Ulama yang Menghubungkan Haramain dengan Nusantara Jika jaringan ul...
Ulama yang Menghubungkan Haramain dengan Nusantara
Menuju Pemikiran Ekonomi Islam Jika Islam adalah agama yang membimbing manusia d...
Awal Menuju Pemikiran Ekonomi Islam
AL-Qur'an dan Teori Ilmu Pengetahuan Di Mana Wilayah Al-Qur’an ...
AL-Qur'an dan Teori Ilmu Pengetahuan
Pengaruh Revolusi Protestan terhadap Kelahiran Amerika Serikat ...
Pengaruh Revolusi Protestan terhadap Kelahiran Amerika Serikat
Pengaruh Revolusi Protestan terhadap Kelahiran Amerika Serikat
Apa hubungan antara Revolusi Protestan di Eropa, kelahiran Amerika Serikat, imperialisme Barat, dan perjalanan sejarah umat Islam di Indonesia?
Pertanyaan ini penting diajukan karena sejarah tidak pernah berdiri dalam ruang-ruang yang terpisah. Perubahan politik di satu kawasan dapat menciptakan gelombang perubahan di kawasan lain. Sebuah revolusi keagamaan di Eropa dapat berkembang menjadi perubahan politik; perubahan politik melahirkan negara-negara baru; negara-negara baru membangun kekuatan ekonomi dan militer; dan kekuatan tersebut pada akhirnya ikut membentuk arah sejarah dunia, termasuk sejarah umat Islam.
Dari Reformasi Protestan menuju Amerika Serikat
Amerika Serikat lahir dalam lingkungan sejarah yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Protestan. Revolusi Amerika dimulai dengan Pertempuran Lexington dan Concord pada 19 April 1775. Dalam sebagian historiografi, Revolusi Amerika bahkan dibaca dalam kaitannya dengan tradisi perjuangan masyarakat Protestan terhadap kekuasaan lama di Eropa.
Namun, apakah Revolusi Amerika hanya merupakan persoalan agama?
Tentu tidak sesederhana itu.
Di baliknya terdapat persoalan politik, kebebasan, representasi, pajak, hak-hak koloni, dan hubungan antara masyarakat kolonial dengan Kerajaan Inggris. Karena itu, pengaruh Protestanisme sebaiknya dipahami sebagai salah satu unsur penting dalam lingkungan intelektual dan sosial yang membentuk masyarakat Amerika, bukan sebagai satu-satunya sebab lahirnya Amerika Serikat.
Reformasi Protestan sendiri dimulai lebih awal, terutama sejak gerakan Martin Luther pada abad ke-16. Reformasi tersebut pada mulanya merupakan kritik terhadap berbagai persoalan dalam Gereja Katolik. Dalam perkembangannya, ia menghasilkan perubahan besar dalam struktur keagamaan, politik, pendidikan, dan kebudayaan Eropa.
Di sinilah pertanyaan berikutnya muncul:
Apakah perubahan keagamaan di Eropa kemudian ikut melahirkan pola baru dalam hubungan Barat dengan dunia Islam?
Jawabannya membutuhkan penelitian yang lebih hati-hati. Sikap para tokoh Protestan terhadap Islam tidaklah seragam. Karena itu, tidak tepat menyamakan seluruh Protestanisme dengan sikap anti-Islam. Namun, dalam perkembangan sejarah Eropa, agama, politik, ekspansi ekonomi, dan kolonialisme memang sering berkelindan.
Demokrasi dan paradoks perbudakan
Amerika Serikat kemudian tampil sebagai salah satu simbol demokrasi modern.
Tetapi sejarah mengajukan pertanyaan yang mengganggu:
Bagaimana mungkin sebuah negara berbicara tentang kebebasan, sementara sebagian manusia di dalamnya masih diperbudak?
Inilah salah satu paradoks terbesar dalam sejarah demokrasi Amerika.
Perbudakan orang Afrika di Amerika Serikat baru dihapuskan secara konstitusional pada 1865, setelah Perang Saudara. Dengan demikian, cita-cita kebebasan dan praktik perbudakan pernah hidup berdampingan dalam sejarah negara tersebut.
Fenomena ini mengingatkan kita kepada Athena kuno. Athena sering disebut sebagai salah satu contoh awal demokrasi, tetapi masyarakat demokratis Athena juga hidup dalam sistem perbudakan. Artinya, dalam sejarah manusia, demokrasi tidak selalu otomatis berarti kesetaraan universal.
Demokrasi dapat berkembang bersamaan dengan eksklusi.
Kebebasan dapat diperjuangkan oleh sebagian manusia, sementara kebebasan itu belum diberikan kepada seluruh manusia.
Paradoks inilah yang perlu dibaca secara kritis ketika kita menempatkan Amerika Serikat sebagai salah satu pelopor demokrasi modern.
Dari Monroe Doctrine menuju imperialisme
Pada 1823, Amerika Serikat mengeluarkan Monroe Doctrine. Doktrin ini menegaskan bahwa kekuatan-kekuatan Eropa tidak seharusnya melakukan kolonisasi baru atau intervensi politik di kawasan Amerika.
Dalam konteks geopolitik saat itu, doktrin tersebut menjadi tantangan terhadap kemungkinan kembalinya kekuatan kolonial Eropa ke benua Amerika.
Namun sejarah kembali menghadirkan pertanyaan:
Apakah sebuah negara yang menolak kolonialisme Eropa akan selamanya terbebas dari kecenderungan imperialisme?
Ternyata tidak.
Ketika kekuatan ekonomi dan militernya berkembang, Amerika Serikat sendiri mulai memainkan peranan yang semakin besar dalam politik internasional. Perkembangan kekuatan laut menjadi salah satu unsur penting dalam transformasi tersebut.
Pemikiran Kapten Alfred Thayer Mahan melalui The Influence of Sea Power upon History (1890) dan The Interest of America in Sea Power (1897) ikut memperkuat kesadaran strategis Amerika mengenai pentingnya kekuatan laut.
Di sinilah terjadi perubahan menarik:
negara yang dahulu menolak dominasi kolonial Eropa akhirnya berkembang menjadi salah satu kekuatan imperialis dunia.
Maka, sejarah kekuasaan ternyata tidak hanya berbicara tentang siapa yang tertindas dan siapa yang menindas. Sejarah juga berbicara tentang bagaimana sebuah negara dapat berubah ketika kekuatan ekonomi, teknologi, militer, dan kepentingan strategisnya berkembang.
Mengapa Amerika Serikat penting bagi sejarah Islam Indonesia?
Sekarang pertanyaan utama dapat diajukan:
Apa hubungannya semua itu dengan sejarah umat Islam di Indonesia?
Sepintas, hampir tidak ada hubungan.
Amerika Serikat berada jauh di seberang samudra. Indonesia berada di Asia Tenggara. Namun, sejarah perdagangan mempertemukan keduanya jauh sebelum Indonesia menjadi negara merdeka.
Sebelum Perang Padri (1821–1837), pedagang Amerika telah melakukan hubungan dagang dengan wilayah Sumatra Barat. Berbagai komoditas, termasuk kopi dan hasil perdagangan lainnya, diperdagangkan melalui jaringan niaga di pantai barat Sumatra.
Perdagangan bukan sekadar pertukaran barang.
Perdagangan juga membawa modal, jaringan, informasi, teknologi, dan hubungan politik.
Karena itu, ketika pedagang asing memasuki sebuah kawasan, yang bergerak bukan hanya kapal dan barang. Bersama mereka bergerak pula kepentingan ekonomi dan jaringan kekuasaan.
Dalam konteks inilah sebagian penulis menghubungkan perdagangan Amerika dengan perkembangan ekonomi kelompok Padri di Sumatra Barat.
Namun, hubungan tersebut harus dibaca secara kritis. Mengatakan bahwa kedatangan Amerika secara langsung menyebabkan kekuatan ekonomi gerakan Padri menjadi kuat memerlukan bukti historis yang lebih terperinci.
Perang Padri: konflik agama, adat, ekonomi, dan kolonialisme
Perang Padri sering dipahami sebagai konflik antara kaum Padri dan kaum Adat. Tetapi jika dilihat lebih luas, konflik tersebut berlangsung dalam lingkungan perubahan sosial dan ekonomi yang jauh lebih kompleks.
Kaum Padri melakukan gerakan pembaruan keagamaan. Mereka mengkritik berbagai praktik masyarakat yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.
Sebagian kelompok Adat mempertahankan tradisi yang telah lama berkembang.
Kemudian Belanda masuk.
Di sinilah konflik internal berubah menjadi bagian dari persoalan kolonial.
Pertanyaannya:
Apakah Belanda hanya ingin menyelesaikan konflik antara Padri dan Adat?
Tentu kepentingan kolonial Belanda jauh lebih luas. Penguasaan wilayah, perdagangan, pajak, keamanan, dan konsolidasi kekuasaan kolonial merupakan bagian penting dari kepentingan tersebut.
Sebagian historiografi juga melihat adanya kepentingan Belanda untuk membatasi pengaruh perdagangan dan kekuatan asing di Sumatra Barat, termasuk pengaruh Amerika Serikat.
Karena itu, Perang Padri dapat dibaca melalui beberapa lapisan sekaligus:
konflik keagamaan, konflik sosial, konflik adat, perebutan pengaruh ekonomi, dan ekspansi kolonial.
Membaca hanya salah satunya akan membuat sejarah menjadi terlalu sederhana.
Amerika Serikat dan transformasi Jepang
Pengaruh Amerika Serikat juga terlihat dalam sejarah Jepang.
Pada 1854, melalui Konvensi Kanagawa, Jepang mulai membuka hubungan yang lebih luas dengan Amerika Serikat dan kekuatan Barat. Peristiwa ini menjadi salah satu momentum penting berakhirnya politik isolasi relatif Jepang.
Tetapi Jepang tidak berhenti sebagai objek pengaruh Barat.
Jepang belajar.
Jepang meniru.
Jepang beradaptasi.
Kemudian Jepang membangun kekuatan sendiri.
Restorasi Meiji sejak 1868 mendorong modernisasi negara, pendidikan, industri, militer, dan teknologi. Dalam beberapa dekade, Jepang berubah dari negara yang sebelumnya relatif terisolasi menjadi kekuatan industri dan militer modern.
Ironisnya, negara yang belajar dari Barat kemudian mengikuti pola ekspansi kekuatan Barat.
Jepang menjadi kekuatan imperial di Asia.
Maka muncul sebuah pelajaran penting:
transfer teknologi tidak selalu menghasilkan ketergantungan permanen.
Bangsa yang mempelajari kekuatan lawannya dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk membangun kekuatannya sendiri.
Jepang akhirnya memiliki kekuatan laut dan darat yang besar dan melakukan ekspansi ke berbagai wilayah Asia. Dalam perkembangan berikutnya, Jepang terlibat dalam Perang Dunia I dan kemudian Perang Dunia II. Salah satu akibatnya bagi Indonesia adalah pendudukan Jepang pada 1942–1945.
Imperialis Barat tidak selalu bersatu
Apakah semua negara Barat selalu bersatu menghadapi dunia Islam?
Sejarah justru menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks.
Negara-negara Barat sendiri sering bersaing.
Inggris berhadapan dengan Amerika Serikat.
Kekuatan-kekuatan Eropa bersaing dalam memperebutkan koloni.
Negara-negara Protestan sendiri berperang satu sama lain.
Artinya, kesamaan agama tidak otomatis menghapus kepentingan nasional.
Kepentingan politik, ekonomi, perdagangan, wilayah, dan kekuasaan sering kali lebih menentukan daripada kesamaan identitas keagamaan.
Kekuatan imperialisme modern bertumpu bukan hanya pada senjata. Ia juga bertumpu pada organisasi negara, modal, industri, teknologi, jaringan perdagangan, perbankan, dan kekuatan laut.
Karena itu, memahami imperialisme berarti memahami keseluruhan sistem kekuasaan yang menopangnya.
Runtuhnya Kesultanan Utsmani
Memasuki abad ke-20, dunia Islam menghadapi perubahan yang sangat besar.
Kesultanan Utsmani melemah dan akhirnya runtuh setelah Perang Dunia I. Gerakan Turki Muda, perang, nasionalisme, intervensi kekuatan asing, dan perubahan politik internal mempercepat transformasi tersebut.
Sultan Abdul Hamid II digulingkan pada 1909. Kesultanan kemudian memasuki masa krisis yang semakin dalam.
Pada 1 November 1922, kesultanan dihapuskan.
Pada 29 Oktober 1923, Republik Turki diproklamasikan.
Kemudian pada 3 Maret 1924, kekhalifahan dihapuskan.
Tiga tanggal tersebut penting karena menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi dalam satu malam.
Sebuah tatanan politik dapat runtuh secara bertahap:
otoritas melemah → institusi berubah → kekuasaan bergeser → sistem lama dihapus → sistem baru dilembagakan.
Peristiwa tersebut memiliki dampak besar terhadap dunia Islam, termasuk terhadap cara umat Islam memikirkan kembali hubungan antara agama, negara, kekhalifahan, nasionalisme, dan modernitas.
Pan-Islamisme dan tantangan baru
Setelah Perang Dunia I, umat Islam menghadapi dunia yang berubah.
Imperialisme Eropa masih kuat.
Kapitalisme internasional berkembang.
Nasionalisme tumbuh.
Komunisme muncul setelah Revolusi Rusia 1917.
Sekularisme politik berkembang di Turki.
Bagi sebagian pemikir Muslim, semua perkembangan tersebut dipandang sebagai tantangan baru terhadap kehidupan politik dan sosial Islam.
Di sinilah gagasan Pan-Islamisme mendapatkan relevansinya.
Pan-Islamisme berusaha membangun kesadaran bahwa umat Islam, meskipun terpecah dalam berbagai negara, memiliki kepentingan dan identitas bersama.
Pertanyaannya kemudian:
Apakah runtuhnya Kesultanan Utsmani berarti berakhirnya kekuatan politik Islam?
Tidak sepenuhnya.
Kekuatan politik memang berubah bentuk. Tetapi gagasan, jaringan ulama, pendidikan, organisasi, perdagangan, dan kesadaran umat tetap bergerak melintasi batas negara.
Justru dari sinilah muncul babak baru sejarah Islam modern.
Arabia, Inggris, dan lahirnya Saudi Arabia
Di Jazirah Arabia, muncul kekuatan baru yang dipimpin oleh Abdulaziz Ibn Saud.
Ibn Saud berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dan pada 1932 berdirilah Kerajaan Arab Saudi.
Hubungan antara Ibn Saud dan Inggris merupakan bagian penting dalam sejarah geopolitik kawasan tersebut. Inggris memiliki kepentingan strategis di Timur Tengah, terutama karena kawasan itu berkaitan dengan jalur perdagangan, posisi geopolitik, dan kemudian kepentingan energi.
Namun hubungan tersebut tidak dapat dipahami hanya sebagai cerita bahwa Inggris “menciptakan” Saudi Arabia.
Ibn Saud sendiri merupakan aktor politik yang memiliki kepentingan, strategi, jaringan, dan kekuatan militer.
Karena itu, sejarah yang lebih tepat adalah sejarah pertemuan kepentingan antara kekuatan lokal dan kekuatan imperial global.
Palestina dan Zionisme
Persoalan Palestina kemudian menjadi salah satu titik paling penting dalam sejarah Timur Tengah modern.
Gerakan Zionisme berkembang di Eropa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dukungan Inggris terhadap pembentukan sebuah national home bagi bangsa Yahudi di Palestina melalui Deklarasi Balfour 1917 menjadi salah satu tonggak penting.
Setelah berakhirnya Perang Dunia I, Palestina berada di bawah Mandat Inggris.
Kemudian pada 14 Mei 1948, Israel memproklamasikan kemerdekaannya. Sehari kemudian, 15 Mei 1948, perang Arab-Israel pertama memasuki fase terbuka.
Amerika Serikat menjadi salah satu kekuatan penting dalam perkembangan hubungan internasional Israel. Namun, angka bantuan dan bentuk dukungan Amerika perlu ditempatkan sesuai periode sejarahnya agar tidak terjadi penyederhanaan.
Dengan demikian, persoalan Palestina bukanlah sebuah peristiwa yang muncul tiba-tiba pada 1948.
Ia merupakan hasil dari proses panjang:
Zionisme → dukungan politik internasional → Mandat Inggris → perubahan demografi dan politik → konflik Arab-Yahudi → pembentukan Israel → perang dan persoalan Palestina yang berkelanjutan.
India: runtuhnya kekuasaan Islam dan kolonialisme Inggris
Perubahan besar juga terjadi di India.
Kekuasaan Mughal secara bertahap melemah setelah abad ke-18. Inggris kemudian memperluas kekuasaannya hingga akhirnya menguasai sebagian besar anak benua India.
Pada 1857 terjadi Pemberontakan India yang kemudian menjadi salah satu titik balik penting. Setelah pemberontakan tersebut, kekuasaan British East India Company berakhir dan India ditempatkan langsung di bawah pemerintahan Kerajaan Inggris.
Pada 1876, Ratu Victoria menggunakan gelar Empress of India.
Di tengah perubahan tersebut, umat Islam India menghadapi persoalan besar: bagaimana mempertahankan identitas, pendidikan, ekonomi, dan politik mereka di bawah kekuasaan kolonial?
Dari krisis tersebut muncul berbagai gerakan pembaruan dan perlawanan.
Ahmadiyah dan fragmentasi pemikiran Islam
Pada 1889, Mirza Ghulam Ahmad mendirikan gerakan Ahmadiyah.
Dalam perspektif arus utama Islam, sejumlah keyakinan Ahmadiyah mengenai status Mirza Ghulam Ahmad dianggap bertentangan dengan doktrin finalitas kenabian Muhammad ﷺ. Karena itu, Ahmadiyah kemudian menghadapi penolakan keras dari banyak ulama dan organisasi Islam.
Namun secara historis, tuduhan bahwa Ahmadiyah semata-mata merupakan proyek Inggris untuk memecah umat Islam harus dibedakan dari fakta mengenai hubungan Ahmadiyah dengan lingkungan kolonial Inggris. Klaim mengenai tujuan politik pembentukannya memerlukan bukti historis yang kuat.
Yang lebih penting untuk direnungkan adalah kenyataan bahwa:
ketika sebuah masyarakat mengalami tekanan politik dan kolonial, perdebatan internal mengenai agama, identitas, dan otoritas justru dapat menjadi semakin tajam.
Nusantara: kolonialisme dan pelemahan kekuasaan Islam
Lalu bagaimana dengan Nusantara?
Di Indonesia, pemerintah kolonial Belanda berhadapan dengan kesultanan-kesultanan Islam, ulama, pesantren, jaringan perdagangan Muslim, dan berbagai bentuk perlawanan masyarakat.
Kolonialisme tidak hanya bekerja melalui peperangan.
Ia juga bekerja melalui administrasi.
Melalui hukum.
Melalui pendidikan.
Melalui politik ekonomi.
Melalui pembentukan elite.
Dan melalui pengaturan hubungan antara hukum Islam, hukum adat, dan hukum kolonial.
Karena itu, ketika pemerintah kolonial mengembangkan hukum adat dan pada saat yang sama membatasi ruang penerapan hukum Islam, persoalannya bukan semata-mata persoalan hukum.
Di balik hukum terdapat perebutan otoritas.
Siapa yang berhak menentukan aturan?
Siapa yang berhak mengatur masyarakat?
Siapa yang menjadi sumber legitimasi?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadikan sejarah hukum kolonial sangat penting bagi sejarah umat Islam Indonesia.
Dari sejarah dunia menuju sejarah Indonesia
Jika seluruh rangkaian ini kita hubungkan, tampak bahwa sejarah Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perubahan dunia.
Reformasi Protestan mengubah Eropa.
Perubahan Eropa melahirkan konfigurasi politik baru.
Konfigurasi tersebut berkembang menjadi negara-negara modern, kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme.
Kekuatan Barat kemudian memperluas jaringan ekonominya ke berbagai wilayah dunia.
Amerika memasuki perdagangan Asia.
Jepang mengalami modernisasi dan kemudian menjadi kekuatan imperial.
Kesultanan Utsmani runtuh.
Timur Tengah mengalami reorganisasi politik.
India jatuh ke dalam kekuasaan Inggris.
Palestina memasuki konflik geopolitik baru.
Dan Nusantara menghadapi kolonialisme Belanda.
Maka, sejarah umat Islam Indonesia sesungguhnya bukanlah sejarah yang terisolasi.
Ia merupakan bagian dari sejarah dunia.
Namun ada satu hal yang harus selalu dijaga:
jangan sampai sejarah berubah menjadi cerita hitam-putih.
Tidak semua orang Barat adalah imperialis.
Tidak semua Protestan memiliki pandangan yang sama terhadap Islam.
Tidak semua kebijakan Amerika merupakan kebijakan Inggris.
Tidak semua perubahan politik di dunia Islam merupakan hasil rekayasa asing.
Dan tidak setiap gerakan internal umat Islam dapat dijelaskan hanya melalui campur tangan kolonial.
Sejarah menjadi lebih kuat justru ketika kita mampu melihat pertemuan antara faktor internal dan eksternal.
Di sanalah sejarah menjadi pelajaran.
Bukan sekadar daftar tanggal.
Bukan sekadar daftar nama.
Tetapi sebuah cermin:
bagaimana kekuatan lahir, bagaimana kekuasaan berkembang, bagaimana sebuah peradaban melemah, bagaimana bangsa lain mengambil kesempatan, dan bagaimana sebuah umat dapat bangkit kembali setelah kehilangan kekuatan politiknya.
Gaza adalah Revolusi: Menjaga Ketekunan Mendukung Palestina Francesca Albanese...
Gaza adalah Revolusi: Menjaga Ketekunan Mendukung Palestina
Cari Artikel Ketik Lalu Enter
Artikel Lainnya
- ► 2021 (1014)
- ► 2022 (604)
- ► 2023 (330)
- ► 2024 (825)
- ► 2025 (821)
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif