan-lahan ditiadakan dari memori kolektif bangsa.

Untuk memahami krisis ini, kita harus mampu membedakan antara identitas agama sebagai data penduduk dan identitas sebagai kontributor peradaban. Firdous Syed menyoroti dikotomi krusial ini: keberadaan seorang "Muslim" hanyalah soal angka dalam statistik, sedangkan "Muslimness" atau ke-Muslim-an adalah kehadiran peradaban yang telah mendarah daging dalam tanah India selama hampir satu milenium.

Sejarah, memori, musik, arsitektur, hingga kuliner bukan sekadar ornamen, melainkan benang merah yang membentuk kain identitas India yang plural. Seperti yang ditegaskan:

"A Muslim is a demographic existence, Muslimness is a civilizational presence."

Strategi penghapusan ini dijalankan dengan apa yang disebut sebagai "kesabaran strategis" oleh proyek Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS). 

Tujuannya jelas: mewujudkan visi Hindu Rashtra (Negara Hindu) melalui homogenisasi budaya. India secara fisik tidak mungkin "dikosongkan" dari 200 juta Muslim, namun mereka bisa dibuat tidak berdaya secara politik dan tidak terlihat secara institusional.

Kontradiksi ini tampak nyata saat pemimpin RSS, Mohan Bhagwat, berpidato di New York pada Agustus 2024, mengklaim bahwa India menghargai semua martabat manusia. Namun, realitas domestik berbicara sebaliknya.

Kelumpuhan politik ini terukur dengan angka yang dingin namun mematikan. Meski mencakup 14% populasi, keterwakilan Muslim di parlemen (Lok Sabha) hanya 4,4% (24 dari 543 anggota). 

Yang lebih mencolok, sejak tahun 2022, tidak ada satu pun Muslim yang menjabat sebagai menteri di pemerintahan pusat, dan dari 24 anggota parlemen Muslim tersebut, tidak satu pun berasal dari koalisi penguasa, National Democratic Alliance (NDA).

Keterasingan ini diperparah oleh temuan Sachar Committee yang menunjukkan bahwa Muslim hanya mengisi 3% dari layanan administratif elit dan 4% dari kepolisian senior.

Ketika suara suatu kelompok hilang dari pusat kekuasaan, mereka menjadi "konsekuensial secara demografis namun tidak relevan secara nasional."

Kegetiran ini berlanjut pada narasi sejarah. Terdapat ironi besar dalam retorika anti-kolonial India yang memuja masa lalu sebagai "Burung Emas"—pusat kemakmuran dunia sebelum eksploitasi Inggris.

Namun, ada kemunafikan intelektual di sini: narasi tersebut menggunakan kekayaan era Mughal untuk membuktikan kerugian akibat kolonialisme, namun di saat yang sama mengklasifikasikan era tersebut sebagai "zaman kegelapan" dari penjajah asing.

Inilah yang disebut sebagai "reklasifikasi masa lalu." Sejarah tidak sekadar dihapus, melainkan diubah kategorinya. Dengan memutus hubungan antara kekuasaan masa lalu dan tanah India, negara secara efektif menjadikan warisan budaya Muslim sebagai "asing." 

Akibatnya, keturunan mereka mungkin tetap menjadi warga negara, tetapi warisan mereka dianggap bukan lagi bagian dari bangsa.

Bahasa pun tak luput dari pembersihan. Urdu, yang pernah menjadi "cetak biru arsitektural bagi jiwa" India, kini tengah sekarat.

Bahasa yang melahirkan slogan heroik "Inqilab Zindabad" dalam melawan penjajah, kini diberi label negatif sebagai "bahasa asing" yang dikaitkan dengan Pakistan. Kemunduran Urdu terjadi bukan melalui pelarangan resmi, melainkan melalui pencabutan nilai ekonomi dan pendidikannya secara sistematis.

Di Ballimaran, tempat penyair Mirza Ghalib dulu bermukim, kini muncul generasi yang hanya bisa membaca karyanya melalui aksara Devanagari. Ketika sebuah bahasa tidak lagi menawarkan peluang masa depan, ia akan berhenti diwariskan, dan bersamanya, satu dimensi intelektual bangsa ikut runtuh.

Upaya homogenisasi identitas ini pada akhirnya akan memakan anaknya sendiri. Di Ahmedabad, tekanan terhadap sekolah yang memberikan tugas membaca buku Malala Yousafzai dan Anne Frank menunjukkan bahwa ketika batas identitas dipersempit, batas pemikiran pun ikut mengecil.

Pluralisme filosofis India yang selama ini mampu menampung berbagai interpretasi kini terancam oleh standar keseragaman yang kaku. Penyeragaman ini tidak hanya memarginalkan minoritas, tetapi juga memiskinkan intelektualitas mayoritas.

Jika India terus mempersempit definisi identitas nasionalnya, risiko terbesarnya bukanlah kehilangan angka populasi, melainkan kehilangan martabat sebagai peradaban yang dinamis.

Keberagaman bukanlah ancaman yang harus dijinakkan dengan penyeragaman, melainkan kekayaan intelektual yang menjaga sebuah bangsa tetap hidup. Kita harus merenung: Apa yang tersisa dari sebuah bangsa jika sejarahnya ditulis ulang hanya untuk memihak satu kelompok tunggal?

Dan apakah sebuah negara benar-benar bisa disebut besar jika ia merasa terancam oleh keberadaan memori dan bahasa dari warganya sendiri?

Bagaimana Video Pendek Diam-Diam Menghapus Memori dan Imajinasi Kita ...

Bagaimana Video Pendek Diam-Diam Menghapus Memori dan Imajinasi Kita


Tahun 2024 menandai sebuah titik balik dalam kesadaran digital kita ketika Oxford menetapkan "Brain Rot" sebagai kata tahun ini. Istilah ini bukan sekadar seloroh internet; ia adalah manifestasi dari keresahan kolektif yang mulai kita rasakan di dalam tempurung kepala kita sendiri. 

Teringat pada narasi jurnalis Caty Enders tentang pertemuannya dengan seorang nenek di sebuah ruang tunggu laboratorium penelitian. Dengan logat Selatan yang lembut dan tawa yang hangat, sang nenek mengisi kuesioner tentang penggunaan ponsel cucunya yang berusia 19 tahun. "Kapan dia tidak memegang ponselnya?" tanyanya retoris. Baginya, media sosial adalah "hal terburuk yang pernah terjadi pada kita."

Keresahan sang nenek kini bukan lagi sekadar intuisi lintas generasi. Sementara perdebatan publik selama ini sering kali terpaku pada isu kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, bukti ilmiah terbaru mulai menyoroti dampak yang jauh lebih mendasar: kerusakan kognitif.

Kita tidak hanya sedang merasa sedih; kita sedang mengalami perubahan pada cara kita berpikir, mengingat, dan memproses realitas—sebuah erosi yang terjadi bahkan ketika faktor depresi dan kecemasan telah dikesampingkan.


Erosi Atensi dan Melemahnya Kontrol Impuls: Melampaui Isu Kesehatan Mental

Salah satu temuan paling konsisten dalam literatur ilmiah saat ini adalah bagaimana video pendek secara sistematis mengikis kemampuan kita untuk fokus.

Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Psychological Bulletin, yang meninjau sekitar 70 studi kuantitatif, menemukan korelasi yang sangat kuat antara konsumsi video pendek dengan perubahan kognitif negatif. 

Penting untuk dicatat bahwa mayoritas penelitian ini berasal dari Tiongkok, di mana platform digital diawasi dengan regulasi yang sangat ketat.

Analisis ini menunjukkan bahwa hubungan video pendek dengan penurunan fungsi kognitif jauh lebih kuat dibandingkan hubungannya dengan masalah kesehatan mental tradisional. Inti permasalahannya terletak pada kontrol impuls.

Desain platform—dengan fitur gulir tanpa batas (infinite scroll) yang melenyapkan persepsi waktu—secara sengaja mengeksploitasi kelemahan kognitif manusia.

Hasilnya adalah penurunan kemampuan untuk mempertahankan perhatian, sebuah fungsi eksekutif yang sangat krusial bagi kehidupan yang produktif, yang tetap terjadi meski pengguna tidak menunjukkan gejala depresi secara klinis.


Memori Kerja yang Terbebani dan Hilangnya "Rekaman Kehidupan"

Dampak kognitif ini merambat ke sistem penyimpanan informasi kita.

Penelitian menunjukkan hubungan yang mengkhawatirkan antara durasi penggunaan ponsel dengan penurunan performa memori kerja—sistem yang kita gunakan untuk mengikuti alur argumen atau menyusun rencana kerja yang kompleks.

Lebih jauh lagi, pengguna yang merasa penggunaan video pendek mereka sudah di luar kendali menunjukkan pelemahan pada memori episodik. Memori episodik adalah "rekaman internal" dari kehidupan kita sendiri; kemampuan untuk melakukan perjalanan waktu secara mental dan mengunjungi kembali momen-momen masa lalu.

Tanpa memori ini, kita kehilangan jangkar identitas kita dalam hubungannya dengan dunia. Sebagaimana peringatan keras yang muncul dari fenomena ini:

"The price we pay for connection is our own minds."


Bahaya Tersembunyi: Kelumpuhan Imajinasi di Balik Matinya Memori

Mungkin poin yang paling menggugah dalam temuan sains ini adalah hubungan organik antara masa lalu dan masa depan di dalam otak kita. 

Sebuah studi penting pada tahun 2007 mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa pasien yang mengalami kerusakan pada hippocampus (pusat memori otak) tidak hanya gagal mengingat masa lalu, tetapi juga kehilangan kemampuan membangun pemandangan imajiner.

Sains menunjukkan bahwa mengingat masa lalu dan membayangkan masa depan adalah dua tindakan yang berjalan di atas sirkuit saraf yang sama, hanya saja arahnya berlawanan.

Jika konsumsi video pendek yang obsesif mendegradasi kemampuan memori kita, maka ia secara otomatis melumpuhkan kemampuan kita untuk berimajinasi.

Ini adalah titik yang paling kritis: dengan membiarkan diri kita tenggelam dalam guliran video yang dangkal, kita sebenarnya sedang merusak kemampuan untuk membayangkan dan mewujudkan masa depan yang baru.

Kita menjadi subjek pasif yang terjebak dalam arus algoritma, kehilangan kapasitas untuk menjadi arsitek bagi hidup kita sendiri.


Perangkap Algoritma: Hubungan Sosial yang Disandera

Penting bagi kita untuk membedakan antara penggunaan media sosial yang bertujuan dengan konsumsi pasif yang didorong algoritma. Penggunaan aktif—seperti berkomunikasi dengan keluarga atau berbagi pembaruan hidup—masih memiliki manfaat kognitif.

Namun, perusahaan teknologi kini semakin mengabaikan preferensi pengguna demi mendorong keterlibatan pasif melalui video pendek.

Adam Mosseri dari Instagram berpendapat bahwa produk mereka tidak menyebabkan "kecanduan klinis". Namun, perspektif ini dibantah oleh argumen yang lebih tajam. 

Seorang negosiator perdamaian dari Santa Fe Institute menggambarkan bahwa platform media sosial saat ini sedang "menyandera" hubungan terpenting kita. Untuk mengakses komunitas dan orang-orang yang kita cintai, kita dipaksa untuk melewati "hutan" konten video pendek yang merusak kognisi. Kita tidak memilih untuk berada di sana; kita terjebak dalam upaya mempertahankan koneksi manusiawi.


Belajar dari Sejarah: Regulasi sebagai Benteng Kognitif

Situasi kita saat ini memiliki kemiripan sejarah dengan krisis timbal (lead) pada era 60-an hingga 80-an.

Dibutuhkan waktu puluhan tahun bagi riset epidemiologi untuk membuktikan bahayanya sebelum regulasi ketat diberlakukan demi keselamatan publik. Saat ini, hukum mulai bergerak sebagai pelindung kognitif masyarakat.

Penyelesaian hukum senilai $17 miliar oleh Meta menjadi sinyal penting tentang kedalaman masalah ini. Sebagai bagian dari kesepakatan, Meta diminta melakukan modifikasi desain yang sangat spesifik bagi pengguna remaja: batas waktu harian dua jam, penguncian akses (lockout) antara tengah malam hingga pukul enam pagi, penghentian notifikasi sejak pukul sepuluh malam, hingga pelarangan filter bedah kosmetik.

Langkah-langkah ini adalah pengakuan implisit bahwa tanpa regulasi, arsitektur digital akan terus mengeksploitasi dan merusak fungsi kognitif penggunanya.

Sains mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuktikan secara absolut apa yang sudah dirasakan oleh jutaan orang saat ini.

Namun, kita tidak perlu menunggu hingga seluruh literatur ilmiah selesai ditulis untuk mulai mengambil kendali secara mandiri.

Di dunia yang menuntut perhatian kita setiap detik, cara paling bijak untuk bertahan adalah dengan mulai mendengarkan pikiran dan tubuh kita sendiri.

Perhatikan bagaimana perasaan Anda setelah satu jam tersesat dalam guliran video pendek—apakah Anda merasa segar, atau justru merasakan kesadaran yang pudar dan berkabut?

Jika memori dan imajinasi kita berjalan di sirkuit yang sama, masa depan seperti apa yang sedang kita bangun jika hari-hari kita habis dalam guliran video pendek yang tak henti? Kesadaran untuk bertanya adalah langkah pertama untuk merebut kembali kedaulatan atas pikiran kita sendiri.

Mengapa Ide Kita Sering Gagal? Menemukan "Universalitas" di Tengah Keterbatasan Manusia ...

Mengapa Ide Kita Sering Gagal? Menemukan "Universalitas" di Tengah Keterbatasan Manusia

Pernahkah kita merenungkan mengapa ide-ide besar manusia, sistem hukum yang tampak canggih, hingga ideologi yang menjanjikan utopia sering kali berakhir sebagai puing di lembaran sejarah?

Kita kerap terjebak dalam ambisi membangun menara kesempurnaan, namun realitasnya, pemikiran kita hanyalah bayang-bayang yang rapuh. Kita merindukan sesuatu yang abadi, namun kita sendiri terbelenggu oleh sifat temporal. 

Kegagalan ide-ide kita sebenarnya adalah gema dari sebuah kontradiksi fundamental: keinginan untuk menggenggam yang mutlak dengan tangan yang terbatas.

Di sinilah kita perlu menyingkap tabir "Keuniversalan"—sebuah solusi Rabbani yang bukan sekadar teori, melainkan pelabuhan bagi kegelisahan intelektual manusia.


Penjara Ruang dan Waktu – Mengapa Pemikiran Manusia Selalu Parsial

Mari kita jujur pada diri sendiri. Sebagai manusia, kita adalah pengembara di sebuah interval sempit antara ketiadaan dan ketiadaan. Kita bermula dari tiada, dan akan kembali menjadi tiada. Eksistensi kita terkurung dalam jeruji ruang dan waktu yang tak bisa kita tawar.

Maka, wajarlah jika produk pemikiran kita bersifat parsial—ia mungkin gemilang di satu masa, namun layu di masa lain; ia mungkin efektif di satu tempat, namun menjadi tiran di tempat berbeda.

Dalam sejarah Eropa, kita menyaksikan apa yang disebut sebagai "dialektika abadi"—sebuah siklus kegoyahan sistemik di mana satu pemikiran muncul untuk mengoreksi yang lain, namun tetap berakhir dengan kekosongan yang sama. 

Ini terjadi karena akal manusia selalu dikepung oleh keterbatasan ilmu, intervensi hawa nafsu, dan ketidaktahuan akan masa depan yang membentang luas di luar jangkauan indrawi.

"Eksistensi manusia terbatas pada ruang dan waktu. Dia merupakan makhluk yang baru dalam hal waktu, bermula dari tiada dan berakhir pada tiada pula... Dia juga terbatas dari segi ilmu, pengalaman dan pemahaman... Di samping itu, manusia pun dikuasai oleh kelemahannya, kecenderungannya, nafsunya dan keinginannya."


Jembatan Antara Ada dan Tiada – Misteri Kehidupan dalam Benda Mati

Di sinilah letak rahasianya: ada jurang yang maha luas antara materi yang mati dan sel yang hidup—sebuah jarak yang hampir menyamai jarak antara "ada" dan "tiada". Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak memiliki kehidupan bisa memunculkan kehidupan?

Sains materialistik sering terjebak dalam kegagalan logika saat mencoba menjelaskan fenomena ini sebagai sebuah "kebetulan". Namun, mari kita renungkan poin-poin berikut:

Logika Pemberian: Secara filosofis, orang yang tidak mempunyai sesuatu tidak akan bisa memberikan. Benda mati tidak memiliki esensi kehidupan, maka mustahil ia "menghadiahkan" kehidupan bagi dirinya sendiri tanpa campur tangan dari luar.

Kemustahilan Kebetulan: Hukum kebetulan itu sendiri secara matematis memustahilkan terjadinya keserasian dan keharmonisan alam yang sedemikian presisi secara acak.

Emanasi yang Direncanakan: Kehidupan adalah fenomena agung yang menuntut adanya Perencana. Tanpa mengakui kehendak Sang Pencipta, akal manusia hanya akan berputar-putar dalam labirin interpretasi yang menyesatkan.

Keuniversalan sebagai Corak Perbuatan Ilahi

Keuniversalan Islam bukanlah produk konsensus manusia, melainkan pancaran dari karakteristik utamanya: Rabbani. Ia berasal dari Allah, Zat yang tidak terikat oleh sekat-sekat temporal yang memenjara manusia.

Manifestasi terbesar dari keuniversalan ini adalah pengembalian seluruh gerak alam semesta—baik yang organik maupun anorganik—kepada satu kehendak Ilahi yang mutlak.

Inilah hakikat Tauhid yang utuh. Ia memberikan tafsiran tunggal yang harmonis tentang asal-usul alam semesta tanpa meninggalkan satu pun tanda tanya yang menggantung. Segala sesuatu telah ditetapkan dengan "ukuran" yang sempurna, bukan hasil dari proses liar yang tanpa arah.

"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (QS. Al-Qamar: 49)

"Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (QS. Al-Furqan: 2)


Orkestrasi Alam yang Bukan Kebetulan

Keuniversalan Ilahi dapat kita saksikan dalam setiap detail orkestrasi alam semesta. Menariknya, Islam mengajak kita untuk membedakan antara "sebab dekat" yang dilakukan manusia dengan "Sebab Utama" yang mengendalikan segalanya:

Presisi Kosmik: Matahari, bulan, dan bintang bergerak dalam garis edar yang pasti. Tidak ada tumpang tindih antara malam dan siang, karena semuanya tunduk pada satu perintah universal yang menjaga keteraturan tersebut (QS. Yasin: 37-40).

Keberagaman Hayati: Dari air yang sama, Allah menciptakan jenis hewan yang beragam—ada yang melata, ada yang berjalan dengan dua kaki, dan empat kaki. Sebuah desain tanpa batas yang mustahil lahir dari sekadar proses mekanis tanpa kehendak.

Ilusi "Perbuatan" Manusia: Saat kita menanam benih, menurunkan air hujan melalui rekayasa cuaca, atau menyalakan api, kita sering merasa kitalah pelakunya. Namun, Al-Qur'an (Surah Al-Waqi'ah) melontarkan pertanyaan reflektif: "Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami?"

Kehendak di Balik Gerak: Bahkan dalam tindakan yang sangat personal seperti melempar, ada kehendak universal yang bekerja. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: "...dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar" (QS. Al-Anfal: 17). Ini menunjukkan bahwa manusia hanyalah perantara bagi kehendak-Nya yang universal.


Menemukan Ketenteraman di Balik Kepastian Ilahi

Secara psikologis, menyadari keuniversalan Ilahi adalah obat bagi kelelahan mental akibat mencari kebenaran dalam sistem buatan manusia. Ketika akal menyandarkan segalanya pada "Sumber Pengaruh yang Aktif", maka lenyaplah kebingungan yang selama ini ditawarkan oleh definisi-definisi yang tidak jelas.

Konsep ini memproteksi akal kita dari "kesesatan filsafat" yang sering kali menciptakan "makhluk-makhluk dongeng"—seperti atribut mutlak pada "alam" atau "akal" semata—yang sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa pun. Dengan mengembalikan seluruh jaringan kehidupan ke tangan Sang Pencipta, kita menemukan stabilitas yang tidak akan goyah oleh perubahan zaman.

Kita tidak lagi menjadi tawanan dialektika yang melelahkan, melainkan menjadi hamba yang tenang di bawah naungan kepastian-Nya.


Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa ide-ide kita sering gagal karena mereka terputus dari akar keuniversalan. Mereka hanyalah fragmen kecil yang mencoba menjelaskan keseluruhan.

Mengakui keuniversalan Tuhan adalah langkah pertama untuk keluar dari kegelapan intelektual menuju stabilitas pemikiran yang sejati. Hanya sistem yang bersumber dari Zat yang Maha Abadi-lah yang mampu bertahan melewati ujian ruang dan waktu.

Agar kita tidak tersesat dalam labirin gagasan yang parsial dan temporal, kita perlu menyandarkan setiap rencana kita pada Sang Penentu Ukuran. Sebab, sistem apa pun yang tidak berakar pada Yang Universal pasti akan runtuh ditelan zaman.

Islamisasi dan Akulturasi Arsitektur: Hubungan Islam dan Kebudayaan Lokal di Kudus Pada tahu...


Islamisasi dan Akulturasi Arsitektur: Hubungan Islam dan Kebudayaan Lokal di Kudus

Pada tahun 1678, Anthonio Hurdt, pegawai VOC yang mengikuti ekspedisi militer ke Kediri, mengunjungi Masjid Al-Aqsa (Menara Kudus). Ia begitu kagum melihat menara raksasa tersebut yang tampak kukuh. Arsitekturnya mengingatkan pada bentuk candi-candi yang berkembang pada masa pra-Islam. Memang, arsitektur Masjid Al-Aqsa (Menara Kudus), khususnya bangunan menaranya, memperlihatkan kemiripan yang kuat dengan bentuk candi-candi pada masa pra-Islam.32

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perkembangan Islam di Jawa tidak selalu berlangsung dengan menghilangkan seluruh bentuk kebudayaan yang telah berkembang sebelumnya. Dalam bidang arsitektur dan kesenian, terdapat proses perjumpaan antara ajaran Islam dan kebudayaan lokal. Bentuk-bentuk yang telah dikenal masyarakat dapat tetap digunakan, sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam.

Menurut Buya Hamka, urusan kebudayaan seperti arsitektur dan pertunjukan seni tidak secara otomatis masuk ke dalam ranah akidah. Karena itu, para ulama seperti Walisongo memiliki ruang untuk berkreasi dan mengadopsi budaya yang telah ada, kemudian mengarahkannya untuk kepentingan dakwah. Buya Hamka berkata:

«Ulama2 atau para Wali itupun dalam hal jang tidak bersangkut dengan i'tikad, adalah berlapang dada. Sunan Kali Djogo tidak berkeberatan mempergunakan wajang untuk melantjarkan da'wah Islam. Bahkan beliau tidak keberatan memakai gamelan untuk ditabuh bagi menjanjikan lagu2 jang bersifat agama. Sunan Kuduspun tidak keberatan dji'ka Menara Masdjid Kudus diperbuat menurut bentuk Gapura Hindu. Sebagai djuga buatan masdjid2 di Minangkabau senada dengan buatan rumah dan lumbungnja. Semuanja ini dapat dibuktikan, karena: Islam membiarkan tumbuh kebudajaan menurut keadaan setempat. Malahan didalam Al-Qur-an sendiri datang larangan jang bersifat pertanjaan "Katakanlah, siapa jang mengharamkan perhiasan Allah jang dikeluarkan untuk hamba-hamba Tuhan dan barang2 jang baik dari kurnia Tuhan ?" (Surat 7: Al-dari Tuhan: A'raaf 32).»

Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Aboebakar Atjeh dalam Sedjarah Masdjid (1955). Sebagai salah seorang penulis sejarah masjid di Indonesia, ia menunjukkan adanya unsur-unsur kebudayaan Hindu-Majapahit yang masih dapat ditemukan pada masjid-masjid awal Islam di Jawa. Mengenai Masjid Demak dan Masjid Kudus, ia mengatakan:

«jang motief kebudajaan Hindu dari zaman Modjopahit itu, Dalam mesdjid Demak masih dapat dilihat beberapa bahagian misalnja tiang tiang jang bernama soko Modjopahit pada pendopo mesdjid itu. Begitu juga keadaan dengan mesdjis Kudus, jang baik menaranja maupun pintu gerbangnja, mass moentjel menggambarkan bentuk kesenian Hindu-Djaws. Dalam pada itu kita dapat beberapa buah mesdjid jarg dikelilingnja ada selokan air, keadaan jang mengingatkap kita kepada telaga-telaga sutji jang biasanja terdape pada tjandi-tjandi Hindu, misalnja Tjandi Djawi.»

Keterangan Hamka dan Aboebakar Atjeh memperlihatkan bahwa kebudayaan, khususnya dalam bidang arsitektur, merupakan wilayah yang cukup luwes. Bentuk arsitektur yang telah dikenal masyarakat dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah selama tidak membawa serta keyakinan atau prinsip keagamaan yang bertentangan dengan Islam.

Dengan demikian, para wali dapat menggunakan kecakapan budaya yang telah hidup di tengah masyarakat untuk memperkenalkan Islam. Dakwah tidak harus dilakukan dengan menghapus seluruh bentuk kebudayaan sebelumnya. Sebaliknya, masyarakat diberikan ruang untuk mengenal ajaran Islam, membandingkannya dengan keyakinan yang telah mereka anut, kemudian memilih berdasarkan pertimbangan dan kesadaran mereka sendiri.

Sebagaimana dinyatakan:

«Sesuai dengan adjaran Islam dalam sepak terdjalan-nja itoe tidak ada paksaan, tetapi jang diichtiarkan supaja mereka mengenal dan mengetahui, kemudian memperbandingkan dan memilih manakah jang lebih baik, bertuhan satu jang berkuasa menurut agama Islam, ataukah bertuhan banjak berupa patung dan berhala; sama rata dan sama rasa dalam hak dan kewadjiban, sebagai jang diatur oleh Islam, ataukah hidup berkelas-kelas dan berkasta-kasta seperti jang terdapat dalam agamanja? Kepada ra'jat diberikan kesempatan jang luas untuk memperbandingkan agama Islam dengan agama Hindu, memilih mana jang baik menurut tjara berfikir dan sesuai dengan alam fikran mereka.»

Pola Kesinambungan Seni dan Arsitektur

Pada masa berdirinya daulah dan kota-kota Islam di Jawa sekitar abad ke-15 dan ke-16, kesenian bercorak Hindu-Buddha yang telah berkembang sebelumnya tidak serta-merta hilang. Sebagian bentuknya tetap dikenal dan berlanjut dalam perkembangan kesenian pada masa Islam.

Jika ditilik lebih dalam, Munandar (2020)37 menyatakan bahwa terdapat tiga pola kesinambungan bentuk karya arsitektur maupun seni pada masa perkembangan Islam awal di Kepulauan Melayu-Indonesia. Ketiga pola tersebut menunjukkan adanya proses islamisasi dan akulturasi terhadap seni dan budaya yang telah berkembang sebelum kedatangan Islam.

Pola pertama adalah kesinambungan bentuk karya seni tanpa disertai pergeseran konsepsi atau penafsiran di baliknya. Dalam pola ini, baik bentuk maupun konsep yang mendasarinya tidak mengalami perubahan berarti. Banyak bentuk seni rupa dan arsitektur yang mengikuti pola ini, terutama ragam hias ornamental, seperti sulur daun, bunga teratai, tepi awan, dan bentuk medalion. Demikian pula beberapa bentuk ragam hias arsitektural, seperti perbingkaian pada bangunan, antefix, pipi tangga, dan bentuk candi laras pada pagar keliling.39

Pola kedua adalah kesinambungan bentuk karya seni rupa dengan pergeseran konsepsi. Dalam pola ini, bentuk yang digunakan tetap sama atau memiliki kemiripan dengan bentuk yang telah eksis sebelumnya, tetapi gagasan yang melatarinya mengalami perubahan atau diberi konsepsi baru. Dengan kata lain, bentuk tersebut mengalami proses 'islamisasi'.

Salah satu contohnya adalah bentuk atap prasadha atau atap tumpang pada masa Hindu-Buddha yang merupakan lambang persemayaman dewata. Pada masa Islam, bentuk atap tumpang tiga yang digunakan pada masjid-masjid kuno dapat diberi makna baru, misalnya sebagai lambang jenjang keimanan: iman, Islam, dan ihsan. Atap tersebut juga dapat digunakan semata-mata karena pertimbangan pragmatis.40 Proses islamisasi semacam ini banyak ditemukan dalam berbagai karya arsitektur hingga sastra.

Pola ketiga adalah kesinambungan konsepsi yang diterapkan dalam bentuk yang mengikuti perkembangan zamannya. Dalam pola ini, gagasan lama tetap berlanjut, tetapi pengejawantahannya dapat mengalami perubahan dan ditafsirkan secara lebih bebas.

Contohnya adalah penataan ruang yang mengikuti konsep triloka (bhurloka, bhuwarloka, dan swarloka) yang tetap dikenal pada masa perkembangan Islam. Pembagian menjadi tiga wilayah masih dapat ditemukan, tetapi tidak lagi dinyatakan secara tegas sebagai konsep Hindu-Buddha. Dengan demikian, gagasan atau konsep lama dapat tetap bertahan, sementara bentuk presentasinya mengalami perubahan sesuai dengan konteks masyarakat Islam.41

Ketiga pola tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara Islam dan kebudayaan lokal tidak selalu bersifat penghapusan atau penggantian secara total. Dalam batas tertentu, unsur kebudayaan yang telah berkembang sebelumnya dapat dipertahankan, diubah maknanya, atau diwujudkan kembali dalam bentuk yang sesuai dengan konteks baru.

Menurut Munandar (2020), kesinambungan tersebut dapat dipertahankan selama tidak berkaitan dengan prinsip ajaran keagamaan. Hal ini sejalan dengan pandangan Buya Hamka bahwa, sejauh tidak menyangkut akidah Islam, gagasan atau bentuk budaya dari masa Hindu-Buddha yang tidak bertentangan dengan Islam dapat terus diterapkan, dengan bentuk dan presentasi yang disesuaikan.

Berdasarkan data-data arkeologis yang tersedia, proses islamisasi dan akulturasi tersebut antara lain dapat dilihat pada kesinambungan penataan ruang dan halaman, bentuk arsitektur bangunan keagamaan, ragam hias, konsepsi pemerintahan, dan tata kota.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (59) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (32) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (29) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (2) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (119) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (316) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (758) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (2) Politik (11) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)