Perang Melawan Iran: Runtuhnya Mitos yang Melindungi Israel
Sejak awal berdirinya, Israel membangun narasi bahwa dirinya adalah “vila di tengah hutan”—sebuah negara kecil yang dikelilingi ancaman permanen dari lingkungan yang keras. Narasi ini berfungsi sebagai alat legitimasi, baik untuk konsumsi domestik maupun internasional, terutama guna memperoleh dukungan politik, militer, dan finansial dari negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.
Namun, jika ditelusuri secara historis, klaim tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas. Selama beberapa dekade terakhir, justru Israel berada dalam posisi dominan di kawasan. Kemenangan dalam Perang Enam Hari 1967, perjanjian damai dengan Mesir melalui Camp David 1978, hingga melemahnya negara-negara Arab pasca Perang Dingin, menunjukkan bahwa ancaman eksistensial terhadap Israel semakin berkurang.
Memasuki era 1990-an dan 2000-an, posisi Israel semakin menguat. Runtuhnya Uni Soviet menghilangkan salah satu pendukung utama negara-negara Arab. Sementara itu, Perjanjian Oslo secara efektif melemahkan posisi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003—yang juga didorong oleh kepentingan geopolitik sekutu Israel—menghancurkan salah satu kekuatan regional yang sebelumnya dianggap ancaman.
Lebih jauh, normalisasi hubungan melalui Kesepakatan Abraham memperlihatkan bahwa sebagian negara Arab justru beralih menjadi mitra strategis Israel. Dalam kondisi ini, narasi “lingkungan yang keras” semakin kehilangan relevansinya.
Meski demikian, Israel masih menghadapi kelompok-kelompok yang disebut sebagai “poros perlawanan”, seperti Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon, serta Iran sebagai pendukung utama mereka. Namun, kekuatan ini pun mengalami tekanan signifikan, terutama setelah eskalasi konflik sejak 2023 di Gaza dan Lebanon.
Dalam konteks ini, serangan terhadap Iran dapat dilihat sebagai upaya Israel untuk mengeliminasi ancaman terakhir yang masih tersisa. Akan tetapi, langkah ini sekaligus membuka kontradiksi mendasar: ketika Israel bertindak sebagai kekuatan dominan yang agresif, narasi sebagai pihak yang terancam menjadi sulit dipertahankan.
Di sisi lain, respons negara-negara Arab yang relatif terbatas—hanya berupa kecaman verbal—semakin mempertegas perubahan lanskap geopolitik kawasan. Tidak lagi terlihat adanya koalisi regional yang mampu menantang Israel secara langsung.
Namun, justru di sinilah letak paradoksnya. Dengan semakin runtuhnya mitos sebagai “negara yang terancam”, Israel berisiko kehilangan legitimasi moral yang selama ini menjadi pelindung utamanya di mata dunia. Tindakan militer yang agresif, terutama terhadap warga sipil di Gaza, telah memperburuk citranya secara global.
Pada akhirnya, tanpa narasi yang membenarkan tindakannya, dan dengan meningkatnya kritik internasional, Israel berpotensi menghadapi tantangan baru: bukan lagi dari musuh eksternal, tetapi dari konsekuensi atas kebijakan dan strateginya sendiri.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif